Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Dewi menginap di hotel juga


__ADS_3

Zain dan Cha menghabiskan waktu berduanya dengan santai di depan TV.


"Bang, sepertinya kita harus kembali ke Jogja. Lebih baik kita tidak usah mengikuti acara adatnya sampai selesai. Aku gak mau kamu jadi sorotan keluarga Dewi," ucap Cha sambil berada dalam dekapan Zain.


"Kamu cemburu ya?" tanya Zain.


"Bukan cemburu Bang, tapi Males aja kalau mereka mencoba menarik perhatian kamu Bang," jawab Cha.


"Ya sudah, Abang nurut kamu aja. Nanti bilang aja sama Dewi kalau kita tidak mengikuti acaranya sampai selesai," ucap Zain.


"Iya Mas, besok aku akan tlp Dewi dan menanyakan bagaimana kondisi di sana. Kalau aman, kita akan berkunjung ke sana. Tapi kalau ada perempuan itu, aku males kesana Bang," balas Cha.


"Loh kenapa kalau dia di sana?" tanya Zain. "Biarkan saja, toh Abang tidak perduli dengan kehadirannya."


"Males aja Bang melihat orang yang kepedeannya luar biasa. Tapi kalau kamu bisa tidak tergoda dengan perempuan seperti itu, ya sudah," jawab Cha dengan mengedikkan bahunya.


"Malam ini gimana kalau kita jalan-jalan berdua. Abang pengen menikmati waktu berdua dengan kamu, mau gak?" tanya Zain lagi.


"Bolehlah, aku juga pengen keluar sekalian makan malam di luar," jawab Cha.


"Setelah kita kembali ke Jogja, Abang akan langsung kembali ke Paris untuk menyelesaikan urusan Perusahaan di sana. Sekalian mempersiapkan keperluan keluarga untuk berangkat ke Indonesia nantinya," ucap Zain.


"Aku gugup banget Bang. Takut sesuatu terjadi di hari pernikahan kita," balas Cha.


"Apa yang kamu takutkan sayang? Abang sudah mengatur keamanan untuk pesta kita."


"Aku takut Yoga," Cha menyebutkan nama mantannya yang pernah singgah di hatinya.


"Kenapa dengan dia? Dan apa yang kamu takutkan dari dia?" tanya Zain memicingkan matanya.


"Ya, aku takut dia akan datang di hari pernikahan kita bersama kedua orang tuanya. Takut kejadian di pestanya akan terjadi di pesta kita nantinya," jawab Cha.

__ADS_1


Cha khawatir jika Yoga membuat masalah ketika pesta pernikahannya. Begitu juga dengan orang tuanya. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi.


"Kamu jangan khawatir ya Cha. Abang sudah mengatur semuanya dan tidak akan terjadi hal yang seperti kamu bayangkan."


"Bagaimana dengan Binyu, Bang? Apa dia tau kita akan menikah?" tanya Cha lagi.


"Dia sudah tau. Tapi Abang tidak tau apa dia akan menghadirinya atau tidak. Kamu jangan memikirkan hal yang buruk ya. Pikirkan kebaikan untuk kehidupan kita ke depannya. Kebahagiaan yang sedang menanti kita," balas Zain dengan membelai wajah Cha.


Cha pun ikut memegang telapak tangan Zain yang berada di pipinya. Dia tersenyum memandang Zain.


"Makasih Zain akan cinta yang kamu berikan selama ini Zain. Akhirnya kita menikah juga dan menjadi sepasang suami istri. Aku masih mengingat bagaimana kita bertemu dan menjalin kasih," ucap Cha yang menyandarkan tubuhnya di pundak Zain.


"Kamu benar-benar membuatku berubah sayang. Hanya kamu yang bisa membuatku jatuh cinta. Jika aku sudah menentukan pilihanku, maka itu akan menjadi hidupku selamanya," balas Zain sambil merekatkan pelukannya di tubuh Cha.


"Dan satu lagi, diantara laki-laki yang jatuh cinta kepadamu, akulah pemenangnya," bangga Zain.


"Apakah aku hebat bisa memenangkan dirimu?" tanya Zain percaya diri.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita siap-siap. Karena sebentar lagi akan tiba waktu Maghrib dan kita akan keluar. Rudy juga sebentar lagi akan tiba membawa barang-barang kita," ucap Zain.


"Aku mau menghubungi Dewi dulu Bang. Mau menanyakan tentang keadaan di sana. Semoga Ibunya Dewi mau mengerti."


Cha pun beranjak dari sofa dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Dewi. Lalu dia kembali duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya ke bahu Zain. Zain pun memeluknya dengan erat.


"Hallo, Assalamu'alaikum Wi!" sapa Cha.


"Wa'alaikumussalam Cha!" sahut Dewi.


"Apakah Rudy sudah mengambil barang-barang kami Wi?" tanya Cha.


"Iya Cha, dia baru aja pergi," jawab Dewi. "Kalian nginep di hotel kan?" tanya Dewi balik.

__ADS_1


"Iya Wi, kami sekarang sudah di hotel. Maaf ya Wi, gw harus nginep di hotel dan tidak jadi nginep di sana. Padahal gw pengen kita menghabiskan waktu bersama di sana. Tapi keadaannya tidak bisa. Gw khawatir dengan Dina dan Bibi dari Ibu Lo," sesal Cha.


"Iya Cha, gw ngerti kok. Tadi gw juga udah ceritakan sama Ibu. Lo tau, Ibu marah banget dengan tingkah laku Dina. Dia juga tidak menyalahkan Lo nginap di hotel. Malah Ibu bersyukur kalian mengambil keputusan seperti itu," balas Dewi.


"Oh ya Wi, gimana Lo temani gw nginep di hotel. Gw rencananya mau keluar buat makan malam. Kami jemput ya habis Maghrib. Dan bawa beberapa baju Lo. Dan kita nginep di sini. Nanti gw dan Lo tidur di kamar sebelah. Zain sendirian aja, begitu juga dengan Rudy. Gimana mau kan Wi?" tanya Cha berharap Dewi setuju.


"Gw bilang dulu ya sama Ibu. Kalau Ibu setuju, gw ikut sama Lo," jawab Dewi.


"Ya udah sekarang aja Lo tanyain Ibu. Biar Rudy bisa memesankan kamar buat kita," jelas Cha.


"Tunggu sebentar," Dewi berjalan ke kamar Ibunya dan masuk ke dalam. Dewi menceritakan sama Ibunya tentang Cha yang mengajaknya tinggal di hotel.


"Ya udah, pergilah. Ibu tidak apa-apa kok disini sama Tika. Kapan mereka jemput kamu?" tanya Ibunya.


"Habis Maghrib Bu, mereka akan menjemput Dewi. Semoga Dina tidak di rumah ya Bu. Kalau tidak, dia akan minta ikut sama Dewi."


"Nanti habis Maghrib, kamu tunggu mereka di depan aja. Dan bilang sama Cha, gak usah lama-lama disini," jelas Ibunya.


"Baik Bu, Dewi lanjut terima tlp Cha dulu ya Bu," ucapnya. Lalu Dewi meninggalkan kamar Ibunya dan kembali menjawab tlp dari Cha.


"Gimana Wi, ibu setuju kan kamu nginep di hotel bareng gw?" tanya Cha.


"Iya Cha, Ibu memperbolehkan gw ikut bareng Lo. Nanti gw akan tunggu kalian di teras depan. Dan Ibu berpesan tidak usah lama-lama singgah disini," jelas Dewi.


"Sip kalau gitu. Nanti biar Rudy ngurus kamar buat kita. Gw senang banget bisa tinggal bareng sama Lo. Kita akan banyak ngobrol," senang Cha.


"Ok Cha. Kalau gitu gw siap-siap dulu ya. Bentar lagi Maghrib. Khabari kalau Lo udah berangkat dari hotel ya," ucap Dewi.


"Sip, nanti gw akan khabari Lo ya kalau sudah berangkat. Sampai ketemu nanti ya Wi," balas Cha.


Obrolan pun selesai. Dewi menyiapkan pakaian yang akan di bawanya ke hotel. Dia juga merasa senang karena bisa kumpul lagi bersama sahabatnya. Dan tentunya dia senang karena bisa berdekatan dengan Rudy. Ntah kenapa, Dewi merasa bergetar saat berdekatan dengan Rudy. Rasa deg-degan dan malu-malu dia rasakan ketika melihat Rudy di hadapannya. Dan itu terjadi tanpa di sadarinya.

__ADS_1


Malam pun tiba, Cha dan Zain sudah selesai menjalankan Maghrib. Setelah itu mereka meninggalkan hotel dan pergi menjemput Dewi di rumah saudaranya. Rudy membawa mobil melaju ke sana. Sebelumnya Rudy sudah memesankan kamar untuk Dewi dan Cha serta kamar buat Rudy.


__ADS_2