
Setelah selesai menikmati makan malamnya, Cha langsung melakukan vc dengan Zain.
Zain yang dari tadi sudah menunggu khabar dari Cha, langsung mengangkat vc nya begitu mendengar dering ponselnya.
"Hallo sayang!" sapa Zain dengan senyum menawannya.
"Hei Zain," sahut Cha dengan lesu.
"Kamu kenapa? Lagi ada masalah ya? tanya Zain yang memperhatikan wajah Cha dari layar ponselnya.
"Zain, kenapa ya, orang yang aku percaya dan sayangi, justru berubah sekarang. Apa ada yang salah dengan ku Zain? Apa aku ini orang yang menyusahkan?" tanya Cha sedih.
"Kamu kenapa ngomong begitu? Coba ceritakan Cha, biar aku tau!" seru Zain. Sebenarnya Zain sudah mengetahui tentang Cha tapi tidak semuanya diketahui oleh Zain. Sikap Shanti yang berubah, Zain tidak mengetahuinya.
"Zain, seandainya kamu berada disini, aq pasti tidak sendirian. Tapi itu tidak mungkin," ucap Cha dengan wajah sendunya.
Tanpa berpikir panjang, Zain akhirnya memutuskan berangkat malam ini ke Indonesia menggunakan jet pribadinya tanpa diketahui Cha.
"Emang nya kalau aku balik ke Indonesia, kamu mau menemuiku?" tanya Zain senyum-senyum.
"Ya tentu saja aq akan menemui mu," jawab Cha semangat.
"Kamu tambah cantik Cha. Coba kemaren aku sempat memperkosa kamu dan kamu hamil anak ku, pasti sekarang kamu udah jadi istriku dan ikut bersamaku ke Paris," ungkap Zain dengan menatap Cha intens.
"Sembarangan. Yang ada, aq malah di marahin habis-habisan sama keluargaku karena hamil diluar nikah. Aq gak mau," protes Cha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau kalau gak mau hamil di luar nikah, berarti kamu mau dong, aku nikahi secara baik-baik. Ok besok aku akan menemuinya," ucap Zain meyakinkan.
"Maaf Zain, aq gak bisa," balas Cha yang merasa tak enak hati.
"Apa karena dia? Oh ya bagaimana khabar cowok ingusan itu. Apa dia juga kuliah disana?" tanya Zain penasaran.
"Enak aja bilang dia, anak ingusan. Dia tidak kuliah di Indonesia. Dia juga meninggalkan ku kuliah di luar negeri," jawab Cha sedih.
"Kalau dia tidak kembali padamu, aku mau menggantikan posisi dia untuk membahagiakanmu Cha," balas Zain mantap.
"Makasih Zain," hanya itu yang bisa diucapkan Cha.
"Udah dulu ya Cha. Aku ada urusan. Sampai ketemu di Indonesia sayang, emmmuach..," ucap Zain yang langsung memutuskan tlp nya.
Cha yang hendak membalas ucapan Zain, tidak jadi karena tlp nya sudah mati.
Lalu Cha membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia menatap langit-langit atap kamarnya.
"Yanx, kamu lagi apa? Kenapa sekarang kamu jarang menghubungiku. Ada apa denganmu? Apa kamu tidak rindu? Hahhh, aku kesepian disini. Rasanya ingin menangis tidak punya teman berbagi. Kamu terlalu jauh untuk kujangkau Yoga," Cha berbicara sendiri sambil meneteskan air matanya.
Tak terasa sudah terlalu malam Cha bersedih. Hingga dia pun terlelap tidur.
__ADS_1
Cha tidak tau apa yang akan terjadi esok hari. Hari dimana dia akan kedatangan seseorang. Orang yang juga mencintainya dengan tulus.
Malam pun berlalu. Pagi menyapa dengan udara yang sejuk dan dingin. Cha masih males untuk bangun. Dia betah berada di dalam selimutnya. Tiba-tiba dia bangkit dan teringat sesuatu.
"Oh ya, hari ini aku harus lihat kost-kostannya kan. Jam berapa sekarang ya?" gumam Cha sambil melihat jam dindingnya.
"Oh...ternyata sudah jam 07.00 pagi. Aku harus siap-siap biar berangkat sekarang aja. Males juga kalau lama-lama dirumah ini. Rasanya aq tidak nyaman banget," gumam Cha lagi.
Dia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah bersih dan rapi. Cha keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat Shanti sedang ngobrol bersama eyangnya.
"Pagi eyang, Shan!" sapa Cha yang tersenyum melihat eyangnya Shanti.
"Pagi nak Cha. Mau kemana pagi-pagi gini? Apa Ndak sarapan dulu baru berangkat?" tanya eyangnya yang perduli.
"Tidak usah eyang. Saya sudah ada janji dengan teman di kampus," jawab Cha sopan.
"Kenapa gak bareng Shanti aja, dia juga bentar lagi mau ke kampus katanya," tawar eyangnya Shanti.
"Oh gak usah eyang. Saya buru-buru. Udah janjian bareng teman tadi ketemu dikampus," balas Cha yang berusaha menolak secara halus.
"Ya udah, hati-hati dijalan ya nak Cha,"
"Iya eyang, makasih. Saya pergi dulu ya eyang," ucap Cha sambil mencium tangan eyangnya Shanti.
Cha pergi meninggalkan Shanti dan eyangnya. Dia berjalan tanpa melihat kearah Shanti. Namun ketika dia hendak keluar dari pintu rumah, tiba-tiba ponselnya berdering. Cha mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
Cha pun mengangkat tlp nya.
"Hallo, assalamu'alaikum," sapa Cha pelan.
"Wa'alaikumussalam sayang," sahut Zain yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cha.
Cha melihat kebelakang, memastikan Shanti tidak mengetahui bahwa dia menerima tlp. Cha buru-buru meninggalkan rumah eyangnya Shanti. Dia berjalan sambil menerima tlp.
"Ada apa Zain kamu menghubungi ku pagi-pagi gini?" tanya Cha penasaran.
Ternyata Zain sudah berada di Indonesia. Saat ini dia sedang menunggu cha di depan rumah eyangnya Shanti tanpa sepengetahuan Cha. Dan pucuk dicinta ulam pun tiba. Zain menghubungi Cha dan ternyata Cha sedang keluar dari rumah.
Zain melihat Cha dari depan pagar rumah eyangnya Shanti. Dia tersenyum bahagia, akhirnya bisa bertemu dengan kekasih hatinya.
"Kamu dimana Cha? Dan sekarang lagi apa?" tanya Zain yang berpura-pura.
"Nih aq lagi mau keluar Zain, buat nyari kost-kostan," jawab Meka yang terus berjalan ke arah pagar rumah.
Zain melihat Cha semakin me dekat dengan mobilnya. Dia pun keluar dari dalam mobilnya dan berdiri menunggu Cha di depan mobilnya.
"Oh...,kangen gak sama aku Cha?" tanya Zain.
__ADS_1
"Kenapa pertanyaanmu aneh Zain!" seru Cha yang merasa aneh dengan ucapan Zain dipagi hari.
Cha terus berjalan tanpa memperdulikan sekelilingnya dan dia juga tidak memperdulikan adanya mobil yang parkir di depan rumah eyangnya Shanti. Ketika Cha sedikit melewati mobil hitam yang terparkir di depan rumah eyang nya Shanti, tiba-tiba dia mendengar suara panggilan.
"Pagi sayangku..!" sapa Zain masih dalam posisi terhubung.
Cha tersentak, dia berhenti berjalan.
"Kenapa suaranya terdengar jelas sekali! Ah gak mungkin," bathin Cha yang masih diam berdiri sambil memegang ponsel di telinganya.
"Apakah kekasih hatiku ini tidak kangen dengan ku?" ucap Zain yang berada di belakang Cha.
Cha menoleh kebelakang dan dia terkejut melihat kehadiran seseorang yang dirindukannya tapi sengaja di tepisnya perasaan rindunya.
"Zain....!!!" teriak Cha sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Zain tersenyum dan merentangkan tangannya menyambut dan ingin memeluk Cha.
Cha berlari dan menghambur kedalam pelukan Zain. Cha memeluk Zain dengan erat. Begitupun dengan Zain, dia memeluk Cha dan mengelus rambut Cha.
Cha merasa gak percaya dengan keadaan saat ini. Dia sampai meneteskan air matanya hingga membasahi pundak Zain.
"Aku yakin, kamu juga merindukan ku kan sayang," ucap Zain sambil mengecup kening Cha.
"Sedikit," bohong Cha. Padahal jauh di lubuk hatinya, ada rasa bahagia dan senang saat melihat laki-laki yang dulunya hampir memperkosanya.
"Kamu tambah cantik aja yanx," puji Zain sambil mengelus pipi Cha.
"Malu ih dilihatin orang," ucap Cha manja.
"Ya udah yuk kita lanjut di dalam saja. Kita ke mobil yuk sekalian cari sarapan," ajak Zain sambil menggenggam tangan Cha.
"Kenapa saat bersama Zain, hatiku merasa nyaman dan merasa terlindungi. Kenapa aq jadi seperti ini. Bagaimana dengan Yoga, dia cinta pertamaku. Aku juga sangat mencintainya," bathin Cha yang bimbang.
Dari dalam rumah ternyata ada yang sedang memperhatikan Cha. Namun dia tidak tau siapa laki-laki yang bersama Cha saat ini.
"Siapa laki-laki itu. Gw gak pernah melihatnya. Apa dia pacar baru Cha. Tapi kapan dan dimana Cha mengenalnya? Kenapa dia ada diJogja?" bathin Shanti yang merasa penasaran.
Shanti melangkah masuk kedalam rumahnya. Dia berjalan kedalam kamar. Lalu Shanti mencari ponselnya dan mengecek no seseorang yang akan dihubunginya.
"Hmmm, gw akan coba menghubungi no Bimo. Tapi apakah no nya masih sama dengan yang dulu. Ahhh gw coba aja sapa tau masih sama," bathin Shanti yang mencoba menghubungi Bimo.
Ketika Shanti hendak menghubungi Bimo, mamanya Shanti memanggil Shanti dari luar kamarnya.
"Shan..., jam berapa kamu mau ke kampus nak?" tanya mamanya Shanti.
"Bentar lagi ma, Shanti mau menghubungi teman dulu," jawab Shanti dari dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau pergi, bilang sama mama ya nak. Mama mau ikut sampai kerumah budemu," balas mamanya Shanti.