Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Serangan Pagi


__ADS_3

Zain melihat kearah Cha dengan tatapan horornya. Sedangkan Cha tidak sengaja keceplosan seperti itu. Dia tidak bermaksud meminta Binyu kerumah disaat dia ada.


"Maksud aku, besok juga Zain nganter aku kuliah. Jadi kami tidak dirumah besok pagi"Cha meralat ucapannya.


"Besok kamu kuliah jam berapa Cha?" tanya Zain langsung.


"Besok aku kuliah jam 08.00 pagi Zain. Kamu kembali ke Paris siang atau sore?" tanya Cha balik.


"Belom tau, lihat besok aja. Sekarang kita balik yuk," Zain merasa kesal sama Cha. Dia tidak suka jika Cha banyak bicara sama Binyu.


"Jadi gimana bro, besok gw pagi kekontrakan dan kita sarapan bareng. Gw juga pengen ikut nganter Cha kuliah," Binyu juga tak mau kalah langkah dari sahabatnya itu.


"Kenapa kalian berembutan buat nganterin aku! Kalau begitu biar aku berangkat sama Dewi saja besok ke kampusnya," kesal Cha melihat kedua laki-laki dihadapannya.


"Baiklah, itu lebih adil dan pas buat jadi penengah," ucap Zain secara halus.


Akhirnya mereka bertiga meninggalkan. cafe tersebut. Cha pulang bersama Zain. Dan Binyu pulang sendirian ke Hotel.


"Sampai ketemu besok ya Cha..! Hati-hati dijalan," Binyu memberikan senyuman manisnya terhadap Cha.


"Ya udah, gih sana pulang. Gak usah pake acara lama-lama disini. Kasihan Cha udah ngantuk," sindir Zain.


"Sabar dong bro. Ya udah Cha, kamu masuklah ke mobil duluan. Aku mau ngobrol bentar sama Zain," pinta Binyu.


Cha tidak memperdulikan apa yang hendak mereka bahas. Dia pun masuk kedalam mobil Zain. Sedangkan Binyu dan Zain saling berhadapan.


"Lo mau ngomong apalagi sih Bin?" tanya Zain yang sudah mulai mengantuk.


"Gw titip Cha malam ini sama Lo. Karena Lo kan yang tinggal dikontrakannya. Jaga dia ya buat gw," pinta Binyu dengan percaya dirinya.


"Wuekkk, Lo bilang apa? Jaga dia buat Lo!" Sialan Lo. Ingat kita bersaing secara sehat. Dah, gw balik dulu. Lo hati-hati dijalan. Jangan melamun, tar disambar Mbak Kunti," ledek Zain sambil terkekeh.


"Sialan Lo Zain!"

__ADS_1


Lalu Zain dan Binyu masuk kedalam mobil masing-masing. Binyu duluan pergi meninggalkan area cafe. Lalu diikuti oleh mobil Zain yang keluar dari cafe tersebut.


Sepanjang jalan, Cha tidak membuka suaranya. Dia memilih untuk diam dan mencoba memejamkan matanya. Dia tidak ingin membahas apapun saat ini.


Zain melirik sekilas kearah Cha yang memejamkan matanya. Lalu dia mengambil kepala Cha untuk menyender di bahunya.


Zain mengusap-usap rambut Cha hingga dia pun terlelap tidur. Cha dan Zain sedang berada dialam mimpi. Hingga mobil yang membawa mereka kerumah telah sampai dihalaman kontrakan Cha.


"Tuan, kita sudah sampai," bodyguardnya membangunkan Zain terlebih dahulu.


Zain pun membuka matanya dan melihat di sekelilingnya. Dia baru menyadari kalau mereka sudah berada di halaman rumah kontrakan Cha. Zain melihat kearah Cha yang masih tertidur dengan pulasnya. Lalu Zain menggendong Cha masuk kedalam rumah itu. Bodyguard Zain membuka pintu rumah itu untuk Tuannya.


Zain menggendong Cha sampai kedalam kamarnya Cha. Lalu dia meletakkan Cha diatas tempat tidurnya. Zain menatap wajah Cha yang sangat cantik.


"Kamu benar-benar cantik Cha. Pantes saja banyak laki-laki yang menginginkanmu untuk menjadi bagian hidup mereka. Karena kepolosan dan ketulusanmu. Dan aku senang mendengar pengakuanmu tadi," gumam Zain sambil mengecup bibir Cha singkat.


Zain pun meninggalkan kamar Cha. Dia tidur di sofa ruang tamu dengan menggunakan selimut Cha yang tebal. Zain merebahkan tubuhnya diatas sofa bed, dia mulai memejamkan matanya hingga terlelap.


Malam kian larut hingga pagi menyongsong. Kicauan suara burung-burung kecil terdengar di luar rumah. Ternyata Zain ketiduran hingga terang diluar rumah. Zain langsung bangkit dan masuk kedalam kamar Cha. Namun sebelum dia sampai di depan kamar Cha, Bu Marni menyapanya.


"Eh Bi Marni. Apa Cha sudah bangun?" tanya Zain.


"Belom Tuan. Belom ada yang keluar kamar. Tuan Zain mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Bu Marni.


"Bebas aja Bi, yang penting Cha suka,* jawab Zain.


"Baik Tuan."


Lalu Zain berjalan kearah kamar Cha. Dan dia membuka pintu kamar Cha. Zain melihat Cha masih terlelap tidur. Dengan isengnya dia masuk kedalam selimut Cha dan tidur disamping Cha dengan memeluknya dari belakang.


Awalnya dia hanya ingin mengerjain Cha, tapi justru dia merasa gairahnya terpancing karena ternyata Cha menggunakan linggeria transparan dan tipis. Hingga bongkahan pan*** Cha terasa. Zain bangkit dari tempat tidur Cha dan mengunci pintu kamarnya. Lalu dia naik keatas tempat tidur dan masuk kedalam selimut Cha. Zain yang sudah mulai terangsang, mendekatkan tubuhnya ke tubuh Cha. Tangannya mulai berselancar ke arah dua gundukan kenyal milik Cha. Dia mulai memilih dan mengusap-usap ujungnya. Cha yang masih terlelap mulai menggerakkan tubuhnya hingga pan*** nya menyentuh kejantanan milik Zain.


Zain tak tinggal diam, tangannya mulai turun kebawah pusat Cha. Dan dia mulai bereaksi. Membuat Cha menggelinjang keenakan. Cha merasa itu seperti mimpi. Dia tidak menyangka kalau yang dialaminya nyata.

__ADS_1


Zain merasa sudah tak tahan, dia pun membuka seluruh pakaiannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Zain melu*** bibir Cha dengan gairah yang meninggi. Tangan nya juga tak tinggal diam, ikut beraktifitas, hingga Zain menyatukan miliknya dengan sarungnya.


"Akhhhhh," itu yang dirasakan Zain saat penyatuan.


Cha yang mengira itu mimpi, langsung membuka matanya dan dia terkejut melihat Zain dan dirinya sudah tanpa busana. Zai. tersenyum dan terus menghentak-hentakkan miliknya. Cha yang awalnya ingin memberontak, malah keenakan dibuat Zain. ******* demi ******* terdengar merdu didalam kamar Cha. Penyatuan sepasang kekasih sedang berlangsung hingga beberapa kali. Sampai akhirnya penyatuan berakhir dengan erangan yang panjang.


Zain tumbang disamping Cha dan memeluknya.


"Sayang, maaf aku tadi gak sengaja melakukannya. Awalnya pengen bobo bareng aja pagi ini, ternyata senjataku merasa panas dan harus ditembakkan. Makanya aku ajak kamu main tembak-tembakan," ucap Zain dengan wajah yang dibuat polos.


Cha merasa kesal karena Zain kebiasaan mencuri kesempatan dalam kesempitan. Cha langsung bangkit dari tempat tidur dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Zain yang masih berada diatas tempat tidur Cha, memakai kembali bajunya. Lalu dia membuka pintu kamar Cha yang dikuncinya tadi. Zain senyum-senyum bahagia pagi ini. Otaknya kembali fresh dan bugar. Lalu dia menunggu Cha disofa sambil nonton TV.


Cha yang berada didalam kamar mandi, menikmati kesegaran aroma terapi lavender kesukaannya. Hingga satu jam lamanya dia baru keluar dari dalam kamar mandi.


Cha melihat Zain yang tertidur di sofa. Cha membiarkan Zain tertidur. Dia sengaja tidak membangunkannya agar bisa pergi bareng Dewi hanya berdua.


Lalu Cha keluar dari dalam kamarnya setelah mengeringkan rambutnya. Dia melihat sudah terhidang sarapan pagi yang banyak menu.


"Bu Marni, Dewi dan Ibunya belom keluar ya?" tanya Cha.


"Iya Mbak. Apa saya bangunkan ya mereka. Takut Mbak Pitanya terlambat," ucap Bu Marni yang perhatian.


"Biar saya saja Bu, saya mau kekamar Dewi dulu. Tapi bolehlah Bu Marni membangunkan Ibunya Dewi," pinta Cha.


"Baik Mbak," balas Bu Marni.


Cha pun menuju kekamar Dewi. Dia mengetuk pintu kamar Dewi.


"Tok tok tok, Wi..!" panggil Cha.


"Iya Cha, masuk aja dah dibuka kok," sahut Dewi dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Ternyata Dewi sudah bangun dari tadi pagi. Dia sempat mendengar Bu Marni dan Zain ngobrol didepan pintu kamar Cha.


__ADS_2