
"Hehehe, ayo Oma kita menikmati hari ini dengan happy," ucap Cha dengan semangat juga.
"Iya sayang."
Mereka mulai berjalan kaki menyusuri jalanan yang banyak menyuguhkan toko-toko. Cha dan Oma memasuki beberapa toko yang menjual pakaian branded dan kebutuhan wanita. Cha merasa senang karena Oma dan Zain memberikan perhatian yang tulus terhadapnya.
"Cha, kamu gak mau beli tas itu?" tanya Zain yang sedari tadi memperhatikan Cha.
"Nggak Zain, harganya terlalu mahal. Aku gak sanggup membelinya," jawab Cha jujur.
"Udah gak apa, aku yang bayar. Tuh lihat Oma aja beli. Tar aku juga kok yang bayar. Jadi kamu boleh beli apa aja sepuasmu," ucap Zain yang memperbolehkan Cha belanja.
"Gak usah Zain. Aku gak mau banyak berhutang Budi sama kamu," balas Cha blak-blakkan.
"Kalau kamu gak mau beli, aku lapor nih sama Oma, biar kamu dimarahin Oma," ancam Zain.
"Loh kenapa Oma harus marah? Kan aku yang gak mau Zain!" tegur Cha.
"Oma.....!" panggil Zain.
"Ada apa Zain..? Kamu gangguin Oma aja nih lagi serius lihatin tas bagus disini," marah Omanya karena Zain mengganggunya.
Zain menghampiri Omanya dan memeluk Omanya dari samping.
"Oma, lihat tuh Cha. Dia gak mau dibelikan tas sama Zain. Katanya terlalu mahal. Bilangin tuh Oma kalau Zain sanggup membayar berapapun yang dibelinya," bujuk Zain agar Omanya mau membujuk Cha belanja Tas.
Omanya melepas pelukan cucunya yang manja dan datang menghampiri Cha. Cha melihat kedatangan Omanya, berusaha tersenyum.
"Cha, sini biar Oma pilihkan buatmu tas yang bagus. Kalau masalah harga, kamu gak usah khawatir ya sayang. Ada Zain yang membayarnya," ucap Oma sambil menarik tangan Cha ke bagian tas yang lebih cantik.
"Tapi Oma, disini tuh terlalu mahal. Cha gak sanggup membelinya. Lagian Cha gak mau ngerepotin Zain. Nanti dibilang apa sama orang? Cha gak mau dikatain matre Oma!" seru Cha yang merasa gak nyaman dengan perlakuan Omanya yang baik.
"Udah gak usah dengerin kata orang sayang.Yang penting Zain mau membelikannya buat kamu, tidak boleh menolaknya ya," tegas Omanya tanpa memperdulikan protes dari Cha.
Cha hanya diam tak berani membantah ucapan Omanya Zain. Dia mengikuti apa yang dikatakan Omanya Zain. Lalu mereka mulai melihat-lihat kembali koleksi-koleksi tas yang dijual dengan harga fantastik.
Akhirnya Oma dan Cha selesai membeli tas pilihan mereka. Lalu mereka berjalan memasuki toko pakaian. Dimana pakaian yang dijual merupakan barang Branded. Lagi-lagi Cha hanya diam mengikuti perkataan Omanya Zain. Dia pun membeli beberapa pakaian Branded.
Setelah puas berbelanja, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat disalah satu cafe yang berada dikawasan ini.
"Ayo Oma duduk disini," Cha membawa Omanya duduk di bangku yang sudah dibukakan.
"Iya sayang, terima kasih ya."
"Cha kamu duduk disamping Oma biar aku duduk disamping kamu," suruh Zain.
Lalu mereka mulai memesan makanan dan minuman. Cha melihat tas belanjaan yang banyak dibawa bodyguard Zain.
Cha merasa gak enak sama keluarga Zain yang sangat perduli dengan dirinya. Cha jadi teringat akan keluarganya di Medan. Cha jadi berandai-andai membayangkan jika keluarganya utuh dan harmonis, tentu hal seperti ini akan dirasakan oleh dirinya.
Cha gak sadar kalau dia sedang melamun. Oma dan Zain terus menatap kearah Cha. Namun mereka membiarkan Cha melamun.
__ADS_1
"Dia sedang mikirin apa Zain?" tanya Omanya.
"Zain juga gak tau Oma. Mungkin Cha teringat sama adiknya Oma. Karena kemaren dia sempat ingin menghubungi adiknya di Medan," jawab Zain menjelaskan.
"Oh Cha masih punya adik ya?" tanya Omanya terhadap Zain.
"Ya Oma, mereka enam bersaudara dan Cha anak ke empat," jawab Zain.
"Apa Cha ada masalah selain tentang asmara?" tanya Omanya yang curiga.
"Iya Oma, tapi Zain tidak sekarang menceritakannya ya Oma. Kita kan hari ini tujuannya ingin jalan-jalan biar happy," jawab Zain.
"Sayang," tegur Omanya dengan mengusap tangan Cha.
Cha tersadar dan kaget melihat Oma sedang mengajaknya ngobrol.
"Eh, ada apa Oma?" tanya Cha saat tersadar dari lamunannya.
"Kamu sedang melamunkan apa? Dari tadi Oma perhatikan kamu diam aja," jawab Omanya.
"Ah itu, Cha lagi teringat dengan adik di Medan, Oma," ucap Cha.
"Apa kamu kangen sama adik kamu sayang?" tanya Omanya.
"Iya Oma, sudah lama gak ketemu mereka. Cha jadi kangen sama mereka," jawab Cha yang merasa sedih karena jauh dari keluarganya.
"Nanti ajak aja Zain ke Medan. Dia kan pernah ke sana kemaren," ucap Omanya.
"Oma selalu tau sayang apapun yang dilakukan Zain termasuk mengejar kamu ke Indonesia, Oma juga tau kalau cucu Oma ini bucinnya kamu," jawab Oma tersenyum jahil.
"Oma....! Jangan ngomong yang aneh-aneh ya!" seru Zain yang mengingatkan Omanya.
"Tuh lihat dia, Omanya diancam segala. Cucu gak ada akhlak," kesal Omanya.
Saat mereka asyik bercanda, pesanan makanan mereka datang dan dihidangkan dihadapan mereka.
"'il vous plaît mesdames et messieurs, voici vos commandes. Amusez-vous."
"(Silahkan Tuan dan Nyonya, ini pesanan kalian. Silahkan dinikmati)," ucap si pelayan cafe.
"D'accord, merci.
"(Baik, terima kasih ya)," balas Omanya.
Lalu si pelayan cafe pergi setelah menghidangkan pesanan mereka. Cha melihat hidangan yang sangat lezat. Hingga dia sabar ingin menyantap hidangan dihadapannya.
"Ayo sayang kita makan. Kamu harus banyak makan biar gemukan sedikit," ajak Omanya yang ternyata memperhatikan bentuk tubuh Cha.
"Segini aja udah cukup Oma. Aku gak mau jadi gemuk," balas Cha malu-malu.
"Kenapa? Apa takut kalau Zain berpaling?" tanya Omanya menatap Cha.
__ADS_1
"Tidak Oma, aku memang tidak suka gemuk Oma. Nanti susah bergeraknya," jawab Cha dengan tersenyum.
"Iya Oma, dia sudah cantik dengan body seperti itu. Jangan disuruh gemukan," sambung Zain yang dari tadi menyimak obrolan keduanya.
"Huh bilang saja kamu yang mau kan?! Oma tidak mau kalau Cha harus kurus karena kemauanmu Zain!" seru Omanya yang tidak suka melihat Cha kurus.
"Tidak Oma, aku seperti ini bukan karena Zain. Percayalah Oma. Ayo kita makan, sepertinya lezat sekali pilihan Oma ini," ucap Cha yang menghibur hati Omanya Zain.
"Ayo sayang, kamu makan yang ini. Ini lezat sekali," balas Omanya yang meletakkan salah satu makanan diatas piring Cha.
"Oma perhatian sekali sama Cha. Sama cucu sendiri dicuekin. Huhuhuhu," rengek Zain yang merasa terabaikan.
"Kamu sudah sering Oma perhatikan. Jangan manja Zain. Oma pengen kasih perhatian buat Cha saat ini," celetuk Omanya sambil menatap Zain tajam.
"Oma.....!" rengek Zain dengan manja. Dia Tidka malu memperlihatkan sikap manjanya dihadapan Cha.
"Zain...jangan seperti anak kecil. Ayo makan. Sini piring kamu biar Oma letakkan makanan ini," suruh Omanya dengan kelembutan.
"Aku sayang sama Oma!" seru Zain sambil memeluk Omanya dengan kasih sayang.
"Udah ayo kita makan," ajak Omanya kepada mereka semuanya.
Akhirnya selesai perdebatan urusan body, mereka menikmati makanannya dengan nikmat. Cha benar-benar kagum dengan rasa dari makanan yang dimakannya.
"Ini benar-benar lezat Oma, aku suka banget," ucap Cha tanpa malu-malu. Dia terus mengunyah makanannya dengan mulut yang penuh.
"Sayang, kamu mau tambah lagi, biar aku pesanan," sambung Zain yang senang melihat Cha semangat makan.
"Ah gak usah Zain. Aku gak mau menghabiskan uangmu," balas Cha malu-malu.
"Gak apa-apa sayang. Uang Zain banyak banget. Kamu gak usah khawatir ya, Oma malah nyuruh kamu menghabiskan uangnya," sambung Omanya.
"Hehehe, Cha jadi malu sama Oma."
"Gak usah malu dan sungkan ya sayang. Oma senang lihat kamu banyak makan biar gemukan," ucap Omanya.
Mereka terus ngobrol tanpa habis-habisnya. Zain merasa senang melihat kedekatan antara Omanya dengan Cha.
"Semoga kamu mau menjalani hidup denganku Cha. Agar kamu mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya. Karena keluargaku sangat menyayangimu dan mereka sudah jatuh hati terhadap kebaikanmu," bathin Zain yang menatap Cha.
Setelah menghabiskan makanan yang banyak dihidangkan, Omanya mengajak Cha untuk jalan-jalan lagi.
"Sayang, ayo temani Oma belanja lagi. Ada yang ingin Oma beli," ajak Omanya.
"Iya Oma."
"Ayo Zain, kita harus jalan lagi. Oma penegn belanja lagi. Masih belom cukup belanjaan Oma," ajak Omanya terhadap cucunya.
"Siap Oma. Kemanapun Oma mau, Zain pasti turuti. Apa sih yang gak buat Oamku tersayang!" seru Zain sambil memeluk Omanya dengan rasa sayang.
"Anak nakal, pasti ada maunya!" balas Omanya yang mengerti dengan sikap Zain saat ini.
__ADS_1