
Zain hanya bisa melihat Cha pergi menjauh. Ada rasa sesak yang menyeruak. Padahal dia berharap Cha mau menerimanya. Dan jika Cha menerimanya, Zain akan membawa Cha kuliah di negara tempat dia menjalankan usahanya.
Namun keadaan tak sesuai keinginan. Zain pun kembali ke rumahnya guna mempersiapkan keberangkatannya besok pagi.
"Ayuk pak kita kembali ke rumah saja," ucap Zain dengan lesu.
"Loh kita gak ke Restauran lagi tuan?" tanya supirnya.
"Nggak pak, saya mau istirahat dan mempersiapkan semuanya sebelum besok berangkat," jawab Zain sambil memandang jalanan di Kota Med**.
Di tempat lain Cha sudah berada di dalam rumahnya. Dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Cha mencoba memejamkan matanya, dan beristirahat.
Sore menjelang malam, Cha sudah membereskan pekerjaan rumahnya. Dia melihat Sika sedang asyik bermain bersama temannya tetangga depan rumah Cha. Mereka bermain di teras rumah Cha.
"Sik, udah mainnya. Ini sudah mau Maghrib," Cha meminta Sika untuk masuk kedalam rumah.
"Oh iya, Sika lupa kak. Hei Put, besok kita lanjut lagi ya mainnya. Besok kamu kemari lagi kita main bersama," kata Sika.
"Iya Sik, besok aku kemari lagi ya..., kak Cha, Putri pulang dulu ya..Daaaaa Sika," Putri melambaikan tangannya lalu keluar dari rumah mereka menuju rumahnya.
"Kak, tadi seru banget main masak-masak and sama Puteri. Orangnya baik loh kak," puji Sika tentang teman bermainnya.
"Enak dong sekarang punya teman bermain. Jadi gak sendirian lagi kan dirumah," kata cha sambil berjalan ke dalam rumah.
"Kak, Sika nanti mau SMP bareng Putri. Biar kami bisa berangkat dan pulang bareng," kata Sika yang semangat menceritakan rencananya.
"Iya, tar bilang sama mama ya, kalau kamu mau SMP berang Putri. Biar cepat di daftarkan mama. Nih kan kamu udah selesai ujiannya," kata Cha mengingatkan Sika untuk mengatakan keinginannya ke mama mereka.
"Pas banget kakak ngingetin aku. Tar aku kasih tau mama deh," Sika pergi melenggang ke kamarnya meninggalkan Cha yang sedang menutup pintu depan.
Di tempat yang lainnya, saat ini Zain janjian sama Binyu. Mereka bertemu di sebuah cafe.
"Dah lama Bin?" tanya Zain yang baru aja sampai.
"Ya gitu deh, lama banget sih Lo," kesal Binyu karena lama menunggu Zain.
"Ini juga udah cepat," jawab Zain tak mau disalahkan.
"Ada masalah apa Lo ngajak gw ketemuan Zain?" tanya Binyu yang penasaran.
"Besok gw balik ke Paris, udah lama banget gw ninggalin perusahaan disana. Bokap juga udah nyuruh cepat balik," jelas Zain kepada Binyu.
"Trus gimana dengan taruhan kita?" tanya Binyu tanpa basa basi.
"Lo menang Bin, gw gak bisa mendapatkan hatinya Cha. Gw ngaku kalah. Jadi semua hutang Lo selesai. Dan nih sesuai kesepakatan tiket pesawat buat Lo jalan-jalan ke Luar Negri. Urusan kita selesai sampai disini," balas Zain tanpa basa basi juga.
"Waowww, gw seneng banget. Thanks bro, Lo emang teman gw yang selalu konsekuen dalam janji," kata Binyu dengan senyum sumringah nya. Dia langsung mengambil uang dan tiket dari tangan Zain.
"Heumm," Zain menarik nafasnya dengan berat.
"Kalau gitu gw balik dulu Bin," Zain berlalu meninggalkan Binyu dari cafe itu.
"Dasar laki-laki bodoh. Demi uang dan kesenangan Lo lepasin Cha. Gw gak akan menyerah untuk mendapatkan Cha. Walaupun harus berjauhan," bathin Zain sambil berjalan keluar dari cafe menuju mobilnya.
"Pak udah yuk balik kerumah. Eh tunggu pak, saya mau beli sesuatu. Kita ke Mall dulu ya," pinta Zain kepada pak supir.
"Baik tuan," pak supir melajukan mobilnya menuju sebuah mall.
Sesampainya di Mall, Zain masuk ke dalam dan mencari toko bunga yang terkenal di kota Med**. Setelah mendapatkan yang diinginkan nya, Zain pun kembali ke mobilnya diparkiran.
"Lanjut pak, kita balik ke rumah," kata Zain.
"Siap tuan," pak supir kembali melajukan mobilnya kerumah Zain.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Zain bergegas ke kamarnya. Dia menyiapkan. sesuatu untuk diberikan kepada Cha besok pagi sebelum dia ke bandara.
Sedangkan di rumah Cha, dia asyik belajar karena besok adalah hari terakhir melaksanakan ujian. Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Cha mengambil ponsel yang kebetulan berada di atas meja belajarnya. Dia melihat pesan masuk dari Zain. Cha membuka pesan nya dan membacanya.
"Cha, besok pagi aq jemput ya, biar aq anter kamu kesekolah sebelum aq kebandara. Sekalian ada yang ingin aq berikan ke kamu," tulis Zain di pesannya.
Cha pun membalas pesan dari Zain. "Baiklah, besok tunggu di depan gang seperti biasa ya," Karas Cha. Lalu Cha meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Dia pun melanjutkan belajarnya hingga pukul sudah menunjukkan jam 22.00 malam.
Cha akhirnya menyudahi belajarnya dan beranjak ke tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya.
"Hahhh nyaman sekali," kata Cha yang sudah membaringkan tubuhnya. Dia memejamkan matanya hingga terlelap tidur.
Pagi hari menyapa Cha, dia terbangun dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Lalu dia berpamitan kepada mamanya.
"Ma, aq berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," kata Cha sambil mencium tangan mamanya.
"Wa'alaikumussalam," jawab mamanya.
Cha berjalan ke depan gang nya. Ternyata mobil Zain sudah ada disitu. Seperti biasa Zain berdiri di depan mobil menunggu kedatangan Cha.
Zain tersenyum melihat kedatangan Cha. Perempuan yang bisa meruntuhkan keegoisan dan kekerasan hatinya.
"Hai..,yuk berangkat," sapa Zain dan mengajak Cha masuk ke dalam mobil.
"Cha hari ini ujian kamu terakhir ya, rencana mau lanjut kuliah dimana?" tanya Zain menghilangkan rasa canggung.
"Iya hari ini terakhir Zain. Rencana mau kuliah di kota lain," jawab Cha tanpa melihat ke arah Zain.
"Cha hari ini, aq berangkat keluar negeri. Dan aq ingin memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan dari qu," Zain mengeluarkan bingkisan besar dan bucket bunga yang diletakkan dalam paper bag.
"Apa ini Zain?" tanya Cha penasaran.
"Ntar aja kamu lihat pas pulang sekolah. Kalau sekarang bisa-bisa kamu gak konsen buat ujian," goda Zain sambil menggenggam tangan Cha.
"Cha sebelum aq kebandara aq mau minta lagi ya," kata Zain memohon.
"Minta, minta apa ya Zain?" tanya Cha heran.
"Jangan bilang kamu mau min..,"
"Aq gak minta macem-macem deh Cha. Aq gak akan memperkosa kamu saat ini, tar kalau kita dah nikah, kamu akan aq perkosa terus menerus tanpa ampun," goda Zain sambil tersenyum genit.
"Ih....apaan sih," Cha merasa malu dan wajahnya sudah seperti kepiting rebus, merahhh meriah.
"Cha aq pengen cium kamu lagi, boleh ya...,kan aq mau berangkat," bujuk Zain sambil memohon-mohon seperti anak kecil yang minta permen.
Cha berpikir sejenak, "Bener juga, ini terakhir kami bertemu," bathin Cha sambil menatap wajah Zain yang ganteng banget.
"Heum," Cha menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan Zain.
Lalu Zain mendekatkan wajahnya kearah Cha dan memiringkan kepalanya dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Cha. Cha terkejut, ternyata ciuman yang di minta Zain.
Zain perlahan me***** bibir Cha dengan sangat lembut penuh perasaan. Awalnya Cha tak meresponnya, tapi karena sensasi yang diberikan Zain membuat Cha menikmatinya, dia memejamkan matanya membalas ciuman Zain. Mereka saling menikmati satu sama lain, Zain memeluk pinggang Cha dan tangan yang satunya membelai rambut Cha. Cha sungguh terbuai dengan kenikmatan yang diberikan Zain. Ciuman itu semakin lama semakin panas, Zain semakin ganas mel**** bibir Cha dengan rakus. Tiba-tiba pak supir mengerem mendadak karena lampu merah.
Cha melepaskan ciuman yang memabukkan itu. Dia tersipu malu karena merespon ciuman dari Zain. "Ya ampuuun kenapa dengan qu, kenapa justru aq membalasnya, hah nego-nego Cha...," gerutu Cha dalam hati.
Cha membenahi rambut yang sudah berantakan karena ciuman ganas dari Zain. Tapi dia tidak sadar kalau bibirnya masih basah air liur karena ulah Zain.
Zain mendekat dan mengelap bibir Cha dengan jari telunjuknya.
"Hmmm nikmat ya Cha," goda Zain sambil tersenyum manis menatap Cha.
Cha terpaku dengan perlakuan Zain dan tersipu malu mendengar ucapan Zain.
__ADS_1
"Ciuman kedua ini akan selalu aq ingat Cha. Kamu perempuan istimewa dalam hidupku.
"Duh Zain jangan buat aq baper dong...aq mau ujian ini," kata Cha merengek.
"Pengennya sih kamu baper Cha ke aq, hehehe," jawab Zain cengengesan.
"Tuan kita sudah sampai," kata pak supir memberitahu bahwa mereka sudah sampai di sekolah Cha.
Zain langsung memeluk Cha dengan erat. Tanpa terasa Zain mengeluarkan air matanya dan itu tanpa sepengetahuan Cha. Zain melepaskan pelukannya dan mencium ke dua pipi Cha lalu kening Cha dengan lembut. Dan sekali lagi dia mel**** bibir Cha dengan lembut. Setelah itu dia melepaskan Cha.
"Pergilah, dan jangan menoleh kebelakang lagi. Kalau tidak, aq tidak akan melepaskanmu," ancam Zain seraya menyembunyikan kesedihannya.
Setelah mendengar ucapan Zain, Cha bergegas keluar dari mobil dan berjalan ke sekolah tanpa menoleh kebelakang. Sebenarnya Cha ingin sekali menunggu mobil Zain pergi dari area sekolah. Tapi malah Zain yang menyuruh Cha pergi. Ada rasa sedih dan rasa yang tidak bisa di ungkapkan Cha. Dia tidak tau kenapa perasaannya kacau seperti ini. Tapi Cha berusaha menepis semua perasaan itu.
Sampai di dalam gerbang sekolah, Cha mencoba mengintip ke luar sekolah dimana tempat mobil Zain tadi berhenti. Ternyata mobil Zain sudah tidak ada lagi sana. Cha pun kembali melanjutkan jalan menuju kelasnya.
Cha masuk ke dalam kelas membawa paper bag besar. Teman-teman Cha melihat Cha menenteng paper bag besar itu.
"Loh Cha, kamu bawa apaan tuh?" tanya salah satu teman Cha yang duduk di dekat pintu.
Cha cuma tersenyum membalas pertanyaan dari temannya tersebut.
"Besar banget paper bag nya Cha. Buat guru ya...?!" tebak salah satu teman Cha yang duduk di samping Cha.
"Tidak, ini titipan buat adek qu dirumah," jawab Cha seenaknya. Cha tidak mungkin mengatakan itu dari seorang laki-laki yang jatuh cinta sama dia. "Bisa heboh sejagat sekolah," pikir Cha sambil cengengesan.
Saat ini Cha sedang menjalani ujian terakhirnya. Dia menyelesaikan ujiannya tepat waktu. Hingga waktu yang diberikan guru pengawas berakhir. Cha bersiap-siap keluar dalam kelas. Dia mau menemui Yoga di kelasnya. Ketika Cha keluar dari kelas, ternyata Yoga sudah menunggu Cha di depan kelasnya.
"Loh, baru aja aq mau ke kelas kamu Ga, eh kamunya udah nongol disini, hehehe," Cha cengengesan melihat kehadiran Yoga.
"Apa sekarang kita bisa ngobrol Cha?" tanya Yoga yang melihat Cha cengengesan.
"E..eh iya, boleh. Yuk kita pulang bareng," ajak Cha dan berjalan duluan.
Yoga mengejar Cha lalu menggapai tangan Cha. Dia tersenyum memamerkan gigi taringnya.
"Kita mau kemana Ga?" tanya Cha setelah mereka memasuki mobil.
"Aq ingin membawa mu makan siang di cafe," kata Yoga dengan sendu.
Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai di sebuah cafe. Yoga menggenggam tangan Cha dan berjalan memasuki cafe tersebut. Mereka memilih duduk di dekat kolam ikan.
"Emang kamu mau ngomong apaan sih Ga?" tanya Cha penasaran.
"Kita pesan makan dulu ya baru nanti aq obrolin," jawab Yoga yang berusaha tenang.
Mereka pun memesan makanan dan menikmati makan siang dengan keheningan karena tidak ada yang memulai pembicaraan, hingga selesai makan. Cha mencoba membuka percakapan.
"Ayuk sekarang kamu ngomong," kata Cha gak sabaran.
Yoga membuang nafas nya dengan berat.
"Cha, sebenarnya dari kemaren aq mau ngomong dengan kamu, tapi aq lihat kamu sepertinya menghindar dariku. Aq gak tau apa alasan kamu. Sekarang aq tidak bisa buang-buang waktu. Aq mau pamit sama kamu, karena aq mau lanjut kuliah ke luar negri tempat Omah qu di Belanda," Yoga menghentikan ucapannya, dia melihat wajah Cha yang terkejut.
"Trus," kata Cha tanpa ekspresi.
"Dan nanti sore aq udah harus berangkat. Karena papa qu sudah mengatur semuanya. Jadi hari ini terakhir kita bertemu," lanjut Yoga.
Cha menahan sesak di dadanya. Dia ingin menangis sejadi-jadinya tapi dia menahannya. Dia tidak ingin Yoga terbebani karena kesedihannya.
Wahhhhhh makin seru ya ceritanya..., Gimana ya nasib Cha dan bagaiman kehidupan Cha selanjutnya?
Jangan lupa kasih author Vitamin buat berimajinasi ya..., kasih LIKE yang banyak, HADIAH yang buanyakkk serta VOTE nya ya..
__ADS_1