
Suasana di ruang makan itu menjadi meriah karena kedatangan Binyu yang memang sudah sangat mengenal keluarga Zain. Cha sangat terhibur dengan keluarga yang harmonis.
"Hahaha, Zain lihatlah bagaimana Mamamu membela anaknya yang sudah mendapatkan Cha. Sungguh menyedihkan diriku tidak ada yang mendukung," sedih Binyu yang berpura-pura.
"Ah kamu Binyu, tidak pernah berubah, selalu meminta Tante untuk mendukungmu. Kalian itu sudah sahabatan dari dulu, jadi bagi Tante sama saja, kamu juga tampan seperti Zain," balas Mamanya Zain.
"Tante emang sangat mengerti keadaanku. Aku suka dengan sikap Tante," puji Binyu.
"Udah, Lo gak usah banyak drama Bin. Jangan coba-coba merayu Mama gw," ketus Zain.
Binyu tidak tersinggung dengan perkataan Zain. Dia sudah terbiasa dengan sikap Zain yang arogan. Hanya terhadap Cha saja dia seperti seekor kelinci yang manis, penurut dan melankolis.
"Hehehe, ah Lo Zain. Biarkan gw sedikit saja mencuri perhatian Tante. Om saja gak marah kalau Tante perhatian sama gw," ucap Binyu dengan percaya dirinya.
"Binyu, kamu itu sudah kami anggap seperti anak kami juga. Jadi Om akan selalu mendukung kalian berdua," sambung Papanya Zain.
"Terima kasih Om, atas dukungannya," balas Binyu sambil menatap sinis kearah Zain.
Zain memplototin Binyu dengan kejamnya tanpa ekspresi sedikitpun.
"Kalau sudah selesai, ayo kita berangkat," ucap Zain dengan angkuhnya.
"Zain, Oma pasti merindukan Cha. Kamu harus membawanya lagi kemari. Atau Oma yang akan datang ke Indonesia," ucap Omanya yang menyela obrolan mereka.
"Pasti Oma, Zain akan membawa Cha lagi kesini untuk bertemu Oma," balas Zain sambil menatap Cha.
"Oma jangan buat Cha berat meninggalkan kalian. Walaupun Cha bukan anak kandung Tante dan Om, tapi Cha merasa disini mendapatkan kasih sayang yang tulus," ucap Cha dengan wajah yang sedih.
"Oh sayang...jangan bersedih. Oma pasti menunggu disini. Oma sangat menyayangimu."
Cha memeluk Omanya dengan rasa haru. Dia merasa diistimewakan dikeluarga Zain.
Mama dan Papanya Zain juga ikut terharu bercampur bahagia karena mendapatkan menantu yang baik dan rendah hati.
__ADS_1
Zain pun tersenyum puas karena pilihannya yang tepat. Pertemuan yang buruk menghasilkan cinta diantara keduanya.
Sedangkan Binyu hanya bisa menelan kesedihannya dihadapan mereka. Bagaimanapun, rasa cinta yang tumbuh dihatinya tidak bisa dibuang begitu saja. Penyesalan atas perbuatannya tidak bisa dikembalikan lagi. Cha sudah menjadi milik sahabatnya yaitu Zain. Dia harus merelakan cintanya, asal Cha bisa bahagia.
"Ayo Binyu kita berangkat," ajak Zain.
"Pa, Ma, Oma, kami berangkat dulu ke kantor. Nanti habis dari kantor, baru kami kembali ke Indonesia," ucap Zain.
"Loh, gw kenapa harus ikut Lo ke kantor Zain...? Gw disini aja, mau nemani Cha dan Oma. Lo aja yang sendirian ke kantor," celetuk Binyu yang tak mau diajak ke Perusahaan Zain.
"Ngapain Lo disini nemani mereka? Lo mau coba-coba mendekati Cha lagi?" sarkas Zain.
"Oh ya ampuuun Zain..., pikiran Lo itu aneh sekali. Gw gak mungkin melakukannya!" kesal Binyu.
"Zain, jangan berlebihan. Biarkan Binyu disini. Oma juga mau ngobrol sama dia. Kenapa kamu memaksanya. Kamu pergilah ke kantor sama Papamu," perintah Omanya.
Zain akhirnya pasrah karena Omanya yang meminta. Tatapan yang tajam seperti pisau yang menancap di jantung Binyu, membuatnya Binyu sedikit tak nyaman. Zain terus menatap Binyu dengan rasa tak suka.
"Baiklah Oma, ini Zain lakukan karena permintaan Oma. Kalau tidak, sudah Zain kirim dia ke dasar laut yang paling dalam, supaya tidak me dekati Cha," ucap Zain yang mulai tumbuh sikap posesifnya.
Zain semakin kesal dengan kejahilan Binyu terhadapnya hingga akhirnya dia memutuskan meninggalkan meja makan dengan membawa kekesalannya ke kantor.
"Ma, Pa, Oma, Zain berangkat dulu. Zain titip Cha, jangan sampai si kumpret ini mendekati calon istri Zain," ucap Zain yang langsung berdiri dari kursinya.
"Iya sayang, Mama dan Oma mu pasti menjaga Cha dari Binyu. Kalau perlu Mama Kuring Cha dikamar biar gak ketemu Binyu," balas Mamanya geli melihat tingkah anaknya yang sangat posesif itu.
"Terima kasih Mom, Mama sangat mengerti Zain. Zain sayang Mama," manja Zain.
"Mama pasti mendukungmu selalu sayang. Itu pasti Mama lakukan."
Lalu Zain berpamitan sama Mamanya dan Omanya serta Papanya Zain sambil mencium punggung tangan bertiga.
Zain melangkah pergi meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobilnya menuju kantornya.
__ADS_1
Sedangkan di meja makan, mereka semua tertawa terbahak-bahak karena melihat Zain yang arogan.
"Binyu, gimana khabar Papa kamu di sana?" tanya Papanya Zain.
"Oh, Papa baik-baik saja Om. Beliau titip salam. Dan Om diminta untuk main ke Indonesia. Katanya, Papa sudah kangen sama Om buat nemani main catur," ucap Zain yang semangat.
"Hahaha, Papamu itu selalu ngajak Om main catur. Kalau dia kalah, dia pasti mencari alasan agar tidak dihukum sama Om," ucap Papanya Zain yang membocorkan rahasia mereka.
"Hehehe, Papa pasti takut kalau mendapatkan hukuman dari Om. Karena hukuman Om pasti mengerikan," balas Binyu masem.
"Iya, Om mu suka kasih hukuman yang mengerikan. Harus menemaninya bermain catur sampai dia puas. Bagaimana Papamu tidak takut Bin!" seru Mamanya Zain.
"Louis memang pinter memberi hukuman terhadap lawannya, Hingga lawannya merasa lelah karena harus menemaninya bermain catur," sambung Omanya.
"Ya sudah, kalian lanjut. Oma mau kembali ke kamar dulu. Cha temani Binyu sampai Zain kembali," perintah Omanya.
"Iya Oma, Binyu dengan senang hati akan menjalani perintah Oma," Binyu menjawabnya dengan cepat sebelum Cha yang menjawab.
Lalu Oma pergi meninggalkan mereka dan kembali ke kamarnya.
"Om dan Tante juga mau kembali ke kamar dulu. Kalian berdua lanjut aja ngobrolnya. Ayo Pa," ajak Mamanya Zain yang sengaja meninggalkan Cha bersama Binyu.
Mamanya Zain ingin mengetahui benar tidaknya bahwa mereka pernah menjalin kasih. Sehingga dia memberikan kesempatan untuk Binyu dan Cha ngobrol berdua. Dia juga ingin melihat kesetiaan Cha sebagai kekasih, dan kesetiaan Binyu sebagai sahabatnya Zain.
Lalu Mama dan Papanya Zain juga meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamar mereka.
Saat ini tinggallah Cha dan Binyu. Keduanya menjadi salah tingkah dan canggung. Namun Cha maupun Binyu berusaha bersikap biasa aja.
"Cha, aku sudah mendengar tentang Yoga si laki-laki ingusan itu. Dari dulu aku juga tidak menyukainya. Dan akhirnya sekarang terbukti kalau dia tidak bisa menjaga cintamu. Maaf kalau aku sedikit emosi mengutarakannya," ucap Binyu jujur.
"Gak apa-apa Bin, aku sudah melupakannya. Itu adalah masa lalu yang harus di ikhlaskan. Dan sekarang masa depanku adalah bersama Zain," balas Cha tegas tanpa ada rasa terluka lagi.
"Syukurlah Cha, kamu sudah menemukan orang yang pas untuk kebahagiaan mu. Aku hanya bisa berdoa untuk kalian berdua," Binyu menatap Cha dengan lekat. Rasanya dia ingin sekali memeluk Cha saat ini juga, namun itu tidaklah mungkin, Cha sudah menjadi milik sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu kapan Bin menikah? Kenapa tidak mencari kekasih lagi?" tanya Cha polos.
"Ah tidak Cha. Aku belom bisa melupakanmu. Belom ada yang bisa menggantikanmu dihatiku. Maaf Cha kalau aku harus jujur dengan perasaanku. Tapi inilah kenyataannya. Penyesalan tidak ada artinya karena kamu sudah menjadi milik sahabatku. Aku bahagia, kalau kamu bahagia Cha." Binyu tersenyum getir memandang Cha.