
Sementara Zain dan Cha masih sibuk dengan adegan romantis, yaitu pandang-pandangan. Hingga Dewi mengagetkan mereka suara rantang kaleng jatuh. Dewi sengaja menjatuhkan rantang itu untuk menyadari kedua sejoli.
"Ekhemm, dilanjutkan di dalam loh Cha!" goda Dewi sambil berlalu kekamarnya.
"Issa Lo Wi," Cha berjalan meninggalkan Zain yang senyum-senyum.
"Sayang tunggu!" Zain mengikuti Cha dari belakang. Dia pun ikut masuk kedalam kamar Cha.
Zain melihat kamarnya yang dulu ditempatinya dan sekarang malah calon istrinya yang menempati. Tiba-tiba Zain memeluk Cha dari belakang, mengalungkan tangannya di pinggang Cha dan mulai menciumi pipi Cha dan leher sampai ketelinga Cha. Cha kaget dan merasa geli diperlakukan seperti itu.
"Ahhhh Zain...!" tak sengaja yang keluar justru suara merdu Cha.
Zain sudah tak sabar ingin memeluk kekasihnya ini dengan puas.
"Kamu buat aku tersiksa sayang. Dari kemaren senjataku susah untuk didinginkan gara-gara teringat kamu," Zain memberikan tanda kepemilikannya di leher Cha.
Cha malah terbuai dengan rangsangan yang diberikan Zain. Lalu Zain membalikkan tubuh Cha mengahadap dirinya. Sesat mereka saling menatap, lalu Zain mulai mendekatkan bibirnya melu*** bibir manis Cha. Cha ingin menolak tapi justru tubuhnya menginginkan Zain. Zain sangat pinter membuat Cha tak berdaya. Mereka saling melu*** dan bertukar salivanya. Hasrat keduanya bergejolak. Zain yang sudah tidak tahan, langsung mengangakt tubuh Cha ke atas tempat tidur.
"Zain kamu mau ngapain?" tanya Cha yang masih sedikit sadar dari keterbuaiannya.
"Aku ingin memakanmu sayang!" jawab Zain yang sudah diselimuti gairah.
"Stop Zain..! Ini dikamarku dan siapa aja bisa masuk kedalam sini?" protes Cha.
"Ayo kita lakukan dikamar mandi sayang, aku sudah gak tahan sayang. Dari kemaren nih senjata minta ditembakkan," rayu Zain sambil menggendong Cha kedalam kamar mandi.
"Lepaskan Zain..., nanti ada orang yang masuk!" Cha meronta-ronta minta diturunkan.
Namun Zain tak mendengarkannya. Mereka masuk kedalam kamar mandi dan Zain langsung membuka baju Cha dan bajunya sehingga mereka terlihat polos tanpa sehelai benang. Zain langsung menyerang Cha dan tak memberi kesempatan untuk Cha memghindar. Dia sudah kecanduan oleh kenikmatan tubuh Cha. Akhirnya Cha menyerah dalam kenikmatan yang diberikan Zain. Dia terus mendesah keenakan. Mereka melakukannya dengan berbagai gaya. Gaya berdiri, gaya ***** *****. Zain terus menggempur Cha tanpa ampun hingga akhirnya mereka mengerang bersama dan melakukan pelepasan terakhir yang kesekian kalinya.
Setelah itu mereka mandi bersama. Lalu Zain dengan telaten menyabuni tubuh Cha yang menjadi candunya. Cha yang diperlakukan seperti itu masih merasa sangat malu karena tubuhnya dilihat polos oleh Zain. Hingga satu jam mereka berada dalam kamar mandi, lalu Zain dan Cha keluar dari dalam. Lalu Zain memakaikan Cha baju serta menyisir rambut Cha yang terurai indah.
"Sayang, ayolah kita menikah seceoatnya! Aku gak bisa jauh-jauh darimu, please!" rengek Zain dengan memohon sambil mencium kening Cha.
"Zain, please..! Jangan sekarang ya. Kalau kita berjodoh, pasti kita akan bersama," Cha membelai wajah Zain dan tersenyum teduh.
"Baiklah sayang, aku akan menunggumu."
Zain memeluk pinggang Cha dari belakang, dia membenamkan kepalanya dipundak Cha.
"Badanku rasanya remuk semua Zain. Kamu menggempurku habis-habisan. Gimana aku mau jalan nih, aku malu kalau sampai dilihat Bu Marni jalannya aneh," kesal Cha sambil mencubit-cubit kecil tangan Zain.
"Sakit sayang! Siapa suruh kemaren kamu memakai lingerie, aku jadi gak tenang bekerjanya disana! Apalagi tadi sikembar terlihat narsis sengaja mengejekku minta dihisap," goda Zain sambil menghirup aroma lavender ditubuh Cha.
"Kamu ini mesum banget sih!" kesal Cha.
"Tapi kamu ketagihan kan sayang, buktinya tadi kamu merem melek, dan suara kamu yang berkicau tak mau berhenti," Zain terus menggoda Cha terus-menerus.
"Ihhhh Zain...diamlah!" teriak Cha. Dia merasa malu dengan sikapnya yang malu tapi mau.
"Malu banget gw ini. Bisa-bisanya menikmati permainan dia. Hahhh, emang benar sih, ini sungguh nikmat, Zain sangat pinter membuatku ketagihan. Ahhhh, mikir apa aku ini!" bathin Cha merutuki dirinya yang murahan.
Sayang, aku baring sebentar ya ditempat tidur kamu. Rasanya aku lelah banget habis menggempurmu," ucap Zain sambil menguap.
"Iya, gih sana kamu istirahat dulu. Nanti aku bangunkan kalau udah sore," Cha membereskan pakaian yang tadi tergeletak didalam kamar mandinya.
__ADS_1
Sedangkan Zain langsung naik keatas tempat tidur cha dan memejamkan matanya.
Cha pergi keluar kamar meninggalkan Zain yang sedang tertidur pulas. Cha mengambil air minum, lalu masuk kedalam kamar Dewi.
"Wi...!" panggil Cha.
"Masuk aja Cha, gak dikunci kok," sahut Dewi dari dalam kamarnya.
"Gw main disini ya Wi!" ucap Cha saat masuk kedalam kamarnya Dewi dan duduk di bawah tempat tidur Dewi.
"Loh dia kemana?" tanya Dewi heran.
"Tuh lagi ngorok dikamar. Datang kemari numpang tidur," kilah Cha yang tak mungkin menceritakan pertempuran mereka yang barusan terjadi.
"Cha, kok jadi mikirin Mbak Ani ya?"
"Kenapa lagi Wi, dengan Mbak Ani?" tanya Cha.
"Dia belom pulang juga Cha sampai sekarang. Tadi gw mengetuk pintu kamarnya, tapi gak ada sahutan. Dan Bu Marni nyamperin gw. Katanya tadi Mbak Ani sudah pulang, habis tuh bernagakt lagi. Dan Bu Marni juga bilang, kalau dia ditungguin sama seorang laki-laki diluar rumah, Bu Marni gak sengaja melihatnya pergi sama laki-laki itu," jelas Dewi sambil menatap Cha.
"Jujur Wi, gw males nolong orang yang tidak mau keluar dari masalahnya. Jadi ya kita tunggu aja bagaimana nasibnya yang diterimanya kalau dia terus-terusan menerima mantannya," jawab Cha rada kesal.
"Iya sih, gw juga sempat kesal dengan Mbak Ani yang terlalu bucin sama laki-laki itu. Padahal sudah dikhianati tapi masih menerimanya. Kan bodoh sekali perempuan seperti itu," kesal Dewi.
"Dia yang mau sih, berarti dia siap menerima resikonya kan? Cuma gw gak suka kalau dia sampai memberitahukan keberadaannya sama laki-laki itu. Kita gak tau apa yang direncanakan laki-laki itu."
"Gw jadi gak enak Cha sama Zain. Karena dia sudah sangat baik sama kami dan Mbak Ani. Tapi malah Mbak Ani seperti itu." ucap Dewi.
"Gw juga bingung mau cerita bagaimana sama Zain. Apalagi cerita tentang keadaan gw, Wi," bingung Cha.
"Trus, Mbak Ani gak ada ngasih khabar ke Lo? Ini sudah mau Maghrib Lo Wi!"
"Blom ada Cha. Gw khawatir juga sih Cha. Kasihan dia tidak punya saudara disini. Gimana kalau gw coba hubungi dia aja ya?" ucap Dewi yang baru kepikiran untuk menghubungi Mbak Ani.
"Ya udah coba deh hubungi biar kita tau dia dimana."
lalu Dewi mengambil ponselnya di meja dan dia mulai menghubungi no Mbak Ani. Beberapa kali bunyi, tidak ada yang mengangkat. Dewi mencoba menghubunginya lagi. Kemudian terdengar suara laki-laki yang menjawabnya.
"Hallo siapa ini? Mengganggu saja, gw lagi enak-enakan nih. Lo kalau mau minta bayaran lagi, nanti tunggu gw puas menikmati tubuh pacar Lo!" ucap laki-laki diseberang sana yang langsung nyerocos tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
Kemudian ponsel Mbak Ani langsung dimatikan dan Dewi tertegun mendengar ucapan laki-laki itu.
Cha mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Dewi yang tak biasa.
"Cha, Mbak Ani, Cha!" ucap Dewi dengan wajah pucatnya.
"Mbak Ani kenapa Wi?"
"Di...dia dijual sama mantannya Cha!" Dewi menangis tersedu-sedu.
Cha terkejut dan menutup mulutnya gak percaya dengan pendengarannya.
"Lo serius Wi?" Cha mengguncang tubuh Dewi memastikan ucapannya.
"Iya Cha, dia saat ini lagi bersama laki-laki lain. Sepertinya dia tidak menyadari kondisi dia Cha."
__ADS_1
"Dari mana Lo tau?" tanya Cha yang masih terkejut.
"Karena kalau Mbak Ani sadar melakukannya, pasti dia yang menerima tlp gw. Tapi ini justru laki-laki lain yang mengangkat tlp gw," jelas Dewi.
"Trus gimana jadinya?"
"Gw gak tau Cha. Gw gak mau berurusan sama kehidupan Mbak Ani yang dia sendiri mencari jalan kesana," Dewi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau gw cerita sama Zain, dia pasti marah banget Wi. Gw juga takut Wi!" seru Cha.
"Kalau tadi Mbak Ani mau keluar dari masalahnya, gw pasti mendukung dan membantunya agar terhindar dari mantannya. Tapi nih justru dia malah mendekatkan dirinya lagi Cha," Dewi merasa jengah dengan sikap Mbak Ani.
"Gini aja Wi, kita tunggu aja cerita dari Mbak Ani nanti ketika dia sudah pulang. Dan jangan cerita apapun sama dia tentang Lo yang menghubunginya. Biarkan dia yang sendiri yang bercerita," jelas Cha.
"Iya Cha."
"Gw balik dulu Wi ke kamar, sapa tau si Zain udah bangun. Habis nih, kami mau pergi Wi, Lo mau ikut? Mungkin kami akan ke Bukit Bintang nongkrong disana sampai pagi," ucap Cha memberitahukan kepergiannya.
"Nggak Cha. Gw nemani Ibu gw disini. Lo hati-hati diluar sana."
"Lo juga kalau ada apa-apa khabari gw. Tapi nanti gw minta Zain nempatin dua pengawalnya dirumah ini," ucap Cha.
"Makasih Cha."
Kemudian Cha kembali kekamarnya melihat keadaan Zain. Saat Cha masuk, dia ditangkap sama Zain. Zain memeluk Cha sambil menciumnya bertubi-tubi.
"Zain...lepasin!" teriak Cha.
"Gak mau, siapa suruh kamu ninggalin aku saat tidur, hah!" marah Zain.
"Lah ngapain aku bengong ngelihatin wajah kamu saat tidur. Yang ada aku kayak orang gak ada kerjaan," cetus Cha.
"Sayang, kalau aku tidur, kamu juga harus tidur disampingku!" ucap Zain yang protes.
"Yeeee, emang mau digrebek sama orang dirumah ini!"
"Biarin, biar kita dinikahkan. Biar aku bisa bawa kamu ke Paris." Zain mengecup bibir Cha dengan santainya.
"Zain lepasin dulu, aku mau cerita nih sama kamu!" sungut Cha.
"Aku udah tau sayang. Tapi gak apa deh kalau kamu mau cerita. Tapi sebelum itu kita tlp Papa sama Mama aku dulu ya. Tadi aku janji mau VC and sama mereka.
Meka yang tidak mengerti maksud Zain, hanya mengiyakan saja ucapan Zain. Lalu Zain menghubungi Ortunya. Hingga akhirnya terhubungkan VC mereka. Dan terpampang lah wajah Papa dan Mamanya.
"Hallo Pa, Ma..!"
"Hallo sayang, mana calon mantu Mama yang udha buat kamu bucin!" tanya Mamanya yang pengen melihat sosok Cha.
"Ini Mam!" Zain mengarahkan ponselnya ke wajah Cha.
Cha terkejut tak siap diperkenalkan sama Zain dengan orang tuanya.
"Hallo cantiiik, pantes ya Pa, anak kita sering kabur ke Indonesia, ternyata mantu Mama cantik banget!" puji Mamanya Zain.
"Iya sayang, Putraku sungguh pinter mencari calon istri. Aku pikir selama ini dia mau jadi bujang lapok gak mau nikah, maunya kawin aja," celetuk Papanya tanpa memfilter ucapannya.
__ADS_1
"Hahaha," Zain malah tertawa terbahak-bahak.