
"Hehehe suka ya dengan ukirannya," goda Shanti.
"Iya, Shan. Nanti kalau gw punya rumah nih, gw pengen pintunya berukiran kayu jati begini, kan cakep tuh," ucap Cha.
"Mantep," sahut Shanti.
"Ma, Shanti mau bilang kalau malam ini sama besok Shanti nemani Cha tidur di Hotel. Karena Cha ini baru datang dari Medan. Dan disini dia mau kuliah dan belom dapet kost-kostan," jelas Shanti panjang kali lebar.
"Lah kenapa ndak tinggal di rumah kita aja nak, kan biar ada teman kamu disini," saran mama Shanti.
"Iya tadi Shanti juga udah sarani begitu ma, tapi Cha masih mikir dulu katanya," jawab Shanti.
"Oh.., ya ora masalah. Sampeyan kudu ngomong karo kakakne dhisik," ucap mamanya. ( Ya gak apa-apa, memang harus dibicarakan dulu sama kakaknya).
Shanti melihat Cha dan Ina silih berganti, meminta kejelasan dari mereka.
"Iya Bu, nanti kami bicarakan dulu. Dan saya juga harus sampaikan ke orang tua di Medan. Kalau mama setuju, saya akan sampaikan ke Shanti," jelas Ina kepada orang tua Shanti.
"Jadi piye sekarang. Apa kalian ndak makan malam dulu disini. Biar ibu siapkan. Setelah itu baru kalian berangkat ke Hotel, piye nak?" tanya mamanya kepada mereka bertiga.
"Gak usah repot-repot Bu. Kami langsung aja ke Hotel, karena ada yang mau di urus lagi," sahut Ina langsung.
"Oh ya sudah, ndak apa-apa. Kamu Ndak mandi dulu nak?" tanya mama nya kepada Shanti.
"Eh iya, kak, Cha gw mandi dulu ya, udah gerah banget nih," ucap Shanti sambil berlalu dari hadapan mereka.
"Oh ya nak Cha ini yang dulu teman Shanti waktu di Medan kan? Yang rumahnya dekat dengan rumah Shanti?" tanya mama Shanti yang melihat kearah Cha.
"Iya Bu, Shanti itu sahabat dekat saya di Medan. Dia teman terbaik saya Bu di rumah maupun di sekolah. Dan dia anak yang sangat baik," ucap Cha yang memuji sahabatnya.
"Iya Shanti tuh sering cerita sama Ibu. Apalagi waktu kemaren kami pindah ke Jogja karena bapaknya Shanti pindah tugas. Jadi kami sekeluarga harus ikut ke Jogja. Nah Shanti tuh kemaren sedih...banget. Sampai di Jogja juga dia murung karena berpisah dari nak Daecha," ucap mama nya Shanti di depan kakaknya Cha.
Cha diam saja tidak berbicara, tapi berusaha tersenyum. Dia melirik ke arah Ina. Dia tau Ina pasti sudah banyak mengetahui tentang Shanti dari mama mereka. Sepertinya Ina kurang menyukai jika Cha memiliki sahabat baik. Karena Ina tidak memilikinya dari dulu.
"Wah lucu juga ya Bu, Shanti nya sampai murung gitu. Seperti orang kehilangan kekasih aja," guyon Cha yang sengaja memecahkan rasa ketidaknyamanan dari kakaknya Ina.
"Iya nak, dia sayang banget sama nak Daecha. Dia sudah nganggap nak Cha seperti saudara kandungnya sendiri," ucap mama Shanti sambil tersenyum.
Cha juga tersenyum menanggapi ucapan mamanya Shanti. Dia sengaja tidak mau membahas tentang Shanti dan dirinya. Cha sudah melihat gelagat yang tidak enak di wajah Ina. Wajah yang menunjukkan ketidak sukaan terhadap cerita mamanya Shanti.
Disamping ketidak nyamanan yang dirasakan Cha, tiba-tiba Shanti muncul dengan pakaian yang sudah berbeda.
"Hahhh, syukurlah Shanti datang," bathin Cha sambil menghembuskan nafasnya merasa lega.
"Udah yuk, gw dah bawa beberapa baju nih buat nginep disana," kata Shanti yang menunjukkan tas ranselnya yang berisi beberapa helai pakaian.
"Walah nak, kayak mau kemping aja bawa pakaian banyak gitu. Yen klambimu entek, kowe bisa mulih dhisik toh," kata mamanya yang geleng-geleng kepala lihat isi tas ransel Shanti.
(Kalau pakaianmu habis kan bisa pulang dulu ke rumah).
"Hehehe," Shanti hanya bisa cengengesan nanggepin ucapan mamanya.
"Ya sudah kita berangkat sekarang aja ya," ajak Ina kepada mereka berdua.
"Iya, kami pamit dulu ya Bu, nanti kami main lagi kesini," kata Cha berpamitan.
"Bu, aq pergi dulu ya, jangan sedih ya kalau aq ndak dirumah, hehehe," goda Shanti kepada ibu nya.
"Assalamu'alaikum Bu, eyang..," ucap mereka bertiga
Shanti menyalami mamanya dan eyangnya. Disusul dengan Cha dan Ina juga menyalami mamanya Shanti dan eyangnya.
Mereka bertiga keluar dari rumah Shanti. Shanti menggunakan motornya, sedangkan Cha bareng Ina kakaknya.
Sebelum mereka berangkat, Shanti ingin mengajak Cha dan kakaknya makan di makanan Thailand yaitu di Phuket Resto yang sangat enak makanannya.
Cha melihat kearah Ina kakaknya meminta pendapatnya.
"Boleh juga tuh dicoba," kata Ina setuju.
"Iya, gw juga pengen coba Shan," sambung Cha yang duduk dibelakang Ina.
__ADS_1
Mereka bertiga bergegas meninggalkan rumah Shanti menuju Phuket Resto. Sepanjang perjalanan, Cha dan Ina ngobrol masalah tempat tinggal Cha nantinya.
"Kak, gimana tawaran dari mamanya Shanti, menurut kakak, mama bakalan ngasih gak ya?" tanya Cha penuh harap.
"Ya gak tau, emang kakak ini mama yang bisa langsung ngasih keputusan," ketus Ina yang fokus melajukan motornya.
"Ya kakak bantu dong bujuk mama biar ngijini aq tinggal tempat Shanti. Lagian biar aq juga ada temannya disini," bujuk Cha agar Ina mau mendukungnya.
"Lihat nanti deh," sahut Ina dengan cuek.
Setelah dapat respon seperti itu dari Ina, Cha pun memilih diam. Dia tidak mau membahasnya lagi.
"Ya lihat nanti aja, biar mereka aja yang memutuskannya, gw mah apa," bathin Cha.
Hingga beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Shanti turun dari motor dan di ikuti oleh Ina dan Cha.
"Ayok kak, kita masuk," ajak Shanti yang berjalan di depan.
Cha dan Ina berjalan di belakang Shanti. Mereka mengikuti Shanti masuk ke dalam Resto tersebut.
Saat mereka berada di dalam, mereka di sambut dengan pelayannya.
"Silahkan mbak," ucap pelayan tersebut.
Shanti memandang sekeliling dan mencari tempat yang pas buat mereka makan nyantai. Setelah puas melihat, akhirnya ketemu juga tempat yang pas.
Shanti mengajak mereka berdua ke arah bagian dalam Resto.
"Yuk kak, Cha, kita duduk disebelah situ," tunjuk Shanti ke meja bagian dalam Resto.
Shanti dan kedua kakak beradik berjalan ke arah meja tersebut.
"Shan, tempatnya rame juga ya," kata Cha sambil melihat ke sekeliling nya.
"Iya, disini emang rame terus Cha. Makanan kan enak, makanya rame. Banyak mahasiswa yang makan disini," kata Shanti kepada Cha.
Pelayan pun datang menyamperin mereka dan memberikan buku menu nya.
"Baik mbak," jawab Ina bareng Shanti.
Mereka melihat-lihat menu makanan yang ada di buku menu.
"Wah bingung gw Shan, mau makan apa ya," Cha kebingungan memilih makanan, karena semua makanannya kelihatan enak.
"Nih coba Nasi Goreng Pattaya(nanas), enak loh," saran Shanti.
"Boleh lah yang itu aja," jawab Cha.
"Kak Ina mau pesan apa nih?" tanya Shanti.
"Kalau kakak pesan yang ini aja Shan, Ayam daun pandan sama minumnya Es sup buah ala Thai," kata Ina menunjukkan menu pilihannya.
Shanti pun memanggil pelayan yang tadi mengantar buku menu.
"Mbaknya mau pesan apa ya?" tanya pelayan tersebut.
"Mbak saya mau pesan, ayam daun pandan satu, es sup buah ala thai satu, nasi goreng pattaya satu, sup tom yam seafood dan puding mangga ala thai dua dan ice tea dua," kata Shanti.
Pelayan kemudian mengucapkan kembali pesanan mereka dan beranjak dari sana.
Lagi-lagi Cha merasa senang, karena menikmati salah satu kuliner yang enak di Jogja. Mereka ngobrol bertiga sambil menunggu makanan mereka datang. Hingga beberapa menit kemudian pesanan mereka pun datang. Pelayan membawa makanan dan minuman yang di pesan.
"Waowww.., mantep banget nih Shan," Cha melongo melihat makanan yang dipesan.
Begitu juga dengan Ina. Dia benar-benar udah gak sabar pengen menikmati makanan yang dihidangkan.
Pelayan meletakkan semua makanan diatas meja. Setelah itu pelayan tersebut berkata, "Silahkan dinikmati, kalau mau pesan lagi bisa panggil saya ya mbak," kata pelayan tersebut dengan senyum ramahnya.
"Biak mbak" jawab Shanti dan Ina bersamaan.
Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan mereka. Setelah kepergian si pelayan, mereka mulai menyantap makanannya.
__ADS_1
"Eum uuenak buuanget," ucap Cha dengan mulut kepenuhan.
"Awas Cha nanti keselek loh," protes Shanti yang melihat Cha yang makan dengan penuh didalam mulut nya.
"Iya nih anak, habisin dulu tuh di dalam mulut baru deh ngomong," ketus Ina.
Cha tidak perduli dengan protes kedua nya. Dia terus berceloteh sambil mengunyah. Baginya makanan nya sungguh nikmat.
Shanti hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat tersayang nya itu. Shanti merasa senang bisa jalan bareng lagi dengan Cha. Tapi kali ini mereka tidak bisa bebas bercerita karena ada kakaknya Cha. Jadi mereka hanya ngobrol biasa saja. Padahal Shanti ingin sekali bertanya tentang Cha kemaren di Medan. Tapi karena ada Ina, dia pun sekedarnya saja bercerita.
"Cha, gimana dengan teman-teman kita disana?" tanya Shanti penasaran.
Cha langsung terdiam, bingung mau ngomong bagaimana sama Shanti. Dia melirik ke arah Ina. Ternyata Ina juga melihat ke arah Cha. Ina menunggu jawaban dari pertanyaan Shanti.
"Mereka baik-baik aja kok Shan. Tapi mereka tidak tau kalau gw bakalan kuliah di Jogja," jawab Cha dengan santai.
"Loh kenapa Lo gak ngasih tau mereka Cha?" tanya Shanti lagi.
"Ya gw pengennya kasih kejutan aja buat mereka, bohong Cha. Karena dia gak mau Ina mengetahui tentang kehidupannya di Medan.
"Hahaha, aneh Lo," celetuk Shanti.
"Yeeeeee, biarin. Aneh-aneh gini, buktinya Lo lengket kayak perangko temanan sama gw hahaha," balas Cha sambil terbahak-bahak.
"Hmmm, pede banget," kesal Shanti tapi sambil tersenyum.
Ina hanya memperhatikan interaksi antara keduanya. Hingga dia memutuskan mau ke toilet sebentar.
"Cha, kakak ke toilet dulu ya," kata Ina.
"Iya kak, perlu ditemani gak kak?"tanya Cha.
"Gak usah, kakak sendirian aja," balas Ina. Kemudian dia meninggalkan keduanya.
Disinilah kesempatan Shanti bertanya tentang Binyu, Yoga dan Bimo.
"Cha, dari tadi gw tuh pengen banyak nanya sama Lo tentang Binyu, Yoga dan Bimo. Tapi karena ada kak Ina, gw jadi menundanya," kata Shanti yang menatap Cha lekat.
"Shan, gw sama Binyu udah lama break. Kalau sama Yoga," Cha menggantung ucapannya tak berani menatap Shanti sahabatnya.
"Sama Yoga, Lo kenapa Cha?" tanya Shanti penasaran.
"Gw sama Yoga udah jadian, sebelum dia berangkat ke Belanda melanjutkan kuliahnya," jelas Cha masih dalam keadaan menunduk.
"Whattttt, Lo dah jadian sama Yoga?" Shanti terkejut dengan info dari Cha. Ada rasa bahagia karena sahabatnya akhirnya jadian, tapi ada rasa sedih karena dia harus bertepuk sebelah tangan. Tapi Shanti berusaha tersenyum mendengar cerita dari Cha.
"Sebenarnya gw juga pengen banyak ngobrol sama Lo Shan, buaaaanyak banget kejadian setelah Lo pergi dari Medan," kata Cha.
"Trus Bimo gimana Cha?" tanya Shanti.
"Bimo katanya kuliah di Jakarta Shan," jawab Cha.
"Oh..., dekat dong dengan kita. Bisa sesekali ketemuan kitanya," kata Shanti penuh harap.
"Iya sih, tapi gak tau juga ya, apa Bimo mau?" tanya Cha.
"Pasti mau lah. Dia kan dekat juga sama kita," ucap Shanti dengan percaya.
"Kalau Yoga sampai saat ini blom ngasih khabar Shan semenjak keberangkatannya," kata Cha dengan wajah sendunya.
"Emang Lo gak coba menghubunginya Cha?" tanya Shanti yang ikutan sedih melihat wajah sendu sahabatnya.
"Udah Shan, tapi no nya sudah tidak aktif lagi. Gw gak tau kenapa dia tidak memberi khabar sampai saat ini juga," pasrah Cha sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Sabar ya Cha. Pasti dia akan kasih khabar ke Lo. Yang penting sekarang Lo kan ada gw, kita bisa menghabiskan waktu buat happy disini," hibur Shanti.
Cha hanya tersenyum mendengar sahabatnya yang mencoba menghiburnya.
"Iya Shan, gw merasa bersyukur bisa ketemu Lo lagi. Rencananya kemaren gw emang pengen nyari Lo di Jogja dan sengaja milih kuliah di sini biar bisa bareng lagi sama Lo," jelas Cha yang memberitahu tentang keinginannya.
"Eh tuh kak Ina dah datang, nanti kita ngobrol lagi kalau kakak gw udah balik ke Jakarta. Gak bisa bebas kalau ada dia di sini," kata Cha sambil pura-pura minum.
__ADS_1