Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Hari Pertama Kuliah


__ADS_3

Sebelum kembali ke kostan Cha, mereka terlebih dahulu sarapan pagi di restauran tersebut bawah.


"Ayo sayang, kita sarapan dulu ya. Nanti udah selesai sarapan, baru kita kembali ke kostan kamu," ucap Zain sambil menggandeng tangan Cha.


"Iya Zain, aku juga udah kelaparan banget. Kamu buat aku susah jalan nih. Lihat kaki ku, terasa lemas buat di bawa jalan," kesal Cha sambil memanyunkan bibirnya.


"Sini biar aku gendong," balas Zain yang langsung menggendong Cha ala bridal style.


"Zaiiiin....! Lepasin aku!" seru Cha sambil memukul-mukul lengan Zain.


"Katanya kaki kamu terasa lemas, makanya lebih baik aku gendong kan sayang," ucap Zain menggoda.


"Gak usah, aku bisa jalan sendiri. Kita pelan-pelan aja jalannya," sewot cha yang meronta-ronta minta turun.


"Biarin aja begini. Bentar lagi juga udah sampai ke restauran," balas Zain yang tak memperdulikan amukan Cha.


Zain terus berjalan ke restauran tersebut. Banyak mata yang memandang ke arah mereka. Namun Zain tak memperdulikannya. Bisik-bisik pelayan pun terdengar ditelinga Cha.


"Lihat ta masnya, romantis tenan. Dadi pengin kaya ngono mengko yen wis nikah," ucap si kasir terhadap temannya yang pelayan restauran tersebut.


"(Lihat masnya itu, romantis banget ya. Jadi pengen seperti itu nantinya kalau sudah nikah)."


"Iyo mbak, aku iri banget ndelok pasangan romantis kuwi," balas si pelayan itu.


(iya mbak, aku jadi iri lihat pasangan romantis itu).


"Kapan iso nduwe cah lanang sing ganteng kaya ngono mas nya," ucap si kasir itu yang terpesona melihat ketampanan Zain.


"(Kapan ya bisa punya cowok ganteng seperti mas nya itu)."


Sedangkan penghuni hotel lainnya merasa tidak suka melihat kemesraan yang dilakukan Zain terhadap Cha.


"Idih, kaya ora ana papan sing bisa dideleng. Nganti pamer," celetuk salah satu pengunjung hotel yang sarapan di restauran itu.


"(Idih, kayak gak ada tempat aja buat bermesraan. Sampai pamer begitu)."


"Mung supaya iku. Mungkin wong-wong kuwi wis mantèn anyar. Dadi lali babagan lingkungane," jawab suaminya yang tak memperdulikan pemandangan yang terjadi.


"(Lah biarkan saja. Mungkin mereka pengantin baru. Jadi lupa sama sekitarnya)."


Zain meletakkan Cha duduk di kursi yang ada di ujung ruangan.


"Kamu tunggu disini aja ya sayang, biar aku yang ngambil sarapan buat kamu," ucap Zain yang meminta Cha menunggunya.


"Iya Zain. Tapi aku mau nasi goreng aja sama teh manis anget ya," balas Cha tersenyum.


"Iya," ucap Zain yang beranjak dari hadapan Cha. Dia pun menuju meja makan dan meminta seorang pelayan restaurant untuk membantunya membawakan sarapan mereka ke meja yang ditempati Cha.


Zain datang bersama pelayan itu. Dan si pelayan menghidangkan sarapan mereka diatas meja. Setelah itu pelayan tersebut pergi meninggalkan Zain dan Cha setelah, mereka mengucapkan terima kasih.


Zain merasa hari ini dia sangat bahagia. Hatinya berbunga-bunga, karena mereka melakukan adegan panas kemaren malam hingga tadi pagi. Senyum diwajahnya terus terpancar, hingga Cha merasa heran melihat wajah Zain yang ceria begitu.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu Zain. Apa ada sesuatu?" tanya Cha.


"Tidak ada, aku masih memikirkan permainan panas kita tadi malam, rasanya benar-benar nikmat dan aku tidak pernah merasakan hal seperti itu," ujar Zain yang memandang hangat kepada Cha.


"Udah ah jangan dibahas itu lagi, aku kan jadi malu Zain," ucap Cha sambil menundukkan pandangan wajahnya karena malu di lihatin Zain terus.

__ADS_1


"Pengen nya sih setiap hari bisa melakukannya dengan kamu yanx. Makanya kita nikah yuk sayang, biar halal," ajak Zain dengan keseriusan.


"Aku masih kuliah dan pengen berkarir dulu. Masalah nikah, aku blom kepikiran Zain," balas Cha yang menolak secara halus kemauan Zain.


"Baiklah, aku akan tetap menunggu mu sampai saatnya tiba, kamu menjadi kekasih seumur hidupku," ucap Zain sambil menggenggam tangan Cha.


Cha yang mendengar penuturan Zain itu, hatinya terasa terharu. Dia tersentuh melihat kegigihan Zain dalam mempertahankan cintanya dan merebut hati Cha.


Mereka makan santai sambil ngobrol. Setelah selesai sarapan, Cha mengajak Zain kembali ke kostnya.


"Ayo sekarang kita balik ke kost aku. Aku kan hari ini ada jam kuliah," ucap Cha mengajak Zain pergi dari hotel itu.


"Iya sayang, yuk bernagakt," ajak Zain semangat.


Mereka berjalan ke arah lobby dan menunggu mobil menjemput mereka. Setelah itu mereka pergi menuju kost-kostannya Cha.


Sesampainya di kostan, Cha bertemu dengan teman kostnya yang kemaren bernama Melda.


""Hai Cha, habis dari mana?" tanya Melda yang mulai kepo.


"Oh tadi jalan pagi sama nih calon ku," jawab Cha yang tak suka melihat Melda terus memandang ke arah Zain.


Zain yang mengetahui kecemburuan Cha, langsung menarik tangan Cha ke kamar nya.


"Ayo masuk, kamu kan mau kuliah," ajak Zain yang mengingatkan Cha jadwal kuliahnya.


"Oh ya. Mbak saya ke kamar dulu ya," pamit Cha dan berlalu dari hadapan Melda.


"Apa sih hebatnya tuh cewek. Perasaan lebih cantik gw deh dari pada dia. Kok bisa ya dia dapat cowok ganteng kayak gitu," cibir Melda yang tak suka melihat Cha.


Sedangkan di kostan sebelah, Ghani sudah dari pagi sengaja berdiri di depan pintu kamarnya untuk melihat Cha. Dan akhirnya penantiannya terjawab sudah. Dia melihat Cha jalan sama cowok ganteng yang Ghani tidak mengenalnya.


"Hei, kenapa Lo bro dari tadi berdiri disini?" tanya Imran yang tiba-tiba datang ke kostan nya.


"Ah, kapan Lo datang?" tanya Ghani yang tidak mengetahui kehadiran Imran.


"Ya dari tadi lah, Lo aja yang gak ngeh melihat gw. Emang Lo lagi mikirin apa bro?" tanya Imran penasaran.


"Gak ada, gw lagi mikirin Cha. Kemaren ketemu di Mall, kenapa dia menghindar ya?" tanya Ghani yang mengingat kejadian kemaren.


"Iya ya bro, kenapa juga dia harus menghindar dari kita. Perasaan kita gak punya salah deh," sambung Imran.


"Lo ngapain disini?" tanya Ghani ketika kesadarannya kembali penuh.


"Hehehe biasa mau minjem motor Lo bentar. Motor gw masuk bengkel kemaren. Lo gak kuliah kan pagi ini?" tanya Imran yang cengengesan.


"Ada, nanti jam 13.00 siang," jawab Ghani sembari masuk ke dalam kamarnya.


"Kalau gitu bisa dong, gw minjem bentar," pinta Imran dengan wajah memelas.


"Lo isi ya bensinnya. Awas kalau Lo gratis lagi," celetuk Ghani sinis.


"Iye-iye, tenang aja bro diboncengan, pasti gw isi. Seliter aja cukup kan, lagi bokek nih. Maklum blom dapat kiriman dari nyokap," jelas Imran yang tak tau malu.


"Ya udah nah, pake. Tapi ingat jam 13.00 , gw harus kuliah dan Lo harus sampai disini jam 12.00, kalau gak gw bakalan tlp nyokap Lo," ancam Ghani.


"Idih ngancam Lo," hardik Imran.

__ADS_1


"Bodok," ketus Ghani.


"Dah gw bernagakt dulu. Cuci tuh wajah Lo yang jelek, masih bau iler udah mampang di depan pintu," ejek Imran sembari lari dari hadapan Ghani.


"Awas Lo ya...!" ucap Ghani yang hampir mengamuk. Tapi keburu Imran lari dari kamarnya Ghani, sehingga Ghani Tidka bisa melesatkan sandalnya ke arah Imran.


"Sialan tuh anak," gerutu Ghani.


Di dalam kamar kost-an, Cha bersiap-siap untuk bernagakt ke kampus. Zain memperhatikan setiap gerak-gerik Cha. Mulia dari menyiapkan tas sampai berdandan di depan cermin. Zain tersenyum melihat pemandangan indah dihadapannya.


Satu yang menjadi perhatian Zain dari tadi. Cha memajang lukisan tangan yang diberikan Zain kepada Cha. Dia merasa senang, ternyata lukisan itu masih bagus dan tidak disimpan melainkan di pajang diatas tempat tidur Cha.


"Aku kira lukisan itu kamu simpan Cha," ucap Zain sambil menatap lukisan itu.


"Tidak, aku suka lukisannya. Bagus karena itu merupakan karya tangan kamu sendiri," ucap Cha sambil melirik ke Zain.


"Kalau kamu suka dengan lukisan itu, berarti kamu juga suka dengan aku dong sayang," ucap Zain percaya diri.


Cha hanya diam mendengar ucapan Zain. dia Tidka menanggapinya. Namun dalam hatinya berkata,


"Ya Zain, dalam hatiku sempat ada terukir namamu, namun karena kau terlambat hadir dalam hidupku, dibanding kehadiran Yoga yang selalu ada untukku saat itu," bathin Cha.


Zain berdiri dari atas tempat tidur dan berjalan kearah Cha. Dia memeluk Cha dari belakang dan mencium rambut Cha yang harum lavender.


"Geli tau Zain," celetuk Cha yang merasa kegelian ketika Zain meletakkan dagunya di pundak Cha sehingga nafas Zain terasa di telinga Cha.


"Biarin, aku suka kalau kamu kegelian," goda Zain.


"Dasar mesum," ledek Cha cengengesan.


"Mesumnya cuma sama kamu sayang," balas Zain sambil mencium pipi cah dari samping.


"Kamu jangan macem-macem deh Zain. Aku mau berangkat kuliah nih," protes Cha.


"Cuma satu macam aja sayang. Kamu boleh berangkat tapi dengan satu syarat, kasih aku ciuman lembut dari kamu," ucap Zain yang membalikkan tubuh Cha mengahadap ke Zain.


"Maunya kamu aja," celetuk Cha.


"Mau gak!" paksa Zain.


"Idih maksa."


"Biarin," cetus Zain.


Akhirnya Cha melakukan apa yang diinginkan Zain. Dia pun mencium bibir Zain dengan sangat lembut, Zain pun tidak tinggal diam, dia membalas ciuman lembut dari Cha. Mereka berciuman hingga beberapa detik, akhirnya Cha melepaskan ciumannya karena kehabisan nafas.


"Hah hah hah, kelamaan ciumannya Zain, aku gak kehabisan nafas," protes Cha.


"Hehehe, makasih ya sayang," ucap Zain sambil memeluk Cha erat.


"Yuk ah kita berangkat. Nanti aku telat. Oh ya kamu nanti balik ke hotel?" tanya Cha.


"Tidak, aku akan menunggu mu dikampus. Aku bisa nungguin kamu di perpustakaan aja sambil baca-baca buku, biar berasa seperti mahasiswa lagi," ucap Zain.


"Oh ya sudah, terserah kamu aja Zain. Tapi ingat jangan kegenitan disana," ketus Cha.


"Jangan cemburu, dihatiku cuma kamu. Dan aku hanya menginginkan mu, apalagi kita sudah melakukannya. Jadi don't worry, ok," jawab Zain tersenyum.

__ADS_1


Mereka pun pergi meninggalkan kostan Cha dan menuju kampus. Samapi dikampus Cha dan Zain berpisah. Zain mengantar Cha masuk kedalam kelas nya.


__ADS_2