
Tika masih saja nyerocos dihadapan semuanya. Dia merasa senang melihat Mbaknya yang bersemu merah di wajahnya.
Hingga pesanan makanan mereka datang, Tika semakin sumringah memandang makanan yang dihidangkan.
"Silahkan Bu, Mbak, Mas. Semua sudah dihidangkan. Kalau ada pesanan lagi, bisa panggil saya dengan Ayu," ucapnya dengan senyum ramahnya.
"Iya Mbak makasih,' balas Ibunya Dewi.
Tika langsung menikmati makanannya tanpa menunggu Ibunya menyuruhnya makan. Karena dia merasa lapar hingga tak tertahan lagi untuk menyantap hidangan dihadapannya.
"Tika pelan-pelan makannya loh," tegur Ibunya saat melihat Tika yang memakan makanannya dengan tidak sabaran.
"Iya Bu, habis Tika sudah kelaparan," balas Tika.
Dewi dan Cha serta yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah polos adiknya Dewi.
"Oh ya Cha, besok rencananya Lo bareng sama gw kan ke acaranya?" tanya Dewi sambil mengunyah makanannya.
"Sepertinya nggak Wi. Lo besok diantar sama Rudy aja ya. Dan kemungkinan dia juga ikut nemani Lo," balas Cha.
Sekilas Dewi menoleh ke arah Rudy yang ternyata juga sedang menatap ke arah Dewi.
"Ah iya, baiklah, besok gw berangkat bareng dia," balas Dewi.
Rudy hanya menahan senyum bahagianya menatap Dewi sang pujaan hati. Dia ingin mengungkapkan perasaannya yang ntah kapan mulai tumbuh dalam hatinya.
Mereka pun menikmati makan malam dengan canda dan tawa yang menyenangkan tanpa menyadari kekesalan yang dirasakan keluarga dari Ibunya Dewi.
Dina yang memang menginginkan dekat dengan Zain, merasa benci melihat Dewi yang tidak bisa mengikuti keinginannya dan sejalan dengan pikirannya. Dina mengetahui kalau Dewi dan keluarganya pergi bersama Cha dan Zain. Tapi dia tidak beruntung ikut dengan mereka yang sudah menjauh dari rumah itu ketika Dina datang.
"Ayo kita kembali, ini sudah malam, besok acaranya pagi di lakukan," ajak Ibunya Dewi.
"Iya Bu, kita pulang sekarang," balas Dewi.
Zain pun membayar makan malam mereka. Setelah selesai, semuanya kembali pulang. Cha dan Dewi mengantarkan Ibunya Dewi ke rumah saudara mereka. Sementara Cha dan yang lainnya kembali ke hotel dimana Rudy sudah memesan kamar buat Dewi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga mereka sampai di hotel. Cha dan Dewi turun dari mobil, begitu juga dengan Zain. Namun ketika Cha dan Dewi ingin berjalan ke arah kamar mereka, Rudy menghentikan langkah mereka.
"Maaf, aku boleh bicara dengan kamu Wi?" tanya Rudy sambil memegang lengan Dewi.
Dewi membalikkan badannya dan melihat tangannya yang dicekal oleh Rudy.
__ADS_1
"Mmm, mau bicara apa ya?" tanya Dewi bingung.
Rudy menoleh ke arah Cha dan dia memberikan isyarat kepada Cha melalui matanya. Cha pun mengerti kalau Rudy menginginkan pembicaraan privasi.
"Kalau gitu gw ke kamar Zain aja dulu menunggu Lo. Nanti kalau kalian sudah selesai, Lo bisa samperin gw ke kamar Zain aja," ucap Cha memberitahu.
"T--tapi Cha...," Dewi menggantung ucapannya. Lalu di mendekatkan bibirnya ke telinga Cha dan berbisik.
"Gw malu jalan berdua dengan dia. Lo kan kayak gak tau gw aja," bisik Dewi dengan pelan.
Rudy hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah lucu Dewi yang sangat menggemaskan baginya.
"Ya udah Rud, kalian pergilah. Nanti gw nunggu Dewi di tempat Zain," ucap Cha yang mengusir mereka.
Cha mendorong tubuh Dewi agar mau pergi bersama Rudy.
"Ayo Wi, kita jalan," ajak Rudy.
"Ah iya, ayo," Dewi pun pasrah menerima ajakan Rudy. Saat mereka jalan Dewi menyempatkan membalikkan tubuhnya melihat ke Cha. Dia pun menjulurkan lidahnya mengejek Cha.
"Hahaha, lucu banget nih si Dewi," gumam Cha saat Dewi mengejeknya.
"Ayo sayang kita masuk ke kamar. Apa kamu gak pengen menikmati waktu berdua?" tanyanya menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Bang, setelah acara selesai, kamu akan kembali kan ke Paris?" tanya Cha.
"Iya sayang, Abang mau mempersiapkan keberangkatan keluarga besar ke Indonesia. Ini tinggal dua Minggu lagi kita akan menikah," jawab Zain menjelaskan.
Ketika Cha dan Zain sedang nyantai di depan TV, ponsel Zain berdering. Zain pun mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layarnya.
"Siapa bang?" tanya Cha yang melihat Zain terdiam.
Zain tidak bisa memberitahukan kepada Cha kalau yang menghubunginya adalah mantan Cha yaitu Yoga.
"Oh ini si Binyu yang menghubungi," jawab Zain yang ntah kenapa malah menyebutkan nama Binyu.
"Wah tumben tuh si Binyu menghubungi kamu bang. Apa kamu sudah kasih khabar kalau dua Minggu lagi kita akan menikah?" tanya Cha.
"Oh itu iya, kemaren Abang ngasih khabar ke dia," jawab Zain membenarkan ucapan Cha.
"Ya udah angkat aja bang. Siapa tau penting," suruh Cha yang tidak mengetahui siapa yang menghubungi Zain.
__ADS_1
"Kalau gitu Abang angkat dulu ya," Zain pun berjalan meninggalkan Cha yang duduk di sofa sambil nonton TV.
Zain meninggalkan Cha dan dia berdiri di depan jendela yang terbuka. Hingga tampak pemandangan yang indah diluar sana saat malam hari.
"Assalammu'alaikum, ucap Zain dengan nada dinginnya.
"Wa'alaikumussalam Zain, apa khabar Lo?" tanya suara yang dikenal Zain.
"Alhamdulillah, saya baik. Ada gerangan apa kamu menghubungi saya?" tanya Zain tanpa basa basi.
"Nyantai aja Zain. Kamu gak perlu bersikap seperti itu. Aku hanya ingin menyapa orang yang sudah berhasil merebut kekasih saya," jawab Yoga sarkas tak berperasaan.
"Hahaha, apa katamu, merebut?" tanya Zain mengupang ucapan Yoga. "Apa kamu sadar dengan kata-katamu?" tanya Zain balik. Lalu Zain menokeh ke belakang memastikan Cha tidak mendengar obrolannya.
Ternyata Cha sedang melihat ke arahnya. Dan Zain sebisa mungkin memasang senyuman di wajahnya, supaya Cha tidak curiga dengan siapa dia berbicara.
"Ya, kamu sudah merebutnya Zain dariku. Kamu tau kalau aku menjalani pernikahan itu karena terpaksa. Dan Lo mengambil kesempatan itu untuk mendekati Cha dan berusaha simpatik terhadapnya agar dia bisa melihat kebaikan Lo," ungkap Yoga dengan detail.
Zain terdiam terpaku di tempatnya. Dia tidak menyangkal apa yang diucapkan Yoga. Karena itu memang benar adanya. Namun kebenaran yang lainnya bahwa dia sangat mencintai Cha dan itu tulus dari lubuk hatinya.
"Kenapa Zain, apa ucapanku benar?"
"Hahaha," Zain berpura-pura tertawa menutupi keterkejutannya.
"Ternyata Lo bisa menebak dengan benar. Tapi satu yang Lo harus tau, kalau saya sangat mencintainya dan dia sudah menjadi milikku seutuhnya," ucap Zain yang sengaja memprovokasi pikiran dan hati Yoga.
"Saya bahkan tau semuanya. Saya hanya ingin mengatakan, sampai ketemu Zain nanti di hari pernikahan Lo," ucap Yoga.
"Saya tunggu dan kita lihat apa Cha masih menyimpan perasaan buat Lo," ledek Zain dengan menyunggingkan senyumannya.
"Hahahaha, kita lihat Zain," tantang Yoga.
Lalu tlp pun mati, obrolan selesai. Zain belum membalikkan tubuhnya. Dia masih menetralkan hatinya dan emosinya. Setelah itu dia pun memberanikan diri untuk berjalan ke arah Cha dengan wajah tersenyum cerah.
"Gimana, apa kata Binyu?" tanya Cha saat Zain menghampirinya.
"Dia akan datang. Katanya dia tidak menyangka kita akan bersatu dan menikah. Ini kejutan baginya," jelas Zain.
"Apa kamu bahagia bang?" tanya Cha.
"Tentu sayang, Abang sangat bahagia. Dan apa kamu bahagia sayang?" tanya Zain balik.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia bang," jawab Cha sambil memeluk tubuh Zain dan bermanja di dadanya.