
Setelah Zain selesai dengan urusannya, dia kembali masuk ke dalam ruangan Cha. Ternyata Cha sudah kembali berbaring diatas tempat tidurnya.
"Gimana apa sudah selesai mandinya?" tanya Zain yang berjalan menghampiri Cha.
"Heum, kamu lihat sendiri, aku sudah bersih. Oh ya kamu dari mana Zain?" tanya Cha heran.
"Aku tadi lagi menghubungi Asisstent ku di Paris," jawab Zain yang menyembunyikan tentang Yoga.
"Oh..., kapan Mama dan Oma datang Zain?" tanya Cha lagi.
"Mungkin siang ini mereka akan datang. Gimana keadaanmu Cha? Nanti siang kita kembali ke Hotel."
"Aku sudah membaik Zain. Ya lebih baik kita segera kembali ke Hotel dan pulang ke Paris. Aku ingin segera kembali ke Indonesia Zain. Ingin segera bertemu dengan keluargaku," pinta Cha penuh harap.
"Kita akan segera pulang ke Indonesia Cha. Bersabarlah," balas Zain dengan senyumannya.
Zain mendekati Cha dan dia naik ke atas tempat tidur Cha. Lalu dia membaringkan tubuhnya dan memeluk Cha dari samping.
"Zain, apa yang kamu lakukan? Bagaimana kalau Mama dan Oma datang masuk ke ruangan ini!"
"Aku kangen sayang, pengen peluk kamu. Sudah lama aku tak memeluk dan mencium aroma lavender mu. Aku merindukannya," ucap Zain sambil mencium pipi Cha berulang kali.
"Hentikan Zain...geli tau...!" protes Cha yangencoba melepaskan dirinya dari dekapan Zain.
"Jangan banyak bergerak sayang! Nanti kamu membangunkan senjataku yang sudah lama berpuasa. Kamu gak mau kan jika kita melakukannya di ruangan ini?" goda Zain.
"Zain, jangan coba-coba menggodaku. Aku tidak mau melakukannya. Tidak akan!" ucap Cha dengan tegas.
Tapi yang namanya Zain tidak akan menyerah begitu saja.
"Bener kamu gak akan mau melakukannya?" tantang Zain dengan terus mencium leher Cha.
"Ahhhh Zaiiiiin, hentikan!" protes Cha.
Cha takut jika dia juga tidak bisa menolak pesona dan kenikmatan yang diberikan Zain. Dia merasa bodoh telah mengucapakan kata-kata itu, karena itu akan menjadi tantangan buat Zain agar bisa terus menggoda Cha.
"Kenapa sayang, kamu gak bakalan bisa menolakku Cha. Iya kan?" tanya Zain.
Cha merasa wajahnya merah merona mendengar ucapan Zain. Dia membuang pandangannya dan mengucapkan kata-kata arogannya.
"Huh, sapa juga yang mau melakukannya. Aku gak akan tergoda dengan apapun yang kamu lakukan terhadapku Zain," tantang Cha.
Zain tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Baginya ucapan Cha hanya ucapan anak ABG yang berusaha menyembunyikan kemauannya.
__ADS_1
"Baiklah, mungkin tidak saat ini. Tapi aku gak akan melepaskanmu sayang saat kita di Indonesia nanti," ucap Zain dengan memainkan sebelah matanya dengan genit.
"Hah selamat..Semoga aku bisa menghindar dari jerat pesona Zain," bathin Cha sambil mengusap dadanya.
Lalu Zain turun dari tempat tidurnya Cha. Dia mengecup kening Cha cukup lama.
"Aku menyayangimu Cha," Zain mengusap pipi Cha dengan kelembutan.
"Ya, aku tau itu Zain. Dan terima kasih ya sudah mencintaiku sampai detik ini Zain," balas Cha.
"Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu Cha. Gak akan ada yang lain."
"Kamu tau Cha, hari ini aku merasa senang karena melihatmu bisa tersenyum kembali. Bagiku senyumanmu sangat berarti Cha. Aku terlihat konyol terlalu bucin dengan wanita yang pernah membenciku," ucap Zain yang merasa lucu mengingat dirinya yang pernah berbuat jahat terhadap Cha.
"Jangan terlalu melankolis Zain. Semua sudah menjadi masa lalu. Itu akan menjadi kenangan buat kita. Saat ini dan kedepannya biarkan kita menjalani seperti air mengalir."
"Ya kamu benar Cha."
Saat mereka asyik ngobrol, dari arah pintu terdengar suara ketukan. Pintu perlahan terbuka dan menampakkan Oma dan Mamanya Zain.
"Oma, Mama!" Zain dan Cha secara bersamaan terkejut melihat kehadiran mereka.
"Ah kalian rupanya lagi ngobrol santai. Oma datang di waktu yang tidak tepat rupanya," goda Omanya.
"Oma sehat sayang. Gimana kondisimu hari ini. Oma dengar kamu sudah bisa pulang nanti. Apakah itu benar sayang?" tanya Omanya.
"Iya Oma, tadi Zain juga udah sampaikan ke Mama, kalau Cha sudah bisa kembali berkumpul bersama kita lagi," jelas Zain sambil merangkul Omanya.
"Zain, apa urusan administrasinya sudah diselesaikan?" tanya Mamanya.
"Sudah Mom, tadi pagi sudah Zain urus. Kalau sekarang Cha pulang juga sudah boleh," jawab Zain.
"Gimana sayang? Apa kamu siap untuk kembali ke Hotel?" tanya Mamanya Zain.
"Insyaallah siap Tante. Cha sudah membaik kok. Jadi gak ada alasan buat Cha untuk bertahan disini, hehehe," jawab Cha terkekeh.
"Kalau begitu sekarang Oma bisa bawa Cha keluar dari sini bukan?" tanya Omanya yang menatap kearah Zain.
"Oma mau ngajak Cha jalan-jalan ya?" Zain bertanya balik.
"Tentu Zain! Oma pengen jalan-jalan di sini sebelum kembali ke Paris. Bagaimana Siti?" tanya Omanya terhadap menantunya.
"Saya ngikut Mama aja. Selagi bisa membuat Mama bahagia, pasti Siti turuti," ucap menantunya dengan tulus.
__ADS_1
"Kalau gitu Zain, ayo sekarang siapkan barang-barang Cha. Biar barang-barangnya dibawa sama bodyguard Papa," ucap Papanya Zain.
"Baik Pa," lalu Zain membantu Cha membereskan barang-barangnya Cha.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. Namun mereka tidak langsung kembali ke Hotel, akan tetapi mereka berkeliling di Kota Amsterdam.
Amsterdam merupakan salah satu kota di Eropa yang menjadi tujuan wisata paling populer, dan disukai banyak wisatawan. Ibukota Belanda ini memang terkenal sangat cantik dan memiliki magnet yang mampu menarik jutaan wisatawan untuk datang setiap tahunnya. Hingga dijuluki sebagai Venice of the North.
Zain membawa keluarganya jalan-jalan ke alun-alun Dam Square yang tepatnya berada di sebelah timur The Royal Palace dan menjadi tempat berkumpulnya spot-spot menarik lainnya di Amsterdam, seperti Museum Madam Tussauds, Monumen Nasional dan Nieuwe Kerk. Tidak hanya itu saja, ternyata ada juga berbagai toko dan café yang menjual berbagai macam kuliner dan souvenir yang khas.
Zain beserta keluarganya dimanjakan dengan keindahan yang ada di Kota Amsterdam ini. Setelah mereka berkeliling dan berbelanja di beberapa toko dan souvernir untuk oleh-oleh Cha saat pulang ke Indonesia, akhirnya mereka berhenti di sebuah cafe yang tak jauh dari tempat Cha dan Oma serta Mamanya Zain berbelanja.
Cha sangat menikmati perjalanannya di Kota ini. Dia merasa terhibur dengan adanya keluarga Zain. Mereka terlihat sangat menyayangi Cha. Keberuntungan bagi Cha bisa mengenal Zain dan keluarganya.
"Sayang, Oma sudah haus dan lapar, ayo kita makan dulu. Setelah itu kita lanjut kembali untuk jalan-jalannya," ucap Omanya terhadap Cha yang digandengnya.
"Iya Oma."
Zain mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam cafe tersebut. Setelah menemukan tempat yang pas, mereka mulai memesan makanannya.
Tak berapa lama makanan pun datang dan dihidangkan di meja mereka.
"Veel plezier Meneer en Mevrouw."
"(Silahkan dinikmati Tuan dan Nyonya)," ucap pelayan itu dengan ramahnya.
"Bedankt voor het gerecht."
"(Terima kasih atas hidangannya)," balas Zain yang tak kalah ramahnya.
Pelayan itu membungkukkan tubuhnya setengah dan berlalu dari hadapan mereka. Setelah itu mereka mulai menikmati hidangan yang sudah disajikan.
"Gimana sayang, enak bukan pesanan Oma?" tanya Omanya yang percaya diri.
"Oh iya Oma ini lezat sekali. Aku suka kok Oma," jawab Cha sedikit kaku. Cha tidak terbiasa dengan makanan seperti itu. Dia lebih suka makanan Indonesia.
"Kamu harus makan yang banyak, biar tenagamu pulih kembali nak," sambung Mamanya Zain yang memberikan perhatiannya.
"Iya Tante, terima kasih atas perhatian Tante," Cha tersenyum dengan tulus.
"Zain, kamu harus memperhatikan pola makan Cha. Biar dia cepat pulihnya dan kembali beraktifitas lagi," pinta Mamanya Zain.
"Iya Mom, Zain akan memperhatikannya. Mama tidak perlu khawatir, Zain akan mengingatnya."
__ADS_1
Mereka kembali menikmati makanannya dan dibarengi dengan obrolan ringan. Zain terus menatap kearah Cha, dia merasa senang karena keluarganya mau menerima Cha apa adanya. Dan mereka sangat menyayangi Cha.