Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Bantuan Zain


__ADS_3

Setelah selesai dengan nasi goreng, mereka memutuskan untuk kembali kekost-kostan. Tapi sebelum itu, Cha meminta Ghani untuk menghubungi Dino saat mereka sudah dekat dengan kost-kostan. Meka takut kalau Dino berada dikost Ghani.


"Ghan, nanti Lo duluan masuk ya kekost, cek keadaan kost. Gw takut kepergok sama mereka," ucap Cha.


"Iya, nanti kalian tunggu aja di dekat kost. Semoga mereka tidak menunggu dikost," Ghani berusaha menenangkan Cha.


Cha jadi teringat dengan kisah dia saat SMA dulu tentang laki-laki yang bernama Binyu. Karena ketakutan akan bertemu Binyu, Cha selalu main umpet-umpetan kalau mau kesekolah. Dan hal itu terulang lagi saat ini dimasa kuliah.


"Kenapa gw selalu mengalami hal yang sama. Hanya beda tempat dan orangnya saja," bathin Cha.


Mereka bertiga meninggalkan Pantai Parangtritis saat sore harinya. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan antara Dewi dan Cha. Hingga mereka sampai di dekat kost. Seperti kesepakatan awal, Ghani akan masuk duluan kedalam kost. Jika didalam kost aman, Cha juga akan masuk kedalam kost.


Ghani mengendarai motornya masuk kedalam area kost. Sedangkan Cha menunggu didekatnya. Tak berselang lama, Ghani keluar berjalan kaki, menyamperin Cha dan Dewi.


"Mereka ada dikost kita Cha," Ghani memberitahu adanya Dino.


"Trus gimana dong? Masa harus menunggu disini?" Cha merasa kebingungan.


"Gini aja, kalian jalan kaki aja kedalam kost. Motor tinggal diwarung sini sebentar. Nanti aku duluan masuk kedalam kost, dan mengalihkan perhatian mereka agar tidak keluar dari kamarku. Nanti aku akan kirim pesan ke kamu Cha, kalau aman," jelas Ghani.


"Kok kayak main petak umpet ya Cha," celetuk Dewi.


"Ho'oh," balas Cha.


Lalu Ghani berjalan duluan kedalam kost-kostan. Sedangkan Cha dan Dewi berjalan pelan ke arah gerbang kost. Motor yang mereka bawa, ditinggalkan diwarung samping kost.


Cha dan Dewi menunggu sebentar dekat gerbang. Hingga ada pesan masuk kedalam ponsel Cha.


"Buruan masuk, Dino sedang kekamar mandi dan Imran lagi nonton," isi pesan Ghani.


Cha dan Dewi segera masuk ke dalam kost-kostan dan menuju ke kamar Cha.


"Hahhh, leganya, kayak buronan aja gw rasanya Wi," Cha mendaratkan bokongnya disofa.


"Iya Cha, gw juga sama kayak Lo. Main petak umpet sama Pakde gw," sambung Dewi yang juga ikut-ikutan duduk di sofa.


"Oh ya, gimana kalau kalian pindah aja dari sana Wi! Kasihan Ibu kamu gak ada yang bantuin ngurus adik-adik kamu!" Cha memberikan saran kepada Dewi.


"Tapi kami tidak punya uang Cha untuk bayar sewa. Gw juga blom bekerja, gimana mau keluar dari sana?" Dewi merasa putus asa.


"Gw akan coba bantu Wi. Nanti kalau teman gw udah bisa dihubungi, mudah-mudahan dia bisa kasih solusinya," Cha berusaha membantu meringankan beban Dewi.

__ADS_1


"Gw gak tau lagi Cha mau bilang apa. Lo benar-benar sahabat yang sangat baik. Jahat banget sahabat Lo yang udah mengkhianati Lo," Dewi menatap ke arah Cha.


"Ahhh sudahlah. Mungkin dia lagi salah jalan aja Wi. Semoga dia bisa menyadari kesalahannya. Gw mandi duluan ya. Oh ya, kapan kita ambil pakaian Lo?" tanya Cha saat berdiri dari sofa.


"Gimana mau ngambilnya Cha? Gak mungkin gw masuk kesana! Bahaya!" Dewi bergidik ngeri.


"Coba Lo hubungi sekarang Ibumu, sapa tau ada solusi dari Ibumu," Cha menyerahkan ponselnya ke Dewi.


"Baiklah, gw coba hubungi dulu,".


Dewi menghubungi Ibunya. Sedangkan Cha masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih.


Setelah Cha selesai dengan ritual mandinya, dia keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Dewi sudah selesai menghubungi Ibunya.


"Gimana Wi? Apa kata Ibumu?" tanya Cha.


"Ibuku minta besok pagi, saat mengantar adikku kesekolah, gw menemui Ibuku disekolah adik gw. Lo temani ya Cha?" pinta Dewi dengan memohon.


"Ya udah sekalian kita ajak Ibu Lo sarapan diluar. Biar bisa ngobrol banyak. Kan kita ada jam kuliah besok. Jadi habis ngobrol sama Ibumu, kita berangkat ke kampus," jelas Cha.


"Baiklah."


"Trus tuh situa bangka, apa khabarnya?" tanya Cha yang merasa tidak suka.


"Ya ampuuun Wi...! Tuh orang benar-benar buta ya lihat suaminya. Jelas-jelas suaminya yang salah, malah menyalahkan Lo. Dasar perempuan cinta buta," hardik Cha dengan kesal.


"Ibu gw, mau menjual cincin pernikahannya Cha untuk menyewa kontrakan petakan. Lo bisa bantu gw nyari kontrakan besok habis pulang kuliah?" Dewi berharap Cha mau membantunya.


"Udah Lo tenang aja. Besok kita cari kontrakan rumah buat Ibu dan adik-adik Lo. Sekarang kita istirahat. Gw ngantuk Wi. Kalau Lo gak tidur, nanti bangunin gw pas Maghrib ya," ucap Cha.


"Iya Cha. Gw mau nonton tv dulu," sahut Dewi.


Cha beranjak ketempat tidur. Dia merasa lelah karena membawa motor dari Parangtritis. Cha merebahkan tubuhnya ketempat tidur. Namun saat dia memejamkan matanya, ponselnya berdering.


"Duhhhh siapa lagi sih ini. Gw mau istirahat tau..! gerutu Cha, tapi dia tetap melihat ponselnya. Ternyata yang menghubunginya adalah Zain.


Cha langsung lompat dari tempat tidur dan mengangkat tlpnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum Zain!" sapa Cha dengan semangat.


"Wa'alaikumussalam sayang!" sahut Zain.

__ADS_1


"Wi, gw keluar sebentar ya," Cha memberi kode kepada Dewi yang sedang nonton.


Dewi membalasnya dengan anggukan dan kembali menonton. Cha keluar dari dalam kamar dan kembali melanjutkan obrolannya.


"Kamu sudah Samapi Zain di Paris?" tanya Cha.


"Udah sayang, maaf baru ngabari kamu. Habis Papa aku banyak banget pertanyaannya tentang kamu," Zain tersenyum mengingat reaksi Papa dan Mamanya saat tau dia memiliki calon istri pilihannya.


"Loh kenapa denganku. Kok namaku dibawa-bawa," Cha bingung.


"Aku cerita kalau ke Indonesia menemui calon istriku," jawab Zain.


"Hmmmm, kamu tuh masih juga menginginkan sesuatu yang blom pasti."


"Biarin, aku akan berdo'a terus Cha. Oh ya gimana keadaan kamu disana sayang?" Zain pengen tau apa yang terjadi dengan Cha saat dia pergi.


Zain blom menyuruh anak buahnya untuk memantau Cha. Karena saat dia sampai di Paris, Papa dan Mamanya terus-terusan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan. Dan baru saat ini orang suruhan Zain mulai aktif memantau keadaan Cha.


"Zain, aku mau minta bantuanmu. Aku lagi ada masalah. Sebenarnya sih ini masalah sahabatku, tapi aku ingin membantunya."


"Masalah apa Cha?" tanya Zain.


Cha menceritakan tentang kejadian yang menimpa Dewi sahabatnya dan kondisi Dewi. Dia meminta Zain mau meminjamkan uangnya untuk membayar uang sewa kontrakan mereka setahun. Selagi Dewi mencari pekerjaan untuk membantu keuangan orang tuanya.


"Ya ampuuun sayang, aku bangga banget punya calon pendamping seperti kamu. Memiliki empati yang sanagt tinggi. Ya udah aku transfer sekarang ya. Kamu kirim aja no rekening kamu sama aku. Dan masalah kontrakan, biar aku aja yang urus. Sahabat kamu harus segera pindah. Apa perlu aku kasih pelajaran buat Tua Bangka itu?" Zain pun merasa geram dengan kejahatan yang terjadi terhadap sahabat Cha.


"Gak usah Zain. Yang penting mereka jauh dari Pakdenya. Aku jadi gak enak sama kamu Zain. Nyusahin kamu terus," Cha merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kepastian untuk orang yang tulus menyayanginya.


"Kan udah dikenalin Cha kemaren," goda Zain.


"Ihhhh, kamu ini Zain."


"Aku kangen sama kamu Cha. Pengennya dekat kamu terus. Sayang, aku bolehkan sering-sering ke Indonesia?" tanya Zain.


"Ya boleh, kan gak ada yang larang Zain!"


"Asyeeek," Zain kegirangan karena dapat lampu hijau.


Obrolan mereka terus berlanjut hingga terdengar suara adzan. Cha menyudahi percakapan mereka dan kembali kedalam kamarnya.


"Duhhhh yang dapat tlp dari ayangnya?" goda Dewi yang ternyata sudah mandi dan sedang menonton tv.

__ADS_1


"Bukan ayang tapi simpanan, hahahaha," sambung Cha dengan terbahak-bahak.


__ADS_2