Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kejutan saat pulang ke Paris


__ADS_3

Zain masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Cha. Hari ini dia merasa bahagia yang sangat luar biasa. Betapa tidak, akhirnya penantiannya selesai sudah terjawab, Cha menerima cintanya. Cinta yang bertahun-tahun harus dirasakannya sendiri.


"Zain, aku juga berjanji tidak akan mengkhianati hati ini yang hanya terpatri namamu mulai saat ini sampai selamanya. Hanya kamu yang ada disini," ucap Cha sambil menunjukkan dadanya.


Zain mengangguk merasa bahagia dengan ucapan Cha. Tak terasa dia sampai meneteskan air mata disudut matanya. Zain buru-buru menyekanya agar Cha tak melihat sisi melankolisnya sebagai laki-laki.


"Ayo kita kembali ke Paris. Dan kita akan ke Indonesia menemui orang tuamu. Aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan Mama dan Papa. Pasti mereka sangat senang memiliki menantu sepertimu sayang. Karena mereka sudah sangat menyayangimu," tutur Zain yang tak lepas-lepasnya tersenyum.


"Aku malu Zain jika kamu mengatakannya dengan mereka," Cha menundukkan wajahnya.


"Kenapa harus malu sayang?" tanya Zain.


"Dan aku juga takut mereka berpikir lain. Aku menerimamu setelah berakhir dari dia. Apa kata orang tuamu nanti Zain?" Cha merasa tak nyaman.


Zain mengambil tangan Cha dan menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.


"Mereka tidak seperti itu sayang, percayalah. Justru mereka sangat menantikan moment ini untuk mereka dengar. Dan kamu tau Cha, mereka menyuruhku untuk memperjuangkanmu," ucap Zian jujur dengan mata berbinar.


"Kamu dan keluargamu sangat baik Zain, aku menyayangimu Zain," Cha memeluk Zain dengan erat sambil meluncurkan air matanya. Dia bahagia karena keputusannya.


Zain membalas pelukan Cha dengan rasa sayang dan cintanya.


"Ayo kita beritahukan khabar ini ke mereka. Pasti Oma dan Mama serta Papa sangat bahagia," Zain mengajak Cha menemui keluarganya.


"Iya Zain.


Zain menggenggam tangan Cha, mereka berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju kamar orang tuanya.


Zain mengetuk pintu kamarnya saat sudah sampai di depannya.


Sesaat menunggu, pintu kamar terbuka dan terlihat sosok wanita tua yaitu Oma.


"Oma.....!" Zain memeluk Omanya dan ingin membagikan kebahagiaan dengannya.


"Hei Zain...ada apa? Kenapa seperti anak kecil yang ingin dimanja?" tanya Omanya bingung dengan sikap Zain yang tiba-tiba seperti ini.


"Ayo Oma kita masuk, Zain ingin berbagi sesuatu," Zain mengajak Omanya ke dalam.


Cha pun ikut masuk ke dalam mengikuti langkah Zain.


"Siti lihat anakmu ini. Kenapa hari ini sikapnya aneh?" tanya Oma kepada menantunya


Mamanya Zain melihat keceriaan diwajah putranya. Lalu menatap kearah suaminya dengan menaikkan alis penuh tanda tanya.


"Zain kenapa wajahmu seperti itu? Lihat Mama melihatmu kebingungan. Apa kau salah makan sesuatu?" tanya Papanya yang ikut mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Hahahaha, Papa dan Mama akan merasa bahagia ketika mendengarnya," Zain tertawa bahagia.


"Ada apa? Katakan sekarang, dan jangan buat kami penuh tanda tanya!" ucap Papanya.


"Pa, Ma, Oma, Zain hari ini merasa bahagia. Bahagia karena Cha sudah menerima cinta Zain dan meminta Zain menemui orang tuanya secepatnya!" seru Zain antusias.


"Oh Allah Zain....benarkah itu..?" Mamanya gak percaya sampai menutup mulutnya lalu menoleh ke arah Cha.


"Sayang, apakah pendengaran Oma masih berfungsi?" Omanya juga tak percaya mendengarnya.


"Iya Ma, Oma, kalian tidak salah mendengarnya. Ini kenyataannya! Cha menerima Zain dan mau hidup bersama Zain!" balas Zain bahagia.


Mamanya datang menghampiri Zain dan memeluk anaknya dengan air mata. Lalu menatap mata anaknya dengan memegang wajah Zain.


"Sayang, akhirnya kau berhasil memenangkan hatinya. Segera bawa dia ke dalam keluarga kita, Mama ingin segera menimang cucu," ucap Mamanya sambil menggoda Zain.


Lalu Omanya menghampiri Cha dan memeluk Cha dengan kasih sayang.


"Apakah benar yang dikatakan Zain, sayang?" tanya Omanya yang ingin memastikannya langsung dari Cha.


"Iya Oma," jawab Cha malu-malu.


"Oh sayang...., Oma benar-benar bahagia sekali hari ini. Ayo kita kembali ke Paris dan merayakan kebahagiaan ini."


Mama dan Papa nya Zain juga ikut merasa bahagia. Akhirnya penantian anaknya tak sia-sia. Mereka memutuskan untuk kembali ke Paris.


"Iya Tante," jawab Cha.


"Jangan panggil Tante lagi. Mulai sekarang panggil Mama, kamu menantu Mama sekarang," Mamanya Zain tak henti-hentinya mengulas senyumnya karena kebahagiaan Zain.


"Ah saya belom terbiasa Tante," balas Cha yang merasa canggung.


"Mulai sekarang biasakanlah memanggil Mama dan Papa terhadap kami, ya," pinta Mamanya Zain dengan tersenyum hangat.


Cha mengangguk pasrah dan melirik kearah Zain.


"Kalau gitu, kami bersiap-siap dulu ya Mom. Zain akan ke kamar bersama Cha."


"Iya sayang, pergilah."


"Tan, eh Ma..Mama, kami balik ke kamar dulu," ucap Cha yang berpamitan.


"Iya sayang," balas Mamanya Zain.


Cha dan Zain pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamar mereka. Zain. terus menatap kesamping melihat wajah Cha yang bisa membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


"Jangan melihatku seperti itu Zain, kau membuatku malu," ucap Cha tersipu malu.


"Hahaha, kenapa harus malu Cha. Aku bahkan sudah pernah melihatmu dan merasakannya," balas Zain secara fulgar.


"Dasar kamu itu, gak pernah berubah untuk berkata mesum," sarkas Cha.


"Tapi kamu suka kan sayang...! Buktinya sekarang kamu menerima cintaku," Zain gak mau kalah.


"Kau sangat gigih memperjuangkanku, tidak ada alasan buatku menolaknya. Terima kasih atas cinta tulusmu Zain," ucap Cha secara tulus.


"Jangan berterima kasih untuk itu sayang, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun," balas Zain.


Mereka kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Zain terus tersenyum karena bahagia. Ingin rasanya dia segera menikahi Cha dan hidup bersamanya di Paris. Dan dia harus bersiap untuk menemui orang tua Cha di Indonesia. Zain sangat bersemangat untuk melakukannya.


"Sayang, semua sudah dibereskan?" tanya Zain saat keluar dari kamar mandi.


Cha melihat Zain keluar dari kamar mandi yang masih mengembangkan senyumannya. Cha hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zain yang bucin terhadapnya.


"Udah Zain, nih udah beres semuanya. Sekarang kamu bisa khabari Mama dan Papa, kalau kita sudah siap," ucap Cha.


"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi Mama dan Papa." balas Zain yang segera menghubungi Mamanya.


Tak berselang lama, pintu kamar diketuk dari luar. Zain dan Cha mengira itu adalah orang tua Zain. Sehingga Cha yang membukakan pintunya.


"Itu pasti mereka, aku akan membukakan pintunya dulu," ucap Zain.


"Biar aku saja Zain yang membukanya," Cha berjalan kearah pintu dan segera membuka pintunya.


Saat pintu terbuka, Cha terkejut dan diam mematung melihat kehadiran seseorang yang berdiri dihadapannya. Cha tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Siapa sayang? Kenapa Mama dan Papa gak masuk!" teriak Zain yang posisinya berada di kamar mandi mengambil bajunya yang tertinggal.


Tidak ada jawaban dari Cha karena dia terpaku menatap sosok yang sudah memberikan rasa sakit dihatinya.


Zain merasa heran dengan keadaan diluar kamar mandi. Dia bingung kenapa Cha tidak menyahutnya. Lalu dia keluar dari dalam kamar mandi dan menyamperin Cha ke depan pintu.


"Loh mana Mama dan Papa, kenapa gak masuk ke dalam?" tanya Zain bingung.


Namun lagi-lagi Cha tetap diam, berdiri mematung didepan pintu.


"Siapa sayang, kenapa kamu diam aja?" tanya Zain yang datang menghampiri Cha di depan pintu.


Lalu Zain melihat siapa yang dilihat Cha di depan pintu sehingga membuat Cha tak menjawab pertanyaannya.


Saat Zain berada disamping Cha, dia melihat seseorang yang berdiri di depan pintu. Sosok yang ditakuti Zain akan masuk kembali dalam kehidupan Cha. Zain berusaha tidak memperlihatkan amarahnya dihadapan Cha. Lalu dia memeluk pinggang Cha dengan erat dihadapan orang itu. Sehingga membuat orang tersebut dibakar api cemburu yang sangat dahsyat.

__ADS_1


Zain bisa melihat kilatan amarah dimata orang itu, dan Zain merasa puas karena Cha tak melepaskan tangannya dari pinggangnya. Zain terus menyunggingkan senyumnya dihadapan orang itu.


Cha berusaha tenang dan tersenyum melihat seseorang yang berdiri dihadapannya.


__ADS_2