Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Budenya Dewi


__ADS_3

Suara ayam berkokok, namun Cha masih asyik bersembunyi didalam selimutnya. Dia lupa kalau hari ini harus ikut mengantar Pita kesekolah. Lalu terdengar suara ketukan di pintu kamarnya hingga beberapa kali. Karena Cha tidak bangun juga, ketukan di pintu semakin keras, dan akhirnya Cha pun terbangun.


"Uhhhh, siapa yang ngetik sih..!" Cha turun dari tempat tidurnya dengan malas-malasan lalu membuka pintu kamarnya.


"Ya ampuuun Cha!!" seru Dewi yang kaget melihat Cha masih menggunakan baju tidurnya.


Cha menatap Dewi dari atas sampai bawah yang sudah kelihatan rapi.


"OMG Wi...!! Sorry gw lupa. Ya udha tunggu bentar, gw siap-siap sekarang," Cha langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk bersih-bersih.


Dewi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Cha yang lupa akan hari ini. Lalu dia meninggalkan kamar Cha dan masuk kekamar Ibunya.


"Bu, Pita udah siap?" tanya Dewi saat masuk kedalam kamar.


"Ini lagi Ibu ikat rambutnya, biar rapi gak berantakan," ucap Ibunya sambil mengepang rambut anaknya.


"Wah adek Mbak cantik banget!" seru Dewi sambil mencubit pipi adiknya.


"Awwww, jangan kuat-kuat Mbak cibirnya, sakit loh," protes Pita sambil memanyunkan bibirnya.


"Hehehe."


"Nak Cha udah siap Wi?" tanya Ibunya.


"Tuh lagi siap-siap Bu. Bentar lagi juga kemari," jawab Dewi yang duduk disamping Ibunya.


Lalu tak berselang lama, Cha datang kekamar Ibunya Dewi.


"Tok tok tok."


Bu, Dewi didalam ya?" tanya Cha yang gak enak jika langsung masuk kedalam kamar Ibunya Dewi.


"Masuk aja nak Cha. Nih lagi nungguin Pita di kepang rambutnya," jawab Ibunya.


"Sini Cha!" sahut Dewi.


Cha pun masuk kedalam kamar Ibunya Dewi dan melihat Pita dengan seragam SD nya.


"Wah...cantik banget adik Mbak Dewi nih ya!" Cha menoel hidungnya Pita sambil tersenyum.


"Makasih Mbak Cha yang juga cantik," puji Pita.


"Hmmmm, kalau sama Mbak gak mau muji. Kalau sama Mbak Cha, malah memujinya," Dewi pura-pura ngambek.


"Habis Mbak Dewi nyubit pipi Pita, kan sakit. Kalau Mbak Cha dia mencolek hidung Pita, jadi gak sakit," jawab Pita polos.


"Owhhhh jadi karena sakit buat Pita gak mau muji Mbak. Kalau begini, berarti mau dong muji Mbak?" tanya Dewi yang merasa gemes dengan adiknya.

__ADS_1


"Iya Mbak ku tersayang yang cantik banget..!" Pita memuji Dewi dengan sikap yang polos.


"Hehehe, gitu dong!"


"Akhirnya siap juga. Sekarang Pita berangkat diantar sama Mbak Dewi dan Mbak Cha ya!" ucap Ibunya sambil mengambil tas sekolahnya.


"Ayo sarapan dulu. Udah disiapin sama Bu Marni barusan," ucap Cha.


"Oh ya sudah, sekarang kita sarapan dulu yuk," ajak Ibunya.


Mereka keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju meja makan. Cha dan yang lainnya mengambil posisi duduk masing-masing. Dewi mengambil nasi untuk Ibu dan adiknya. Sedangkan Cha memanggil Mbak Ani kekamarnya.


"Mbak.., ayo sarapan! Mbak dah bangun belom?" tanya Cha dari luar kamar.


"Iya Cha, nih Mbak mau siap-siap. Kalian sarapan aja duluan. Mbak masih mau mandi dulu!" jawab Mbak Ani dari dalam kamarnya.


Cha pun kembali kemeja makan untuk bergabung dengan keluarga Dewi. Dia mengambil posisi duduk di samping Dewi. Mereka makan dengan hikmat, hingga selesai sarapan paginya.


"Ayo dek, kita berangkat. Gih salam Ibu dulu," Dewi menyuruh adeknya berpamitan.


Pita berjalan kehadapan Ibunya dan menyalami tangan Ibunya.


"Bu, Pita bernagakt sekolah dulu ya," Pita mencium pipi Ibunya.


"Iya nak, hati-hati dijalan ya sayang! Dewi dan Cha juga hati-hati dijalan," pesan Ibunya.


"Nak Ani gak jadi kuliah pagi?" tanya Ibunya terhadap Cha.


"Jadi Bu, lagi siap-siap. Sebentar lagi juga keluar kamar untuk sarapan," jawab Cha.


"Oh..ya sudah kalian berangkatlah," ucap Ibunya Dewi.


Tak berselang lama, Mbak Ani keluar dari dalam kamarnya. Dan dia berpas-pasan sama Ibunya Dewi.


"Cha sama Dewi udah berangkat Bu?" tanya Mbak Ani.


"Iya tadi ditungguin sarapan, tapi nak Ani masih siap-siap. Jadi mereka berangkat duluan," jawab Ibunya Dewi.


"Nak Ani mau sarapan ya? Kalau gitu Ibu masuk dulu ya ke kamar!" ucap Ibunya yang hendak masuk kedalam kamarnya.


"Iya Bu, saya sarapan dulu. Habis tuh langsung berangkat kuliah. Saya sekalian berpamitan aja sama Ibu," Mbak Ani menyalami tangan Ibunya Dewi.


"Iya nak, hati-hati nanti dijalan. Ibu masuk dulu ya!" Ibunya Dewi memberikan perhatiannya juga terhadap Mbak Ani.


"Iya Bu," jawab Mbak Ani. Lalu dia berjalan menuju meja makan dan memakan sarapannya.


Tak berapa lama sarapan, dia pun selesai dengan sarapan pagi. Lalu Mbak Ani berangkat kekampusnya. Dia keluar dari dalam rumahnya dan menjalankan motornya.

__ADS_1


Huzzzzzzz, motor melaju dari rumah yang ditempatinya.


Dilain tempat, Cha dan Dewi naik bus way kesekolah Pita. Beberapa menit diperjalanan akhirnya mereka sampai didekat sekolahnya Pita. Karena Halte bus berada di samping sekolahnya. Mereka turun dari bus dan berjalan ke sekolahnya Pita.


Saat mereka hampir sampai didepan sekolahnya Pita, tiba-tiba Budenya datang menghampiri mereka.


"Ihhhh, jadi kamu yang mengantar adik kamu ya! Mana Ibu kamu, hah?" tanya Budenya.


"Buat apa Bude nanyain Ibu?" tanya Dewi dengan raut wajah datar.


"Dia harus membayar uang selama kalian tinggal dirumah saya!" ucap Budenya tanpa rasa malu.


"Uang sewa maksud Bude?" tanya Dewi blak-blakan.


"Iya, katanya kamu kan sudah bekerja, jadi Bude mau minta ganti rugi. Atau bude akan laporkan kejadian kemaren sama Polisi," ancam Budenya dengan pedenya.


"Bude ngancam saya? Cha, Lo anterin dulu Pita kedalam ya. Biar gw yang ngurus nih orang," ketus Dewi sambil memandang sinis Budenya.


Cha pun mengajak Pita masuk kedalam sekolah setelah berpamitan dengan Dewi, kakaknya.


Lalu Dewi kembali menatap tajam kearah Budenya.


"Maksud Bude apa? Bude mengancam saya? Kalau Bude mau lapor silahkan saya ikuti. Kalau akhirnya Bude sendiri yang akan menanggung akibatnya. Apa Bude yakin kalau suami Bude itu tidak bersalah!" tekan Dewi dengan wajah tak bersahabat.


"Ya yakinlah! Kamu kan yang masukin laki-laki kedalam kamar? Malah fitnah Pakde mu yang mau berbuat jahat!" bentak Budenya.


Lalu cha datang kehadapan Dewi dan Budenya. Dia melihat Dewi yang terpojokkan.


"Ada apa Wi?" tanya Cha yang ikut nimbrung.


"Siapa kamu? Jangan ikut campur ya, ini masalah keluarga kami," ketus Budenya Dewi.


"Saya sahabatnya Dewi. Ibu juga kenapa marah-marah disini?" tanya Cha yang mulai terpancing emosi.


"Oh...jangan-jangan kamu ini sekomplotan ya dengan nih anak. Atau kamu yang sudah menjerumuskan Dewi untuk menjual dirinya ya?" ucap Budenya tanpa difilter ucapannya.


"Ibu kalau ngomong jangan sembarangan ya, saya bisa menjebloskan anda ke kantor polisi karena sudah bicara sembarangan! Sebelum anda bicara ngasal, lebih baik anda pikirkan lebih dulu!" ucap Cha dengan tatapan tajam.


"Siapa kamu berani berbicara seperti itu. Bude gak mau tau ya Wi, bilang sama Ibu kamu. Kalian harus mengganti uang yang selama ini kalian nikmati tinggal dirumah saya," tekan Budenya.


"Tapi kami tidak merasa berhutang. Jadi Bude jangan mengada-ngada ya. Dan saya ingatkan ya Bude, jangan sekali-kali Bude mengatakan kalau saya yang bersalah. Kalau sampai Bude mengatakan itu lagi, saya Tidka segan-segan untuk memperkarakan kasus ini ke polisi," ancam Dewi dengan intonasi tegas.


"Kamu pikir saya takut. Dasar anak tidak tau diri. Sudah dikasih tumpangan,malah melupakan jasa orang. Bilang sama Ibu kamu ya, ingat balas budi orang," hardik Budenya sambil berlalu meninggalkan Cha dan Dewi.


"Sabar ya Wi, kamu jangan khawatir. Bagaimana kalau kita pindahin Pita ke sekolah lain aja?" saran Cha sambil memegang bahu Dewi.


"Iya kamu benar Cha. Dari pada Ibu gw kepikiran dan bertemu dengan Bude gw, bisa-bisa, dia akan mengancam Ibu gw juga," balas Dewi.

__ADS_1


__ADS_2