
Perjalanan ke Klaten membutuhkan waktu sekitar kurang lebih satu jam an kalau jalanan tidak macet. Zain duduk di belakang bersama Cha. Mereka ngobrol membahas rumah yang akan di tempati keluarga Cha.
"Bang, berapa biaya yang kamu habisi untuk rumah itu?" tanya Cha penasaran.
"Ah tidak seberapa sayang. Abang ikhlas mengeluarkan uang berapapun untuk kebahagiaan kamu," jawab Zain dengan senyumannya.
"Tapi, aku gak enak kalau kamu terus mengeluarkan banyak biaya buatku. Aku takut keluargamu berpikir lain tentangku," balas Cha.
"Jangan mikir seperti itu Cha," Zain menarik Cha dalam pelukannya. "Tidak ada yang berpikir seperti itu. Kamu akan menjadi istriku, sudah tentu semua yang kumiliki akan menjadi milikmu," hibur Zain.
Cha memeluk Zain dengan erat, rasa nyaman dirasakan Cha saat berada dalam dekapan Zain.
"Oh ya bagaimana dengan Papa kamu? Apa dia akan hadir dalam acara pernikahan kita nanti?" tanya Zain.
"Belum tau bang, kemaren sempat tlp nan sama Mama. Katanya sih sudah di kasih tau sama Mama tentang acara pernikahan kita. Tapi ya aku gak berharap dia bisa datang sebagai waliku bang nanti," jawab Cha yang terlihat sedih.
"Bagaimanapun beliau Papa kamu sayang. Seburuk apapun tingkah lakunya, dia tetap Papa kamu. Biarkan dia datang sebagai wali kamu, dan itu haknya dia sebagai orang tua," Zain memberikan nasehat kepada Cha agar bisa membuang rasa benci dalam hatinya.
Tapi Cha tidak mungkin begitu saja melupakan kebenciannya terhadap Papanya yang sudah tega mengkhianati Mamanya hingga membuat keluarga hancur. Dan tidak hanya itu, anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang egois, tak punya perasaan serta tegaan. Semua itu terjadi karena kesalahan orang tuanya. Cha hanya bisa memaafkan Mamanya, untuk Papanya, dia belum bisa. Cha hanya berpegang pada waktu. Biarkan waktu yang menyembuhkan lukanya Cha.
Zain mengusap lembut rambut Cha yang harum. Dia mengerti bagaimana perasaan Cha yang begitu rapuh, walaupun di luar terlihat tegas dan kuat namun di dalamnya dia seperti anak kucing yang sangat lemah.
"Aku tidak bisa melupakannya begitu saja bang," jawab Cha tiba-tiba.
"Iya Abang mengerti sayang. Jangan di paksakan, biarkan waktu yang menyembuhkan luka kamu ya," hibur Zain.
Cha pun mengangguk membenarkan ucapan Zain. Cha senang karena Zain orang yang bisa di andalkannya untuk tempat dia mencurahkan isi hatinya yang kacau.
"Apa kita masih lama sampainya?" tanya Zain.
"Mungkin, aku juga gak tau bang. Sepertinya masih jauh sih," jawab Cha.
"Tuan silahkan beristirahat. Karena kita akan sampai saat Maghrib tiba," sang supir merangkap bodyguard Zain menjawab dari depan.
__ADS_1
"Ok terima kasih," balas Zain.
"Sayang, lebih baik kamu tiduran, nanti Abang bangunkan kalau sudah sampai ya," ucap Zain.
"Aku ingin melihat jalanan di luar dari sini bang. Aku belum pernah ke Klaten," balas Cha yang tak mau mengikuti perintah Zain.
"Baiklah kalau gitu. Kalau sudah capek, kamu istirahat ya."
Cha mengangguk, dia terus menatap ke arah jalan di sampingnya. Cha merasa terhibur dengan pemandangan yang dilihatnya. Apalagi sebentar lagi di depan sana, mereka akan melewati Candi Prambanan, Cha belum pernah melihatnya.
"Bang, kapan kita kesana? Kita belum pernah kan berkunjung ke Candi itu," ucap Cha tanpa mengalihkan perhatiannya.
Zain menoleh ke arah yang di tunjuk Cha. Dia bisa melihat bangunan yang unik. Candi yang banyak di ceritakan orang sebagai salah satu tempat wisata yang ada di Jogja.
"Itu Candi Prambanan ya Cha? ditanya Zain yang ikut menatap takjub ke arah Candi itu.
"Iya bang, itu Candi Prambanan. Nanti setelah pulang dari Klaten, kita singgah ya ke Candi itu sebelum Abang kembali ke Paris," ajak Cha dengan semangat.
Sementara di mobil yang satunya lagi, dimana ada Ibunya Dewi beserta adiknya sedang ngobrol tentang acara pesta keluarganya.
"Bu, Alhamdulillah ya kita bisa menghadiri pernikahan sepupu Ibu di Klaten. Soalnya dulu-dulu, kita gak bisa kesana karena gak ada biaya," terang Dewi dengan sedih karena mengingat hal yang lalu.
"Sudah nduk jangan di ingat yang lalu. Sekarang kita bisa pulang ke Klaten, walaupun mobil ini bukan milik kita. Tapi kebaikan Cha, membuat kita menjadi di pandang orang lain. Dan Alhamdulillah sekarang Ibu sudah menghasilkan rezeki dari menjahit di Komplek kita. Hah.., beruntung kamu nduk bersahabat dengan Cha. Dia anak yang baik, semoga hidupnya bahagia ya nduk," ujar Ibunya.
"Iya ya Bu, Dewi senang banget bisa berteman dengannya. Padahal di kampus banyak teman yang tidak mau dekatan sama Dewi, tapi Cha justru merangkul Dewi, Bu," balas Dewi mengingat pertama kali pertemuannya dengan Cha.
"Mbak Dewi, apa ndak punya pacar di kampus?" tanya Tika tiba-tiba nimbrung.
"Kenapa Tika nanyain gitu?" tanya Dewi balik.
"Mbak Cha udah mau nikah, terus Mbak Dewi kapan dong nikahnya?" tanya Tika lagi.
"Belum ketemu yang pas. Do'ain Mbakmu biar dapat jodoh yang baik dan menyayangi keluarga kita," Ibunya Dewi yang menyahut.
__ADS_1
"Tapi jangan lama-lama dong Bu, Tika kan pengen Mbak Dewi juga nikah," rengek Tika.
"Kamu tuh, emang dikira pakaian. Yang seenaknya bisa di beli gitu aja kalau pengen," celetuk Dewi.
"Udah-udah jangan ribut. Kita berdo'a semoga Mbakmu cepat menikah ya nduk," ucap Ibunya yang menengahi kedua anaknya.
Obrolan mereka ternyata di lirik sama bodyguardnya Zain sebagai supir. Dia melihat sekilas ke arah Dewi yang menatap ke luar jendela. Bodyguard itu orang kepercayaan Zain untuk menjaga Cha dan Dewi beserta keluarganya. Walaupun banyak diam, tapi diam-diam bodyguard itu sering melirik Dewi. Dia sering memperhatikan Dewi setiap bersamanya.
Tanpa sengaja ternyata Dewi merasa ada yang meliriknya. Dan dia langsung menoleh ke arah kaca spion di depan dan bertemu tatap dengan bodyguardnya. Laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya ke depan, takut Dewi mencurigainya.
Ternyata Dewi terus menatap bodyguard itu dari belakang. Dia mengernyitkan keningnya penuh tanda tanya.
"Kenapa dia ngelihatin gw mulu ya? Apa jangan-jangan dia..., ah sudahlah biarkan saja apa yang diinginkannya," bathin Dewi yang tak memperdulikan sikap bodyguard Zain.
Dewi kembali melihat ke arah jalanan, dia tidak mau memikirkan hal yang lain. Saat ini fokus Dewi untuk kuliah dan kerjaan. Dia ingin membahagiakan keluarganya.
Setelah melalui perjalanan panjang, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang sederhana tapi memiliki halaman yang sangat luas. Rumah itu adalah milik Pakde Ibunya dewi. Mobil masuk ke dalam perkarangan rumah itu dan berhenti di halaman itu.
Ternyata di dalam rumah itu sudah banyak saudara yang datang. Mereka berada di depan teras dan bingung melihat ada dua mobil yang parkir di halaman rumah itu.
"Mobil sopo iku, apik tenan yo," ucap salah satu saudaranya.
"Ya, ana rong mobil liyane sing apik banget. Sapa sedulur sing sugih teka mrene?" sambung saudara lainnya.
"(Iya ya, ada dua mobil lagi yang bagus-bagus. Siapa saudara kita yang kaya raya datang kesini)"
Mereka penasaran dengan orang yang ada di dalam mobil. Hingga mobil terbuka dan Dewi beserta Ibunya dan Tika keluar dari mobil itu. Membuat semua mata yang memandang membelalakkan matanya terkejut melihat orang yang datang.
"Sapa kuwi? Kok mung weruh? Apa dheweke sedulur kita?" tanya saudara lainnya lagi.
"(Itu siapa? Kok baru lihat ya. Apa dia saudara kita?)"
Mereka diam semua seperti sedang melihat hantu sehingga terkejut saat Dewi dan Ibunya keluar dari mobil.
__ADS_1