
Cha menjelaskan kepada Ibunya Dewi dimana mereka akan menempati kamarnya dan kamar yang lainnya. Cha juga meminta Ibunya Dewi tidak melakukan pekerjaan apapun dirumah ini, karena sudah ada dua asisten rumah tangga yang mengerjakannya. Baik itu bersih-bersih rumah, masak, mencuci pakaian serta menyetrika.
"Duh nak Cha, Ibu tidak enak kalau tidak melakukan pekerjaan. Rasanya badan itu tidak nyaman kalau tidak bergerak. Karena Ibu sudah terbiasa bekerja," protes Ibunya Dewi yang merasa tidak enak dengan semuanya.
"Bu, jangan merasa sungkan atau tidak nyaman. Ini adalah rezeki dari Allah SWT untuk Ibu dan keluarga menikmatinya. Jadi Ibu harus menerimanya," tegas Cha sambil tersenyum.
"Iya Bu, mungkin dengan kejadian yang menimpa Dewi, kita bisa menikmati semua ini dengan rasa syukur Bu," sambung Dewi dengan merangkul Ibunya.
"Iya nak, Ibu bersyukur sekali menerima semua ini. Kalian benar-benar sahabat Dewi. Padahal, seingat Ibu, tidak ada yang mau menemani Dewi dikampusnya," terang Ibunya dengan nada sedih.
"Kami sekarang sudah menjadi saudara Bu. Jadi kalau kita bersaudara jangan ada yang menyakiti dan harus saling membantu," sambung Mbak Ani yang juga merangkul Cha.
Mereka bertiga tertawa dan saling merangkul. Dan mereka juga berusaha menghibur Ibunya Dewi. Cha benar-benar merasakan sebuah keluarga. Dimana dia tidak mendapatkan rasa sayang dan rangkulan dari kakaknya ataupun Ibunya.
"Ya udah Bu, yuk Dewi bantu buat beres-beres barang Ibu dan adik-adik. Sekarang kita lihat kamarnya ya Bu!" ajak Dewi menuju kamar yang akan ditempati Ibu dan adiknya.
Dewi membuka pintu kamarnya dan mereka semua masuk kedalam.
"Waowww kak...!! Besar banget kamarnya. Pita bisa bermain-main dengan sibungsu didalam kamar ini!" seru Pita yang merasa kegirangan.
"Wi, Ibu jadi gak enak sama nak Cha. Dia memberikan kamar yang sangat bagus dan luas seperti ini," Ibunya merasa tidak enak hati dengan kebaikan Cha.
"Bu, Cha itu orangnya sangat baik. Dewi beruntung memiliki sahabat seperti dia. Dia anak orang kaya loh Bu. Tapi dia punya keluarga Broken Home Bu. Kasihan dia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya serta kakak-kakaknya," terang Dewi menceritakan sedikit tentang Cha.
"Kasihan sekali dia ya Wi. Kamu beruntung punya Ibu dan adik yang menyayangimu walaupun kita serba kekurangan. Maka dari itu Wi, kamu jangan pernah menyakiti dia, Ibu juga akan memberikan kasih sayang Ibu kepadanya. Kamu gak masalah kan kalau Ibu juga menyayanginya?" tanya Ibunya yang takut jika Dewi protes.
"Beneran Bu..!! seru Dewi. "Dewi sangat senang sekali Bu, Ibu mau memberikan kasih sayang kepada Cha dan Mbak Ani juga. Mereka berdua senasib Bu, tapi Cha yang lebih parahnya," jelas Dewi.
"Iya nak, Ibu akan menganggap mereka seperti anak Ibu juga. Ya udah sekarang kita beres-beres ya. Kamu barangnya dimana?" tanya Ibunya heran karena tidak melihat barang-barang Dewi.
"Dewi kamarnya di ujung Bu, terpisah sama Ibu. Ini khusus buat Ibu dan adik-adik," ucap Dewi menjelaskan.
"Lapang sekali kamar kami nak!"seru Ibunya.
"Gak apa Bu, biar adik-adik nyaman dikamar ini," ucap Dewi penuh perhatian.
"Ya sudah, kamu juga sana beres-beres barang kamu biar kita makan siang bareng," suruh Ibunya.
"Iya Bu."
Dewi keluar dari kamar yang ditempati Ibunya dan meninggalkan Ibunya sendiri merapikan barang-barang mereka. Dia menghampiri kedua Cha dikamarnya.
"Cha, kamu lagi beres-beres ya?" tanya Dewi saat memasuki kamarnya Cha.
"Iya Wi. Tuh kamu lihat dia menyuruh bodyguardnya memajang fotonya sendiri dikamar ini," tunjuk Cha kearah lukisan foto Zain.
"Itu dia orangnya Cha?" tanya Dewi yang merasa takjub dengan sosok Zain yang sangat ganteng dan menawan.
"Iya Wi, dia orangnya," jawab Cha sambil menatap lukisan Zain.
__ADS_1
"Ganteng banget Cha!" seru Dewi yang terus menatap lukisan Zain.
"Iya Wi, dia sangat ganteng dan banyak digandrungi wanita-wanita lain," ucap Cha yang masih setia berdiri didepan lukisan Zain.
"Trus gimana dengan yang di Belanda? Bagaimana khabarnya Cha?" Dewi menatap kearah Cha.
"Aku gak tau Wi, gimana khabarnya dia. Karena sampai sekarang blom lagi dia menghubungiku," balas Cha.
"Kamu pasti tersiksa banget ya Cha dengan keadaan seperti ini? Digantung sama orang yang dicintai dan menepis harapan orang yang mencintai Lo," Dewi mengutarakan isi hatinya dengan kondisi Cha.
Cha meneteskan air matanya. Dia merindukan Yoga yang tak ada khabarnya. Dan dia juga merindukan Zain yang sudah mulai bersarang dihatinya.
"Wi, apa mungkin dia selingkuh disana?" tanya Cha sambil menatap kearah Dewi.
"Jangan berpikiran buruk seperti itu Cha. Mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan dari Lo, makanya dia tidak memberi khabar. Dia tidak ingin membuat Lo kepikiran tentang keadaannya disana," Dewi berkata dengan bijak untuk menyemangati Cha.
"Gw gak tau Wi. Seharusnya dia tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari gw Wi! Kami sudah sering melewati masalah saat gw SMU kemaren. Apa dia sakit atau bagaimana?" Cha menggoyang-goyangkan tubuh Dewi meminta jawaban dari Dewi.
"Sabar Cha! Kamu tidak boleh seperti ini! Doa'kan saja yang terbaik buat Lo dan dia. Ikuti saja takdir yang diberikan Allah SWT untuk kalian. Jangan pesimis dong Cha!" Dewi terus menyemangati Cha. Dia gak mau melihat Cha rapuh karena seseorang.
"Lo benar Wi, gw harap dengan kumpul bersama keluarga Lo, hidup gw bisa berwarna dan tidak buram," ucap Cha tersenyum.
"Iya Cha, kita sekarang adalah keluarga. Mbak Ani, Lo dan keluarga gw adalah satu keluarga. Dan harus semangat!" dukung Dewi.
"Ngomong-ngomong, Lo udah siap bantuin Ibumu dikamar?" tanya Cha sambil merapikan barang-barangnya.
"Gw disuruh merapikan barang-barang gw. Biar cepat selesai, kata Ibu gw. Tapi ntah kenapa gw pengen masuk kedalam kamar Lo. Ternyata gw ngelihat Lo lagi memandang si Pangerang ganteng," ledek Dewi sambil tertawa.
"Iya-iya gw keluar sekarang. Lo jangan sedih lagi ya say...! Gw sayang sama Lo seperti saudara sendiri. Lo harus semangat, jangan mau kehidupan Lo yang tak nyaman menghambat keinginan Lo untuk bahagia," ucap Dewi dengan bijak.
"Iya Wi, thanks ya," Cha memeluk Dewi sekilas. Lalu dia kembali merapikan barang-barangnya.
Sedangkan Dewi pergi kekamarnya untuk membereskan barang-barangnya juga.
Setelah sejam'an mereka masing-masing berada didalam kamar untuk beres-beres, Bu Marni masuk kekamar Cha untuk mengatakan bahwa makan siangnya sudah siap.
"Mbak, makan siangnya sudah siap dimeja makan. Ayo makan dulu, biar ada tenaga buat lanjut beres-beres, ucap Bu Marni yang sudah agar berumur.
"Iya Bu, oh ya Bu, saya minta tolong bilang ke yang lain juga ya Bu, agar mereka keluar untuk makan siang," pinta Cha.
"Iya Mbak," ucap Bu Marni.
Lalu Cha bersiap-siap keluar kamar menuju meja makan. Dia melihat hidangan diatas meja makan sudah lengkap dengan berbagai macam makanan.
"Waowww, Bu enak banget nih kelihatannya. Buat saya jadi laper nih," ucap Cha yang mengambil ayam goreng lada hitamnya.
Lalu datanglah Mbak Ani dari belakang menghampiri Cha.
"Yeiii, nyomot aja. Enak ya Cha?" tanya Mbak Ani.
__ADS_1
"Bilang aja mau Mbak!" ledek Cha sambil menjilati tangannya yang terkena bumbu lada hitam.
"Iya buat Mbak selera aja Cha makanannya. Mana yang lainnya?" tanya Mbak Ani sambil melihat kekamar Dewi dan Ibunya.
"Mungkin bentar lagi mereka datang Mbak, kita tunggu aja disini Mbak," jawab Cha.
Lalu Dewi dan Ibunya beserta adik-adiknya keluar dari dalam kamar mereka. Dewi menghampiri kedua sahabatnya.
"Wah udah duluan aja nih nonggok disini," guyon Dewi.
"Iya gw laper tau!" celetuk Cha.
"Silahkan Bu, duduk biar makan sama kita," ucap Cha dengan sopan.
Ibunya Dewi dan adik-adiknya mengambil tempat duduk masing-masing.
"Bu! Enak banyak banget makanannya? Ini untuk kita semua ya Bu?" tanya Pita yang semangat melihat beraneka ragam makanan.
"Iya dek, ini semua buat kita makan. Makan yang banyak ya biar pinter," ucap Dewi sambil mengusap kepala adiknya.
Sedangkan sibungsu diletakkan diatas meja makan dengan menu khusunya.
"Ayo Bu diambil makannya. Atau mau Dewi yang ambilin?" tanya Dewi karena melihat Ibunya yang canggung dengan keadaan dialaminya.
"Iya Wi, biar Ibu aja yang ngambil ya," jawab Ibunya kaku.
Mereka mengambil makanan masing-masing. Dan menikmati hidangan yang disuguhkan.
"Bu...! Uenak buaaanget makanannya! Pita mau mau makan semuanya!" seru Pita dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Udah kamu makan yang bener dulu, nanti keselek loh nak!" ucap Ibunya mengingatkan anaknya.
"Iya dek, semua ini untuk dimakan. Makanlah sepuasnya ya," sambung Dewi.
Cha dan Mbak Ani tersenyum penuh arti melihat sikap adiknya Dewi. Ada rasa haru, kasihan yang dirasakan Cha dan Mbak Ani.
Mereka pun menikmati makan siang bersama dengan canda dan tawa. Hari pertama yang sangat berarti dalam hidup mereka masing-masing. Cha merasakan kebahagiaan kumpul dengan keluarga, begitu juga dengan Mbak Ani.
Disaat mereka menikmati makanannya, Bu Marni datang membawa buah-buahan yang sudah dipotong-potong.
"Mbak Cha, Bu, ini buahnya," Bu Marni meletakkan buah-buahan yang sudah ditata rapi disebuah wadah diatas meja.
"Iya Bu, makasih. Oh ya, Bu Marni dan Bu Novi sudah makan?" tanya Cha yang baru menyadari dengan dua orang asistennya.
"Bu!! Banyak banget buah-buahannya. Ini juga untuk kita makan?" tanya adiknya Dewi.
"Iya sayang, ini semua untuk Pita. Pita suka buah apa dek?" tanya Cha dengan tersenyum.
"Semuanya Pita suka kak! Bolehkan Pita makan semua buah-buahannya?" tanya adiknya.
__ADS_1
"Boleh dong dek!" sahut Mbak Ani.