
Hai......pembaca setia novel qu...., Gimana nih ceritanya makin seru atau makin makin aja, hehehe. Nih ceritanya penuh tebak-tebakan ya.
Nah dari pada penasaran, ikutin terus ceritanya, bagaimana nasib Cha selanjutnya yang banyak dikerubuni cowok-cowok cakep.
Ok Yo-lovers jangan lupa dong kasih VOTE nya..., LIKE nya..., HADIAHNYA....., hehehe banyak amat nih mau si penulis. Tapi jangan lupa komen dan kritik nya biar penulis tau dimana letak salahnya.
Yuk lanjut bacanya, tambah gregetan aja ya....
Akhirnya Cha mengetahui bagaimana Binyu, tapi jujur dihatinya masih tidak percaya dengan kejadian itu. "Tapi kalau dipikir-pikir Irfan benar juga, karena kemaren gw ngelihat wanita-wanita disana pada polos tanpa sehelai benang pun, apa mungkin seperti itu," pikir Cha sambil melihat Irfan.
"Hei hei...udah jangan bengong lagi. Tar kesambet hantu villa ini lagi Lo, bisa-bisa kayak tadi, Lo nyosor aja cium gw, padahal tuh ciuman pertama gw, hadewww," Irfan menggoda Cha tapi ekspresi wajahnya pura-pura kesel.
"Apaaaaa....! Lo bilang gw cium Lo!!! Hahaha gak mungkin," Cha langsung melihat tajam kearah Irfan sambil memegang bibirnya.
"Kenapa, Lo gak percaya hah.., sini biar gw peragain lagi, karena gw inget, Lo bilang kalau ciuman gw lembut, hahahaha," Irfan tertawa tanpa rasa bersalah.
"Ihhhhhhh apaan sih Lo," Cha malu-malu di buat Irfan.
Irfan senyum-senyum melihat tingkah Cha yang sangat menggemaskan baginya. Dia ingin mengenal Cha lebih dekat, ntah kenapa hatinya selalu berdebar jika melihat Cha.
"Mmmm, Cha udah hampir sore, kita balik yuk, nanti nyokap Lo nyariin. Kasihan kalau sampai kepikiran, yuk," ajak Irfan dan bangkit dari sofa.
Cha terkesima dengan kata-kata Irfan. Biasanya Binyu selalu melarangnya cepat-cepat pulang, tapi nih cowok sopan banget dan perduli banget dengan keadaan Cha. "Beruntung banget ya cewek yang menjadi pacar Irfan," gumam Cha yang terdengar ditelinga Irfan.
Irfan pun tersenyum penuh makna, dan berkata dalam hati, "Kamulah cewek yang beruntung itu Cha," Irfan menatap Cha lekat-lekat penuh kelembutan.
Cha yang ditatap begitu, jadi salah tingkah. Dia pun beranjak dari hadapan Irfan. Tiba-tiba Irfan menarik tangan Cha sehingga Cha jatuh dalam pelukannya. Irfan memeluk erat pinggang Cha dan berbisik, " Mau gak kita pacaran Cha," Irfan melihat wajah Cha yang sudah merona.
Cha langsung mendorong tubuh Irfan. Dia pura-pura tidak ngeh apa yang diucapkan Irfan. Cha pun melangkah duluan keluar dari villa. Hingga kemudian dia teringat akan Binyu. Cha memegang tangan Irfan dan berkata, "gw takut Fan," kata Cha yang memperlihatkan wajah khawatirnya.
"Takut kenapa? Disini gak ada hantunya kok, cuma ada cowok ganteng, ya gw," Irfan cengengesan sambil menaik-naikan kedua alis nya.
"Gw serius Fan...!!! Becanda aja nih orang. Gw takut Binyu ngejar-ngejar gw, gmn nih Fan?" Cha celingak-celinguk melihat luar villa.
__ADS_1
"Tenang Cha, ada gw. Oh ya, gw mau nanya. Kalau kerumah Lo hanya lewat dari situ ya Cha? tanya Irfan.
"Mmm nggak sih Fan, ada dari belakang. Tapi ramai dan pada kenal semua sama nyokap. Tar kalau gw dianter pakai mobil bisa pada ngadu sama nyokap,"
"Mmm gmn kalau gw parkir jauh trus kita jalan bareng sampai ke rumah Lo lewat belakang, kan Lo biar aman gitu. Tar gw lewat dari depan aja, biar supir gw yang jemput gw didepan gang Lo, gimana Cha," Irfan memberikan ide kepada Cha.
"Makasih ya Fan, ide Lo boleh juga. Ya udah yuk anterin gw pulang ya," Cha berjalan menuju mobil Irfan. Dan Irfan menyusul dari belakang Cha.
Mereka masuk ke mobil dan langsung pergi meninggalkan villa itu. Irfan mengantar Cha pulang kerumahnya.
"Pak kita ke Jalan ****** ya, tar bapak turuni kita diujung jalannya aja, biar saya dan teman saya jalan kaki kerumahnya. Habis tuh bapak muter ke jalan satu nya lagi, jemput saya di depan Gang. Pribadi, nanti saya berdiri di situ, ok pak," jelas Irfan kepada supir nya.
"Baik tuan, siap perintah dilaksanakan," kata supirnya tersenyum yang melirik ke arah kaca spion..
"Cha, nah simpan no gw, mana tau Lo butuh bantuan, gw selalu ada buat Lo," kata Irfan yang memberikan ponsel nya ke Cha.
Cha menerima no Irfan, dan menyimpannya ke ponselnya. Cha pun melakukan panggilan ke no Irfan.
"Simpan no gw," Cha tersenyum melihat Irfan. Dalam perjalanan, mereka saling diam. Namun sesekali Cha melirik ke arah Irfan. Sebenarnya Irfan tau kalau Cha meliriknya, karena terlihat samar di kaca samping tempat duduk Irfan.
"Tunggu Fan, mau mastiin tidak ada dia disini," Cha melihat kesana kemari untuk memastikan tidak ada Binyu.
"Udah ayuk keluar, gak usah takut Cha," kata Irfan yang mencoba menenangkan Cha. Mereka keluar mobil dan berjalan beriringan menuju rumah Cha. Mereka akhirnya sampai di depan rumah Cha.
"Makasih Fan, udah nganter gw pulang. Ya udah gw masuk dulu ya," kata Cha lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Irfan berjalan ke depan gang, dan disana sudah ada mobilnya. Namun ketika Irfan hendak masuk dalam mobil, dia melihat mobil Binyu yang parkir tak jauh dari mobilnya.
"Hmmmm rupanya dia menunggu Cha disini. Tentu saja dia pasti kemari, karena baju seragam Cha ada di mobilnya. Dia gak tau kalau Cha sudah dirumah, dasar cowok brengsek," gumam Irfan yang marah melihat Binyu.
Lalu mobil Irfan pergi meninggalkan area rumah Cha. Didalam mobil Irfan menghubungi Cha hingga beberapa kali panggilan baru Cha menjawabnya.
"Assalamu'alaikum Fan, ada apa ya? tanya Cha.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam Cha, apa gw ganggu Lo?" tanya Irfan balik.
"Tidak Fan, nih gw lagi ganti baju. Kenapa Lo tiba-tiba tlp gw, ada masalah? tanya Cha heran.
"Cha, Lo jangan keluar rumah dulu ya, karena tadi gw lihat mobil pacar Lo di depan. Kayaknya dia nungguin Lo tuh Cha," kata Irfan memberi tau keberadaan Binyu.
"Masa sih Fan, dia di depan? Gimana gw kok jadi parno gini ya," Cha mondar mandir ketakutan.
"Yang penting Lo jangan keluar rumah dulu deh, apa dia tau rumah Lo Cha?" tanya Irfan.
"Nggak sih Fan, tapi bisa aja kan dia nanya sama orang di sekitar rumah gw," jawab Cha.
"Hmmm," Irfan menghela nafasnya.
"Jujur gw takut Fan kalau begini ceritanya. Gw takut dia datangi rumah gw dan cerita sama nyokap gw," Cha terlihat frustasi dengan keadaannya.
"Cha, tenang, gw akan selalu ngebantu Lo, percaya deh. Kalau dia macam-macam sama Lo, gw harap Lo jujur ke gw, ya," kata Irfan.
"Makasih banget ya Fan, gw gak tau harus bales bagaimana," Cha merasa tenang karena ada Irfan.
"Cukup bales, jadilah kekasihku selamanya," seru Irfan diseberang sana.
Cha malu-malu tapi seneng. Ntah kenapa dia merasa nyaman kalau dekat dengan Irfan. Cha tidak menjawab ucapan Irfan. Dia mengalihkan pembicaraan. Setelah selesai tlp nan, Cha istirahat tidur sampai sore hari.
Sore nya Cha menjalankan rutinitasnya sebelum mamanya pulang. Hingga suara ketukan pintu terdengar oleh Cha. Cha mengintip keluar dari jendela ruang tamu nya. Dia kaget dan ketakutan melihat seseorang berdiri di depan pintu rumahnya. Cha langsung berlari ke dalam kamar Sika, dan menyuruh Sika diam dan tidak keluar rumah.
"Hussssst, diem, diluar ada orang yang ngejar-ngejar kakak, dek," Cha berbicara pelan sama Sika.
"Siapa kak, kenapa gak temui aja," kata Sika keheranan melihat sikap kakaknya.
"Dia jahat dek, kakak gak mau nemui dia," Cha menggelengkan kepalanya.
Lalu Cha dan Sika keluar kamar, mereka berjalan pelan-pelan ke ruang tamu, agar tak terdengar suara langkah mereka. Mereka berdua mengintip dari jendela keluar. Ternyata Binyu sudah pergi. Cha pun merasa lega, sambil tangannya mengusap-usap dadanya.
__ADS_1
"Hahhh, lepas satu masalah hari ini, besok apa lagi yang terjadi ya," Cha berbicara sendiri sambil menatap ke luar jendela ruang tamunya.