Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Menghadiri pernikahan Yoga


__ADS_3

Selama di dalam Pesawat, Cha hanya diam saja. Dia tidak ingin banyak berbicara. Zain menatap Cha dengan rasa khawatirnya. Dia juga tidak ingin mengajak Cha berbicara.


Saat ini Papa dan Mama Zain sedang ngobrol diruangan lain bersama Omanya. Zain hanya berdua bersama Cha diruangan sebelahnya. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Waktu yang ditempuh menuju Belanda hanya satu jam lebih. Zain dan Cha memilih untuk memejamkan mata sejenak.


Tak terasa waktu yang ditempuh singkat, Pesawat akhirnya mendarat di Belanda. Cha semakin deg-degan saat mereka menginjakkan kakinya di Belanda. Zain terus memperhatikan tingkah Cha yang merasa bimbang. Zain pun mengajak Cha keluar dari Pesawat dan menggenggam tangannya.


"Cha, rileks ya. Semua akan kita selesaikan secepatnya. Aku akan ada bersamamu," Zain memberikan dukungannya terhadap Cha.


"Makasih Zain. Aku benar-benar gugup. Aku takut tidak sanggup melihatnya bersanding dengan wanita lain Zain."


"Kamu pasti kuat Cha. Ada aku dan Oma yang akan menemanimu nantinya," Zain memberikan senyumannya terhadap Cha.


Cha hanya diam saja. Dia berusaha menenangkan hatinya yang terasa sakit dan kecewa. Cha ingin mengetahui apa alasan Yoga meninggalkannya dan lebih memilih wanita lain. Dia ingin mendengar langsung penjelasan dari mulut Yoga sendiri.


"Sayang, kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Mamanya Zain yang menghampirinya dari belakang.


"Eh Tante, saya gak kenapa-napa kok Tante," Cha berusaha menampilkan senyumannya.


"Syukurlah kalau gitu. Sekarang kita ke Hotel dulu ya untuk bersiap-siap. Lagian acaranya nanti siang jam 1 baru dimulai. Kita bisa sedikit nyantai untuk bersiap-siap," ucap Mamanya Zian.


"Iya Tante."


Omanya Zain menghampiri Cha dan menggenggam tangan Cha dari samping. Oma memberikan semangat melalui genggaman tangannya. Mereka berjalan hingga masuk ke dalam Mobil.


"Bonjour Monsieur!"


"(Selamat pagi Tuan)!" sapa bodyguardnya.


"Hé, allons à l'hôtel maintenant!"


"(Heum, kita ke Hotel sekarang)!" perintah Papanya Zain.


"Prêt grand seigneur."


"(Siap Tuan besar)," ucap bodyguardnya.


Mobil melaju meninggalkan Bandara menuju ke Hotel. Cha memandang jalanan di Belanda. Dia gak menyangka akan menginjakkan kakinya di Negara Belanda.


"Ga, tunggu kedatanganku. Aku ingin bertemu denganmu, ingin melihat langsung apa yang terjadi denganmu hingga menghancurkan harapanku," bathin Cha yang menahan tangisnya.


Cha terus menatap keluar jendela dengan tatapan yang kosong. Dia tidak menyadari jika Zain memanggilnya berulang kali. Karena Cha tidak menyahut, Zain membiarkan Cha termenung disampingnya.


Oma melihat sikap Cha yang sedang melamun, lalu menatap kearah cucunya.


"Zain, sepertinya dia masih belom bisa menerima keadaannya."


"Menurut Zain juga seperti itu Oma. Jadi Zain harus bagaimana Oma?" tanya Zain bingung.


"Kamu harus tetap berada disampingnya. Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi saat Cha menghadiri pesta mantannya."


"Apa ada masalah sama Papa jika nanti akan ada kericuhan saat kedatangan Cha?" Zain mengkhawatirkan Papanya juga.

__ADS_1


"Oma juga memikirkan itu Zain. Karena kamu tau kan, Papamu dengan Papanya mantan Cha itu bersahabat. Semoga hubungan mereka nantinya baik saja," harapan Omanya.


"Semoga aja ya Oma."


#Cerita tentang Yoga di Belanda.


Saat Yoga diberikan pilihan dari orang tuanya, dia merasa bingung dan prustasi. Dia tidak ingin menerima perjodohan itu. Disisi lain, Yoga sangat mencintai Cha dan ingin menjadikannya pendamping hidupnya. Namun jika dia memilih keluar dari keluarganya, bagaimana dia bisa memberikan kehidupan untuk Cha. Dan pastinya hidup mereka akan berantakan. Sehingga Yoga menerima perjodohan itu supaya Cha bisa hidup bahagia dengan laki-laki lain nantinya yang bisa memberikan kebahagiaan hati dan harta.


Yoga menemui Papanya yang berada diruang kerjanya.


"Pa, Yoga mau ngomong," ucap Yoga yang masuk ke dalam ruangan Papanya.


"Silahkan kamu mau menyampaikan apa? Apa pilihanmu?" tanya Papanya Yoga dengan tatapan tajamnya.


"Baiklah Pa, Yoga akan menuruti kemauan Papa menerima perjodohan itu. Tapi Yoga minta jangan ganggu kehidupan orang yang Yoga cintai. Dan jangan paksa Yoga untuk memberikan cinta terhadap pilihan kalian," tegas Yoga yang menerima perjodohan itu.


"Baik, Papa setuju. Kalau gitu, besok Papa akan undang keluarga mereka datang kesini. Dan kamu siap-siap untuk bertunangan sama dia."


"Baik Pa."


Yoga pergi meninggalkan ruangan Papanya. Dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan langsung berteriak sambil mencak-mencak karena merasa tak berguna. Dia tak bisa memperjuangkan cintanya dengan Cha yang selama ini diimpikannya.


"Aaaaaaaaaa, kenapa aku harus jalani hidup seperti ini....! Aku ingin bahagia bersamanya, aku merindukannya. Maafkan aku Cha.....Aku laki-laki pengecut, laki-laki yang tak berguna...!" Yoga berteriak meratapi nasibnya yang tak bisa memiliki cinta pertamanya.


Yoga terduduk di atas tempat tidurnya sambil menangis tersedu-sedu. Dia merasa lelah dengan semua ini. Lalu dia memandang foto Cha yang sedang berada dalam pelukannya dengan senyum bahagianya.


Dia sangat merindukan Cha. Air matanya terus menetes kala mengingat kisah lalu saat di Medan bersama Cha. Begitu banyak kenangan yang dilaluinya bersama Cha. Yoga mengingat bagaimana cara dia mendapatkan Cha. Semua akan berlalu dan hanya sebagai kenangan saja.


Waktu yang dinantikan oleh Papanya Yoga akhirnya tiba. Kedua keluarga bertemu dan membahas soal pernikahan langsung.


"Hai namaku Dina," tegur permeouan itu saat acara bebas.


Yoga tak menanggapi ucapan perempuan itu. Dia tidak berminat untuk mengenal lebih jauh dengan perempuan itu. Tujuannya hanya menikahinya tanpa cinta dan hubungan. Ini semua dilakukannya karena permintaan orang tuanya.


Namun ternyata perempuan itu sangat agresif, dia terus mendekati Yoga. Dia berusaha membuat Yoga jatuh cinta dengannya.


Hingga keputusan keluarga menikahi mereka satu bulan kemudian. Segala persiapan dilakukan dua keluarga.


Yoga bingung mau menghubungi Cha. Dia tidak ingin Cha mengetahui keadaannya. Tapi dia tidak ingin mengkhianati Cha. Yoga merasa takut untuk menghubungi Cha. Dia memutuskan untuk melakukan lost contact dengan Cha, berharap Cha akan melupakannya perlahan.


Hingga hari yang dinantikan datang juga. Hari ini adalah dimana Yoga akan melangsungkan pernikahannya. Dia tidak mengetahui akan kedatangan Cha di pernikahannya.


Kembali ke Cha dan keluarga Zain. Saat ini i mereka sudah sampai di Hotel tempat mereka akan melakukan persiapan.


"Oma, Cha biar satu kamar aja sama Zain ya. Karena Zain ingin memantau keadaan Cha. Zain khawatir dengan dia," pinta Zain.


"Iya sayang. Itu lebih baik," balas Omanya.


"Zain kamu temani Cha ya dikamar. Biar Oma sama Mama dan Papa," ucap Mamanya yang menghampiri mereka.


"Tadi Zain juga sudah bicara seperti itu ke Oma, Mom," balas Zain.

__ADS_1


"Oh ya sudah kalau gitu bawa Cha ke kamarnya."


"Iya Mom." Zain membawa Cha masuk ke dalam kamarnya.


"Cha, sekarang kita siap-siap ya. Aku tunggu kamu disini. Kamu bisa merias diri dulu," jelas Zain.


"Iya Zain," hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Cha.


Zain mendekati Cha dan mencoba menenangkan hatinya dengan memberikan pelukan hangat. Zain memeluk Cha dan berkata,


"Tenang sayang, semua akan baik-baik aja. Kamu harus bisa menahan semuanya untuk bisa melihat pernikahannya. Tapi kalau kamu tidak sanggup, kita akan batalkan menghadirinya," ucap Zain sambil menatap Cha.


"Aku akan mencobanya Zain. Jangan pernah lepaskan genggaman tanganku ya Zain. Aku takut gak kuat melihat semuanya," ungkap Cha.


"Iya sayang, sekarang bersiaplah. Aku akan menunggumu disini."


Lalu Cha mulai mengganti bajunya dan merias dirinya secantik mungkin. Dia menggunakan gaun yang kemaren dibelinya bersama Zain. Gaun yang elegan berwarna ungu, warna kesukaan Cha.


Setelah selesai dengan semuanya, Cha berjalan menghampiri Zain. Sesaat Zain terpaku menatap Cha dari atas sampai bawah.


"Cha, kamu benar-benar cantik. Rasanya aku gak rela membiarkan kecantikanmu terekspose keluar sana," gumam Zain yang masih bisa di dengar Cha.


Cha tersenyum saat Zain memberikan pujiannya.


"Ini biasa aja kok Zain. Kamu berlebihan menilaiku," balas Cha.


"Sungguh sayang! Kamu benar-benar cantik. Aku jadi pengen ngajak kamu nikah saat ini juga," Zain sangat terpesona dengan penampilan Cha.


"Dasar gombal. Ayo sekarang kita menemui Oma dan Mama kamu di kamar ssbslah," Cha mengajak Zain keluar dari kamar mereka dan menghampiri Oma dan Mamanya Zain.


Saat pintu kamar Omanya terbuka, Mama dan Omanya terpukau melihat kecantikan yang natural dari Cha.


"Oh ya ampuuun sayang...,kamu benar-benar cantik sekali," puji Omanya yang menatap Cha terus.


"Iya sayang, kamu cantik sekali. Zain, kamu harus bisa menjadikan Cha istrimu," pinta Mamanya


"Semua keputusan ada ditangan Cha, Mom. Dan masalah itu jangan dibahas sekarang ya Mom..!


"Mama lupa Zain. Habis Cha cantik sekali, Mama jadi gak rela jika dia memilih yang lain."


"Ya sudah Ma, Papa mana? Kita berangkat sekarang?" tanya Zain yang mengalihkan pembicaraan mereka.


"Pap sudah siap dari tadi. Sebentar Mama panggilkan dulu."


Tak lama kemudian, Papa dan Mamanya keluar dari dalam.


"Gimana sudah siap semuanya? Kita berangkat sekarang ya."


"Iya Pa," jawab Zain.


Mereka turun ke bawah melalui lift dan menuju ke lobby. Sesampainya di lobby, mereka semua keluar dari Hotel dan masuk ke Mobil.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena permintaan Oma. Oma ingin menikmati pemandangan jalan. Sepanjang jalan, tidak ada yang berbicara, termasuk Oma.


Waktu perjalanan tak lama, mereka akhirnya sampai di tempat acara pesta.


__ADS_2