Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Seperti saat SMU, ketakutan


__ADS_3

Cha dan Dewi masuk kedalam kelas mereka. Mereka menunggu masuknya Dosen. Sedangkan Ghani duduk disamping tembok depan kelasnya Cha, mengindari Imran dan Dino jika mencari keberadaannya.


Selama menunggu Cha, Ghani menyibukkan dirinya dengan bermain game diponselnya.


Didepan kampus, Dino dan Imran masih setia menunggu kedatangan Cha.


"Bro, seharusnya nih si Cha udah datang! Ini sudah jam segini. Apa dia tidak kuliah?" tanya Dino terhadap Imran.


"Gw juga gak tau Din, kita juga udah nungguin dia dari jam 7 disini. Tapi belom ada tanda-tanda kedatangan Cha. Tuh diparkiran juga gak ada gw lihat dia. Gimana nih?" tanya Imran.


"Haduhhhh, gw udah janji nih sama Mami buat bawa dia kesana. Ya udah kita tunggu aja bentar lagi," ucap Dino yang rada kesal.


"Lagian Lo kenapa harus targetin Cha sih? Bukannya banyak cewek lain ya dikampus yang bisa Lo jual sama Mami?" tanya Imran yang penasaran.


"Masalahnya orang yang mau beli Cha ini gak mau cewek lain. Dia maunya sama Cha!"


"Loh, kok bisa Din?" tanya Imran.


"Ya gw kasih lihat foto Cha sama Mami, trus mungkin si Mami ngaish lihat tuh foto Cha kali sama tuh orang," jawab Dino.


"Emang berapa bayarannya bro?" tanya Imran yang pengen tau.


"Lo tenang aja bro, nanti gw bagilah bonus buat Lo. Yang penting nih si Cha kita dapetin dulu," jawab Dino.


"Ok!"


Mereka masih setia menunggu Cha di depan gerbang kampusnya. Sedangkan Cha akhirnya selesai juga kuliahnya. Kemudian Cha dan Dewi keluar dari ruangan kelas. Cha melihat Ghani yang setia menunggunya.


"Udah kelar Cha?" tanya Ghani saat melihat Cha keluar dari ruangan itu.


"Udah Ghan, sekarang kita balik ya. Aku gak mau lama-lama disini. Takut kepergok sama mereka," ucap Cha yang merasa ketakutan.


"Iya kita balik sekarang. Gw anter ya kalian pulang," Ghani menawarkan diri untuk mengantar Cha.


"Ya udah yuk," ajak Cha.


"Kak Ghani gak kerepotan kalau nganterin kita?" tanya Dewi sebelum mereka jalan.


"Nggak, khawatir kalau kalian nantinya bertemu mereka," kilah Ghani.


"Oh...perhatian banget ya kakak sama kami," sindir Dewi.


Ghani diam saja dikatakan begitu sama Dewi. Dia hanya terssnyum sambil berjalan.


Mereka bertiga berjalan kearah tempat yang tadi Cha dan Dewi lewati. Cha dan Dewi berjalan duluan sedangkan Ghani dibelakang mereka mengikuti.


"Ghan, kenapa kamu gak pindah saja dari sana. Apa kamu mau berteman sama mereka?" tanya Cha sambil berjalan.

__ADS_1


"Iya Cha, nih juga aku lagi cari-cari kostan yang lain. Aku gak mau berteman sama mereka karena bahaya juga jika gabung sama Imran dan Dino," jelas Ghani sambil memperhatikan kebelakang.


"Kamu sudah dapat tempatnya Ghan?" tanya Cha lagi.


"Ada sih Cha. Hari ini rencananya aku mau kesana lihat kost-kostannya," jawab Ghani.


"Cha, lebih baik kita istirahat dulu di Masjid. Aku mau coba hubungi teman kampusku yang sering nongkrong diparkiran," ucap Ghani.


"Loh emangnya kenapa. Kan kita bisa aja langsung kehalte," balas Cha sambil mengerutkan keningnya.


"Iya kak, kenapa harus nunggu di Masjid dulu? Wah aku curiga nih sama kakak," Dewi memandang menyelidik kearah Ghani.


"Ya ampuuun kalian ini, kenapa jadi curiga sama aku? Niat ku itu baik, gak ada macem-macem," protes Ghani.


"Maaf ya Ghan, aku masih takut kalau kamu terlibat dengan mereka. Karena kalian itu kan sahabat bertiga, masa kamu gak tau bahwa mereka seperti itu kerjaannya?" tanya Cha curiga.


"Cha, aku memang sahabatan dengan mereka. Dan Imran juga sahabat aku dari kecil. Tapi aku gak tau dia seperti itu sama Dino. Padahal yang aku tau, dia itu anaknya baik dan gak pernah macem-macem!" ketus Ghani.


"Trus sekarang kamu tau kan bahwa sahabat kamu seperti itu!"


"Maaf Cha, tapi bukan berarti aku, kamu samakan dengan mereka. Aku jadi kecewa sama kamu Cha. Padahal niat aku baik, mau menolong kamu dan menjaga kamu, tapi justru malah kamu tidak percaya. Ya sudahlah, kalau gitu aku antar kalian sampai halte saja. Makasih atas ketidak percayaannya," Ghani pergi meninggalkan Dewi dan Cha dihalte bus. Dia kembali ke Masjid untuk menghubungi temannya yang diparkiran agar membawa motornya ke Masjid sebelah kampus.


Cha dan Dewi saat ini sudah berada di halte bus. Cha melihat kepergian Ghani dengan rasa yang tak enak.


"Wi, apa gw terlalu kejam ya memperlakukannya seperti itu?" tanya Cha sambil menatap Ghani dari halte.


"Tapi kalau dia seperti mereka, gak mungkin kan dia membantu kita menghindari Dino dan Imran?" tanya Cha lagi.


"Ya bisa aja dia nyari simpati kita. Habis tuh baru deh dia jalankan aksinya," curiga Dewi.


"Ya ampuuun Wi...jangan su'udzon gitu ah. Kalau dia ternyata emang baik, gimana? Gw rasanya bersalah banget Wi!" balas Cha.


"Ya udah Cha, kita lihat aja nanti, bagaimana sikap kak Ghani. Sekarang yuk tuh busnya dah Dateng. Kita kesekolah Pita," ajak Dewi saat bus datang.


Mereka masuk kedalam bus, dan ternyata busnya sepi hanya ada beberapa penumpang.


"Wi, Lo udah tlp Ibumu? Bilang kalau kita yang jemput Pita. Sekalian kita makan siang diluar ya. Bilangin juga supaya Ibumu makan duluan," suruh Cha saat didalam bus.


Dewi pun menghubungi Ibunya dan memberitahukan bahwa saat ini mereka sedang menuju Sekolah Pita. Dan Dewi juga memberitahukan Ibunya agar makan siang duluan, karena mereka akan mengajak Pita makan diluar setelah pulang Sekolah.


Didalam bus, Cha dan Dewi membahas tentang sekolah Pita yang akan dipindahkan di daerah komplek dekat dengan rumah yang mereka tempati. Saat asyik ngobrol, ponsel Cha berdering. Dia melihat nama Zain tertera. Lalu Cha mengangkatnya.


"Hallo Assalamu'alaikum Zain!" sapa Cha.


"Wa'alaikumussalam sayang! Kamu dimana ini?" tanya Zain.


"Aku lagi di dalam bus mau kesekolah adiknya Dewi. Ada apa Zain?" tanya Cha bingung.

__ADS_1


"Sayang, kamu habis pulang dari sekolah adiknya teman kamu. Kamu datang ya ke Cafe Phuket," ucap Zain.


"Loh buat apa aku kesitu Zain?" tanya Cha bingung.


"Udah kamu datang aja ya sayang. Ya bawa aja mereka kalau kamu takut," balas Zain sambil senyum-senyum disana.


"Oh...ya udah, habis dari sekolah adiknya Dewi, kami kesana. Emang ada apaan sih Zain?" tanya Cha penasaran.


"Nanti kamu juga tau sayang, jangan lama-lama ya, ntar keburu berjamur," jawab Zain.


"Berjamur apanya Zain? Kamu ini membingungkan ku aja!" celetuk Cha yang protes dengan ucapan Zain.


"Ya udah datang aja ya ke sana. Nanti aku hubungi lagi ya sayang, daaa emmmuach," Zain langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu Cha.


Sedangkan Cha merasa bingung dengan sikap Zain hari ini.


"Siapa Cha?" tanya Dewi.


"Oh itu si Zain, dia nyuruh kita habis jemput adik Lo, kita ke cafe Phuket," jawab Cha.


"Loh emang ngapain kita kesana Cha?" tanya Dewi yang ikutan bingung.


"Mbuh nggak tau gw Wi, tapi disuruhnya aja kesana. Mungkin mau kasih kerjaan kali ya hehehe."


"Mana mungkin Cha, Lo berharap banget, hihihi," sambung Dewi.


Mereka terus ngobrol sampai pak kernek memberitahukan nama halte dekat sekolah adiknya untuk bersiap-siap turun.


"Tuh kita udah mau sampai Cha, yuk siap-siap," ajak Dewi. Mereka berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di dekat pintu bus.


Akhirnya bus berhenti dihalte dekat Sekolah adiknya. Mereka turun dari bus dan berjalan sedikit ke Sekolah Pita.


Sampai di Sekolahnya, Dewi dan Cha langsung masuk menuju kelasnya Pita. Dewi melihat Pita dan memberitahukan bahwa mereka mau keruangan Kepsek.


Lalu Dewi dan Cha berjalan ke ruangan Kepsek.


"Permisi Bu, saya mau bertemu dengan Kepala Sekolah ini," ucap Dewi dengan sopan.


"Oh.., Bu Kepsek lagi ke Dinas, ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya salah satu Guru disana.


"Kalau mau ngurus surat pindah sekolah, sama siapa ya Bu," tanya Dewi.


"Oh mau pindah Sekolah? Ya wes, Mbak e masuk keruangan itu aja, nanti bertemu dengan Pak Broto, operator Sekolah ini," jawab Guru itu yang menyarankan mereka menemui Pak Broto.


"Oh terima kasih ya Bu!" ucap Dewi.


Dan guru itu hanya menganggukkan kepalanya membalas ucapan Dewi sambil tersenyum.

__ADS_1


Lalu Dewi dan Cha berjalan ke ruangan yang dimaksud si Guru tadi. Dan sampailah mereka diruangan tersebut.


__ADS_2