
Cha dan Zain sangat menikmati sunset hingga malam hari. Mereka masih betah berlama-lama di Parangtritis hingga malam.
"Ternyata menyenangkan ya sayang, kalau malam disini. Apalagi melihat ombak dimalam hari," ucap Zain yang betah memeluk Cha dari tadi.
"Iya Zain. Aku juga baru kali ini pertamanya menikmati sunset bersama dengan laki-laki. Apalagi sampai malam-malam di pantai," sambung Cha yang sudah mulai kedinginan.
"Berarti aku dong yang pertamanya," sahut Zain yang merasa senang karena menjadi orang pertama bagi Cha.
"Iya," jawab Cha singkat.
Zain pun memeluk Cha dengan mesra dan mencium pipi Cha.
"Zain, kita pergi yuk dari sini. Karena aku sudah mulai kedinginan. Apalagi kita tidak menggunakan jaket. Kamu juga pasti kedinginan," ucap Cha sambil melihat ke arah Zain.
"Iya aku kedinginan. Syukurnya ada kamu yang bisa aku peluk seperti ini. Jadi sedikit hangat," balas Zain tersenyum.
"Lagian, aku juga udah laper Zain. Kita ke Malioboro aja yuk. Kita nongkrong disana," ajak Cha.
"Mmmm, ok lah. Aku juga mau menikmati malam hari di Malioboro," ucap Zain yang setuju.
Mereka meninggalkan Parangtritis dan menuju ke Malioboro. Sepanjang perjalanan Zain dan Cha, tertidur karena mengantuk. Mereka tidur hingga sampai ke Malioboro.
Bodyguard sekaligus supir Zain, memberitahukan kepada Zain bahwa mereka sudah sampai di Malioboro Mall. Zain dan Cha mulai membuka matanya dan melihat sekeliling mereka dari dalam mobil.
Zain mengajak Cha keluar dan berjalan menyusuri Malioboro. Namun sebelum itu mereka singgah di lesehan yang ada di Malioboro untuk makan malam.
"Bener-bener menyenangkan ya Cha kalau malam hari di Malioboro. Jadi males aku balik ke Paris," celoteh Zain sambil mengunyah makanannya.
"Udah habisin dulu makan nya, nanti keselek loh makan sambil ngoceh," tegur Cha.
"Hahaha, iya-iya sayang," balas Zain.
Zain sangat menikmati makan malamnya bersama Cha. Sesekali dia menyuapi Cha dari tangannya sendiri. Terkadang Cha suka grogi kalau Zain menyuapinya, karena banyak mata yang memandang kearah mereka. Namun itu semua tidak pernah dihiraukan oleh Zain.
Ketika mereka menikmati makanannya, Cha mendengar ponsel Zain berdering.
"Zain, itu ponselmu berdering loh. Coba lihat sapa tau penting," ucap Cha.
"Biarkan saja Cha. Nanti juga capek sendiri," jawab Zain dengan cueknya.
"Lihat dulu Zain, sapa tau itu ada hal yang penting. Kamu gak boleh seperti itu," paksa Cha.
"Iya-iya sayangkuuuuu, nih aku cek dulu," jawab Zain yang kemudian mengecek ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Papa!" seru Zain.
Lalu Zain mengangkat tlp nya.
"Assalamu'alaikum Pa," sapa Zain.
"Wa'alaikumussalam, bonjour, pourquoi ne reviens tu pas zain?" tanya Papanya Zain berbahasa Perancis.
"(Wa'alaikumussalam Zain, kenapa kamu tidak jadi kembali Zain)?" tanya Papanya.
"Je suis désolé, j'ai encore des affaires ici," jawab Zain.
"(Maaf Pa, aku masih ada urusan disini)," jawab Zain singkat.
"Qu'est-ce que tu veux dire par Zain? Quel est le problème?" tanya Papanya lagi yang heran mendengar jawaban Zain.
"(Apa maksud kamu zain? Urusan apa)?" tanya Papanya lagi.
__ADS_1
"Zain, lagi bantu calon istri Zain, Pa disini. Dia lagi mengurus kuliahnya," jawab Zain.
"Quoi? Future femme? Depuis quand es-tu sérieux avec les filles, Zain... !" sindir Papanya yang tidak percaya Zain mempunyai calon istri.
"(Apa? Calon istri? Sejak kapan kamu serius dengan perempuan, Zain...)!" sindir Papanya.
"Oh, allez papa, ne me taquine pas comme ça. moi aussi je veux avoir une femme," balas Zain kesal.
"(Oh, ayolah Papa, jangan menyindir ku begitu. Aku juga pengen memiliki istri)," balas Zain kesal.
"Ok, tu devrais nous le présenter. Lorsque vous avez terminé vos affaires, dépêchez-vous de revenir car l'entreprise a besoin de vous," perintah Papanya.
"(Ok, kau harus mengenalkannya dengan kami. Kalau sudah selesai urusanmu, cepat kembali karena perusahaan membutuhkanmu)," perintah Papanya.
"Ok Pa, nanti Zain akan kenalkan sama keluarga besar kalau sudah waktunya," janji Zain.
"Papa récupérera ta promesse plus tard," balas Papanya.
"(Papa, akan tunggu janjimu nanti)," balas Papanya.
Akhirnya obrolan antara Zain dan Papanya berakhir. Zain melihat kearah Cha, dia pun tersenyum. Lalu dia kembali duduk disamping Cha dan melanjutkan makannya.
"Siapa tadi yang tlp Zain?" tanya Cha penasaran.
"Papa ku, dia menyuruh ku cepat kembali ke Paris karena Perusahaan membutuhkan ku," jawab Zain nyantai.
"Oh..., trus besok kamu jadi kembali ke Paris?" tanya Cha lagi.
"Iya Cha. Habis ngantar kamu kuliah, aku akan berangkat ke Paris," jawab Zain dengan wajah sedihnya. Namun dia tak memperlihatkan nya kepada Cha.
"Aku pasti kesepian lagi Zain," ucap Cha dengan nada sedih.
"Jangan, nanti Papa kamu marah karena sering melalaikan tugas kamu," ucap Cha berusaha tersenyum.
"Tenang saja. Papa ku orangnya pengertian kok. Tadi aja dia pengen kenalan sama kamu. Malah aku disuruh bawa kamu ke Paris, hehehe," ujar Zain.
"Jangan seperti itu Zain. Jangan kasih harapan ke Papa kamu. Kasihan," balas Cha.
"Setiap orang berhak berharap Cha. Asal jangan berlebihan. Kalau pun harapannya pupus, ya mau gimana lagi," pasrah Zain sambil mengedikkan bahunya.
"Iya sih," balas Cha.
Obrolan mereka terhenti karena ada penyanyi jalanan datang ke lesehan itu dan menyanyikan lagu. Zain sangat suka melihat penyanyi dengan alat musik sederhana dengan alat musik yang memadai. Hingga Zain request, mau nyanyi dan diiringi dengan alat musiknya. Lagu yang mau dinyanyikan Zain adalah Ruang Rindu, Letto.
Si penyanyi jalanan menerima request dari Zain. Dia pun mulai memainkan musiknya.
"Lagu ini, aku nyanyikan buat menghibur kamu Cha sebelum aku kembali ke Paris," ucap Zain sembari berdiri dihadapan Cha.
Zain pun mulai bersiap untuk menyanyikan lagunya.
"Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan kusentuh dia
Terasa hangat, oh di dalam hati
__ADS_1
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua kulihatnya pergi
Tak pernah kuragu dan s'lalu kuingat
Kerlingan matamu dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut mencari makna
Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada
Kau datang dan pergi, oh, begitu saja
Semua kut'rima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu
Uh-uh-uh, uh-uh
Uh-uh, uh-uh-uh
Kau datang dan pergi, oh, begitu saja
Semua kut'rima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu
Bertemu
Hu-uh-uh"
Setelah Zain usai menyanyikan lagu itu, semua orang yang berada di lesehan itu bertepuk tangan memberikan pujian dengan suara Zain yang ternyata merdu.
Cha tidak menduga, Zain akan bernyanyi di hadapan semua orang untuk dia. Cha meneteskan air matanya menatap Zain.
"Begitu besarnya cintamu Zain, hingga kau bernyanyi untuk ku di depan orang banyak," bathin Cha sambil terus menatap Zain.
Zain mengerlingkan matanya ke arah Cha setelah selesai bernyanyi. Dia pun kembali duduk di samping Cha setelah selesai memberi tips kepada penyanyi jalanan itu.
"Gimana suaraku Cha, bagus gak?" tanya Zain sambil menatap Cha lekat.
"Bagus banget Zain, aku sampai terharu mendengarnya. Kau membuatku sedih, apalagi besok kita akan berpisah," ucap Cha manja.
Zain merangkul Cha dan berkata dan mencium tangan Cha.
"Malam ini kita habiskan waktu berdua sampai kita puas, ok sayang," ucap Zain tersenyum.
"Ayo kita lanjut jalan. Selagi belom larut malam," ajak Cha.
Mereka beranjak dari lesehan itu setelah membayar makanan mereka. Zain dan Cha berjalan sepanjang Malioboro. Tak lupa Zain selalu menggandeng tangan Cha.
Mereka terus berjalan sampai ke arah museum. Zain benar-benar menikmati malam di Malioboro bersama Cha.
"Cha, ayo kesana. Aku pengen beli itu mainan yang bisa dihembus sehingga keluar gelembung-gelembung kecil," ucap Zain menunjuk ke arah tukang jualan.
Cha pun menuruti kemauan Zain. Mereka pun membeli mainan itu. Zain terus bermain alat hembusan gelembung itu. Dia terlihat seperti anak kecil yang kesenangan.
__ADS_1