
Akhirnya gak terasa udah sampai bab 50 ya. Selanjutnya kisah Cha akan dimulai ditahap menuju kedewasaan.
Jangan lupa ya terus dukung penulis kasih LIKE sebanyak-banyaknya, VOTE dan HADIAH yang banyak. Komen nya juga ya biar penulis bisa memperbaiki isi dari ceritanya.
Yuk simak terus kisah Cha yang berasal dari keluarga Broken Home.
Didalam mobil, Yoga duduk di depan, sedangkan Bimo duduk bersama Dewi dibelakang.
"Gimana tadi Wi, serem gak mamanya Cha?" tanya Bimo yang penasaran dan takut.
"Wuih....gila tau. Gw sebenarnya takut banget tadi Bim waktu ketemu mamanya, galak banget tau gak," Dewi mengingat wajah mama Cha yang garang.
"Ya tau dong, tadi kan gw udah ngobrol sama mamanya juga, wuih...galak banget," Bimo bergidik ngeri mengingat suara mamanya Cha.
"Mudah-mudahan si bajingan itu tidak lagi datang kerumah Cha," Yoga berharap tidak lagi ada masalah untuk Cha.
"Oh ya nanti setelah ujian kelulusan, Lo mau lanjut kemana Ga?" Dewi memberanikan dirinya untuk akrab sama Yoga.
"Emang kenapa? Lo mau tau aja kemana Yoga," ketus Bimo.
"Idih kenapa Lo yang jawab, resek banget sih Lo Bim," sungut Dewi sambil memukul bahu Bimo dengan kesal.
"Nih mau nganter Dewi ke alamat mana Bim?" tanya Yoga menghentikan keributan antara Dewi dan Bimo.
"Oh iya lupa gw, tuh dipertigaan belok kanan ya Pak," kata Bimo yang duduk dibelakang.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah Dewi. Dewi pun mempersilahkan mereka untuk singgah dulu. namun Yoga ingin segera sampai dirumah. Dia ingin menghubungi Cha dan mendengar cerita yang terjadi dirumahnya tadi.
Setelah mengantar Dewi, giliran Bimo yang dianter ke rumahnya.
"Bim thanks banget ya atas bantuan Lo, Lo emang sahabat gw dari dulu," Yoga merangkul Bimo sahabatnya yang terbaik.
Bimo dan Yoga sudah bersahabat dari kecil. Karena mama Bimo dan mamanya Yoga bersahabat juga dari bangku SMP sampai saat ini. Sehingga Bimo dan Yoga juga menjadi akrab hingga menjadi sahabat.
"Ah Lo kayak sama orang lain aja Ga. Kita ini kan sahabatan. Lo kan dah sering juga bantuin gw Ga. Udah jangan mendramatisir begini, kayak anak kecil aja Lo. Lo harus kuat dan semangat untuk Cha. Lo harus bisa jaga dia, kasihan dia," nasehat Bimo kepada Yoga.
"Iya gw akan jaga dia Bim. Tapi tidak untuk nanti," Yoga menundukkan kepalanya sambil bersandar di pintu mobil.
"Maksud Lo, gak untuk nanti, apaan Ga?" tanya Bimo penasaran sambil memicingkan matanya melihat Yoga.
"Iya Bim, selesai kita lulus sekolah nanti. Gw harus berangkat keluar negeri lanjut kuliah di kedokteran," kata Yoga yang masih menundukkan wajahnya.
"Apa!!" seru Bimo yang kaget mendengarnya.
Yoga membuang nafas beratnya. Dan menatap ke arah Bimo.
"Iya Bim, gw akan keluar negeri selesai lulus sekolah," Yoga mengulangi perkataannya.
"Jadi maksud Lo, Lo akan ninggalin Cha di sini? Trus gimana dengan Cha nantinya Ga! Lo tau kan Cha gak ada temennya. Mama nya aja Lo bilang seperti itu, trus nih Lo ninggalin dia. Hahhh, Lo dah bilang sama Cha?" tanya Bimo.
"Belom Bim, gw takut mau ngomongnya. Gw takut Cha sedih dan tidak semangat buat ngelanjutin kuliahnya," Yoga merasa bingung.
"Trus kapan Lo mau cerita sama Cha?" tanya Bimo lagi.
__ADS_1
"Menurut Lo apa yang harus gw lakukan Bim! Gw bingung mau kapan bilangnya ke Cha," Yoga merasa bimbang dengan keputusannya yang mau sekolah ke luar negeri.
"Saran gw lebih baik setelah ujian dan pas waktu acara pentas seni kita nanti," pendapat Bimo.
"Heum, kayak nya boleh juga tuh saran Lo Bim. Lo emang sahabat gw yang terbaik," Yoga memeluk Bimo dengan rasa sayang sebagai sahabat.
"Udah ah, tar dikira orang kita apaan lagi," protes Bimo.
"Gw balik dulu ya Bim. Salam buat Bunda dirumah," kata Yoga.
"Siiip, salam doang mana kenyang, bawain makanan dong! celetuk Bimo becanda.
"Iya tar kalau main kemari gw makanan yang banyak. Tapi buat bunda doang, hehehe," kata yoga cengengesan.
"Yeeeeee pelit Lo ah," kesal Bimo cemberut kayak anak kecil yang gak dikasih mainan.
"Iya iya Lo juga pasti dibawain. Bawain nota pembayarannya maksud gw, hahahaha," Yoga langsung kabur masuk ke dalam mobilnya, dan dia menyuruh pak supir pergi dari rumah Bimo.
"Sialan Lo Yoga...! Awas Lo besok ya gw pites Lo!" teriak Bimo kesal. Tapi akhirnya diapun tertawa terbahak-bahak.
Sesampainya Yoga dirumah, dia bertemu mamanya. Tapi tidak menyapa dan nyelonong masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa tuh anak, dateng-dateng, wajahnya murung gitu," celetuk mama Yoga yang melihat anaknya langsung ke kamar.
Didalam kamar Yoga langsung mengganti bajunya. Setelah itu dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Cha.
Cha yang berada dikamarnya, malah tidur lelap, hingga suara dering ponsel tak terdengar.
Di tempat lain, di dalam kamar, Yoga mondar-mandir menunggu tlp nya diangkat. Namun yang di hubungi tak kunjung menjawab.
"Cha kamu kemana sih..., kenapa gak diangkat. Apa yang terjadi denganmu," gumam Yoga sambil mondar-mandir.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mamanya masuk ke dalam kamar. Namun Yoga yang masih fokus dengan ponselnya tak menyadari kedatangan mamanya.
"Ekhem ekhem.." mamanya berdehem.
Yoga masih tak sadar juga karena pikirannya tertuju ke Cha.
"Ya ampuuun nih anak, mamanya gak digubris juga," kesel mama nya.
Lalu mamanya menepuk pundak Yoga, hingga Yoga menoleh dan kaget melihat mamanya sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa dari tadi kamu tuh datang, mama lihat gelisah gitu. Ada apa sih?" tanya mamanya.
"Mama ngagetin Yoga aja," protes Yoga.
"Yeeeeee dari tadi mama tuh udah ada di sini berdiri. Tapi kamunya aja yang gak ngeh," balas protes mamanya.
"Ma, Yoga pengen curhat nih ma..," rengek Yoga seperti anak kecil kepada mamanya.
"Mau curhat apa? Ada masalah dengan Cha, iya?" tanya mama nya to the point.
"Mama kok tau, wah hebat mama kayak dukun bisa tau masalah Yoga," canda Yoga kepada mamanya.
__ADS_1
"Enak aja mama dibilang dukun. Mama nebak aja, siapa tau benar," protes mamanya karena di bilang kayak dukun.
Akhirnya mereka duduk di ruang tengah sambil menikmati secangkir coklat panas. Yoga menceritakan kejadian yang terjadi dengan Cha. Kecuali tentang dia yang sudah berhubungan intim dengan Cha.
"Ya ampun nak...!" seru mamanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Iya ma, kasihan Cha tidak ada tempat dia berkeluh kesah. Karena mamanya tidak care terhadapnya," kata Yoga.
"Kenapa gak lapor polisi aja sih nak. Mama jadi geregetan tau dengar nya. Tuh laki-laki kurang ajar banget ya manfaatin anak yang masih belia seperti kalian. Pengen mama hajar aja tuh orang," geram mama Cha dengan cerita tentang si Binyu.
"Tenang ma, Yoga udah pernah menghajarnya, tapi gak sampai babak belur sih hehehe," Yoga cengengesan sambil meminum coklat panasnya.
"Ya mudah-mudahan udah kelar ya masalahnya. Duh si Bimo emang sahabat kamu yang terbaik ya nak seperti mamanya sahabatan dengan mama," kata mamanya dengan bangga.
"Iya ma, dan ada satu hal lagi ma yang buat Yoga bingung buat cerita ke Cha."
"Tentang apa itu nak?" tanya mamanya yang heran melihat anaknya.
"Itu mah tentang kuliah keluar negeri. Yoga mau cerita ke Cha. Tapi takut dia bakalan kepikiran dan tidak fokus buat ujian. Nurut mama gimana?" tanya Yoga berharap mamanya bisa kasih solusi.
"Mmmm nurut mama sih, mending tar setelah selesai ujian aja dikasih tau nya. Kan udah tidak ada pikiran lagi buat mikirin ujian. Jadi kamu lebih leluasa ngobrolnya," pendapat mamanya.
"Iya sih ma. Tadi Bimo juga kasih pendapat begitu. Yoga takut Cha sedih dan tidak mau lanjut kuliah karena tidak ada tempat dia berbagi dukanya," kata yoga.
"Kan belom dicoba nak. Lihat dulu bagaimana respon dia. Kalau perlu nanti mama bantu buat jelasin ke dia. Udah ah, kamu jangan mikirin itu dulu. Yang penting sekarang fokus buat ujian, tinggal beberapa hari lagi loh..," mama nya mengingatkan.
Yoga memeluk mamanya dengan senang. Dan mamanya juga membalas pelukan anaknya dengan hangat. Mamanya pun membelai kepala anaknya.
"Anak mama sekarang udah besar ya. Udah mau ninggalin mama kuliah jauh," kata mamanya dengan raut sedih.
" Mama kenapa jadi sedih gitu, ntar Yoga jadi males kuliah di tempat Oma. Yoga jadi sedih juga nih...," Yoga pun ikut-ikutan sedih sampai menangis.
"Eleuh eleuh anak mama cengeng. Udah ah jangan nangis gitu. Mama ikhlas kok nak, kamu kuliah di sana. Tapi ingat harus sering-sering hubungi mama. Kan mama tar rindu sama kamu," mamanya mengacak-acak rambut Yoga demi menahan agar tidak mengeluarkan air matanya juga.
Sebenarnya berat bagi mamanya untuk melepas Yoga kuliah ditempat mertuanya. Tapi suami nya sangat antusias menjadikan Yoga seorang dokter. Makanya Yoga dikirim ke tempat mertuanya biar ada yang mantau dia disana.
"Mama juga harus janji sama Yoga, harus sering-sering ke tempat Oma bareng Papa," kata Yoga.
"Hahhh rumah pasti sepi gak kamu nak. Siapa temen mama disini. Papa kamu tau sendiri sibuk banget bekerja," protes mamanya tentang suaminya yang sibuk bekerja.
"Nanti Yoga bilang deh sama Papa, buat lebih perhatian kemama ya. Pagi wajib tlp mama, siang juga tlp mama, malam nyenengin mama, iya kan," goda Yoga sambil menaik-naikan alisnya dan senyum genit melihat mamanya.
"Ihhhhhhh anak nakal, bisa-bisanya godain mamanya, mulai pinter kamu ya," telinga Yoga dijewer mamanya.
"Aduh maaaa, sakit. Ampun ampun, Yoga gak goda mama lagi," berharap mamanya melepas jewerannya.
"Sayang, kapan rencana kami berangkat ke tempat Oma. Apa semua sudah diurus Papa kamu?" tanya mamanya.
"Yoga belom tau ma, karena rencananya nanti dibahas lagi sama Papa setelah selesai ujian, kata Papa kemaren," jelas Yoga
"Ya udah, mama mau puas-puasin masak buat kamu dan jalan-jalan sama kamu sebelum kamu pergi dari mama," mamanya menatap wajah anaknya dengan sendu.
"Iya ma, Yoga juga pengen makan masakan mama sepuasnya," kata Yoga menyenangkan hati mamanya.
__ADS_1