Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Inilah Yang Harus Kita Jalani


__ADS_3

Awaaaaaas.... jangan baperan ya para pembaca setia novel. Cukup Cha nya aja yang baperan hehehe. Cerita ini memang sengaja disuguhkan dengan tingkat ke baperan ruarrrrr biasa.


Diawal sudah di sampaikan bahwa ini adalah kisah tentang seorang gadis yang hidup dalam keluarga Broken Home, jadi emang banyak baper nya pembaca novel qu....Selain baper, penulis juga mau membuat pembaca novel merasa gregetan, gerem dan rasa kasihan dan rasa sebel, hahaha campur aduk.


Hehehe yuk lanjut baca aja ya Yo-Lovers qu...Jangan lupa kasih VOTE nya, LIKE dan KoMen ya say......


Hingga tiba sore menjelang malam, mamanya Cha akhirnya pulang ke rumah.


"Assalamu'alaikum, kata mamanya.


Kebetulan Sika lagi membersihkan teras depan. "Wa'alaikumussalam ma, jawab Sika sambil menyapu.


"Papa udah datang Sika?" tanya mamanya dan melirik ke dalam rumah.


"Udah ma, tadi siang. Tadi papa nanyain mama. Sika bilang mama ke tempat Bu Nur," kata Sika yang memberikan informasi ke pada mamanya. Tapi dia tidak memberitahukan tentang pembicaraan kakak nya dengan papanya.


"Oh....," mamanya langsung masuk kedalam rumah. Dia masuk kedalam kamar dan bertemu suaminya.


"Kenapa jam segini baru pulang ma? Mama kan tau papa pulang hari ini, tapi kenapa mama malah pergi," suaminya mendekat ke arah istrinya.


"Apa masih perlu aq menyambut mu datang. Kalau kau mau pulang ya silahkan, tidak perlu harus kusambut dan kuladeni," kata mama Cha ketus. Dulu ketika papanya Cha belum ketahuan selingkuh, mamanya tidak pernah memanggil papa nya dengan sebutan kau. Tapi sekarang semua berubah, tidak ada lagi kelembutan, tidak ada lagi romantisan. Yang ada hanya kekasaran yang diperlihatkan mamanya ketika bertemu suaminya.


Papanya Cha diam aja, tidak mau melanjutkan pembicaraan. Dia pun males bertemu istrinya yang selalu marah-marah kalau dia pulang. Dia bergegas menyiapkan tas nya untuk berangkat ke kampung malam ini.

__ADS_1


"Papa, malam ini langsung berangkat ke kampung ma. Mungkin seminggu disana. Mau lihat ibu dan saudara disana," kata suaminya yang tidak mengerti perasaan istrinya.


Mamanya Cha tidak menggubris omongan suaminya, dia sibuk merapikan pakaian yang tadi pagi dicuci yang belom sempat disusun ke lemari. Setelah selesai dengan aktifitasnya, dia pun keluar kamar menemani si bungsu bermain.


Kemudian Sika menyamperin mamanya dan bertanya, "Ma, kenapa kita tidak ikut pulang ke kampung? Kita kan sudah lama tidak ketemu nenek dan kakek di kampung," Sika memberanikan diri bertanya kepada mamanya.


Lalu mamanya menatap Sika dengan tatapan sendu. Dalam bathin nya berkata, "Mana mungkin nak kita diajak ke kampung, karena perempuan itu sudah menunggunya dikampung sana."


Sebelum papanya Cha pulang ke Med**, kakak nya Cha menghubungi mamanya untuk memberitahukan bahwa papa nanti akan langsung ke kampung. Dan dengar khabar kalau istri keduanya yang di Jak****, ikut ke kampung. Tapi dia langsung tembak ke kampung. Keluarga besar papanya Cha sangat menerima kehadiran istri ke dua papanya. Entah apa yang membuat papanya bisa kepincut wanita itu yang jelas-jelas lebih cantik mamanya dari pada wanita itu.


Cha hanya mengetahui bahwa papanya suka sama wanita itu karena pandai merias diri, pandai bergaya atau modis. Sedangkan mamanya simpel dan kurang pandai bergaya, terlihat kampungan. Kadang Cha berfikir "apakah wanita yang kurang modis dan berdandan akan kalah sama yang modis dan berdandan dalam berumah tangga, dan apakah suami akan berpaling jika istrinya kurang modis," ya begitulah pemikiran Cha yang masih polos.


"Tidak nang, karena papamu ada urusan keluarga disana. Nanti kita jalan-jalan kekampung lihat nenek ya, biar papa sendirian dulu kesana," mama Cha mencoba menghibur anaknya yang masih kecil.


"Kak, kakak gak kepengen pulang kampung?ternyata Sika masih membahas tentang pulang kampung.


"Kenapa kamu nanya gitu dek? Lagian buat apa ke kampung, gak enak tau..," Cha menatap adeknya sambil tetep mendengar kan musik dengan volume kecil.


"Ya temen-temen Sika selalu bercerita kalau mereka sering pulang kampung mengunjungi neneknya. Lah kita udah lama banget kan gak pulang kampung kak, Sika kan pengen kayak temen-temen Sika yang sering pulang kampung," Sika berbicara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya ampun adek qu sayang....., nanti kalau kita libur sekolah, kakak coba minta sama mama kita pulang kampung ya ke tempat nenek," kata Cha yang mencoba menghibur adeknya.


"Serius kak! Asyeeek..., makasih kak, ntar Sika bilang sama teman-teman Sika kalau libur sekolah nanti kita ke kampung," kata Sika dengan semangat.

__ADS_1


Cha pun merangkul adeknya dan mengusap lembut rambut adiknya.


"Sekarang Sika malam ini tidur bareng kakak ya.., udah lama kita tidak tidur bersama kan dek...Ntar malam kita main ular tangga atau ludo, gimana mau gak....? tanya Cha berharap adeknya mau.


"Yeeeeee, mau, mau kak. Tapi tar malam ajarin Sika dulu buat ngerjain tugas. Setelah itu kita main ludo, ya kak," Sika memohon agar kakaknya mau membantunya mengerjakan tugas sekolah nya.


"Siiip lah, gih sana main sama si bungsu. Kakak mau ngerjain tugas dulu bentar," kata Cha yang beranjak dari tempat tidurnya menuju meja belajar.


Sika pun ikut beranjak dari tempat tidur, dan ketika dia hendak membuka pintu kamar, dia mendengar mama dan papanya ribut. Cha pun menoleh kearah Sika, kemudian Cha keluar kamar dan bergegas mengambil adek bungsunya dan cepat-cepat membawa adek nya ke dalam kamar.


Didalam kamar Sika ketakutan dan dia memeluk Cha dengan erat. Sebenarnya Cha juga takut tapi dia harus kelihatan berani didepan Sika. Cha menyalakan suara lantunan Ayat Kursi agar sibungsu dan Sika bisa tenang. Cha membaringkan adek bungsunya dan Sika ditempat tidur.


Diluar kamar, mama dan papanya berantem masalah wanita itu. Mamanya marah karena keluarga besar suaminya menerima kehadiran wanita itu. Mereka seakan lupa bahwa yang membuat suaminya bisa berjaya seperti sekarang itu karena ikut andil orang tua mamanya Cha. Tapi sepertinya mereka melupakan itu, ibarat kacang lupa pada kulitnya.


Mama Cha histeris berteriak memaki suaminya. Dan suaminya juga tidak perduli dengan istrinya lagi. Dia pun memesan taksi dan bergegas keluar dari rumah itu tanpa pamit sama anak-anaknya. Mama nya Cha menangis histeris karena sikap suaminya.


"Kau lihat nanti kalau anakku sudah pada besar, mereka yang akan membalas perbuatan mu kepadaku, kau dengar itu...! teriak mama Cha tanpa perduli apakah tetangga mendengarnya atau tidak. Lalu dia jatuh terduduk dilantai meraung-raung meratapi nasibnya.


"Aq akan mengurus surat perceraian kita setelah anak ku sudah pada besar nantinya, kau tunggu aja," gumam mama Cha. Lalu dia masuk ke kamar tanpa memikirkan bagaimana nasib ke tiga anak nya yang berada dalam kamar Cha.


Cha yang berada di dalam kamar, mengintip keluar, ternyata sudah sepi. "Apakah papanya sudah berangkat ya," pikir Cha yang menatap seluruh ruangan.


Cha pun memberanikan diri keluar kamar menuju kamar mamanya. Lalu dia memanggil mamanya tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Cha pun mencoba membuka pintu kamar mamanya, dan melihat mamanya sedang bertelepon dengan kakak nya yang paling besar. Mamanya Cha melihat kearah Cha dengan tatapan tajam dan berkata, "Ngapain kau kemari, kau urus itu adek mu, tiduran mereka, jangan ganggu mama dulu, ngerti," bentak mama nya. Cha pun pergi meninggalkan kamar mamanya dan kembali ke kamar.

__ADS_1


Didalam kamar Cha melihat kedua adeknya sudah tidur pulas, dia pun mencium kening kedua adeknya. "Kasihan kalian dek, sabar ya, ini lah yang harus kita jalani," gumam Cha. dia pun ikut tertidur disamping si bungsu.


__ADS_2