Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Sungguh Menyedihkan Nasib Mereka


__ADS_3

Setelah mencurahkan isi hati dengan tulisan di buku diary, Cha pun keluar kamar untuk makan. Perutnya sudah terasa laper. Di liriknya kedalam ruangan, tak ada satupun orang yang beraktifitas. Mereka pada di dalam kamar masing-masing.


"Sepi sekali rumah besar ini, makan sendirian," Cha melangkah ke kamar adeknya. Dia ingin masuk tapi gak jadi. Cha takut adeknya membencinya karena berulah lagi. Akhirnya Cha mengambil makanan dan membawanya ke dalam kamarnya.


Cha makan dengan lahap karena dia sudah kelaparan. Dia terus menyantap makanannya. Hingga suara dering handphone berbunyi. Tapi dia tidak memperdulikannya. Cha hanya ingin makan dan istirahat.


Setelah selesai makan, dia langsung mencuci piring dan merapikan meja makan. Lalu cha pun masuk ke dalam kamar. Dia duduk di depan meja rias, melihat pantulan dirinya di kaca. Dia berbicara dengan dirinya sendiri melalui kaca.


"Kenapa kamu harus seperti ini. Bangkit Cha, buka mata mu, dan lihat keadaan semuanya. Apakah kau akan menjalani hidup seperti ini terus menerus?" Cha tertawa melihat dirinya di cermin.


"Gw gak mau seperti ini terus. Gw harus lanjut kuliah ke Jo***. Gw mau jauh dari orang tua, gw ingin merantau," kata Cha yang masih berbicara didepan cermin.


Lalu dia kembali ke tempat tidur merebahkan badannya. Dia ingin menenangkan hati, badan dan pikirannya. Dia ingin tidur nyenyak. Sebelum tidur Cha tak lupa berdo'a dulu. Lalu dia pun tidur dengan lelap.


Hari ini Cha bergegas bangun, dia takut mamanya akan marah lagi. Dia pun membersihkan rumah. Karena hari ini papanya akan pulang kerumah. Cha tidak berani menyapa mamanya, dia lebih memilih diam dan menghindar. Dia masih tidak suka melihat mamanya apalagi sampai saat ini tubuhnya masih terasa sakit karena perlakuan mamanya. Cha hanya melihat Sika yang baru selesai sarapan pagi dan duduk nyantai di depan Tv. Dia tidak melihat keberadaan mamanya, lalu dia mendatangi Sika.


"Mama mana dek?" tanya Cha singkat.


"Pergi belanja, hari ini papa pulang. Kakak gak sarapan?" tanya Sika balik tanpa menoleh ke arah Cha.


"Iya nih mau sarapan. Emang jam berapa papa datang kesini?" Cha bertanya lagi.


"Gak tau kak, kenapa kakak nanya? Dah gak sabar ya ketemu papa...," goda Sika kepada Cha.


"Cih..sapa juga yang pengen ketemu. Males aja tau kalau papa datang, gak nyaman aja dirumah, pengen keluar rumah kalau papa dateng," kata Cha yang langsung berlalu dari tempat Sika.

__ADS_1


Sika cuek mendengar jawaban kakaknya. Dia tau bagaimana kakaknya. Dia sedih melihat keadaan kakak nya yang satu ini. Mama tidak pernah memperhatikan kakak nya yang ini. Yang mama perduli kan hanya anak pertama sampai ke tiga serta si bungsu. Sika kasihan melihat Cha yang tidak mendapatkan perhatian. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hahhh kasihan kamu kak, kamu harus kuat dan mandiri kak," gumam Sika melihat Cha dari belakang.


Akhirnya waktu yang dinantikan datang juga. Papanya Cha pulang.


"Assalamu'alaikum....," kata papanya.


"Wa'alaikumussalam, Siapa," kata Sika.


"Ini papa nang," jawab papanya. Pintu pun dibuka. Terlihatlah seorang laki-laki yang sudah berumur dialah papa nya mereka yang jarang pulang seperti bang Toyib, hihihi.


Tidak ada sambutan hangat dan gembira dari Sika maupun Cha atas kepulangan papapnya. Mereka biasa aja, bahkan Cha yang mendengar papanya datang terlihat cuek saja tak ada rasa rindu terlihat dari Cha maupun Sika.


"Kakak Cha ada dikamar nya pa, sedangkan mama keluar ke tempat Bu Nur," jawab Sika yang masih diam di depan pintu melihat papanya yang sama sekali tak merindukannya.


"Oh....., papa belom makan nang, kau siapkan dulu makanan papa ya. Itu papa ada bawa oleh-oleh, rapikan diatas meja. Dan panggilkan kak Cha," kata papanya singkat.


"Iya pa, bentar Sika siapkan dulu. Sebelum menyiapkan makan papanya, Sika memanggil kakaknya dikamar.


"Kak tuh papa dah pulang, dipanggil papa tuh sana...," Sika memberitahukan kakaknya untuk menemui papanya. Lalu dia pun menyiapkan makan papanya.


"Is... apaan sih. Males banget kakak keluar," Cha ogah-ogahan melangkah, tapi tetep juga dia nemuin papanya.


"Eh...papa dah nyampe. Gimana pa, sehatkan?" tanya Cha basa basi. Lalu dia menyalami tangan papanya dan duduk dihadapan papanya.

__ADS_1


"Sehat, gimana sekolahnya? Kemaren papa dengar kamu bolos sekolah, kenapa Cha lakukan itu nang? Apa gak kasihan sama mama jadi kepikiran gitu?" Papanya sudah tau perihal tingkah Cha. Karena mamanya langsung mengadu menceritakan keburukan Cha kepada papanya.


Cha menunduk tak berani memandang wajah papanya. Lalu dia berkata, "Maaf pa, iya Cha salah karena udah bolos sekolah," Cha ketakutan menjawab papanya.


"Kemana kamu kalau bolos gitu, sama siapa bolosnya?" Papa nya menatap Cha dengan tajam dan mengintimidasi.


"Mmmm anu pa, Cha...eee bolos sama temen, kami main kerumah teman, pa. Kebetulan temen gak masuk sekolah jadi kami ke tempat teman Cha yang gak masuk pa," jawab dengan gugup karena harus mengarang kebohongan.


"Bisa papa percaya omongan kamu itu..?Kalau ketahuan sama papa, kamu bohong, apa hukuman buat kamu yang pantes?" tanya papa nya.


"Iya pa, Cha gak bohong kok, beneran pa. Lain kali Cha janji gak akan bolos lagi pa, maafin Cha ya pa," Cha memandang wajah papanya dengan wajah memohon.


"Ya udah kali ini papa bakalan percaya sama kamu, tapi lain kali papa gak ingin mendengar kamu bolos lagi, kalau itu terjadi, kamu tidak akan papa sekolahkan lagi, dengar itu!" ancam papanya dengan tegas.


Papa Cha sebenarnya orangnya enak diajak ngobrol tapi karena situasi dan kondisi, sehingga membuat mereka jarang berinteraksi. Apalagi pekerjaan papanya yang pelayaran ke Luar Negeri, semakin membuat mereka berdua menjauh.


"Iya pa, Cha janji gak akan ngulanginya lagi. Cha akan belajar sungguh-sungguh," Cha tersenyum paksa melihat papanya.


"Ya sudah, apa kamu sudah makan? Kalau blom makan, yuk temani papa. Papa dah laper nih," papanya langsung bangkit dan menuju ke meja makan. Cha juga mengikuti papa nya dari belakang, menemani papanya makan. Walaupun sebenarnya Cha sudah makan, tapi ya sesekali gak salah nemani papanya makan. Dan Sika juga ikut makan bareng mereka.


Dimeja makan tidak ada yang berani berbicara, karena dirumah nya, kalau lagi makan tidak ada yang boleh bicara, begitulah peraturan yang di jalankan mereka. Selesai makan, Cha dan Sika kembali ke dalam kamar masing-masing. Tidak ada istilah temu kangen antara anak dan bapak.


Semenjak papanya nikah lagi sama perempuan yang sekarang berada di kota Jaka***, mereka jarang bertemu. Papanya lebih banyak menghabiskan waktu di sana kalau kapalnya lagi bersandar. Jangan kan untuk bertemu, dari segi keuangan juga, sekarang sudah terbatas. Waktu, uang dan perhatian sudah lebih banyak buat keluarganya yang di Jaka***. Sehingga, Cha dan Sika kalau sekolah dikasih uang pas-pasan bahkan hanya untuk ongkos doang.


Terkadang disekolah Cha maupun Sika mereka dianggap anak orang susah. Karena penampilan mereka tidak seperti orang berada. Tas sekolah yang mereka gunakan sudah sobek dan dijahit, selain itu sepatu yang digunakan Cha, juga udah terbuka bagian depannya. Mereka takut meminta yang baru. Karena mamanya pasti menyuruh mereka untuk menjahitnya ketukang sepatu. Sungguh menyedihkan nasib Cha dan Sika. Berbeda dengan kakak-kakaknya, mereka difasilitasi lengkap tidak kekurangan.

__ADS_1


__ADS_2