
Melihat kekonyolan Sika dan teman-temannya, Zain mengagetkan mereka.
"Sika, ayo dimakan makanannya, nanti keburu habis," ledek Zain.
Cha pun ikut-ikutan tersenyum melihat teman-teman Sika yang terbengong melihat makanan yang di hidangkan.
"Ayo Sika, ajak teman kamu makan, masa bengong gitu," ledek Cha.
"Hehehehe, iya kak," balas teman Sika malu-malu.
Kemudian mereka menyantap makanan sampai habis. Berbeda dengan Zain yang terbiasa makan sedikit. Dia hanya menatap calon adik iparnya dan teman-teman Sika.
"Kak Zain, kapan orang tua Kakak kerumah?" tanya Sika dalam kondisi mulut penuh.
"Sika habiskan dulu makanan di dalam mulutnya, nanti keselek loh," ucap Cha mengingatkannya.
"Besok orang tua Kakak akan datang kerumah Sika. Apa Sika ingin bertemu dengan orang tua Kakak?" tanya Zain.
"Iya Kak, Sika penasaran aja pengen lihat gimana orang bule," balas Sika.
Zain tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sika. Dia pun menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu dengan Sika.
"Orang tua Kakak biasa aja. Besok juga Sika ketemu kok," ucap Zain.
"Loh, emang kak Zain ini keturunan bule ya Sika?" tanya temannya.
"Iya, Kakak iparku ini keturunan bule. Tuh lihat wajah kak Zain, tampan sekali," tunjuk Sika sekalian memuji Zain.
"Wah keren tuh Sika, punya pasangan bule. Ntar anaknya juga cakep-cakep, iya kan?" ucap temannya yang lain.
"Kalian ini lucu banget ya. Gimana tadi nontonnya, seru?" tanya Cha yang mencoba mengalihkan topik pembahasan.
"Wah kak seru banget. Tapi nih Sika penakut banget dia. Masa nonton sambil mutu mata dengan tangan, kan lucu," jawab temannya.
"Sika emang penakut. Di rumah juga seperti itu," ucap Cha memberitahu.
"Ihhhh Kakak apaan sih! Buka kartu Sika aja," sebal Sika.
"Habis ini kalian mau kemana?" tanya Cha lagi.
"Gak tau nih kak Sikanya mau kemana. Kami mah ngikut aja," jelas teman-temannya.
"Berarti Sika mau pulang bareng Kakak atau sama teman nih?" tanya Cha lagi.
__ADS_1
"Ya Sika pulang sama Kakak dong, kan perginya tadi bareng Kakak," jawab Sika.
"Tapi kak, boleh gak kita anter teman-teman Sika ke rumahnya?" tanya Sika balik.
"Tanya kak Zain, boleh nggak ya," Cha malah melemparkan ke Zain pertanyaan Sika.
"Gimana kak Zain, apa boleh anter teman Sika dulu?" tanya Sika.
"Kalau anter satu-satu tentu gak mungkin Sika. Gimana kalau mereka kita anter sampai dimana gitu," jawab Zain.
"Mereka rumahnya berdekatan kok kak. Kita anter sampai dekat rumahnya aja. Ntar mereka kan bisa kerumahnya masing-masing," jelas Sika.
"Baiklah, kita akan anter mereka," Zain setuju.
Kemudian mereka langsung menyantap lagi makanan yang masih ada. Sika merasa senang hari ini bisa keluar jalan bareng teman. Berkat adanya Zain, Sika bisa ikut keluar rumah dengan alasan ikut bareng Kak Cha dan Zain. Hingga Mamanya memperbolehkannya ikut.
Setelah semua kelar, mereka segera pergi meninggalkan cafe itu. Mereka terus berjalan hingga sampai di lift.
"Kak, Sika mau ke toko itu dulu, teman Sika mau lihat-lihat dulu kesana, boleh ya?!" rengek Cha.
"Ya udah, Kakak dan kak Zain akan menunggu kalian disini. Kalau kalian sudah selesai belanja, temui Kakak disini ya," ucap Cha memberitahu.
"Ok kak, kalau gitu kami kesana dulu ya kak!"
"Iya, hati-hati. Kakak nunggu disini."
"Zain, apakah kamu sudah bercerita tentang keluargaku yang meminta lebih?" tanya Cha penasaran.
"Hari ini mereka sampai sayang. Mungkin saat mereka sampai di hotel tempat aku menginap, baru aku cerita ke Mama dan Papa serta Oma.
"Aku masih cemas Zain. Gimana kalau mereka menolaknya ya," ucap Cha.
"Kamu tenang aja ya, semua biar aku yang jelaskan. Mama dan Papa serta Oma, orngnya bijak. Tak memandang sesuatu dari harta," balas Zain.
Mereka asyik ngobrol berdua di bangku yang ada di Mall. Hingga Sika dan temannya yang sudah selesai belanja, menghampiri Cha dan Zain.
"Gimana udah puas belanjanya?" tanya Cha tersenyum.
"Udah nih, Sika banyak belanjanya. Teman Sika juga banyak belanjanya, tuh lihat," tunjuk Sika menggunakan dagunya
"Apa sekarang kita bisa kembali. Kakak harus menjemput orang tua Kakak di bandara nanti," ucap Zain mengingatkan.
"Oh iya kak, maaf. Keasyikan ngobrol jadi lupa waktu, hehehe," balas Sika cengengesan.
__ADS_1
"Kalau gitu ayo kita pulang," ajak Cha.
"Ayo kak," balas temannya Sika.
Mereka semua berjalan ke parkiran mobil. Sampai disana, Zain menyuruh Sika mengajak masuk teman-temannya.
"Ayo masuk ke dalam mobil," ajak Sika kepada teman lainnya.
Cha duduk di depan menemani Zain. Sedangkan Sika bersama teman-temannya. Mobil Zain terus melaju menuju rumah Cha. Sepanjang perjalanan Sika dan temannya menyanyikan lagu beramai-ramai. Mereka membuat suasana di dalam mobil menjadi heboh dan meriah.
Sika sangat menikmati kebersamaan ini. Dia tidak tau kapan lagi bisa happy seperti ini.
Mereka tak langsung menuju rumah Cha. Melainkan mengantar teman-temannya terlebih dahulu. Setelah selesai mengantar teman-temannya, Zain membawa Sika dan Cha pulang kerumahnya.
Sesampainya di rumah Cha, Sika dan Cha melihat Kakak mereka Ina sedang ngobrol bersama Mama di teras.
Zain dan kedua Kakak beradik berjalan menghampiri keduanya.
"Ma, Zain langsung pulang. Karena mau jemput orang tuanya di bandara," ucap Cha.
"Oh iya, hari ini sampai Mamanya Zain?" tanya Mamanya Cha basa basi.
"Iya Tante. Habis dari sini, saya akan langsung ke bandara buat jemput mereka," jawab Zain.
"Ya udah kalau gitu salam sama orang tua kamu ya!" ucap Mamanya Cha.
"Iya Tante. Saya pamit dulu ya Tante, Assalamu'alaikum," ucap Zain yang berpamitan.
"Wa'alaikumussalam," sahut Mamanya Cha.
Sepeninggalan Zain, Mamanya Cha melirik ke tas belanjaan. Dia melihat tas belanjaan yang dibawa Cha sangat banyak.
"Cha itu tas belanjaan siapa? Kenapa banyak banget?" tanya Mamanya Cha.
Cha pun tersadar melihat banyaknya tas belanjaan itu. Bagaimana mungkin semua ini untuk kuarganya. Kenapa Zain tak mengatakannya?
"Ini semua di beli Zain untuk Mama dan bungsu serta kak Ina," jelas Cha.
"Wah banyak banget ya. Benar-benar tajir mantu Mama," ucap Mamanya dengan rasa bahagia.
"Ya udah Ma, ayo kita bawa masuk dulu. Nanti di dalam baru di cek satu persatu," ajak Cha.
Mereka pun masuk ke dalam rumah membawa tas belanjaan yang banyak. Setelah semua tas belanjaan diletakkan di ruangan tengah, mereka mulai membuka isi tas belanjaan itu satu persatu. Semua terkejut melihat barang-barang yang dibeli oleh Zain. Kecuali Cha, dia sudah tau apa saja yang dibelanjakannya.
__ADS_1
Mama mereka, Ina dan Sika, merasa senang mendapatkan barang-barang belanjaan yang banyak dikasih Zain calon Kakak ipar serta com adik Ipar serta calon mantu.
Cha pun berpamitan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan kehebohan yang dilakukan Mamanya dan saudaranya.