
Pita sang adik dari Dewi hanya diam menyimak obrolan para Mbak-mbaknya. Dia lebih memilih menikmati makanan yang ada diatas meja makan.
"Mantep, Mbak Ani mau jadi Ibu rumah tangga yang baik, pinter masak, pinter ngurus suami. Tapi sayangnya Mbak kalau kursus ngurus suami gak ada ya, hehehe," guyon Dewi yang memang sengaja menciptakan suasana makan yang rame.
"Hahaha, emang kalau ada Wi, kamu mau kursus latihan ngurus suami orang, baru beneran ngurus suami sendiri!" sambung Cha yang tak tinggal diam.
"Ya ogah banget. Masa gw harus praktek duluan baru beneran ngurus suami dewe," Dewi bergidik ngeri membayangkan mengurus suami orang.
"Hahaha, Wi, Wi, bisa aja kamu. Ya kamu sama Cha juga seharusnya belajar masak biar ntar bisa masak buat suami dan anak, bukankah begitu Bu Marni?" tanya Mbak Ani yang meminta dukungan atas ucapannya.
"Iyo Mbak, benar banget iku. Kudu belajar saiki. Biar nanti wes pinter ngurus keluarga," Bu Marni setuju dengan ucapan Mbak Ani.
"Masih lama Mbak. Nih juga masih kuliah blom selesai. Cha tuh udah punya calon dia. Nah...kalau dia pantes belajar tuh sama Bu Marni dan Bu Novi, biar pinter ngurus keluarganya nanti," Dewi malah menyudutkan Cha.
"Ini kok malah bahas nikah sih! Gw aja masih kuliah, blom ada niat mau nikah, masih lamaaaa banget," kesel Cha.
"Mbak, Pita mau dong, belajar masak dari sekarang biar bisa ngurus keluarga nantinya," ternyata pita menyimak obrolan ketiga Mbaknya.
Mereka bertiga yang berada dimeja makan, tercengang mendengar ucapan Pita. Mereka tidak sadar kalau diantara mereka ada anak kecil yang tidak layak mendengar obrolan orang dewasa.
"Pita nanti belajarnya kalau sudah besar ya. Sekarang makan habis tuh belajar. Besok kan mau sekolah," ucap Dewi mengalihkan pembahasan.
"Iya Mbak," jawab Pita.
Mereka bertiga saling melirik satu sama lain. Lalu mereka pun makan seperti yang dilakukan Pita. Tidak ada lagi pembahasan seputar nikah. Karena bahaya ada Pita diantara mereka. Lalu dari kamar belakang, keluar Ibunya Dewi. Beliau berjalan menghampiri semuanya.
"Udah pada selesai makannya?" tanya Ibunya Dewi saat melihat kami sedang makan.
"Belom Bu, nih belom selesai. Habis makanannya enak banget," celoteh Dewi sambil ngunyah.
Ibunya Dewi mengambil posisi tempat duduk disamping anaknya Pita.
"Kamu wes rampung nak? Kalau sudah, gih masuk kamar biar belajar," Ibunya Dewi menyuruh Pita jangan lama-lama makannya.
"Iya Bu, nih Pita bentar lagi udah kelar," balas Pita.
Lalu Dewi mengambilkan nasi dan lauk buat Ibunya. Dia melayani Ibunya dengan penuh kasih.
"Ibu mau pakai ayam asam manis ini?" tanya Dewi.
"Boleh nak, sekalian sayurnya ya. Sendoknya jangan lupa ya Wi," pinta Ibunya mengingatin Dewi.
Dewi pun mengangguk dan dia mengambil apa yang disuruh Ibunya. Dan mereka kembali menikmati makan malam bersama.
"Wi, besok kamu yang nganter Pita kan nak?" tanya Ibunya.
"Iya Bu, besok Dewi sama Cha yang anter Pita. Kalau bisa seminggu ini Ibu tidak usah nganter Pita. Kalau jemputnya Dewi juga Bu kalau tidak pas kuliah," jawab Dewi menjelaskan.
__ADS_1
"Apa ndak ngerepotin nak Cha ikut nganter Pita besok?" Ibunya bertanya sama Cha.
"Ah nggak kok Bu. Saya malah senang. Saya ngikut aja Bu mana nyamannya. Kalau saya gak bisa, pasti saya kasih tau Dewi," jujur Cha.
"Oh..syukurlah nak."
Ibunya kembali menyantap makanannya. Sedangkan Pita sudah selesai makan dan dia kembali kekamar untuk belajar.
"Wi, Cha, Bu, saya duluan ya, karena masih mau beres-beres dikamar. Tadi belom selesai. Nih mau lanjut lagi beres-beres ya," Mbak Ani duluan masuk kedalam kamarnya.
"Iya nak."
"Oh iya Mbak!" sahut Cha dan Dewi.
Tinggallah mereka bertiga dimeja makan. Cha sudah hampir selesai makannya. Dan Dewi juga sama dia hampir selesai makan.
"Oh ya Bu Marni dan Bu Novi mana? Apa mereka sudah pada makan? Kalau belom sini bareng temani Ibu," tanya Ibunya Dewi.
"Coba saya lihat dibelakang Bu," ucap Cha yang kemudian pergi ke dapur.
"Bu Marni, udah pada makan malam belom? Kalau belom diajak bareng sama Ibunya Dewi buat nemenin makan didepan," ajak Cha saat melihat Bu Marni di dapur.
"Iya nih mau makan Mbak. Apa gak masalah kami gabung makan dimeja makan Mbak?" tanya Mbak Marni takut-takut.
"Loh gak apa dong! Kan Ibunya Dewi yang minta Bu Marni dan Bu Novi makan sama," jawab Cha.
Cha meninggalkan dapur dan kembali kemeja makan dan bergabung dengan Dewi sama Ibunya.
"Mereka udah pada makan Cha?" tanya Dewi saat Cha duduk.
"Belom Wi, gw udah bilang makan sekarang biar nemani Ibu Lo makan," jawab Cha. Dia pun melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Cha pamit masuk kedalam kamar duluan. Dia pun meninggalkan Dewi dan Ibunya dimeja makan.
Saat yang bersamaan, asisten rumah tangganya datang menghampiri Dewi dan Ibunya.
"Ayo Bu sini gabung makan sama," ajak Ibunya Dewi saat melihat mereka datang.
"Iya Bu," jawab salah satu asistennya.
Bu Marni dan Bu Novi sudah duduk bersama Ibunya Dewi. Mereka juga mulai mengambil makanan yang terhidang.
"Bu Dewi kekamar dulu ya, mau beres-beres, besok kan harus berangkat pagi," ucap Dewi yang mau kekamarnya.
"Iya nak," balas Ibunya.
Dewi meninggalkan Ibunya bersama kedua asisten rumah tangga mereka. Tapi Dewi bukannya kembali kekamarnya, melainkan masuk kedalam kamar Cha.
__ADS_1
"Cha, Lo dah tidur ya?" tanya Dewi saat masuk kedalam kamarnya Cha.
"Belom Wi, sini nonton bareng!" ajak Cha yang sedang nonton.
Dewi berjalan kearah Cha yang selonjoran diatas karpet sambil menonton. Dia pun ikut selonjoran disamping Cha.
"Cha, tadi gw sempat ngobrol sama Mbak Ani. Kayaknya dia susah untuk move on dari mantannya. Gw khawatir aja dia jadi terjerumus," Dewi mulai membuka percakapan.
"Lo tau dari mana dan bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Cha penasaran.
"Iya, gw ngelihat kebimbangan dari dirinya. Karena mantannya masih mencoba menghubunginya. Gw takut mantannya itu ada niat yang tidak baik gitu," jelas Dewi.
"Gw gak mau ikut campur Wi, kalau orang tersebut tidak mau terbuka dan blak-blakan sama gw. Nanti dikira gw terlalu ikut campur dengan pribadinya," takut Cha.
"Loh bukannya kita ini sahabat ya. Kan harus saling terbuka Cha!" sahut Dewi.
"Iya Lo benar, kita harus saling terbuka. Tapi kalau orangnya gak mau terbuka, masa kita maksa! Benar gak!"
"Benar sih. Kalau Lo mau gak terbuka sama gw Cha?" tanya Dewi hati-hati.
"Gw udah anggap Lo saudara gw Wi. Jadi sebisa mungkin gw akan terbuka sama Lo. Emang Lo mau tau apa tentang gw lagi?" pancing Cha yang mengerti jalan pikiran Dewi.
"Hehehe, boleh nih...gw tanya?" ucap Dewi cengengesan.
"Boleh, Lo mau kepoin gw apa?" tanya Cha lagi.
"Gimana hubungan Lo sama yang di Belanda?" tanya Dewi yang memang sangat penasaran dengan kisah cinta Cha.
"Tadi baru aja dia menghubungi gw Wi. Tapi gw merasa ada yang disembunyikannya. Dan dia gak mau jujur dengan gw. Ntah lah Wi, gw juga bingung," ucap Cha.
"Trus laki-laki yang dibelakang Lo piye? Apa dia tau kalau Lo masih setia menunggu yang di Belanda?" tanya Dewi.
"Kami itu saling mengetahui Wi. Karena ada cerita diantara kami bertiga di masa SAMA gw. Tapi bukan cinta segitiga ya," jawab Cha.
"Ayolah ceritakan! Gw pengen dengar Cha, sepertinya menarik nih ceritanya. Kalau dulu emang gak cinta segitiga Cha, tapi sekarang jadi cinta segitiga hehehe," Dewi mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Hahaha, Lo bisa aja. Tapi bener juga sih, kami ini jadi cinta segitiga. Boleh juga tuh buat Novel cinta segitiga," jawab Cha ngasal.
"Iya, peran utamanya Lo dan mereka gitu ya Cha, bolehlah," balas Dewi.
"Jadi nih ceritanya dari kemaren Lo mau tau banget ya tentang kisah gw?" tanya Cha.
Dewi hanya mengangguk, membenarkan ucapan Cha.
"Baiklah, gw akan cerita, tapi gw harap, Lo bisa menyimpan cerita ini dan tidak boleh cerita sama yang lain kecuali gw yang menceritakannya," tegas Cha sambil menatap Dewi.
"Gw janji!" Dewi menunjukkan jari kelingkingnya untuk berjanji.
__ADS_1
Akhirnya Cha menceritakan asal muasal keadaan yang dialaminya mulai dia duduk di bangku SMU sampai dia memilih kuliah diJogja. Dan kisah tentang Yoga serta Zain.