
Malam pun semakin larut, Cha membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur di samping Sika. Dia mencoba memejamkan matanya hingga dia terlelap.
Sedangkan Zain sedang bersama keluarganya menuju Hotel tempat Zain menginap.
"Ma, Pa, Oma, akhirnya kalian sampai juga disini. Aku sangat senang atas kehadiran kalian," ucap Zain bahagia.
"Tentu kami akan kemari Zain, semua ini kami lakukan untuk kamu sayang," balas Mamanya.
"Itu benar Zain, Oma sangat senang karena mendengar kamu akan segera menikah. Oma sudah tidak sabar menimang cicit," goda Omanya.
"Mama, Zain belum menikah, biarkan dia mengumpulkan tenaganya untuk membuat cucu yang terbaik," Mamanya Zain ikut menggodanya.
"Ih Mama, kalian sangat bersemangat. Aku yang akan menikah, tapi kalian yang bersemangat," ledek zain.
"Hahaha, kamu kayak gak tau aja Zain dengan Mama dan Omamu," balas Papanya Zain.
Akhirnya mereka sampai di Hotel dengan kamar yang berbeda. Zain sengaja tidak memberikan khabar terhadap Meka. Dia ingin memberikan kejutan esok harinya ketika keluarganya datang. Kedua orang tua Zain dan Omanya sudah masuk ke dalam kamar Hotel. Zain pun segera kembali ke kamarnya.
Saat Zain berada di dalam kamar, Zain melihat ponselnya yang berada di saku celananya. Zain melihat ada pesan masuk ke ponselnya. Lu Zain membukanya dan membacanya. Ternyata itu pesan dari Cha.
"Ternyata dugaanku benar, Cha menunggu khabar dariku," gumam Zain sambil senyum-senyum.
Tapi Zain tidak membalas pesan Cha. Dia membiarkan Cha menunggu. Akhirnya Zain pun tidur karena kelelahan. Hingga malam semakin larut.
Pagi yang cerah, secerah hati Zain yang sedang bahagia. Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan keluarga Cha. Zain sudah sangat merindukan Cha.
Sementara Cha merasa cemas. Dia cemas akan kehadiran Zain yang tidak tepat waktu. Suasana di rumah Cha sedang tidak nyaman. Karena khabar yang kemaren di sampaikan Mamanya. Cha takut untuk menanyakan tentang kedatangan keluarga Zain terhadap Mamanya.
"Apa yang harus aku lakukan ya? Tidak mungkin aku mengatakan dengan Zain kalau di rumah ini sedang ada masalah. aku juga tidak mungkin membuat kecewa keluarga Zain yang sudah jauh datang dari Paris," gumam Cha.
Ternyata gumaman itu terdengar oleh Sika adiknya yang sudah membuka matanya dari sejak Cha bangun.
"Ada apa kak?" tanya Sika yang mengagetkan Cha.
Cha menoleh ke arah Sika dan melihat adiknya dengan tatapan bingung.
"Sika, Kakak bingung. Hari ini keluarga kak Zain akan datang ke rumah. Bagaimana Kakak mengingatkan sama Mama tentang hal ini?" tanya Cha yang butuh pencerahan.
"Oh..iya ya kak. Hari ini mereka akan kemari. Terus gimana dong kak?" Sika malah bertanya dan tidak memberikan solusinya.
"Kakak bertanya, malah kamu ikut bertanya balik, gimana sih Sik?" kesal Cha yang tak mendapat solusi.
"Ya Sika juga bingung kak. Masalahnya, kita ini lagi di timpa musibah...," balas Sika.
"Musibah yang bagaimana maksud kamu Sika?" tanya Cha bingung.
Mengajak Sika bicara terkadang bisa memberikan Cha pencerahan tapi kadang bisa juga membuat Cha kesal. Karena saat ini yang dihadapi Cha sangatlah rumit.
__ADS_1
"Apa Kakak tlp aja ya kak Zain. Cerita ke dia tentang keadaan Mama seperti itu?" tanya Cha yang minta pendapat Sika.
"Sepertinya itu lebih baik kak. Sapa tau kak Zain punya jalan keluarnya," jawab Sika.
Cha terdiam sesaat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Lalu dia pun bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi no Zain.
Tak berapa lama kemudian, Zain mengangkat tlpnya.
"Assalamualaikum sayang...!" sapa Zain dengan semangatnya.
"Wa'alaikumussalam Zain," sahut Cha gugup.
"Wah kamu udah gak sabaran ya mau ketemuan sama aku!" goda Zain.
Cha merasa sedih dan tak tega untuk menceritakan tentang keadaan Mamanya disini.
"Ah, kamu bisa aja Zain. Kita kan sering bertemu," kilah Cha yang berusaha menutup kegelisahannya
"Hahaha, tapi aku selalu merindukanmu sayang," balas Zain.
"Oh ya, apakah Mama, Papa dan Oma sudah datang? Bagaimana khabar mereka Zain?" tanya Cha yang menghindari godaan Zain.
"Alhamdulillah mereka baik-baik aja sayang. Tadi malam mereka sampai, dan mereka juga bertanya tentangmu. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu sama kamu sayang," jawab Zain dengan suara bersemangat.
"Syukurlah kalau mereka baik-baik aja. Apakah mereka sedang sarapan Zain?" tanya Cha.
"Tidak, mereka masih di dalam kamar. Mereka menungguku Cha untuk sarapan bareng," jawab Zain.
"Apa ada sesuatu Cha?" tanya Zain curiga.
"Ah, anu Zain, aku mau cerita. Tapi aku takut mengatakannya," jawab Cha bimbang.
"Kenapa harus takut, kamu boleh menceritakannya sekarang. Aku akan senang hati mendengarnya."
Cha menarik nafasnya dengan berat dan membuangnya dengan perasaan berat juga.
"Ada apa Cha?" tanya Zain mengulanginya.
"Zain, kemaren malam, aku mencoba mengirimnya pesan. Tapi kamu tidak membalasnya. Aku pikir kamu mungkin lagi kumpul bersama keluargamu, jadi aku tidak ingin mengganggumu," ungkap Cha.
"Apa ada hal yang penting Cha?" tanya Zain.
"Iya Zain, suasana hati Mamaku saat ini kurang baik. Aku khawatir jika keluargamu ke rumah, mereka tidak akan senang," jawab Cha.
"Kenapa bisa begitu Cha? Emang lagi ada masalah ya?" tanya Zian terus.
"Iya Zain, kemaren Papaku menghubungi Mamaku, dia meminta Mamaku untuk menjual rumah ini. Tentu saja Mamaku bingung, karena kalau rumah ini dijual, kemana Mama dan adik-adikku akan tinggal? Itu yang membuat Mamaku cemas dan keadaan hatinya tak tenang," jawab Cha menjelaskan.
__ADS_1
"Oh...hanya itu masalahnya?" tanya Zain santai.
Zain menganggap itu hal yang tidak mengganggu untuk mereka melakukan pertemuan keluarga.
"Ya itu kan bisa menghambat pertemuan keluarga Zain," jawab Cha tak suka.
"Sayang, kamu tidak usah memikirkan semua itu. Aku akan membawa mereka ke Jogja. Mereka akan tinggal disana dengan suasana baru, bagaimana?" tanya Zain memberi saran.
"Aku tidak ingin merepotkan mu Zain. Itu terlalu berlebihan."
"Tidak sayang, aku ikhlas melakukannya, itu semua demi kamu. Mereka keluarga kamu dan akan menjadi keluargaku. Selagi aku mampu, aku akan memberikannya, ok," tegas Zain.
Cha merasa beban di hatinya terangkat dengan semuanya. Dia merasa legah karena Zain memberikan saran yang terbaik.
"Kalau gitu, aku akan mengatakan sama Mama, supaya tidak terlalu khawatir. Terima kasih Zain, aku mencintaimu," ucap Cha dengan bahagia.
"Aku juga mencintaimu sayang, sampai ketemu nanti," balas Zain.
Lalu obrolan berakhir, Cha merasa senang. Dia segera keluar dari dalam kamarnya. Cha berjalan ke kamar Mamanya.
"Tok tok tok, Ma...!" panggil Cha dari luar.
"Masuk aja," suruh Mamanya.
Cha pun masuk ke dalam kamar dan melihat Mamanya yang habis menangis.
"Ma, aku mau bicara. Ini mengenai rumah kita," ucap Cha sedikit takut.
"Bicaralah," suruh Mamanya.
"Ma, tadi, aku sudah bicara sama Zain. Hari ini orang tuanya akan berkunjung kemari. Mereka kemaren malam baru tiba dari Paris. Dan sekarang menginap di Hotel bersama Zain."
"Apa kau kemari membicarakan itu di saat keadaan ini tidak baik?" tanya Mamanya dengan wajah marah.
"Tidak Ma. Aku kemari mau menawarkan sama Mama, apakah Mama mau tinggal di Jogja dengan suasana baru?" tanya Cha hati-hati.
"Apa maksud kau?" tanya Mamanya.
"Ma, Zain akan membelikan rumah untuk Mama tinggal di Jogja bersama adik-adik. Dia ingin Mama hidup dalam suasana baru," jawab Cha.
Mamanya Cha menatap dirinya dengan tatapan yang Cha sendiri tak tau.
"Apakah itu serius nak?" tanya Mamanya dengan nada melunak.
Cha mengangguk membenarkan ucapan Zain. Dan saat itu juga, Cha melihat binar kebahagiaan terpancar dari mata Mamanya.
"Alhamdulillah, iya nak, Mama mau. Mama ingin hidup baru disana, melupakan semuanya," balas Mamanya.
__ADS_1
"Mama berterima kasih sama kau nak. Mungkin Mama gak bisa membalasnya karena Mama sudah tua. Hanya do'a yang bisa Mama berikan sama kau nak," ucap Mamanya dengan haru.
Cha tersenyum bahagia. Dia terharu mendengar pengakuan Mamanya.