
Cha melihat tulisan I Love You yang sangat besar diatas. Dan dekorasi yang berwarna ungu. Semuanya benar-benar membuat Cha takjub dengan keindahan malam ini.
Lalu Cha menatap kearah Zain. Cha gak percaya bahwa Zain akan melakukan kencan romantis seperti ini. Dia pun menghambur ke pelukan Zain.
"Jangan lakukan sesuatu yang membuat ku merasa sedih Zain," ucap Cha sambil menangis.
"Jangan bersedih sayang, ini kulakukan untuk membuat mu senang," balas Zain sambil membalas pelukan Cha.
Mereka saling berpelukan cukup lama. Cha tidak bisa berkata apa-apa. Baginya Zain sangat mencintainya. Namun hatinya blom sanggup menerimanya.
Zain pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Cha.
"Kamu sangat cantik hari ini. Sekarang kita makan. Kita nikmati malam indah ini dengan kebahagiaan," ucap Zain tersenyum.
Cha pun mengangguk mengiyakan ucapan Zain. Mereka berjalan menuju meja yang sudah disiapkan. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Kemudian datang pelayan yang langsung menyajikan hidangan diatas meja.
"Apa kamu semua yang merancang ini Zain?" tanya Cha tak berkedip memandang sekelilingnya.
"Iya, aku ingin malam ini bisa menikmati nya bersama mu. Karena besok aku harus kembali ke Paris. Papa sudah menghubungi ku agar segera kembali ke Paris mengurus perusahaan disana, jelas Zain yang menatap Cha sendu.
"Berarti besok kamu sudah tidak ada diJogja lagi?" tanya Cha sedih.
"Iya sayang, tapi kamu jangan khawatir, aku akan sering kemari untuk menemuimu," ucap Zain menghibur Cha.
"Benarkah itu?" tanya Cha gak percaya.
"Serius, aku berjanji akan sering ke sini buat nemani kamu," jawab Zain tersenyum.
"Kenapa kamu gak mencari wanita di Paris sana Zain? Bukannya wanita disana cantik-cantik?" tanya Cha yang memberi saran.
"Hmmm, bagiku kamu yang teristimewa. Yang lain zonk, aku tidak tertarik," jawab Zain tegas.
Cha diam dan tidak bertanya lagi. Dia melihat kesungguhan di mata Zain.
"Sekarang saat nya kita makan!" seru Zain semangat.
Cha berusaha senang, walaupun dalam hatinya dia bersedih. Sedih karena bukan Yoga yang melakukannya. Dan sedih karena Zain terus mengharapkannya dan memberikan perhatian dikala Cha membutuhkan seseorang.
"Hei, ayo Cha kita nikmati makanan ini. Kok malah ngelamun," ucap Zain menegur Cha.
"Ah iya, ayo kita nikmati hidangan ini," balas Cha.
Cha dan Zain menyantap makanan yang sudah dihidangkan. Sesekali Zain menyuapi Cha. Awalnya Cha menolak, namun karena Zain memaksa, akhirnya Cha menerima dirinya disuap oleh Zain.
Saat menikmati makanan, Zain memberikan sebuket bunga lavender bercampur mawar putih. Zain menyerahkan bunga itu kepada Cha. Cha sangat senang menerima bunga kesukaannya. Dia memeluk bunga itu dan mencium aroma dari bunga itu.
"Terima kasih Zain. Ini benar-benar kejutan buatku," ucap Cha bahagia.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkannya dari kemaren. Baru sekarang aku berikan ke kamu saat kencan romantis kita ini," balas Zain.
"Kamu benar-benar romantis Zain," ucap Cha bangga.
"Romantisnya cuma sama kamu kok sayang. Kalau sama yang lain, hmmm mana mungkin seperti ini," balas Zain.
"Gombal," celetuk Cha gak percaya.
Zain pun tertawa melihat ekspresi wajah Cha yang tak percaya. Mereka menghabiskan makanannya dan diselingi dengan canda dan tawa. Zain dan Cha merasa senang dan bahagia malam ini. Terutama bagi Cha. Dia sangat happy. Walaupun hanya beberapa hari bersama Zain, baginya hari-hari singkat itu sangat membahagiakannya.
Setelah selesai makan, Zain mengajak Cha berdansa.
"Zain, aku tidak bisa berdansa," ucap Cha malu.
"Dicoba Cha, biar aku ajarin," balas Zain yang mengajak Cha berdiri dan memulai dansanya.
Cha pun menerima uluran tangan Zain dan mengikuti arahan Zain. Mereka berdua berdansa diiringi musik. Cha merasa menyenangkan bisa berdansa.
Setelah selesai berdansa, Zain dan Cha duduk kembali. Lalu Zain mengajak Cha berdiri di ujung melihat pemandangan kota Jogja di malam hari. Zain memeluk Cha dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Cha.
"Sungguh indah ya Cha pemandangannya," ucap Zain sambil menghirup aroma tubuh Cha.
Cha merasa gugup dengan perlakuan Zain. Namun tubuhnya merasa nyaman berada diperlukan Zain.
"I...iya Zain, sangat indah," ucap Cha gugup.
"Aku ingin selalu seperti ini bersama mu Cha. Biarkan malam ini kita menghabiskan waktu bersama ini," pinta Zain berharap Cha mau.
Zain membalikkan tubuh Cha mengahadap ke arahnya. Dia menatap Cha dengan intens. Lalu perlahan Zain mendekatkan bibirnya ke bibir Cha, dan mel**** nya dengan sangat lembut. Zain melingkarkan tangannya di pinggang Cha dan terus mel**** bibir Cha. Zain yang berusaha menahan gairahnya, akhirnya tak bisa menahannya lagi. Lalu dia menggendong Cha ala bridal style menuju kamarnya.
Cha merasa kaget dan gugup dengan perlakuan Zain. Zain membawa Cha ke dalam kamar dan membaringkan Cha di atas tempat tidur tanpa melepaskan ciumannya. Cha terbuai oleh sentuhan tangan Zain. Dia ingin berontak, namun tubuhnya sangat merespon dengan kelembutan yang diberikan Zain.
Zain meraba punggung Cha dan terus memberikan rangsangan-rangsangan. Cha merasa tubuhnya seperti tersengat listrik. Dia pun akhirnya mengeluarkan suara merdunya yaitu suara ******* yang tak bisa ditahan Cha.
Zain semakin bergairah mendengar ******* Cha. Hingga saat Cha menyebutkan namanya. Zain semakin menggila mendengar namanya dipanggil.
Mereka terus melakukan pemanasan, hingga tanpa Cha sadari gaun nya sudah terlepas seluruhnya. Zain terus memberikan rangsangan yang membuat Cha menikmatinya.
"Apakah aku boleh melakukannya?" tanya Zain di sela kegiatan panas mereka.
Cha yang sudah terbakar gairah, hanya bisa menganggukan kepalanya. Dia sudah tidak bisa mengendalikan gairahnya.
"Zaiiiin....," ucap Cha dengan suara seraknya.
Akhirnya Zain pun melepaskan bajunya hingga mereka sama-sama polos tanpa sehelai benang. Lagi-lagi Cha mengeluarkan suara desahannya.
Zain sudah tidak bisa menahan gairahnya.
__ADS_1
Mereka melakukan penyatuan yang pertama kalinya. Zain terus melakukannya hingga berjam-jam lamanya. Suasana kamar yang tadinya dingin, saat ini menjadi panas dengan adanya aktifitas dua insan yang sedang bergelora. Suara ******* terdengar kuat di dalam ruangan yang kedap suara. Hingga akhirnya mereka menikmati puncaknya. Dan Zain mengeluarkan benihnya ke dalam rahim Cha. Setelah itu Zain terkulai lemas diatas tubuh Cha.
Akhirnya setelah kegiatan panas itu mereka tertidur dengan lelapnya hingga pagi menyongsong.
Pagi harinya, Cha terbangun dan membuka matanya perlahan, lalu dia melihat Zain yang berada disampingnya sambil memeluk Cha dalam keadaan polos. Cha mengingat kegiatan panas mereka tadi malam. Wajah Cha pun bersemu merah.
"Ya ampuuun, kenapa aku melakukannya? Kenapa aku tidak bisa menolaknya? Aku merasa bersalah terhadap Yoga," bathin Cha yang merasa sedih dengan pengkhianatan yang dilakukannya,"
Zain yang sudah bangun dari tadi, namun snegaja menutup matanya ketika menyadari Cha bangun. Zain melirik ke arah Cha dan melihat kesedihan di wajah Cha.
"Apakah dia menyesal melakukannya dengan ku? Apa dia merasa telah berkhianat dari laki-laki itu?" bathin Zain yang masih memandang wajah Cha.
"Ekhem," Zain berdehem.
Cha melihat kearah Zain. Ternyata Zain juga melihat kearahnya. Mereka saling menatap.
"Kenapa wajah kamu seperti itu sayang?" tanya Zain.
"Gak apa-apa kok Zain," jawab Cha bohong.
"Jangan bohong Cha, apa kamu menyesal telah melakukannya dengan ku?" tanya Zain sendu.
"Tidak Zain, aku tidak menyesal. Hanya saja aku merasa jadi kekasih yang telah mengkhianati pasangannya," jelas Cha merasa tak enak.
"Itu tidak salah Cha. Kamu berhak menentukan pilihan kamu. Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak jelas. Dan membiarkan sesuatu yang selalu ada di hadapan kita," ucap Zain bijak.
Cha menatap lekat wajah Zain. Dia pun tersenyum melihat Zain.
"Jam berapa kamu berangkat?" tanya Cha yang sengaja menghindari pembahasan.
"Sore aku berangkat sayang. Jadi apa rencana kamu hari ini?" tanya Zain balik.
"Oh iya, aku lupa. Hari ini pertama aku masuk kuliah jam 10 nanti. Aku harus kembali ke kost untuk bersiap-siap," ucap Cha yang langsung bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Zain mengekorinya dari belakang. Dia berjalan tanpa menutup tubuhnya.
Ketika Cha masuk ke kamar mandi, Zain pun ikut masuk.
"Kamu mau ngapain Zain?" tanya Cha heran.
"Mandi bareng kamu dong sayang biar mempersingkat waktu," ucapnya polos.
"Gak mau, kita gantian aja mandinya," balas Cha yang mencoba mendorong Zain keluar.
Tapi Zain justru mengunci pintu kamar mandi dari dalam dan menggendong Cha masuk ke dalam bathtub. Akhirnya mereka mandi bersama dan melakukannya lagi di dalam kamar mandi.
"Ini merupakan hadiah yang tak terlupakan saat pertama aku ke Jogja," ucap Zain disela kegiatan mereka.
__ADS_1
Cha hanya diam dan tak berani menatap Zain dalam keadaan polos.
Setelah selesai dengan kegiatan panasnya dikamar mandi, mereka bersiap-siap untuk sarapan dan pergi ke kost-kostan Cha.