Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Fitnah Untuk Dewi


__ADS_3

Dewi melihat ke arah Ghani yang memberikan dia nasehat. Seketika Dewi terdiam karena apa yang dikatakan Ghani memang lah benar. Dewi pun tersadar dari kebodohannya yang menginginkan bunuh diri. Lalu dia menatap ke arah Cha dan bergantian ke arah Ghani.


"Kalian sangat baik sama gw. Terima kasih mau menjadi sahabat ku Cha," Dewi menggenggam tangan Cha.


"Benar apa kata Ghani, apa kamu tidak kasihan sama Ibuu dan adik-adik Lo. Siapa yang akan membantu Ibumu dan mengajarinya adikmu buat belajar, kamu sayang kan sama mereka?" tanya Cha sambil membalas genggaman tangan Dewi.


Dewi pun mengangguk kan kepalanya.


"Gw sangat menyayangi mereka semua Cha. Gw harus gimana Cha?" tanya Dewi.


"Kayaknya, gw yang harus ngomong sama Ibu Lo. Sekarang mending Lo hubungi Ibu Lo, dan kasih tau kalau Lo ke kampus saat ini. Nanti siang an, Lo hubungi lagi, kalau mau nginep tempat gw," Cha mengajari Dewi.


"Ibu gw sudah tau kalau sore nanti gw nginep tempat Lo Cha," ucap Dewi.


"Ok kalau gitu sekarang hubungi dulu Ibu lo," Cha menyerahkan ponselnya ke Dewi.


Lalu Dewi menghubungi Ibunya melalu no Cha.


"Cha, emang ada masalah apa?" tanya Ghani.


"Gak ada apa-apa Ghan. Biasa urusan cewek," ucap Cha yang tidak mau menceritakan sama orang lain masalah Dewi.


"Oh..., Oh ya gimana kalau gw hubungi Imran untuk gabung sama kita?" tanya Ghani yang minta pendapat.


"Jangan-jangan, bisa bahaya. Ntar dia dibawa sama Dino lagi! Lo mau Dewi yang sedang labil begini dimanfaatin sama Dino?" hardik Cha.


"Maksud kamu apa Cha?" tanya Ghani bingung.


"Kamu mau teman kamu itu memanfaatkan keadaan Dewi dengan menjualnya ke lelaki hidung belang, hah!" Cha marah mendengar Ghani mengatakan ingin mengajak Imran untuk gabung bersama mereka.


"Maaf Cha, gw gak mikir sampai sejauh itu. Ya sudah ayo kita ke sana, biar bisa beristirahat di pondoknya," ajak Ghani.


"Tunggu bentar Ghan, Dewi sedang menghubungi Ibunya," Cha menghentikan langkah Ghani.


"Ya udah, aku tunggu di seberang situ ya Cha," ucap Ghani. Dia pun menyebrang jalan menuju ke arah pantainya.


Dewi masih berbicara dengan Ibunya. Setelah itu dia memberikan ponselnya kepada Cha.


"Gimana Wi? Ibu mu taunya kamu di kampus kan?" tanya Cha penasaran.


Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menjadi lesu kembali.


"Loh ada apa Wi, ya udah kita ke sana dulu. Nanti disana Lo bisa cerita ke gw dan kalau Lo mau melibatkan Ghani, ya gak apa," ucap Cha. Lalu dia memegang tangan Dewi untuk menyebrang bersama.


Cha dan Dewi menghampiri Ghani. Mereka pun berjalan ke pantainya. Disana mereka menyewa pondok untuk beristirahat.


"Cha, aku pesankan minuman dulu ya disana. Kalian mau apa biar sekalian," tawar Ghani.

__ADS_1


"Aku mau Indomie rebus pakai telor ceplok ya sama capuccino susu es. Lo Wi mau apa?" tanya Cha sambil menatap Dewi.


"Gw gak selera makan cha," jawab Dewi.


"Jangan gitu Wi, kita kesini mau happy nyenengin kamu. Jadi kamu juga harus ikut makan," ucap Ghani.


Dewi menundukkan kepalanya sesaat. Kemudian dia menatap ke arah Cha.


"Cha, Pkde gw masuk rumah sakit, karena kena hantaman bangku meja rias gw," ucap Dewi.


"Biarin aja Wi, biar tau rasa dia. Biar dia menanggung akibat perbuatannya. Lo tenang aja, ada gw dan Ghani yang siap membantu Lo. Sekarang kita makan dulu, habis tuh baru kita bahas lagi, ok," Cha berusaha tersenyum dan happy di hadapan Dewi, agar Dewi tidak bersedih berlarut-larut.


"Iya Cha. Samakan aja dengan Cha pesanannya kak Ghani," ucap Dewi kepada Ghani.


"Ok, kalian tunggu disini ya," Ghani meninggalkan mereka dan berjalan ke arah warung yang ada di belakang pondok mereka.


Setelah Ghani pergi dari pondok, Cha melanjutkan obrolan yang tadi sempat terputus.


"Wi, tadi Ibu Lo bilang apa?" tanya Cha.


"Ketika Ibu gw pulang, dia melihat jendela kamar gw terbuka, Ibu gw mikir kalau gw sudah bangun. Ketika masuk ke dalam rumah, Ibu gw ngelihat kamar gw tertutup. Lalu Ibu gw mengetuk pintu kamar gw. Namun tidak ada respon dari dalam kamar. Hingga Ibu gw memutuskan untuk melihat kondisi di dalam dari jendela.


Saat melihat keadaan dalam kamar, Ibu gw melihat, kakak iparnya tergeletak di lantai, dan spontan berteriak. Sehingga orang-orang yang lewat berdatangan. Mereka mendobrak pintu dan mengecek keadaan pakde gw. Dan akhirnya dia di larikan ke rumah sakit karena. Dan terakhir, gw di fitnah Cha," Dewi menyampaikan apa yang diceritakan ibunya.


"Ya ampun Wi..., jahat banget sih Pakde Lo itu. Pengen gw kebiri aja tuh senjatanya biar kapok," geram Cha.


"Trus Ibu Lo gimana dengan terhadap Lo?" tanya Cha.


"Emang Lo difitnah apa Wi?" tanya Cha penasaran.


"Pakde gw bilang, kalau dia mendengar suara ******* di dalam kamar gw, lalu dia membuka jendela kamar gw yang kebetulan terbuka sedikit katanya dan memergoki gw lagi mau begituan sama pacar gw di dalam kamar," jelas Dewi.


"Astaghfirullahal'adzim Wi...memang syaitonirrojim tuh Pakde Lo ya!" umpat Cha dengan sangat emosi mendengar cerita Dewi.


"Gw harus gimana Cha. Gw bingung, gw juga khawatir sama Ibu dan adek gw. Karena mereka kalau gw ajak pindah, mau kemana. Kami tidak punya tempat tinggal. Rumah itu adalah warisan orang tua Pakde gw," ucap Dewi dengan wajah bingungnya.


"Udah Lo tenang aja, nanti kalau gw udah ketemu jalan keluarnya, gw pasti bantu Lo, sekarang kita nunggu Ghani dulu bawa makanannya," Cha menenangkan Dewi dengan tersenyum lebar.


"Terima kasih Cha. Ntah bagaimana gw harus balas kebaikan Lo," ucap Dewi.


"Lo mau balas kebaikan gw ya?" tanya Cha.


Dewi pun mengangguk mengiyakan ucapan Cha.


"Gampang, jadilah sahabat gw yang selalu ada dalam suka maupun duka bagi gw. Karena gw juga tidak punya saudara yang bisa gw ajak berkeluh kesah," jawab Cha dengan tersenyum.


"Tapi Lo kan punya kakak Cha?" tanya Dewi.

__ADS_1


Gw juga punya kehidupan yang kurang nyaman Wi, makanya gw kuliah ke Jogja ini juga untuk mencari kenyamanan. Alhamdulillah gw ketemu sama Lo, sahabat baru gw. Gw harap Lo tidak hanya sebagai sahabat. Gimana kalau sekarang kita menjadi saudara, apa Lo mau jadi saudara gw?" tanya Cha dengan mata berkaca-kaca.


Dewi langsung memeluk Cha lagi. Dia menangis kembali, merasa terharu mendengar Cha menginginkannya menjadi saudara. Lalu Dewi melepaskan pelukannya dan berkata.


"Iya Cha, gw mau jadi saudara Lo. Gw mau Cha," ucap Dewi terharu.


"Kita bersaudara...!!" teriak Cha semangat.


"Kita menjadi saudara..!!" Dewi ikut-ikutan berteriak.


Lalu mereka berdua tertawa bersama. Hingga Ghani datang membawa pesanan mereka bersama seorang Mbah-mbah.


"Ini Mbak pesanan mie rebusnya," ucap si Mbah sambil meletakkan mie rebus itu.


"Iya Mbah, makasih banyak ya Mbah," balas Cha.


Kemudian si Mbah pamit meninggalkan mereka. Dan Ghani ikut duduk di samping Cha.


"Wah mantep nih mie rebusnya," ucap Ghani semangat ingin segera menyantap makanannya.


"Ayo Wi, kita makan, mumpung masih panas menuju hangat," ucap Cha bercanda.


"Iya, gw juga udah laper Cha. Lihat Lo dan Ghani semangat, gw jadi semangat juga," balas Dewi.


"Harus itu!" sahut Ghani sambil menikmati mie rebusnya.


Mereka bertiga menyantap mie rebus sambil sesekali ngobrol. Hingga makanan mereka tandas, mereka terus ngobrol.


Setelah makanan mereka habis, Dewi mengajak Cha berjalan ke pantai untuk menghilangkan bebannya saat ini.


"Cha, kesana yuk, gw pengen main air," ajak Dewi.


"Masa Cha doang Wi yang diajak? Gw ditinggal gitu disini?" ucap Ghani.


"Ayo kak, kalau kakak mau ya ikut sama kita," balas Dewi.


"Iya Ghan, yuk kesana," Cha juga mengajak Ghani.


Lalu mereka bertiga berjalan ke pantai. Mereka berjalan sepanjang pinggiran pantai sambil bermain air.


"Waowww...ombaknya besar banget...," teriak Dewi yang langsung mundur kebelakang menghindari ombak besar.


"Ayo lari Cha, Wi...," teriak Ghani sambil menggenggam tangan Cha.


Cha tidak menyadari kalau tangannya sedang di genggam sama Ghani. Hingga mereka menjauh dari datangnya ombak, Cha melihat tangan nya bersatu dengan tangan Ghani.


Ghani spontan melepas genggaman tangan nya dan menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Maaf Cha, spontan tadi. Biar kamu juga cepat larinya," kilah Ghani sambil tersenyum canggung.


"Oh iya gak apa-apa Ghan," balas Cha yang juga ternyata salah tingkah.


__ADS_2