
"Dasar tukang nguping," celetuk Cha dengan mimik wajah kesal.
Zain hanya senyum-senyum melihat sikap Cha yang melengos gitu. Baginya itu pemandangan yang lucu.
"Oh ya sayang, gimana tadi pembahasannya, Dewinya mau ikut sama kamu?" tanya Zain.
"Dia juga terkejut saat aku menceritakan tentang Mbak Ani. Dia gak percaya dengan apa yang aku sampaikan mengenai pekerjaan Mbak Ani."
"Trus, apa dia mau ikut sama kita nanti malam?" tanya Zain lagi.
"Awalnya sih, dia gak mau karena takut masuk ketempat yang begituan. Tapi rasa penasarannya membuatnya ingin melihat secara langsung apa yang dilakukan Mbak Ani," jawab Cha.
"Baiklah, akan aku atur jadwalnya. Jam 20.00 kita berangkat dari sini. Semua akan kamu dan Dewi lihat sendiri bagaimana sahabat kamu melayani laki-laki disana. Aku harap kalian tidak membuat kesalahan disana, saat mengetahuinya," harap Zain.
"Iya Zain."
Sore menjelang malam, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Lain halnya dengan Bu Marni dan Bu Novi. Mereka sibuk menyiapkan makan malam untuk semuanya.
Setelah mempersiapkan semua makanan diatas meja, Bu Marni berjalan ke ruang tamu memanggil Zain untuk makan malam.
"Tuan Zain, makan malamnya sudah siap," ucap si asisten rumah tangga.
"Oh iya, Bi tolong panggilkan Cha didalam kamarnya ya dan Dewi dan keluarganya," perintah Zain.
"Baik Tuan." Bu Marni berjalan ke kamarnya Cha.
"Tok tok tok, Mbak Cha, makan malam sudah siap. Tuan Zain sudah menunggu di meja makan," ucap Bu Marni memberitahukan.
Cha keluar dari dalam kamarnya dan melihat Bu Marni berdiri didepan kamarnya.
"Oh iya Bu, Dewi sama Ibunya sudah diberitahukan Bu?"
"Blom Mbak, nih saya mau kesana untuk memberitahukannya," ucap Bu Marni.
"Baiklah Bu."
Bu Marni meninggalkan Cha didepan pintu kamarnya. Dan bergegas memanggil Dewi dan Ibunya.
Lalu Cha berjalan ke meja makan dan melihat semua hidangan yang sangat lezat diatas meja makan.
"Waowww Bu Marni emang jago masak, gw jadi laper nih," celetuk Cha yang gak sadar kalau Zain sudah berada dibelakangnya.
"Ekhem ekhem...," Zain mengagetkan Cha yang sedang asyik mencomot salah satu makanan yang disukainya.
"Ya ampun Zain..! Kenapa kamu suka banget buat aku terkejut, hah!" gerutu Cha.
"Kayaknya enak banget ya makan sendiri begitu. Padahal aku dari tadi nungguin kamu, malah kamu nyicipin duluan masakan Bu Marni," protes Zain sambil senyum-senyum.
"Eh iya, habis enak banget nih masakan Bu Marni," puji Cha sambil menjilati tangannya.
Zain yang melihat aksi Cha menjilati tangannya, darahnya langsung berdesir. Seperti ada gejolak yang membuat hasratnya terpancing. Namun Zain sadar, karena waktunya tidaklah tepat. Diapun berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak melihat aksi Cha seperti itu.
"Sayang, ayo kita duduk, tidak baik makan sambil berdiri," Zain sengaja menegur Cha agar menghentikan aktivitas menjilatnya.
"Oh iya, hampir lupa. Karena keenakan mencicipi masakan Bu Marni, jadi lupa deh untuk duduk," ucap Cha malu-malu.
Kemudian dari arah samping datang Dewi dan Ibunya beserta Pita. Mereka menghampiri Cha dan Zain.
__ADS_1
"Wah Cha dah duluan aja nih nangkring disini," ucap Dewi sambil senyum-senyum.
"Hahaha, dah kelaparan gw Wi. Masakan Bu Marni mantep banget Lo Wi, cobain deh," Cha menyodorkan makanan yang dicicipinya tadi.
"Mana sini gw cicipin," Dewi mengambil makanan itu dari tangan Cha.
Dia pun mulai mencoba memakan masakan Bu Marni. Dia mulai memasukkan makanan itu kedalam mulutnya. Dan seketika wajah Dewi berubah.
"Waowww Cha, ini benar-benar lezat. Pantes aja lo betah disini, gak ngajak-ngajak gw buat mencicipinya. Rupanya lagi menikmati ini toh," sindir Dewi tapi dengan wajah sumringah karena keenakan memakan masakan Bu Marni.
"Ah Lo gitu banget. Nih gw baik hati ninggalinnya buat Lo," balas Cha tak mau kalah.
"Ya sudah kita makan sekarang aja ya, nak Zain maafin sikap Dewi dan Cha ya. Mereka ini memang suka sekali seperti ini. Mereka sudah seperti saudara Ibu lihat," ucap Ibunya Dewi.
"Iya Bu tidak apa-apa, saya senang kalau Cha memiliki sahabat yang sangat baik dan menjadi saudara bagi Cha."
"Kak Cha, kenapa masnya ini ngikutin kakak melulu. Benaran ya masnya kekasih Mbak Cha!" tiba-tiba Pita nimbrung dalam obrolan mereka.
Semua yang ada disitu terperangah menahan senyum.Sunghuh polos anak kecil yang mengungkapkan isi hatinya dihadapan semua orang dewasa dimeja makan.
"Eh adik manis, pinter banget..., mas bukan hanya sekedar kekasihnya Mbak Cha, tapi calon suaminya Mbak Cha. Do'ain ya adik manis, biar Mbak Cha cepat lulus kuliah dan menikah dengan mas yang ganteng ini," ucap Zain dengan penuh percaya diri membalas ucapan anak kecil.
Cha yang mendengar pengakuan Zain terhadap anak kecil, merasa malu. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menjadi gatal.
"Udah Pita, ayo makan. Sini Ibu ambil nasinya sama lauknya," Ibunya Dewi mengalihkan Pita untuk mengetahui tentang Cha dan Zain.
"Pita, kamu juga harus do'akan Mbak dong, biar cepat dapat jodoh kayak Mbak Cha. Ya kan Bu...!" sambung Dewi.
"Iya Wi, udah yuk kita makan, kasihan Cha sama Zain diganggu terus," bela Ibunya Dewi.
Cha melirik kearah Dewi dan mengejeknya dengan memeletkan lidahnya keluar. Dewi pun membalas ejekan Cha. Akhirnya mereka sama-sama tertawa. Hingga yang lainnya menatap kearah mereka berdua.
"Ibu duluan ya sama Pita. Karena besok Pita harus sekolah. Oh ya tadi kata Dewi, kalian mau keluar untuk menghadiri acara ulang tahun teman kampus ya?" tanya Ibunya Dewi kepada Cha.
Cha menoleh kearah Dewi dan menatap ke Ibunya Dewi.
"Iya Bu, nanti jam 20.00 an kamu berangkat. Kalau Ibu mau istirahat, silahkan. Biar Bu Marni saja yang akan menguncikan pintu rumah," ucap Cha.
"Ya sudah, kalian hati-hati kalau diluar, karena sudah malam ya," pesan Ibunya Dewi. Lalu Ibunya dan Pita beranjak dari meja makan. Mereka kembali ke dalam kamar untuk melakukan aktivitas yaitu mengajarinya Pita belajar.
"Zain, apa benar malam ini Mbak Ani ada disana? Aku benar-benar penasaran Zain!" tanya Cha.
"Iya Cha, gw juga penasaran banget. Tapi apa kita aman ya masuk kesana?" Dewi juga ikut bertanya.
"Semua sudah diatur Cha. Aku harap kalian tidak membuat onar disana. Cukup diam memperhatikan saja. Dan kalian juga akan mendengar hal yang lebih mengejutkan," ungkap Zain sambil tersenyum devil.
" Apa itu Zain yang mengejutkan. Apa ada rahasia lain yang kamu ketahui, namun kami tidak ketahui?" tanya Cha curiga.
"Hahaha, kamu ini gak sabaran banget. Lihat saja nanti. Gimana apa sekarang kita bergerak kesana?" tanya Zain yang ingin mengajak mereka ke club'.
"Gimana Wi?" Cha malah bertanya sama Dewi.
Dewi mengangkat kedua bahunya, mberi isyarat dengan mengatakan, "Terserah, gw ngikut aja,"
Lalu Zain berdiri dari kursinya dan menjauh dari mereka berdua. Lalu dia menghubungi seseorang yang sudah standby disana.
"Hallo Tuan, semua sudah siap," info orang yang ada di club'.
__ADS_1
"Baik, pantau dan lakukan sesuai perintah saya," ucap Zain dengan tegas.
"Siap Tuan, laksanakan!"
Lalu Zain kembali kemeja makan dan tersenyum kearah Cha.
"Ayo kita berangkat. Persiapkan diri kalian," ucap Zain.
Cha dan Dewi saling berpandangan, mereka terdiam sesaat untuk memantapkan hati mereka pergi ke club' malam.
"Ayo tunggu apa lagi!" seru Zain yang membuyarkan kebengongan mereka.
Cha dan Dewi tersadar dari kebengongan mereka.
"Eh iya, ayo Wi kita siap-siap biar berangkat," ajak Cha.
"Ayo Cha."
Akhirnya Cha dan Dewi bersiap-siap didalam kamar mereka. Sedangkan Zain menunggu diruang tamu.
Setelah selesai mereka keluar dan menemui Zain yang menunggu.
"Ayo Zain kita pergi," Cha berdiri dihadapan Zain dengan menggunakan pakaian yang sangat pas ditubuhnya.
Dewi pun berdehem, "Ekhem ekhem...!" Masih ada gw Cha disini. Ayo kita berangkat," Dewi gak mau jadi penonton setia terhadap kedua sejoli dihadapannya.
Mereka keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil. Dewi duduk didepan, sedangkan Zain dan Cha duduk dibelakang. Saat mereka didalam mobil, Zain memberikan mereka rambut palsu untuk digunakan sebagai penyamaran saat berada didalam club'.
"Apa ini Zain?" tanya Cha sambil melihat-lihat rambut palsu itu.
"Hahaha, Cha, kita harus menggunakan rambut orang, iyuhhhh geli banget gw lihatnya," celetuk Dewi saat menerima rambut palsu itu.
"Iya nih rambut siapa sih ini. Masa gw pakai rambut keriting sih Zain! Jelek banget," gerutu Cha.
"Biarin, biar gak ada orang yang tertarik sama kamu," ucap Zain nyantai.
Dewi sudah memakai rambut palsunya dan ketawa-ketawa kencang melihat penampilannya dikaca yang dibawanya.
"Hahaha, lucu banget gw kayak gini Cha, gimana penampilan gw? Apa Lo masih mengenali gw?" tanya Dewi senyum-senyum geli.
"Wah Lo berubah banget Wi. Suer gw gak kenal dengan Lo kalau penampilan seperti ini," puji Cha.
"Lo cobain tuh rambut palsunya biar gw lihat perubahan Lo," suruh Dewi.
Lalu Cha memakai rambut palsunya dan memperlihatkan penampilan barunya dengan rambut palsu.
"Gimana Wi, udah berubah gak penampilan gw?" tanya Cha.
"Hahahaha, cucok meong penampilan Lo. Rambut keriting dengan tahi lalat palsu di pipi, keren. Lo benar-benar berubah...!" seru Dewi sambil terkekeh.
Akhirnya waktu dalam perjalanan tak terasa dengan kekonyolan mereka berdua. Mobil sampai di Club' itu.
"Gimana udah siap kan?" tanya Zain.
"Ya disiap-siapin Zain. Mau gak mau harus mencobanya. Tapi jangan lepaskan pegangan tanganku nanti dan jangan meninggalkan kami sendiri didalam," ucap Cha mengingatkan Zain.
"Pasti sayangku," Zain mengecup pipi Cha dengan lembut.
__ADS_1
Zain menghubungi seseorang dan mengatakan bahwa mereka sudah sampai di depan club'.
Lalu mereka berempat turun dari mobil. Mereka masuk kedalam tanpa hambatan.