Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kejutan dari Zain


__ADS_3

Dihadapan Dewi, Cha masih diam mematung menatap bingkisan pemberian Gani.


"Ya udah, thanks banget ya Wi. Gw masuk ke dalam ya," ujar Cha.


"Iya, gw juga masih mau menyiapkan keperluan yang belum lengkap," balas Dewi.


Kemudian Cha masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat penasaran dengan bingkisan itu. Lalu dia membawanya ke atas tempat tidur dan mulai membukanya. Cha membelalakkan matanya menatap bingkisan yang sudah terbuka.


Sebuah lukisan yang sangat cantik menggambarkan sosok perempuan yang sedang terlihat melamun tapi senyumnya sangat menawan. Wajah itu yang tak lain dirinya sendiri. Ghani yang ternyata juga sangat pinter melukis, membuat sebuah lukisan diri cha.


Cha tak menyangka kalau Ghani bisa melukiskan dirinya dengan sangat indah.


"Kapan dia mendapatkan gambarku ini? Lukisannya sangat bagus dan sama dengan lukisan buatan tangan Zain," gumam Cha.


Cha bingung harus dimana meletakkan lukisan ini. Kalau Zain melihat lukisan ini, tentunya akan membuatnya cemburu. Cha terpaksa menyimpan lukisan itu ke dalam lemari. Tepat ketika lukisan itu diangkat, Cha melihat sebuah surat terjatuh. Cha pun mengambilnya.


"Surat!" gumam Cha yang memegang surat itu.


Ketiak Cha hendak membuka surat itu, tiba-tiba dari luar kamarnya, dia mendengar sayup-sayup suara Zain. Cha buru-buru meletakkan lukisan dan surat itu ke dalam lemarinya. Dengan gugup dia menutup lemari pakaiannya.


Zain tanpa permisi, masuk ke dalam kamar Cha. Dia melihat Cha yang baru saja menutup pintu lemari pakaiannya.


"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Zain yang sudah berdiri di depan Cha.


"Nih lagi menyiapkan semuanya," tunjuk Cha ke arah cover yang akan dibawanya nanti.


Cha berusaha tenang agar Zain tidak curiga dan bertanya banyak.


"Oh..., loh ini bungkusan apa Cha?" tanya Zain saat melihat bungkusan di atas tempat tidurnya.


Cha kaget dan bingung mau menjawab apa. Namun dia mencoba mengatur nafasnya agar tenang dan tersenyum menatap ke arah Zain.


"Ini bingkisan Dewi. Tadi Dewi baru dari sini bawa bingkisan buat saudara di Klaten sana," jawab Cha tenang.


"Kita tidak bawa kado buat yang pesta?" tanya Zain lagi.


"Emang Abang mau kasih kado apa? Lebih baik kita kasih amplop aja nanti bang," saran Cha.


"Itu lebih baik, ya sudah, kamu siapkan amplopnya ya, biar Abang isikan dan nanti kamu aja yang memberikannya buat pengantinnya," ucap Zain.

__ADS_1


"Iya, nanti aku yang akan memberinya," ulang Cha.


"Sayang, Abang mau istirahat bentar ya disini. Tadi banyak banget pembahasan di kantor buat Abang sedikit pusing."


"Ya udah, Abang istirahatlah dulu. Biar aku buatkan teh manis hangat ya," balas Cha.


"Boleh juga."


Lalu Zain berbaring di atas tempat tidur Cha. Sedangkan Cha keluar dari dalam kamarnya menuju dapur. Dia membuatkan teh manis anget buat Zain. Setelah selesai, Cha kembali ke kamar dan meletakkan nya di meja samping tempat tidur.


"Bang, ini minum dulu teh manis angetnya,"


"Makasih ya sayang, senang kalau diperhatikan begini,"w ucap Zain.


Lalu Zain meminum teh yang di buat Cha. Dia menikmati minuman itu sambil menoleh ke arah Cha yang sedang berdiri di hadapannya.


"Wah, sayang ternyata teh buatan kamu sangat enak. Jadi gak sabar pengen cepat nikahin kamu biar tiap hari di buatin teh begini," Zain memberikan pujiannya terhadap Cha.


Cha merasa tersipu malu dengan wajah merona, dia menundukkan wajahnya dengan malu-malu sambil menyembunyikan senyumannya.


"Hei kenapa wajahnya menunduk," ucap Zain dengan memegang dagu Cha.


"Sini duduk disamping Abang. Abang mau kasih kamu kejutan," pinta Zain.


Lalu Cha duduk disamping Zain dan menghadap ke arah Zain.


"Emang Abang mau kasih kejutan apa nih?" tanya Cha mengernyitkan keningnya.


"Kemaren Abang udah ngurus rumah untuk Mama yang di Medan. Dan semua udah siap di huni. Jadi tinggal menunggu mereka datang ke Jogja setelah pesta pernikahan kita berlangsung," jelas Zain.


"Tunggu ini kejutannya," Zain berdiri dari tempat tidur dan mengambil kotak kecil di dalam tas yang di bawanya.


Sedangkan Cha menunggu dengan rasa penasaran yang tak bisa diungkapkan.


Kemudian Zain kembali ke tempat tidur dan duduk di sebelah Cha kembali.


"Ini kejutannya, bukalah, kamu pasti senang," Zain menyerahkan kotak tadi dan menyuruh Cha membukanya.


"Apa ini bang?" tanya Cha saat menerima kotak kecil ditangannya.

__ADS_1


"Bukalah, nanti kamu juga tau kok."


Cha melihat kotak ditangannya dengan rasa deg-degan. Kemudian dia mulai membuka kotak itu perlahan dan melihat isi kotaknya.


"I--ini kunci apa bang?" tanya Cha gugup.


"Ini kunci rumah untuk Mama dan adik kamu disini. Gimana, kamu senang bukan?" tanya Zain.


"Se--senang banget bang. Aku gak tau bilang apa untuk ini semua. Kamu terlalu banyak berkorban bang untukku. Kamu baik sekali terhadapku dan keluargaku," jawab Cha terharu. Cha menyandarkan kepalanya di bahu Zain dan memeluknya erat.


"Pengorbananku gak ada artinya sayang. Kamu telah merubah sisi kejam dan dinginku untuk perduli sama orang lain. Kamu segalanya untukku. Sebulan lagi kita akan segera menikah. Jadilah kekasih hidup Abang selamanya," ucap Zain dengan memeluk erat Cha dan mengecup rambut Cha.


"Aku benar-benar takut kehilangan kamu bang. Tetaplah menjadi penerang dalam hidupku."


Gak terasa air mata menetes di sudut matanya. Air mata haru karena perjuangan mereka untuk bersama tinggal selangkah lagi.


Saat mereka berdua larut dalam suasana haru, pintu kamar di ketuk dari luar.


"Tok tok tok," Tuan Zain...,non Cha... makan siangnya sudah bibi siapkan," ucap si bibi dari luar.


"Iya bi, kami akan kesana," sahut Cha dari luar.


"Bang, ayo kita makan siang dulu. Habis tuh baru istirahat. Abang tidak balik lagi ke kantor?" tanya Cha.


"Tidak, semua sudah beres. Abang juga udah menghubungi Papa tadi, membuat laporan tentang Perusahaan cabang yang ada di Jogja," jawab Zain menjelaskan.


"Oh...terus bagaimana tanggapan Papa tentang Abang yang ikut ke tempat pernikahan temanku?" tanya Cha lagi.


"Papa tidak mempermasalahkannya. Yang pasti semua udah selesai. Nanti urusan selanjutnya, Papa yang akan menghandle."


"Syukurlah semua bisa di selesaikan. Ya udah yuk kita keluar," ajak Cha.


Zain dan Cha bangkit dari tempat tidur. Mereka keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arah meja makan. Cha tidak melihat keberadaan Dewi dan Ibunya. Hanya ada si bibi yang masih merapikan yang lainnya.


"Bi, mana yang lainnya?" tanya Cha.


"Tadi sudah bibi panggil non, tapi Ibunya non Dewi lagi menyiapkan pesanan jahitannya. Dan mungkin Dewi nya juga membantu Ibunya," jawab si bibi.


"Ya sudah sayang, kita makan duluan aja, mungkin mereka menunggu kita untuk makan duluan. Yuk kita makan," ajak Zain.

__ADS_1


Cha hanya mengikuti apa yang diminta Zain. Dia pun mengambil nasi ke piring Zain. Lalu mereka makan berdua di meja makan. Suasana di meja makan sangat tenang, Zain dan Cha menikmati makan siang mereka.


__ADS_2