Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kesedihan Cha


__ADS_3

Zain kembali ke ruang tamu dimana sedang kumpul Oma, Papa dan Mamanya Zain.


"Qu'est-ce qui ne va pas Zaïn? Qu'est-il arrivé à Cha ? Pourquoi a-t-il quitté la maison en pleurant?" tanya Mamanya Zain yang kebingungan.


"(Ada apa zain? Apa yang terjadi dengan Cha? Kenapa dia pergi meninggalakan rumah sambil menangis)?" tanya Mamanya Zain yang kebingungan.


"Oma est désolée de voir la fille, qu'est-ce qui la rend triste Zain?" Omanya Zain juga ikut penasaran.


"(Oma kasihan melihat gadis itu, apa yang membuatnya bersedih Zain)?" Omanya Zain juga ikut penasaran.


"Que nous caches-tu Zain? Ne garde pas quelque chose de secret Zain!" ucap Papanya yang ikut menimpali ucapan istrinya dan Mamanya.


"(Apa ada yang kamu sembunyikan dari kami Zain? Jangan merahasiakan sesuatu Zain)!" ucap Papanya Zain.


Zain menatap mereka satu persatu dan dia mulai menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan berat.


"Pa, Ma, Oma, orang yang ada di undangan itu adalah kekasihnya Cha. Laki-laki itu berjanji akan kembali ke Indonesia dan menikahi Cha setelah dia menyelesaikan kuliah kedokterannya di Belanda. Tapi justru dia meninggalkan Cha dan menikah dengan pilihan orang tuanya hanya karena takut kehilangan harta," ungkap Zain kepada keluarganya.


"Ya ampuuun Zain...kasihan sekali Cha. Terus hubungan kamu dengan Cha bagaimana? Bukannya kamu mengatakan dia adalah calon istrimu?" tanya Mamanya Zain.


"Ceritanya panjang Mom, Zain tidak mungkin menjelaskannya sekarang. Tapi yang pasti, Cha belom bisa menerima Zain karena dia terikat akan janji yang diberikan Yoga terhadapnya," jelas Zain.


"Mama merasa bersalah Zain memberikan undangan itu kepada Cha. Mama tidak tau kalau Yoga adalah kekasih Cha di Indonesia."


"Apa boleh Oma menghibur Cha, Zain?" tanya Omanya.


"Boleh Oma, siapa tau Cha mau mendengarkan nasehat Oma," harap Zain.


"Mama juga mau ikut sama Oma kamu, biar Cha tidak merasa kesepian. Kita akan selalu mendukungnya dan menghiburnya," ucap Mamanya Zain.

__ADS_1


"Ayo Mom kita ke kamar Zain menemui Cha," ajak Mamanya Zain. Mereka berdua berjalan kearah kamarnya Zain dan meninggalkan. Zain beserta Papanya.


"Bagaimana ini Zain? Apa kita batalin keberangkatan kita ke Belanda untuk menghadiri pernikahan anak teman Papa?" tanya Papanya Zain yang kebingungan.


"Zain gak bisa memutuskan sekarang Pa, kita lihat kondisi Cha dulu ya. Kalau kalian mau berangkat juga kesana, aku sama Cha dirumah saja. Mungkin Zain akan membawa Cha ketempat yang bisa menghiburnya," jawab Zain.


Zain juga merasa bersalah dengan meninggalkannya di ruang tamu bersama Mama dan Omanya. Padahal rencananya, Zain akan langsung mengajak Cha istirahat setibanya dirumah Zain. Namun Papanya Zain mengajaknya keruang kerja untuk membahas soal Perusahaan.


Padahal hari ini Zain sedang ada janji untuk melakukan kerja sama dengan Perusahaannya. Dai pun menghubungi Asistennya untuk menggantikannya mengurus pertemuan rekan bisnisnya yang ingin melakukan kerja sama.


"Zain hari ini tidak ke Perusahaan Pa, Zain sudah meminta Asisten Zain untuk mengurus semuanya," terang Zain yang masih menunggu Mama dan Omanya kembali dari kamar Cha.


"Kenapa kamu tidak ke Perusahaan Zain. Kasihan Asisten kamu selalu dia yang mengurusnya," protes Papanya Zain.


"Aku tidak konsentrasi Pa, aku sedang memikirkan Cha. Dia pasti sangat terluka," balas Zain sambil menatap kearah pintu kamarnya.


"Ya Papa mengerti Zain. Biarkan Cha tenang dan kamu jangan mengganggunya dulu."


Sedangkan di dalam kamar, Mama dan Omanya Zain mencoba menghibur Cha yang sedang bersedih.


"Sayang, maafkan Tante ya. Tante benar-benar tidak tau tentang semua ini. Zain juga tidak pernah menceritakan apapun tentang hubungan kalian. Jadi Tante gak tau kalau Yoga itu kekasih kamu," ucap Mamanya Zain yang merasa bersalah.


"Mungkin ini sudah jalannya sayang, kamu dibawa Zain ke Paris, ternyata inilah yang harus kamu ketahui. Kalau kamu tidak diajak Zain ke Paris, mungkin kamu akan menunggu janji palsu dari Yoga," terang Omanya sambil mengusap rambut indah Cha.


Cha menatap Omanya Zain. Dia tertegun saat mendengarkan ucapan Omanya tentang janji Yoga.


"Apa yang dikatakan Oma benar, kalau aku tidak ikut Zain kemari, mungkin aku hanya menunggu janji palsu laki-laki itu. Tega sekali kamu Yoga membohongiku," bathin Cha yang sangat sakit.


Cha masih terus tersedu-sedu. Rasanya dia tidak dapat mempercayai semua ini. Dia ingin melihat secara pasti, benar tidaknya pernikahan itu.

__ADS_1


"Oma, Tante, boleh tidak kalau Cha ikut ke menghadiri pesta itu?" tanya Cha dengan mata yang sudah sembab.


Oma dan Mamanya Zain saling berpandangan. Mereka bingung ingin memberikan jawaban apa.


"Lebih baik kamu tanyakan ke Zain ya sayang. kami tidak bisa memutuskannya. Karena kamu dibawa sama Zain kemari," jawab Omanya.


"Iya sayang, biar kamu bicara langsung aja ya sama Zain. Tante dan Oma akan panggil Zain kemari. Jadi kalian bebas mau ngobrol apa saja termasuk keinginan kamu yang ingin menghadiri pesta itu," sambung Mamanya Zain.


"Iya Tante, Oma. Terima kasih sudah menghibur Cha disini. Bolehkah Cha memeluk Oma?" tanya Cha dengan wajah sedihnya.


"Tentu boleh sayang, sini cantik Oma...! seru Omanya Zain sambil memeluk erat tubuh Cha.


"Jangan bersedih lagi ya cantik. Biarkan laki-laki itu pergi. Berarti dia bukan yang terbaik," hibur Omanya.


Cha pun menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Omanya Zain.


"Kalau gitu, Tante turun kebawah dulu ya, biar Zain yang nemani kamu disini," ucap Mamanya Zain.


"Iya Tante." Cha pun melepaskan pelukan Omanya Zain.


Mama dan Omanya pergi meninggalkan Cha sendirian didalam kamarnya Zain dengan kesedihan. Mereka turun kebawah dan menyuruh Zain menemani Cha. Lalu Zain pun berjalan kearah kamarnya.


Zain membual pintu kamarnya dan melihat Cha menangis tersedu-sedu. Zain pun masuk kedalam kamarnya dan langsung memeluk Cha dari samping.


"Sayang, sabar ya. Jangan bersedih lagi. Kami semua sayang sama kamu. Jangan biarkan hal yang tak penting merusak kehidupanmu," pinta Zain sambil mengusap-usap rambut Cha.


"Zain..., dia tega banget ya sama aku. Aku salah apa Zain sama dia? Kalau dia tidak bisa menepati janjinya, jangan meninggalkan harapan yang berakhir palsu," ucap Cha menangis dipelukan Zain.


"Aku sudah pernah bilang sama kamu Cha, jangan harapkan sesuatu yang tak pasti. Lebih baik jalani sesuatu yang ada dihadapan kita," ucap Zain yang mengingatkan Cha akan perkataannya dulu.

__ADS_1


"Maaf Zain, aku terlalu egois, mengharapkan sesuatu yang tak pasti itu," balas Cha.


"Sudah sekarang kamu mau apa, kita keluar jalan-jalan atau disini aku temani?" tanya Zain.


__ADS_2