Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Mulai Pindahan


__ADS_3

Mbak Ani melihat barang-barang yang akan dibawa sama bodyguard.


"Iya nak, Ibu gak mau bawa barang yang bukan milik kami disini," jawab Ibunya Dewi


"Dek, kamu serius mau pindah? tanya Budenya Dewi.


"Iya Mbak, karena aku sudah dapat kerjaan, jadi biar lebih dekat dengan sekolahnya anak-anak," jawab Ibunya Dewi yang tidak mau kakak perempuannya tau dimana mereka tinggal.


"Boleh kami tau dimana alamat kalian. Biar nanti kalau ada waktu, kami bisa main kesana," laki-laki tua itu ikut menimpali ucapan istrinya.


"Nanti saya kirim pesan aja Mas sama Mbakku alamatnya," ngeles Ibunya Dewi.


"Ayo Bu, kita nunggu didalam mobil aja. Biar mereka yang mengangkat barang-barang itu, ucap Cha sambil menggendong adik bungsunya Dewi.


Pakdenya Dewi terus menatap kearah Cha. Dia menatap bentuk tubuh Cha yang memang aduhai. Cha merasa risih diperhatikan seperti itu. Dia sengaja mengajak Ibunya Dewi agar segera pergi dari rumah itu.


"Ini teman-temannya Dewi ya dek?" tanya Kakak Iparnya itu.


"Iya mas, ini teman kerjanya Dewi. Sekarang Dewi sudah bekerja disebuah Resto yang besar," ucap Ibunya Dewi yang mengarang kebohongan. Karena Ibunya Dewi tidak mau suami dari kakaknya mengetahui tentang teman-teman Dewi.


"Oh...cantik-cantik ya teman Dewi. Apalagi Mbaknya ini, cantik banget," puji Pakdenya yang tidak tau malu. Padahal istrinya berada disampingnya.


Ibunya Dewi tidak memperdulikan ucapan kakak iparnya. Dia mengetahui ketidaknyamanan yang dirasakan kedua sahabat putrinya.


"Ayo nak kita masuk ke mobil saja," ajak Ibunya Dewi.


Mereka keluar dari rumah itu. Cha dan yang lainnya bergegas masuk kedalam mobil. Sedangkan Ibunya Dewi berpamitan sama kakaknya.


"Mbak saya mengucapkan terima kasih, karena Mbak sudah berbaik hati untuk menampung kami disini selama beberapa bulan. Dan ini ada sedikit uang untuk Mbak dari kami sebagai tanda terima kasih kami buat Mbak dan keluarga," Ibunya Dewi memberikan beberapa lembar uang biru kepada kakaknya.


Kakaknya tentu saja terkejut. Bagaimana tidak, dia tidak menyangka kalau adiknya ini mempunyai uang. Yang setau kakaknya, bahwa adiknya ini serba kekurangan.


"Dari mana kamu mendapatkan uang ini dek?" tanya suami kakaknya


"Iya, kamu tidak melakukan hal yang tidak baik kan?" tanya kakaknya yang ikut menyambung ucapan suaminya. Dan menatap adiknya penuh curiga.


"Alhamdulillah nggak Mbak, uang ini hasil kerja Dewi kemaren. Dan dia baru aja gajian Mbak," jawab Ibunya Dewi yang mengerti jalan pikiran kakak dan iparnya.


"Oh...syukurlah. Karena kami gak mau nerima uang yang tidak bener mendapatkannya," ketus iparnya.


"Hussst jangan kayak gitu Pak, gak enak sama adikku," tegur istrinya.


"Loh kan benar Bu! Lah si Dewi aja bawa masuk laki-laki kemaren kekamar. Kalau gak aku pergoki, mungkin sudah buat malu dia!" celetuk suaminya yang tak merasa bersalah.


"Mas, saya percaya dengan anak saya. Sampeyan jangan bicara sembarangan. Saya bisa saja mengungkap kejadian kemaren," tegas Ibunya Dewi.


"Dek, kamu kenapa malah menyalahkan suamiku? Kan jelas-jelas anak kamu yang tidak beres. Bawa laki-laki kedalam kamar. Apa itu namany, hah!" teriak kakaknya emosi karena suaminya disalahkan.


"Mbak, kamu jangan percaya sama suamimu ini. Anakku tidak bersalah, tapi suami Mbaklah yang sudah mencoba memperkosa anakku!" hardik Ibunya Dewi.


"Gak mungkin, kamu gak pantas bicara seperti itu!" balas kakaknya dengan emosi.


"Maaf Mbak, tapi itulah yang terjadi. Saya permisi karena sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi," Ibunya Dewi pergi meninggalkan kakak dan suami kakaknya.

__ADS_1


Ibunya Dewi pergi meninggalkan rumah itu dengan kesedihan karena anaknya difitnah oleh iparnya. Saat memasuki mobil, Ibunya menghapus air mata yang sempat keluar.


"Loh Bu kenapa?" Dewi melihat wajah Ibunya yang sendu saat masuk kedalam mobil.


"Ibu tidak apa-apa Wi. Tadi sempat sedikit berdebat sama Budemu," jawab Ibunya yang menutupi kejadian tadi.


"Bener Ibu tidak diapa-apakan sama mereka kan Bu?" Dewi merasa curiga dengan sikap Ibunya.


Lalu Ibunya memeluk Dewi dan menangis dihadapan mereka.


"Mereka bilang apa sama Ibu, katakan Bu!" Dewi marah melihat Ibunya diam saja.


Dewi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ibunya yang berair mata.


"Katakan Bu, apa yang mereka bilang ke Ibu?" tanya Dewi lagi dengan suara yang lebih lembut.


"Tadi Ibu memberi Budemu sedikit uang dari pemberian kamu kemaren. Tapi ternyata mereka mengira uang itu hasil dari perbuatan yang buruk darimu," ucap Ibunya hati-hati.


"Ya ampuuun, tuh orang emang gak bener banget ya Bu, mending kita laporkan aja Bu ke Polisi biar dipenjara sekalian," kesal Mbak Ani yang ikut emosi mendengarnya.


"Iya Bu, apa perlu kita lapor ke Polisi?" tanya Cha yang ikut merasa geram dengan Pakdenya Dewi.


"Tidak usah nak, kasihan dengan Budenya Dewi. Nanti siapa yang ngasih mereka makan kalau ayahnya di penjara," balas Ibunya Dewi.


"Kenapa Ibu masih memikirkan nasib mereka. Kakak Ibu saja tidak memikirkan gimana perasaan Ibu!" kesal Dewi.


"Kamu tidak boleh seperti itu nak, biarlah mereka jahat terhadap kita. Nanti akan ada balasan buat mereka. Dan Alhamdulillah sekarang kita diberi kehidupan yang lebih nyaman karena kejadian itu. Bener kan?" tanya Ibunya kepada Dewi.


"Duh Ibu jadi gak enak. Sekecil digendong terus sama nak Cha," ucap Ibunya yang melihat adik bungsu Dewi dipangku sama Cha.


"Gak apa-apa Bu," balas Cha tersenyum.


"Mbak semua sudah beres. Kita berangkat sekarang?" tanya bodyguard itu tiba-tiba.


"Oh iya Om, kalau udah selesai semua barang yang disana diangkat, kita lanjut aja Om kerumah sana," jawab Cha.


Setelah selesai mengangkat barang-barang yang ada dirumah itu, kedua bodyguard melanjutkan perjalanan menuju rumah baru yang akan ditempati mereka.


"Bu, kita mau kemana?" tanya adiknya Dewi.


"Kita mau kerumah yang baru sayang. Mbakmu sudah mengontrak rumah yang lebih bagus dan biar dekat sama sekolah kamu," jawab Ibunya sambil mengusap kepala anaknya yang kedua.


"Oh...asyiiik berarti nanti Pita boleh ajak teman-teman kerumah kita nanti ya Bu! Karena kemaren kan gak dibolehin sama Bude bawa teman kerumah," ucap Adiknya dengan wajah sedih bercampur senang.


"Iya, nanti kamu boleh kok bawa teman-teman kerumah yang disana," sambung Mbak Ani sambil tersenyum.


"Hore...!!! Pita akan bawa teman-teman buat kerja kelompok disana!" Pita merasa senang bisa membawa teman-temannya main kerumah.


Mereka tersenyum penuh arti melihat kegembiraan yang diperlihatkan Pita.


"Kita masih jauh lagi nak?" tanya Ibunya kepada Dewi.


"Rumah ini didaerah komplek Bu. Dan memang rumahnya dekat dengan sekolah Pita. Hanya sekali naik angkot saja dan tidak terlalu jauh. Aku juga nanti mau nyambi cari kerjaan Bu, buat belanja kita nanti," jawab Dewi sambil menggenggam tangan Ibunya.

__ADS_1


"Ibu juga akan mencari kerjaan nak, ya apa aja, yang penting halal dan menghasilkan," balas Ibunya.


"Oh ya Bu, itu rumah Omnya teman Cha. Mereka pindah keluar negeri semua. Rumahnya baru dibangun dan belom sempat ditempati. Jadi teman Cha memberikan rumah itu untuk kita tinggalin sampai beberapa tahun kedepan," jelas Dewi.


"Ya Allah, bersyukur sekali kita ya nak. Mudah-mudahan nanti kita bisa mengumpulkan dana buat ngontrak jika yang punya rumah kembali kerumah itu," sahut Ibunya.


"Gak apa Bu, rumah itu memang dibangun untuk disewakan sama Omnya teman saya," Cha memotong pembicaraan mereka.


"Oh..gitu ya nak Cha,"


"Bu, Cha dan Mbak Ani kan bakalan tinggal bareng kita. Dan untuk bersih-bersih rumah serta memasak, sudah ada pembantu yang akan mengerjakannya. Jadi dibagian belakang ada kamar untuk dua orang pembantu. Nah kita akan ramai Bu disana!" Dewi menjelaskan tentang keadaan disana nantinya.


"Tapi kita gak sanggup nak, membayar pembantunya!" seru Ibunya bingung.


"Masalah pembantu Ibu gak usah khawatir. Nanti kita akan bahas masalah makannya saja. Berapa yang harus dikeluarkan dari kami untuk kita makan dirumah itu nantinya," Cha menjawab ucapan Ibunya Dewi.


"Iya nak, kalau masalah makan dan yang lainnya, kalian saja yang menghitungnya. Ibu tidak ikut campur. Biarlah kalian yang mengatur ya nak," balas Ibunya Dewi.


"Baik Bu," jawab Cha.


Tak terasa, ngobrol didalam mobil, membuat mereka tidak menyadari kalau mobil sudah hampir sampai tempat tujuan. Dan sekarang mobil sedang memasuki area komplek. Lalu mobil menuju rumah yang akan ditempati. Mobil pun parkir disebuah rumah cantik nan sederhana.


"Ini Bu, rumahnya," tunjuk Dewi.


Mereka semua turun dari mobil. Ibunya melihat rumah yang ada dihadapannya. Dia merasa takjub dan tak menyangka bisa tinggal dirumah yang sebagus ini.


"Dewi, ini benaran rumah yang akan kita tempati?" tanya Ibunya yang masih tak percaya.


"Iya Bu benar, ini dia rumah yang Dewi ceritakan kemaren," jawab Dewi yang berdiri dihadapan rumah itu.


"Bagus sekali nak. Apa kamu tidak salah Wi?" Ibunya masih syok melihat rumah yang akan ditempati mereka.


"Gak salah Bu!!" seru Dewi.


"Ya udah Wi, sekarang kita masuk. Biar Om-om itu yang ngurus barang-barang kita," ajak Cha.


"Ayo Bu, ayo dek kita masuk kedalam lihat rumahnya," Dewi mengajak Ibu dan menggendong adiknya masuk kedalam rumah.


Mereka semua masuk kedalam rumah yang sudah bersih dan rapi. Karena didalam rumah sudah ada pembantunya yang bersih-bersih dan masak buat makan siang.


"Selamat datang Bu, Mbak Cha!! sapa kedua asisten rumah tangga itu. Mereka mengangguk kearah Cha. Karena Zain sudah memberitahukan kalau Cha itu calon istrinya yang harus dipatuhi.


Cha merasa canggung dengan penghormatan yang dilakukan kedua asisten rumah tangga itu. Karena mereka lebih tua dari Cha.


"Bu, ndak usah terlalu hormat, saya gak nyaman," ucap Cha dengan suara sedikit pelan.


"Tapi Mbak, kami tidak bisa membantah perintah Tuan Zain!" jawab kedua asisten rumah tangga itu.


"Udah nanti saya yang akan mengurus si Zain," balas Cha sambil tersenyum ramah.


"Baik lah Mbak," sahut keduanya.


Lalu Cha bergabung dengan kedua sahabatnya dan Ibunya Dewi.

__ADS_1


__ADS_2