Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kehadiran Dina merusak kencan


__ADS_3

Cha dan Dewi menghampiri Zain yang sudah membelikan Cha minuman. Karena Dewi sahabat Cha, maka bodyguard Zain membelikan Dewi minuman dingin. Ya, bodyguard Zain yang ternyata menaruh hati terhadapnya memberitahukan kepada Zain tentang perasaannya terhadap sahabat Cha. Dan Zain sangat mendukungnya. Sehingga pagi ini mereka pergi berempat.


"Loh kenapa dia ikut bersama kita? Bukannya dia menunggu di mobil?" tanya Dewi dengan mengernyitkan keningnya.


"Mungkin Zain memintanya untuk menjaga kita semua. Biarkanlah, emang ada masalah kalau dia ikut Wi?" tanya Cha menyelidik.


"Ah, nggak juga sih. Tapi kok gw ngerasa dia sering melihat ke arah gw ya Cha."


Dewi memberitahukan kepada Cha tentang bodyguard itu yang sering mencuri pandang ke arahnya.


"Oh ya.., wah jangan-jangan dia tertarik sama Lo Wi!" seru Cha dengan semangat menggoda sahabatnya.


"Ah, gak mungkin lagi. Gw jelek, dan dia ganteng. Mana mungkin dia tertarik sama gw," balas Dewi gak percaya.


"Mending Lo dekatin tuh dia. Lihat dia membelikan Lo minuman. Ayo samperin mereka!" Cha menarik Dewi berjalan ke arah ke dua laki-laki itu.


"Nih sayang, minum dulu. Biar tenggorokannya tidak kering," Zain menyerahkan botol minuman yang dingin kepada Cha.


"Makasih Zain," balas Cha.


"Hai, nih, aku belikan kamu minuman dingin. Itu pun kalau kamu mau menerimanya," bodyguard itu memberikan minuman botol ke arah Dewi.


Dewi diam sejenak, dan menatap ke arah bodyguard yang juga melihatnya. Lalu dengan enggan dia pun terpaksa menerimanya.


"Terima kasih, lain kali tidak perlu repot-repot memberikannya," balas Dewi yang mencoba menyembunyikan ke gugupannya.


Bodyguard itu tersenyum mendengar ucapan Dewi yang menyembunyikan senyumnya.


"Oh ya Bang, aku udah bicarakan dengan Dewi. Habis dari sini kita langsung ke hotel aja. Masalah pakaian kita, biar Dewi yang ngurus dan di antar sama si Rudy," ucap Cha yang memberitahu.


"Gimana dengan Ibunya Dewi dan yang lainnya. Apakah Dewi akan menjelaskannya kepada mereka semua?" tanya Zain.


"Iya, biar Dewi yang memberitahukan kepada Ibunya. Dan Ibunya akan menyelesaikannya," jawab Cha.


"Rudy, nanti kamu bantu Dewi untuk membawakan barang-barang ke hotel ya. Karena kami tidak akan kembali ke rumah itu kecuali saat pestanya di adakan," ucap Cha.


"Baik Non," balas Rudy.


"Ya sudah, sekarang kita cari tempat makan disini. Kita makan siang bersama," ajak Zain.


Cha pun mengangguk setuju dengan ucapan Zain. Mereka berempat berjalan ke arah mobil. Rudy sang bodyguard melajukan mobilnya ke tempat yang di sarankan Dewi. Saat ini Dewi menjadi pemandu mereka dan dia duduk di depan menemani Rudy. Sementara Cha dan Zain duduk di belakang.


Dewi mengajak mereka berkeliling-keliling Klaten hingga sampai ke cafe yang di tuju. Mereka pun sampai di tempat dan Rudy memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Akhirnya sampai juga Cha. Yuk kita turun," ajak Dewi.


"Oh ini tempatnya ya. Wah bagus juga cafenya ya Wi," puji Cha sambil melihat cafe itu dari dalam mobil.


"Iya, ayo kita turun, biar kamu bisa lihat bagian dalamnya yang sangat keren," ajak Dewi yang gak sabaran.


Cha dan Zain serta Rudy keluar dari mobil. Mereka mengikuti Dewi yang menjadi pemandu mereka. Tepat ketika mereka masuk ke dalam cafe, Cha merasa takjub dengan dekorasi cafe itu.


"Waowww keren nih Wi cafenya. Bisa buat foto-foto," ucap Cha melihat ke sana kemari.


"Iya, kan tadi gw udah bilang. Nih cafe keren habis. Banyak yang berkunjung ke sini hanya untuk memuaskan rasa penasarannya.


Rudy dan Zain sudah berjalan ke arah meja yang kosong. Dan sang pelayan memberikan mereka buku menu. Sedangkan Cha dan Dewi masih sibuk memfoto diri mereka di tempat-tempat yang unik.


"Ah, Wi yuk kita ke sana. Mereka udah menunggu. Lagian perut gw udah laper nih," ajak Cha yang sudah puas dengan beberapa fotonya.


"Iya nih, gw juga udah kelaparan. Yuk Cha," Dewi berjalan bersama Cha menghampiri ke dua laki-laki ganteng di meja sana.


"Gimana sayang, udah puas foto-fotonya?" tanya Zain saat Cha sudah duduk di sampingnya.


"Sudah Bang, habis tempatnya unik. Jadi sayang kalau gak di manfaatkan buat foto-foto,* jawab Cha dengan senyum-senyum.


Sedangkan Dewi merasa gugup duduk bersebelahan dengan Rudy. Tapi justru Rudy nya merasa senang dan bahagia.


Dewi dengan malu-malu menerima buku itu dari Rudy. Cha dan Zain hanya senyum-senyum melihat kedua sejoli yang belum jadian.


Setelah memesan makanan yang di inginkan, Zain dan yang lainnya asyik ngobrol sambil menunggu pesanan mereka. Ke empatnya tertawa dan antara Rudy dengan Dewi sudah mulai akrab.


"Jadi kapan kalian meresmikan hubungannya?" tanya Cha tiba-tiba.


Seketika keduanya terdiam. Dewi malu dan Rudy menanggapinya santai.


"Loh kok malah diam di tanyain?" tanya Cha lagi.


"Kalau saya terserah sama Dewi. Apa dia mau menerima saya yang apa adanya atau tidak, hanya dia yang memutuskannya," jawab Rudy yang mendahului Dewi.


Dewi terpelongo melihat ke arah Rudy yang sangat terbuka di hadapan Zain dan Cha.


"Ah dia benar-benar membuatku malu di hadapan Cha dan Zain. Apa dia tidak malu mengucapkan hal pribadi di depan Tuannya?" bathin Dewi yang sedikit kesal.


"Mmm, aku belum bisa memberikan jawaban saat ini. Karena perutku sedang laper," sambung Dewi ngasal.


Cha langsung tertawa mendengar balasan Dewi yang kocak. Dia merasa terhibur dengan kedua sejoli itu.

__ADS_1


"Ok, ok, kita akan makan dulu. Nanti setelah makan, Lo harus kasih jawaban ke Rudy," tuntut Cha sambil tersenyum.


"Harus...?" tanya Dewi.


"Ya terserah Lo," jawab Cha dengan mengedikkan bahunya.


Dewi diam dan menatap Cha dengan bingung. Dia tidak bisa memberikan jawaban secepat mungkin. Itu mustahil. Apalagi mereka belum mengenal satu sama lain. Bagaimana mungkin Dewi dengan cepat memberikan jawabannya.


Saat keadaan sepi tanpa suara, pelayan datang membawakan pesanan makanan mereka. Kemudian pelayan itu menghidangkan makanan itu di atas meja makan mereka.


"Wah....pasti lezat nih," ucap Cha yang sangat berselera.


"Kamu bisa memesannya lagi kalau mau sayang," balas Zain tiba-tiba.


"Ayo kita makan," ajaknya yang menutupi rasa malu-malunya.


Mereka pun makan bersama, menikmati hidangan yang sudah di hadapan mereka. Tepat saat ke empatnya sedang asyik mengunyah, Dina saudaranya datang.


"Hai Wi...., ternyata kalian lagi makan disini ya? Wah apa aku boleh gabung?" tanya nya tanpa malu.


Sontak saja ke empatnya kaget melihat ke hadiran Dina yang tiba-tiba. Terutama Dewi dan Cha yang tidak menyangka akan bertemu dengannya.


"Loh kamu dari mana Din?" tanya Dewi kaget.


"Oh tadi baru ketemu sama teman, terus aku melihat kalian disini, ya aku samperin aja. Gak masalah kan?" tanya nya dengan percaya diri.


"Tapi lebih baik kamu pulang aja Din, karena nanti di cariin sama Ibumu," jawab Dewi dengan mengusirnya secara ketus.


"Loh kenapa kamu yang menjawabnya, kan Mas Zain aja gak marah kalau aku ikut gabung denagn kalian. Benar gak Mas?" tanya Dina yang meminta dukungan.


Dina tanpa tau malu meminta perhatian dari Zain. Dia tidak memperdulikan kehadiran Cha yang ada di samping Zain.


Zain diam saja tak menggubrisnya, dia sibuk mengunyah makanannya dan tidak menoleh sedikitpun ke arah Dina.


Dina merasa kesal karena Zain sudah mencuekinnya. Namun dia masih bersikeras bertahan di situ dan langsung duduk di samping Dewi.


"Aku juga laper nih Wi, aku pesan makanan juga ya. Sepertinya makanan yang di pesan Mas Zain enak. Aku juga mau coba ah," ucapnya. Dia pun memanggil pelayan dan memesan makanannya.


Dewi merasa geram dengan tingkah laku saudaranya ini. Dia gak enak sama Cha dan Zain karena kelakuan Dina.


"Kamu apa-apaan sih Din, mesan makanan tanpa izin sama mereka. Emang kamu bisa membayarnya?" tanya Dewi dengan kejamnya.


"Loh kenapa aku harus membayarnya. Kan sudah ada Mas Zain yang membayarnya. Dia kan banyak uang. Masa bayarin aku aja gak bisa," balas Dewi tanpa rasa malu.

__ADS_1


Dina benar-benar membuat Dewi menggeram dan ingin mencakar-cakar wajahnya yang sok polos itu. Rasanya dia tak mampu memperlihatkan wajahnya di hadapan Cha dan Zain.


__ADS_2