
Cha sangat senang melihat kedekatan Zain dengan Omanya. Sedangkan dirinya tak merasakan perhatian sosok Oma ataupun neneknya sejak kecil. Karena mereka tinggal jauh dari keluarga Papa dan Mamanya.
"Oma, aku tidak ada niat apa-apa kok. Beneran loh...!"
"Iya-iya, Oma percaya sama kamu Zain."
"Sekarang kita mau kemana lagi Oma? Ini sudah sore mau malam. Gimana kalau kita pulang saja. Kasihan Oma banyak jalan. Nanti Zain dimarahi sama Mama."
"Baiklah, kita pulang sekarang. Cha, gimana kamu sudah puas jalan-jalannya?" tanya Omanya.
"Iya Oma, Cha sangat berterima kasih karena Oma mengajak Cha jalan-jalan hari ini," jawab Cha dengan senyumannya.
"Ayo sayang kita kembali ke Mansion," Omanya Zain menggandeng tangan Cha. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat mobil diparkir.
Akhirnya Oma dan Cha sampai ditempat parkiran, mereka masuk kedalam mobil. Lalu bodyguardnya melajukan mobil itu ke arah jalan menuju Mansion.
"Faites rouler la voiture à vitesse moyenne. Ne vous précipitez pas.
"(Jalankan mobil dengan kecepatan sedang. Jangan terburu-buru)," perintah Omanya.
"Prête Madame."
"(Siap Nyonya)," jawab si bodyguardnya.
"Oma takut ya kalau mobil dijalankan dengan kecepatan yang agak kencang?" tanya Cha yang merasa heran kenapa harus jalan pelan.
"Tidak sayang! Oma ingin menikmati perjalanan ini dengan memandang sepanjang perjalanan. Oma suka melihat bangunan-bangunan dan jalanan sepanjang perjalanan kita. Oma merasa terhibur sayang," jelas Omanya.
"Oh..., Cha kira takut. Kalau begitu kita sama Oma, Cha juga seneng banget melihat jalanan saat berada didalam mobil," balas Cha yang merasa ada kesamaan dengan Omanya Zain.
"Kamu ngapain mandangin jalanan Cha. Lebih baik pandangin wajah tampanku," ucap Zain yang menyambung obrolan mereka.
"Yeeee, bosan tau Zain!" celetuk Cha.
"Masa sih bosan. Baru kamu yang bilang bosan mandangin wajahku," protes Zain.
"Itu hanya dimulut saja Zain. Tidak dihatinya Cha. Oma yakin, Cha mencintaimu," ucap Omanya yang blak-blakan.
Zain dan Cha saling berpandangan. Mereka tak menyangka Omanya akan berbicara seperti itu dihadapan mereka berdua. Cha merasa canggung dilihatin Zain.
"Ah...Oma bisa aja," ngeles Cha yang berusaha menetralkan perasaannya.
Omanya tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan wajah Cha yang merona.
Mereka menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan bercanda dan terkadang ngobrol serius. Dan akhirnya tujuan mereka sampai ke Mansion keluarga Rudolf.
"Nous sommes arrivés. Grande madame, jeune maître!"
"(Kita sudah sampai Nyonya besar , Tuan muda)!" ucap bodyguardnya yang memberhentikan mobil didepan pintu.
Lalu Cha dan Omanya keluar dari mobil. Kemudian Cha menggandeng lengan Omanya Sedangkan Zain berjalan dibelakang mereka.
__ADS_1
Mereka masuk kedalam ruangan, dimana ada beberapa teman Sosialita dari Mamanya.
"Mama, kenapa lama sekali pulangnya? Heum senang ya ditemani jalan sama Cha?" tanya Mamanya Zain.
"Iya Siti. Aku senang bisa jalan-jalan hari ini. Habisnya kamu terlalu sibuk dan tidak ada waktu buatku," sindir Omanya.
"Mama, oh ayolah! Nanti aku pasti akan ajak Mama jalan-jalan. Aku janji ya Ma," bujuk Mamanya Zain supaya mertuanya tidak ngambek.
"Heum, ayo Cha antar Oma ke kamar," ajak Omanya sambil menggandeng Cha.
"Tante, saya temani Oma dulu ya," Cha meminta izin sama Mamanya Zain.
"Iya sayang. Tante terima kasih banget sama kamu. Oma bisa sesenang ini. Kamu mantu Tante yang terbaik," puji Namanya Zain sambil tersenyum.
"Ma, Zain temani mereka dulu ya."
"Iya sayang, pergilah," balas Mamanya.
Lalu Mamanya Zain kembali gabung bersama teman-temannya.
"Hey Siti, qui est la femme avec ta belle-famille?"
"(Hey Siti, siapa wanita yang bersama mertuamu)?" tanya salah satu temannya.
"Oh, c'est mon futur gendre. Beau, non?!"
"(Oh dia calon mantuku. Cantik kan)?!" jawab Mamanya Zain
"(Loh bukannya putramu akan dijodohkan dengan putriku Siti? Kenapa kamu milih wanita lain)?" protes temannya yang lain.
"Désolé Sis, je ne peux pas forcer ma volonté avec mon fils. Il avait choisi cette femme pour être sa compagne de vie!"
"(Maaf Sis, aku tidak bisa memaksakan kehendak dengan putraku. Dia sudah memilih wanita itu menjadi pendamping hidupnya)!" balas Mamanya Zain yang merasa biasa aja.
"Comment peut-il être comme ça Siti? Ma fille était très contente du matchmaking. J'espère que tu y penses!"
"(Mana bisa seperti itu Siti? Putriku sudah sangat senang dengan perjodohan itu. Aku harap kamu mempertimbangkannya)!" sarkas temannya.
"Désolé, je ne peux pas le faire. Tu peux trouver un autre homme pour ta fille."
"(Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Kamu bisa mencari laki-laki lain untuk putrimu)," ucap Mamanya Zain yang meminta maaf atas ketidak nyamanan temannya.
"Je n'accepte pas cela. Tu me déçois Siti. Je sors d'ici, excusez-moi."
"(Aku tidak terima ini. Kamu mengecewakan aku Siti. Aku keluar dari sini, permisi)," temannya langsung keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan yang lainnya.
Suasana ruangan menjadi hening dan canggung. Mereka yang lainnya tak bisa berbuat apa-apa.
"Désolé pour ce qui vient de se passer. Continuons le spectacle."
"(Maaf atas kejadian barusan ya. Ayo kita lanjut acaranya)," ucap Mamanya Zain yang merasa tak enak dengan teman lainnya.
__ADS_1
"Rien. Nous allons continuer."
"(Gak apa-apa. Ayo kita lanjut)," sambung temannya.
"Oui, oublie ça. L'important est que les événements pour nos activités plus tard puissent être terminés planifiés aujourd'hui."
"(Iya, lupakan yang tadi. Yang penting acara untuk kegiatan kita nanti bisa selesai direncanakan hari ini)," teman yang lainnya juga ikut nyambung.
Mereka pun melanjutkan acara yang sempat terhenti karena beberapa selingan.
Sedangkan di dalam kamar, Oma dan Cha sedang ngobrol asyik. Zain hanya menjadi pendengar yang baik diantara mereka.
"Cha, Oma mau istirahat. Kalian kembalilah ke kamar ya," pinta Omanya yang sudah mulai letih dan capek.
"Oh iya Oma. Maaf, Oma mau istirahat ya. Cha lupa karena keasyikan ngobrol sama Oma," balas Cha dengan tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang. Oma juga senang ngobrol sama kamu. Nanti kita sambung lagi ya."
"Iya Oma.
Cha dan Zain keluar dari dalam kamar Omanya. Mereka berjalan menuju kamarnya Zain.
"Zain, aku mau mandi terlebih dulu ya. Kamu tunggu aja diluar," Cha menyuruh Zain menunggunya diluar kamar.
"Aku akan menunggu di dalam kamar Cha. Aku janji gak akan macem-macem, ya," Zain memohon agar diperbolehkan masuk kedalam kamarnya.
"Heum, baiklah. Awas kalau kamu macem-macem, aku cincang senjatamu!" ancam Cha dengan memperlihatkan wajah garangnya.
"Kalau kamu cincang, gak akan ada yang bisa membuatmu mendesah kenikmatan sayang," goda Zain dengan wajah mesumnya.
"Dasar Tuan pemaksa yang mesum,"
Zain tertawa terbahak-bahak mendengar julukan yang diberikan Cha terhadapnya. Lalu dia masuk mengikuti Cha ke dalam kamarnya. Zain membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sedangkan Cha masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya dengan aroma teraphy lavender.k
Saat ini Zain sudah terlelap di pulau kapuknya. Dia ketiduran saat menunggu Cha didalam kamar mandi.
Sedangkan di kamar mandi, Cha masih betah berlama-lama membersihkan tubuhnya. Dia tidak menyadari jika Zain sudah terlelap di tempat tidur.
"Akhirnya selesai juga, segerrrr," gumam Cha saat keluar dari kamar mandi.
Ketika dia berjalan kearah lemari pakaian, dia melihat Zain sudah tertidur diatas tempat tidurnya.
"Hah, pasti dia letih banget sampe ketiduran disitu," gumam Cha.
Cha mulai memakai pakaiannya. Dan dia berjalan kearah jendela kamar Zain. Cha melihat ponselnya, ternyata ada balasan dari adiknya Sika. Kemudian Cha membalas kembali pesan dari adiknya. Cha merasa kangen dengan adiknya Sika dan sibungsu.
Dia berniat untuk pulang ke Medan. Namun akan banyak pertanyaan dari keluarganya mengenai uang yang didapatnya. Saat Cha hendak beranjak dari jendela, dia mendapat balasan pesan dari Sika. Cha terkejut melihat isi pesan itu.
"Kak, Mama dan Papa ingin berpisah. Kemaren Papa balik ke rumah dan memberikan surat cerai. Mama menangis histeris, dia seperti orang yang kerasukan. Aku dan sibungsu gak berani keluar kamar. Papa meninggalkan kami berdua di dalam rumah. Aku langsung menghubungi Kak Ina untuk kembali. Aku membawa Sika ke rumah tetangga untuk minta ditemani. Syukurnya tetangga kita baik dan mau datang kerumah untuk menenangkan Mama dan menemani kami. Hari ini Kak Ina sama Bang Zuki pulang kerumah. Kakak tidak pulang ke Medan?" tanya Sika adiknya yang menjelaskan keadaan disana.
Cha meneteskan air matanya membaca pesan adiknya. Dia tak menyangka akan mendapatkan khabar yang tak menyenangkan seperti ini. Dia menangis tersedu-sedu hingga membuat Zain terbangun mendengar suara tangisnya. Zain mencari sumber suara tangisan itu. Dia melihat Cha sedang menangis sambil memegang ponselnya. Lalu Zain bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Cha.
__ADS_1