
Cha dan Zain memberikan tatapan yang berbeda terhadap seseorang yang ada dihadapan mereka.
"Cha, aku ingin bicara denganmu. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskannya," ucap sosok itu yang tak lain adalah Yoga.
Zain berusaha tenang namun tangannya mengepal dibalik celananya. Dia berharap Cha tidak akan memberinya kesempatan.
"Maaf Ga, aku tidak bisa. Aku harus kembali ke Indonesia sekarang. Keluarga Zain sudah menunggu kami," ucap Cha yang berusaha menenangkan gejolak perasaannya. Perasaan rindu, marah dan benci.
Tanpa persetujuan Cha dan memperdulikan perasaannya serta tatapan elang dari Zain, Yoga menarik Cha dalam pelukannya. Rasa rindu yang kian lama mendarah daging dirasakan Yoga, dia luapkan saat ini juga.
"Cha aku rindu banget sama kamu. Aku melakukan ini semua demi kamu Cha. Demi menyelamatkan kamu, agar Papa tidak menghancurkanmu!" jelas Yoga sambil memeluk erat Cha dan mengecup rambut samping Cha.
Cha diam terpaku tak bisa bergerak. Kakinya seperti ada yang memakunya hingga dia tak menolak dan menjauh dari pelukan Yoga. Namun hatinya tidak ingin menyakiti Zain.
Zain yang melihat pemandangan itu marah dan tangannya semakin mengepal hingga jari-jari kukunya menancap kekulitnya dan meninggalkan perih yang dirasakannya seperti perih di hatinya saat ini.
Cha berusaha melepaskan pelukan dari Zain dan mendorong Yoga hingga membuat Yoga terjengkang kebelakang.
"Maaf Ga, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Dan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, sudah aku lupakan. Apapun itu alasan kamu, aku menganggap kamu seorang pengecut yang berdalih melindungiku," sarkas Cha tanpa ekspresi.
Cha kembali kesamping Zain dan menggandeng lengan Zain lalu mengusap-usap lembut lengan Zain. Cha tau bahwa Zain sangat terluka dan takut akan kehilangan dirinya. Namun Cha bukan orang yang jahat, dia ingin mencintai orang yang tulus mencintainya dan memperjuangkannya sampai detik ini.
"Cha, aku tau kamu masih sangat mencintaiku. Jangan bohongi dirimu Cha, please...!" Yoga mengiba dan memohon pengertian Cha.
"Aku sudah menutup hatiku Ga, dan sekarang hatiku sudah kuberikan untuk Zain, laki-laki yang tulus menerima kekuranganku dan keluarganya mau menerima diriku yang berasal dari keluarga Broken Home," ucap Cha dengan rasa sedih yang mendalam.
Yoga menatap mata Cha yang mulai berkaca tapi tak ada air yang tumpah. Dia melihat kebohongan dimata Cha. Yoga bisa merasakannya, kalau Cha masih sangat mencintainya.
"Cha, apapun yang kamu katakan saat ini, aku percaya bahwa dilubuk hatimu masih ada cinta untukku. Aku akan terus menunggumu Cha sampai kapanpun," ucap Yoga putus asa.
"Kamu tidak perlu menungguku lagi, karena aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Zain. Aku tidak akan pernah berpaling darinya walaupun terhadap cinta pertamaku," balas Cha dengan sikap santainya.
"Ayo sayang kita berangkat. Mama dan Papa sudah menunggu kita," ajak Zain yang tidak memperdulikan kemarahan Yoga.
Cha ingin beranjak dari tempatnya, namun Yoga menghentikannya.
"Berhenti...! ucap Yoga lantang.
Cha dan Zain menoleh kearahnya. Zain terus menatap Yoga dengan tatapan menusuk. Seperti pisau yang siap menancap di jantungnya Yoga.
__ADS_1
"Cha, dengarkan aku dulu. Aku sangat mencintaimu, jujur tidak ada wanita lain selain dirimu. Pernikahan itu hanya kesepakatanku dengan Papa agar dia tidak mengganggumu Cha. Aku tidak ingin kamu terluka, dan aku berkorban untuk itu," jelas Yoga dengan penyesalan yang mendalam.
"Aku tidak perduli apapun alasannya," ucap Cha ketus.
"Kalau aku tidak menikah dengan wanita itu, apakah kamu akan menerimaku apa adanya Cha tanpa harta dan apapun. Karena hidupku akan menjadi gembel jika pilihanku adalah kamu," Yoga memberikan penjelasannya lagi.
Penjelasan Yoga yang terkahir membuat hati Cha terusik. Ada rasa sedih yang dirasakannya. Kenapa harus mengambil keputusan seperti itu.
Cha berpikir, "kenapa Yoga tidak mau bercerita denganku dan membicarakan ini sebelumnya? Sebegitu sayangnya dia ingin melindungi diriku?" bathin Cha bergejolak dengan pikiran-pikirannya.
Zain yang berada disamping Cha merasa geram dengan laki-laki pengecut yang mengatasnamakan pengorbanan.
"Kalau kau memang sayang menyayangi Cha, seharusnya kau memperjuangkannya. Aku rasa Cha tidak keberatan jika menerimamu sebagai gembel. Karena Cha bukan wanita gila harta. Dia bisa berusaha mendapatkan uang. Kenapa harus ada pengorbanan?" sarkas Zain membuat Cha menoleh kearahnya.
Yoga terdiam. Dia membenarkan ucapan Zain, kenapa harus ada pengorbanan. Tapi dia terlalu pengecut dan picik jika hidup tanpa harta. Dia salah dan memang tak bisa dimaafkan.
"Kau benar Tuan. Aku tak seharusnya mengorbankan penantian dan cinta Cha hanya karena takut menjadi gembel," balas Yoga.
"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Ga, aku hanya bisa berpesan, terimalah wanita yang sudah menjadi istrimu. Cintai dia sepenuh hatimu. Lupakan aku dan jalani hidup barumu," ucap Cha yang berusaha menahan air matanya agar tak mengalir jatuh.
"Aku tidak akan bisa melupakanmu Cha. Dan mencintai wanita lain. Itu tidak bisa aku lakukan. Tapi aku akan mencoba membuka lembaran baru hidupku seorang diri. Selamat tinggal Cha. Semoga kamu bahagia bersamanya," balas Yoga dengan wajah penuh penyesalan dan rasa sedih.
Cha hanya diam saja dan dia terus menatap mata Yoga yang sudah berembun.
Cha diam sejenak, dia tidak bisa melakukannya karena dia tak ingin menyakiti hati Zain. Namun dia ingin memenuhi keinginan Yoga untuk terakhir kalinya. Bagaimanapun, Yoga adalah cinta pertamanya dan dialah yang mengambil kegadisannya.
Cha menatap Yoga dalam. Dia tinggal ingin meninggalkan sesak di dadanya. Dia ingin ini berakhir tanpa ada rasa membenci satu sama lain.
Zain mencoba tegar dan menekan amarahnya. Lalu dia berkata.
"Selesaikan urusan kalian. Aku tunggu dikamar Mama," Zain berlalu meninggalkan Cha dan masuk ke dalam kamar orang tuanya.
Sedangkan Cha masih berdiri dihadapan Yoga. Jika tidak karena kejadian itu, ingin rasanya Cha menghambur ke dalam pelukan kekasihnya ini. Tapi itu hanya jika.
"Bolehkah aku memelukmu Cha, aku sangat merindukanmu," Yoga mengulangi kembali ucapannya.
Cha mengangguk memperbolehkan Yoga memeluknya.
Yoga langsung berhambur memeluk Cha dengan meluapkan kerinduannya yang mendalam. Yoga bisa mencium aroma tubuh Cha dengan wangi lavender. Dia memeluk Cha dengan erat dan penuh kasih sayang. Sesekali Yoga mencium rambut Cha dan mengecup kening Cha. Dia melepas pelukannya dan melihat Cha menangis.
__ADS_1
"Yang, aku minta maaf karena sudah menghancurkan impianmu untuk hidup bersamaku. Aku sangat menyesal Cha. Tapi itu tidak mungkin dikembalikan lagi. Hiduplah bahagia dengannya. Jika Allah SWT memberikan takdir buat kita bisa, bersama. Aku akan memperjuangkanmu apapun yang terjadi," ucap Yoga dengan kesungguhan dan terus memberikan kecupan lembut di pipi Cha dan keningnya.
"Kamu juga, harus bisa melupakanku Ga. Carilah penggantiku, lupakan aku," pinta Cha memohon.
"Itu tidak mungkin yang, kamu adalah cintaku. Sampai kapanpun bahkan jika nyawaku hilang, aku akan tetap mencintaimu."
Cha terus mengeluarkan air matanya. Dia tidak menyangka akan ada pertemuan yang menyedihkan seperti ini. Disaat dia akan kembali ke Indonesia, dia harus menyudahi hubungannya dengan Yoga dan menjalin hubungan dengan Zain.
Yoga menatap mata Cha yang berair. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Cha dan melum** bibir Cha dengan lembut dan pelan.
Cha diam terpaku di tempatnya berdiri. Dia terkejut mendapati ciuman dari Yoga. Cha tidak membalas ciuman Yoga, karena dia tidak ingin mengkhianati Zain.
Yoga tak memperdulikan sikap Cha, dia tetap melakukannya hingga dia melepaskan pagutan sepihak mereka. Yoga menatap Cha dengan sendunya dan rasa sakit dihatinya karena Cha tidak membalasnya.
"Beberapa tahun tak bertemu, kamu semakin cantik yang, aku menyesalinya. Jaga dirimu baik-baik ya yanx. Aku akan melanjutkan kuliah ke Kedokteran ku," jelas Yoga.
Lalu dari arah kamar sebelah, ternyata Zain tidak benar-benar masuk ke dalam. Dia berdiri didalam pintu mendengar semua percakapan mereka dan dapat melihat apa yang dilakukan Cha dan Yoga. Dia bergegas keluar dan menghampiri keduanya.
"Ayo sayang, Mama dan Oma sudah menunggu," ajak Zain.
"Zain," panggil Yoga tanpa embel-embel Tuan.
Zain menoleh kearah Yoga dan menatapnya dengan tegas.
"Tolong jaga Cha. Aku ikhlaskan dia untukmu. Kau sudah menjadi pemenangnya. Kau berhasil memenangkan hati Cha. Jagalah dia. Jika kau juga menyakitinya, aku gak segan-segan untuk merebutnya kembali," ucap Yoga tegas tanpa memperlihatkan permusuhan.
"Heum," hanya itu yang keluar dari bibir Zain.
"Cha, selamat tinggal. Jika kedepannya kita bertemu kembali, itu artinya Allah memberikan takdir kesempatan untukku memilikimu," ucap Yoga dengan memaksakan senyumnya.
Lalu Yoga kembali memeluk Cha dihadapan Zain. Zain merasa geram tapi dia mencoba memberikan kesempatan terakhir buat Yoga.
Lalu Yoga melepaskan pelukannya dan beralih ke Zain.
"Jangan sia-siakan Cha. Aku pamit." Yoga berjalan meninggalkan Cha dan Zain.
Dia tidak ingin menoleh kebelakang, karena akan terasa sakit dan kaki akan terasa berat meninggalkan Cha. Dia terus berjalan hingga menghilang dari pandangan Cha dan Zain.
"Zain....., maaf jika aku menerima pelukannya. Maaf aku sudah berusaha," ungkap Cha sambil memeluk Zain dengan erat dan menangis terisak-isak
__ADS_1
"Sayang, aku tidak marah. Aku mengerti dengan situasi ini. Jangan merasa bersalah. Aku tidak akan berpikir picik menilaimu jelek hanya karena keadaan ini," ucap Zain yang memberikan ketenangan untuk Cha.
"Makasih Zain, kamu sangat baik dan pengertian. Aku mencintaimu sampai seumur hidupku Zain. Tidak akan ada yang lainnya, hanya kau," ucap Cha dengan jujur.