Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kedatangan Binyu Membuat Cha Ketakutan


__ADS_3

Hai pembaca setia Novel toon...., semangat terus ya membaca novel saya. Gimana nih ceritanya makin seru kah...!!!


Kasih semangat penulis dong...biar penulis makin semangat 45, jangan lupa kasih LIKE, VOTE, HADIAH dan KOMEN nya ya pembaca setia novel qu...Pokoknya diborong semuanyaπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Yuk simak terus kelanjutan ceritanya ya...,


Cha senyum-senyum sendiri, dia masuk ke dalam kamarnya. Lalu dia meletakkan bunga mawar itu di pot Cristal diatas meja belajarnya.


"Hmmm salah kah gw, kalau membalas perasaan Yoga, hah," Cha menghempaskan tubuhnya diatas kasur.


Cha mengambil ponsel nya dan mengirim pesan ke Yoga. "Makasih bunga nya Ga, gw suka, lain kali ngasih nya jangan setangkai, tapi banyak hehehe, canda kok," kata Cha cengengesan menulis pesan nya.


"Hmmm, ntar kalau aq kasih kamu banyak, emang mau nerimanya?" balas yoga.


"Wah cepet amat balesnya, kamu udah sampai rumah Ga?" tanya Cha penasaran.


"Nih masih dijalan Cha, kenapa mau aq tlp ya...?" Yoga langsung menghubungi Cha.


Blom sempat membalas, sudah ditlp sama yoga.


"Ha..hai," kata Cha gugup dan salah tingkah.


"Kamu sudah makan Cha? Aq seneng, kamu menerima bunga itu," kata yoga diseberang.


"Namanya juga bunga pasti diterima kan Ga..," Cha berkilah.


"Hmmm, tapi kamu seneng kan nerimanya? Oh ya gimana udah di baca kertas yang ada di dalam buku qu?" tanya Yoga penasaran.


"Ups aq lupa Ga, blom di baca. Mmm, tar aja aq baca pas mau tidur," jelas Cha.


"Ok gak masalah, ya udah, nih aq udah sampai rumah. Jangan lupa di baca ya Cha," Yoga tersenyum diseberang dan menyudahi tlp nya.


Cha pun menutup tlp nya, lalu bergegas membersihkan diri.


"Cha chaaaa!" teriak papanya dari luar memanggil nya.


"Iya pa.., ada apa..," Cha keluar dari kamarnya menemui papanya.


"Nang, papa mau keluar dulu, ada perlu. Bilang sama mamamu, tar malam papa berangkat lagi berlayar," kata papanya Cha.

__ADS_1


"Huem, tar Cha bilang pa," jawab Cha dengan malas. Dia tidak perduli papanya mau kemana. Karena antara mereka juga tidak ada kedekatan. Kemudian Cha mengambil oleh-oleh diatas meja dan membawanya ke depan tv sebagai cemilan. Hingga suara ketukan di pintu menghentikan aktivitasnya.


"Siapa lagi sih ini," kata Cha, dia beranjak menuju pintu ruang tamu. Tapi ketika dia mengintip ke jendela, alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang datang. Cha menutup mulutnya tak percaya. Dan pintu di ketuk kembali, Cha lari ke dalam rumah dengan ketakutan. Dia masuk ke dalam kamar dan menghubungi seseorang. Tapi yang dihubunginya malah Irfan.


"Ayok Fan, angkat dong...please...," kata Cha yang sudah ketakutan.


"Halo Cha, ada apa?" tanya Irfan yang sudah mengangkat tlp nya.


"F..fa..fan, di..diluar a..ada laki-laki itu," kata Cha yang tergagap berbicara.


"Lo kenapa Cha, kenapa seperti ketakutan gitu, haa!?" tanya Irfan khawatir.


"Fan, dia disini, dia didepan rumah gw, tolong Fan, gw takut banget," Cha ketakutan dan tidak mau keluar kamar.


"Ok ok ok, Lo tenang aja ya, gw kesana sekarang. Lo jangan keluar rumah ataupun membuka pintu, ok, tunggu gw Dateng," kata Irfan mengingatkan Cha. Lalu Irfan lari ke mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat. Kebetulan rumah Irfan tidak jauh dari rumah Cha.


Tiba-tiba Sika masuk ke dalam kamar kakaknya dan heran melihat kakaknya yang ketakutan begitu.


"Kak ada apa? Itu siapa didepan dari tadi ngetik pintu, kenapa gak di buka?" tanya Sika yang tidak tau menahu.


"Ussst diem Sika...! Itu laki-laki yang kakak ceritakan kemaren, dia kemari lagi," Cha berbicara pelan-pelan hingga suaranya seperti berbisik.


"Dek, kamu masuk aja ke dalam kamar, main aja sama temen kamu dikamar ya, anggap aja kalian tidak tau ada apa diluar, ya dek," Cha mengantar adeknya ke kamar dan menyuruh mereka jangan keluar kamar.


Cha kembali keruang tengah, dia melihat Binyu mengintip di jendela. Syukurnya jendela ruang tamu berwarna gelap, jadi tidak kelihatan dari luar.


Tiba-tiba Irfan dateng kerumah Cha. Akhirnya dia bertemu lagi sama Binyu.


"Maaf anda cari siapa ya?" tanya Irfan yang sudah masuk ke halaman rumah Cha.


"Saya mencari Cha. Udah janjian tadi sama Cha," Binyu sedang membohongi Irfan.


"Oh....tapi adik saya tidak boleh berteman sama laki-laki. Apa anda teman sekolah nya?" tanya Irfan menyelidik.


"Mmm, tidak saya teman kenalannya bersama sahabatnya," kata Binyu to the point.


Irfan juga tidak mau kalah, dia berpura-pura memanggil Sika adiknya Cha.


"Sika...Sika...buka pintunya dek," kata Irfan yang mencoba memperlihatkan kepada Irfan bahwa dia abangnya mereka.

__ADS_1


Sika pun keluar dan membuka pintunya. Sebelumnya Cha sudah mengkode adek nya agar bisa bersikap seperti abang adik dengan Irfan, guna mengusir Binyu. Sika pun menyetujuinya.


"Dek, Cha dimana?! Nih temennya Cha Dateng, kenapa gak disahuti," tanya Irfan yang berakting.


"Males bang, Sika gak kenal. Lagian kak Cha pergi sama mama dari tadi," jawab Sika yang berakting juga.


Irfan pura-pura masuk ke dalam rumah Cha, seolah-olah dia juga bagian dari rumah tersebut.


"Emang mama sama Cha kemana?, Papa jadi pulang hari ini dek?" tanya Irfan yang masih memerankan aktingnya.


"Mama ke tempat Tante Dila, ada acara syukuran," kata Sika dan langsung nyelonong masuk ke kamarnya untuk menyudahi sandiwara mereka.


"Cha nya malam kayaknya pulang, anda ada perlu apa sama Cha?" tanya Irfan menatap Binyu dengan curiga.


"Mmmm, kalau boleh tau mas nya ini siapa ya?" tanya Binyu penasaran.


"Oh...saya abang kandungnya Cha. Baru datang dari pesantren. Ada perlu apa anda menemui adik saya," kata Irfan tegas.


"Saya mau mengembalikan baju sekolah nya Cha. Kemaren dia pergi bareng saya untuk menghadiri acara temen saya, dan Cha lupa membawa baju sekolahnya lagi," Binyu berharap Cha bakalan di marahin habis-habisan karena ketahuan bolos sama laki-laki.


"Kenapa bisa sama anda baju sekolahnya Cha?" tanya Irfan pura-pura tidak tau.


"Iya kemaren Cha nemani saya untuk menghadiri pesta temen saya pagi sampai sore hari," kata Binyu.


"Mmm emang acara apa ya kok Cha sampai bolos sekolah?" tanya Irfan.


"Mmm maaf lebih baik masnya tanya saja sama Cha lebih jelas. Saya ijin pamit karena masih ada urusan lain," Binyu menjelaskan sedikit saja, dia sengaja menggantung ceritanya agar abangnya Cha nantinya bertanya sama Cha. Cha pasti bakalan di marahin sama keluarganya. Dia pun bergegas pergi dari rumah Cha sambil tersenyum miring.


Irfan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Binyu yang jahat. Lalu dia memanggil Cha untuk keluar.


"Cha, Binyu udah pergi, Lo boleh keluar," kata Irfan meyakinkan nya.


"Alhamdulillah ya Allah, makasih banyak ya Fan, Lo udah nolongin gw. Ya udah lebih baik Lo cepat pergi dari sini sebelum ortu gw datang, besok aja kita ceritanya ya Fan," Cha mengusir Irfan buru-buru.


"Yeeeeee habis manis sepah dibuang nih ceritanya. Pokoknya besok Lo traktir gw dikantin, gak pake nolak," Irfan pun pergi meninggalkan rumah Cha. Dia melirik jalan menuju depan gang tidak ada Binyu lagi. Lalu dia pun berjalan menuju gang belakang rumah Cha.


Cha buru-buru masuk ke dalam rumahnya, dia merasa lega. Kedatangan Binyu ke rumahnya membuat Cha merasa ketakutan.


"Ternyata ini yang mau di kasih Binyu. Syukur tidak ada mama dan papa, kalau ada bisa gawat gw bakalan di amuk mereka, hmmm, apalagi Binyu memberikan baju sekolah gw, bisa ketahuan semuanya, Cha mengusap-usap dadanya mengucapkan syukur.

__ADS_1


__ADS_2