Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Antara Zain dan Yoga


__ADS_3

Cha merasa bahagia bisa mendengar suara Yoga, kekasih yang selama ini dinantikannya khabarnya.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Aku senang mendengarnya. Tapi kenapa aku seperti mendengar suara kamu yang kurang bersemangat. Apa kamu ada masalah disana yanx?" tanya Cha curiga. Cha merasa Yoga seperti sedang menahan tangisnya.


"Ah...itu perasaan kamu aja sayang! Aku tidak punya masalah. Tapi ya emang dikampus tugasku banyak banget!" bohong Yoga.


"Beneran....! Aku gak mau kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Kalau kamu ada masalah ceritalah denganku. Kita kan sudah sepakat untuk selalu berbagi. Tentu kamu ingat saat kita SMU, kamu selalu ada untukku dan selalu berada disampingku saat aku membutuhkanmu. Jadi sekarang, kamu kalau ada masalah, harus cerita ke aku, ya!" Cha mengingat saat mereka SMU dan meminta Yoga agar selalu terbuka dengannya.


"Iya sayang, aku janji gak akan menyembunyikan apapun darimu. Ya udah, sekarang aku mau mandi dulu yanx, baru pulang dari kampus," ucap Yoga.


"Iya, selamat beristirahat ya yanx!" balas Cha.


"Kamu juga selamat beristirahat, Assalamu'alaikum," Yoga menyudahi obrolannya.


"Wa'alaikumussalam!" sahut Cha.


Lalu Cha meletakkan ponselnya diatas tempat tidur. Dia teringat dengan Zain yang kalau sudah selesai ngobrol pasti minta sebuah ciuman. Sedangkan dengan Yoga, tidak ada sama sekali. Terkadang Cha suka membandingkan perlakuan Yoga dan Zain terhadapnya. Zain tipe orang yang sangat romantis dan terkadang kekanakan. Sedangkan Yoga tipe yang kaku dan datar. Cha merasa lebih nyaman jika ngobrol dengan Zain.


"Ahhh kenapa gw jadi teringat sama Zain," Cha memukul-mukul kepalanya seperti orang bodoh. Kemudian diapun memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.


Di Negara lain, setelah obrolan selesai, Yoga terduduk di atas kasurnya. Dia menatap layar ponselnya yang memperlihatkan gambar Cha dengan senyuman manisnya. Air mata pun terjun bebas dari sudut matanya.


"Andai kamu tau yanx, aku sangat tersiksa disini. Tersiksa karena aturan Papaku dan tersiksa karena jauh darimu. Cha, kalau boleh milih, aku rasanya ingin pergi saja dari dunia ini Cha. Aku tidak bisa memperjuangkanmu untuk kehidupanku," Yoga bermonolog didepan gambar Cha.


Yoga akhirnya memilih pilihan orang tuanya yang akan menjodohkannya dengan gadis lain. Karena jika dia memilih untuk pergi dari kehidupan mereka, Yoga tak sanggup meninggalkan Mamanya. Dia pun berjanji, walaupun dia menerima gadis itu, dia tak akan pernah mencintainya dan menyentuhnya. Itulah janji Yoga terhadap dirinya dan Cha.


Malam pun tiba, Cha terbangun mendengar suara adzan Maghrib. Dia pun melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai dia keluar dari kamar dan berjalan kearah dapur. Dia melihat Bu Marni sedang menyiapkan makan malam.


"Bu, Cha bantu ya nyiapin makan malamnya!" tawar Cha terhadap asistennya.


"Eh Ndak usah Mbak, biar bibi aja yang ngerjain. Lagian ada Bu Novi juga yang membantu bibi. Udah sana duduk yang manis di meja makan," Bu Marni menyuruh Cha untuk menunggu dimeja makan saja.


"Iya Mbak Cha, tunggu aja disana, tuan Zain sudah berpesan, Mbak Cha gak boleh mengerjakan apapun," sambung Bu Novi.


"Iya-iya deh Bu, Cha duduk disana aja. Oh ya yang lain apa tidak ada yang keluar kamar dari tadi?" tanya Cha sambil menoleh ke arah kamar yang lainnya.


"Tadi sih Mbak Ani yang keluar ngambil air minum. Trus dikecilkan Pita juga main ditaman belakang sama si Ibu," terang asistennya.


"Oh...begitu. Oh ya Bu Marni dan Bu Novi sudah lama kenal sama Zain?" tanya Cha lagi.

__ADS_1


"Dulu kami adalah asistennya Om Tuan Zain. Tapi saat itu Omnya pindah ke Luar Negeri beserta keluarganya. Jadi kami kembali kerumah masing-masing. Dan kemaren Tuan Zain menghubungi saya, Mbak, meminta saya dan Bu Novi kembali bekerja tapi dirumah yang ini," jelas Bu Marni.


"Apa Bu Marni dan Bu Novi sudah pernah bertemu dengan Zain?" tanya Cha penasaran tentang cerita Zain.


"Oh...Tuan Zain itu sering main kerumah Mbak..Dulu waktu SMU, dia seneng banget main kesini. Kan Omnya Zain juga punya anak laki-laki yang sebaya sama Tuan Zain. Nah kamar yang Mbak tempati itu kamarnya Tuan Zain yang disediakan Omnya, jika dia main kesini," jelas Bu Marni.


"Oh...pantesan didalam kamar itu ada lukisan besar gambar Zain," gumam Cha.


"Oh...lukisan itu, Tuan Zain yang melukisnya Mbak pake foto snediri. Tuan Zain itu suka melukis. Dan anak Omnya yang bernama Dandi sering melukis bersama," ternyata Bu Marni mendengar gumaman Cha.


"Eh, Bu Marni denger aja," balas Cha.


Lalu dari belakangnya, Dewi keluar dari dalam kamar. Dia mendengar suara rame-rame diluar kamar. Dewi menghampiri Cha dimeja makan.


"Rame banget, lagi ngobrolin apa sih Cha?" tanya Dewi sambil meminum air putih.


"Gak, gw cuma bahas tentang pemilik rumah ini," jawab Cha.


"Oh...lah Mbak Ani masih dikamarnya ya?" tanya Dewi lagi.


"Iya, kayaknya kecapean kali. Besok jadi kita anter Pita kesekolah kan?" sekarang giliran Cha yang bertanya.


"Ah Lo ini kayak sama orang lain aja. Gw seneng lagi bisa nemani Pita kesekolah. Tapi kalau gak masuk kuliah pagi ya, hehehe," balas Cha cengengesan.


"Kalau kita kuliah pagi, pasti Ibu yang ngantar. Gw hanya mengindari Ibu bertemu dengan Bude untuk beberapa hari ini," ucap Dewi.


"Nah...ini dia makan malamnya udah siap. Mbak Cha dan Mbak Dewi bisa makan sekarang," ucap Bu Novi.


"Wi, gih sana Lo kasih tau Ibu dan adik Lo makan malam. Sekalian Mbak Ani ya Wi!" teriak Cha karena Dewi sudah duluan bergerak ke arah kamar Ibunya.


Dewi membuka pintu kamar Ibunya dan melihat Ibunya sedang berdzikir.


"Bu mau makan sekarang atau nanti?" tanya Dewi.


"Ibu nanti aja Wi, sekarang adik kamu aja makan duluan. Kasihan kalau telat makannya," jawab Ibunya.


"Ayo dek makan bareng Mbak. Diluar udah ada Mbak Cha," ajak Dewi.


Pita pun menghampiri Mbaknya dan mereka keluar dari dalam kamar Ibunya. Tapi sebelum itu Dewi mampir ke kamar Mbak Ani.

__ADS_1


"Mbak Ani...ayo makan!" teriak Dewi sambil mengetuk pintu kamarnya.


Lalu tak menunggu lama, Mbak Ani pun keluar dari kamarnya.


"Udah pada kumpul ya Wi?" tanya Mbak Ani.


"Ibu belakangan makan katanya, karena masih berdzikir Mbak dan menunggu Isya sekalian," jawab Dewi sambil memegang tangan Pita.


"Ya udah yuk Pita kita makan," Mbak Ani ikut menggandeng tangan Pita kearah meja makan.


"Hai Mbak Cha!" sapa Pita.


"Hai...! Loh Wi, Ibumu gak makan bareng kita?" tanya Cha yang tidak melihat kehadiran Ibunya Dewi.


"Ibu lagi nunggu Adzan Isya, Cha. Jadi kita disuruh duluan makan," jawab Dewi sambil mengambil tempat duduk disebelah Pita.


"Oh...Ya udha yuk makan," ajak Cha.


"Eh Mbak Ani kelihatan capek banget ya Mbak, Ampe betah dikamar terus dari tadi," Cha memandang wajah Mbak Ani yang sendu.


"Iya Cha, Mbak letih pikiran dan hati," balas Mbak Ani dengan senyum kecutnya.


"Lah kok bisa Mbak. Mmmm apa dia mencoba menghubungi Mbak lagi?" tanya Cha penasaran.


"Mbak masih khawatir Cha, dia memiliki niat jahat terhadap Mbak," jawab Mbak Ani sambil mengambil lauknya.


"Ya Mbak berusaha aja untuk menghindar. Kalaupun tak sengaja bertemu, sebisa mungkin tersenyum dan memperlihatkan sikap biasa aja Mbak," saran Cha.


"Iya sih Cha. Wah nih menunya enak banget malam nih! Bu Marni dan Bu Novi pinter banget ya masak," Mbak Ani memuji kedua asisten rumah tangga itu.


"Ah...Mbak Ani bisa aja, kalau mau belajar, sini biar Bu Novi ajarkan memasak," Bu Novi menyahut ucapan Mbak Ani yang memujinya.


"Beneran Bu, saya bisa belajar memasak sama Bu Novi?" tanya Mbak Ani.


"Lah bisa dong Mbak. Kapan mau mulai belajarnya?" tantang Bu Novi.


"Besok sore deh Bu. Karena kalau pagi, saya masuk kuliah dulu. Jadi sore aja buat makan malam," balas Mbak Ani.


"Ok lah kalau begitu," jawab Bu Novi dengan gaya anak muda.

__ADS_1


__ADS_2