Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Duh Gawat Ini Keadaannya


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Yoga dan Cha keluar dari lift rahasia. Sebelumnya Yoga sudah menghubungi Bimo untuk menyuruh supirnya bersiap-siap diparkiran dan para suruhan Yoga standby di beberapa titik yang sudah di tentukan. Yoga juga menyuruh Bimo menunggu nya di depan lift bawah parkiran.


"Ayok Cha buruan, kita harus duluan sampai kerumahmu," Yoga menggenggam tangan Cha dan membawanya masuk ke dalam lift.


"Iya Ga, nih juga udah cepat. Tapi badanku serasa remuk Ga, nih juga bagian bawah ku agak sakit," kata Cha manja.


"Ehhhh, hehehe maaf ya yanx tadi aq kelewatan mainnya. Habis kamu enak banget," kata Yoga yang masih bisa menggoda Cha.


"Berarti tadi kita melakukannya lagi ya?" tanya Cha dengan suara pelan karena malu.


Yoga senyum-senyum memandang Cha dan dia menganggukan kepalanya. Lalu mereka masuk ke dalam lift dan akhirnya sampai di tempat parkiran dimana Bimo sudah menunghu.


Cha yang masih kurang puas dengan jawaban Yoga karena hanya mengangguk saja, dia pun bertanya lagi.


"Ga, apa bener kita melakukannya lagi tadi? Aq serius nih bertanya!" kata Cha yang masih penasaran.


"Iya yanx tadi kita berhubungan lagi, maaf karena harus melakukannya lagi," sesal Yoga merasa gak enak sama Cha.


Sedangkan Bimo yang mendengarnya hanya bisa menelan salivanya saja. Karena pikirannya langsung traveling dengan keadaan Yoga dan Cha dalam kamar berdua.


"Ekhem ekhem..., syukur kamu Cha tadi tepat waktu dibawa sama Yoga. Kalau gak hmmm, gak tau deh bisa dihajar habis-habisan sama tuh cowok bringas." Bimo ikut menimbrung ngobrol.


Mereka sudah berada di dalam mobil. Yoga langsung menyuruh pak supir untuk menjalankan mobilnya ke rumah Cha. Cha yang memang belom puas dengan penjelasan mereka, terus bertanya.


"Emang apa yang terjadi Ga sama aq, kenapa kita bisa berada didalam kamar dengan kondisi seperti itu? tanya Cha yang masih memikirkannya.


"Ceritanya panjang Cha, yang pasti kamu saat ini udah selamat dan kita harus terus waspada terhadap Binyu dan Zain. Setiap hari sampai kita selesai ujian, kamu berangkat dan pulang bareng aq ya yanx," Yoga memegang kedua pipi Cha dan menatapnya dalam.


Cha mengangguk saja. Dia mengikuti apa yang diminta oleh Yoga demi kebaikannya.


"Siapa Zain?" tanya Cha spontan.


"Itu loh Cha cowok yang tadi bersama Lo dikamar sebelum kami datang. Tepatnya dia itu teman Yoga. Kamu gak ngeh ya?" Bimo langsung menjawab pertanyaan Cha.


"Teman Binyu? Bukannya tadi aq lagi makan romantis di restauran bersama Binyu ya," gumam Cha sambil menatap Yoga.


"Iya Cha, emang Lo tadi makan sama Binyu, habis tuh Lo dibawa dia ke dalam kamar menemui cowok lain, dengan artian nih ya, Lo dijual sama Binyu, ngerti! jelas Bimo yang terus-terusan menjawab.


Yoga tidak bisa berbicara, lidahnya keluh untuk menjawab semua pertanyaan Cha. Dia masih merasa bersalah dengan keadaan Cha yang terjadi barusan. Seharusnya dari awal dia membawa Cha, sebelum cowok itu menyentuhnya.


Cha yang mendengar penuturan Bimo, terkejut dan terdiam. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Apakah itu benar Ga?" tanya Cha dengan suara pelan.


"Heum, maaf Cha seharusnya dari awal aq membawamu," yoga memeluk Cha erat.

__ADS_1


"Hanya telat dikit Cha, ketika Lo di bawa Binyu ke dalam kamar, kami langsung bergerak mendatangi kamar itu, tapi tiba-tiba Binyu keluar dari kamar. Kami terpaksa berhenti dan bersembunyi. Yoga tidak mau gegabah Cha, karena akan berakibat fatal nanti kalau kami langsung menghadang Binyu. Gw harap Lo ngerti ya Cha dan jangan marah sama Yoga," jelas Bimo kepada Cha.


"Makasih ya kalian udah nyelamatin gw, gak tau gimana keadaannya kalau td kalian tidak datang," Cha tersenyum kepada Bimo dan Yoga.


"Kamu jangan khawatir yanx, selagi ada aq, kamu akan aq jaga, jangan khawatir ya," Yoga mengelus rambut Cha dengan sayang.


"Bueh....mulai deh bucin akut nya kambuh. Pak supir kenapa senyum-senyum gitu. Kalau mau ketawa pak, jangan ditahan, wkkkkkkk," Bimo menggoda pak supir disebelahnya.


"Iya den, kelihatan banget ya kalau den Yoga cinta banget sama mbak Cha," si supir ikut menimpali ucapan Bimo.


Cha yang duduk dibelakang, hanya bisa senyum-senyum malu. Dia memalingkan wajahnya melihat luar jendela.


Yoga pun memilih diam saja, tanpa suara tapi tangannya terus menggenggam tangan Cha dengan erat.


"Idih-idih kenapa pada buang muka kalian berdua?" tanya Bimo yang menoleh kebelakang.


"Apaan sih Bim...udah lihat tuh ke depan, jangan kebelakang! Oh ya aq takut Ga kalau nanti Binyu kerumah. Aq harus gimana?" Cha menatap Yoga untuk meminta solusinya.


"Gini aja yanx, mendingan kamu bilang ke mama kamu kalau dia ngejar-ngejar kamu. Jadi biar mama kamu yang bertindak nantinya. Gimana menurut kamu," kata Yoga.


"Gimana Bim nurut Lo, apa Lo ada ide?" tanya yoga


"Mmmm, iya sih. Mending kamu ngarang cerita sama mama kamu. Ceritakan kalau ada laki-laki yang ngejar-ngejar kamu sampai datangin kamu kesekolah. Pokoknya pinter-pinter kamu deh Cha," kata Bimo yang memberikan pendapatnya.


Cha berpikir sejenak. Dia diam sambil memandang wajah Yoga.


"Baiklah, aq ikutin saran kalian. Mudah-mudahan mama qu bisa nerima ya apa yang aq sampaikan nanti," Cha berusaha bersikap tenang, walaupun sebenarnya dia deg-degan untuk menceritakan sama mamanya.


"Pak, kita berhenti di jalan belakang rumah Cha aja ya," kata Yoga kepada supirnya.


"Baik den, nih saya berhenti di tempat biasa ya den?" tanya supirnya.


"Iya pak, nanti bapak tunggu sebentar. Saya mau nganter temen saya dulu kerumahnya," jelas Yoga.


"Siap den!" seru pak supir.


Mobil akhirnya berhenti di tempat biasa Yoga menjemput dan mengantar Cha ke sekolah. Karena kalau dari depan, bisa ketemu sama Binyu.


"Ayok Cha cepetan turun. Aq baru dapat Khabar dari suruhan qu, kalau Binyu baru keluar dari Apartement dan sepertinya dia kerumah kamu," ungkap Yoga memberitahukan keberadaan Binyu.


"Oh...ya ampun. Ya udah harus cepat sampai rumah," Cha pun berjalan cepat dan sesekali dia berlari. Yoga pun masih mengikuti Cha, memastikan Cha aman sampai ke rumahnya.


Setelah Cha masuk ke dalam rumahnya, Yoga kembali ke dalam mobil.


"Pak jangan pergi dulu. Kita tunggu disini aja dulu sampai keadaan benar-benar aman," kata Yoga.

__ADS_1


"Baik den, saya parkirkan mobil ini di dekat lapangan kosong itu den, biar tidak mengganggu orang lewat," kata supirnya.


"Emang ada apa Ga? Kenapa gak langsung balik aja, terus motor gw gimana Ga?" tanya Bimo yang penasaran.


"Masalah motor Lo, udah diurus sama orang kepercayaan Om gw di Apartement. Tadi gw dapat info dari suruhan gw yang masih diapartement, bahwa saat ini Binyu lagi jalan menuju kerumah Cha. Gw mau nunggu disini sampai keadaan Cha aman," jelas Yoga yang merasa khawatir dengan keadaan Cha.


"Wah tuh anak bener-bener ya, terobsesi banget sama Cha. Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi aja Ga?" tanya Bimo sambil main game di hpnya.


"Sebenarnya sih gw mau melakukan itu Bim. Tapi gw mikirin Cha. Lo kan tau gimana mamanya Cha yang terlalu mengkhawatirkan apa kata tetangga. Nah makanya gw gak laporin polisi kejadian tadi," kata Yoga.


"Oh iya ya, baru ingat gw. Mamanya Cha terlalu memikirkan omongan tetangga dari pada keadaan anaknya. Heran gw lihat mamanya Cha," kesel Bimo dengan mengingat sikap mamanya Cha.


"Hus jangan ngomong begitu Bim, Cha itu dari keluarga Broken Home. Ya mungkin mamanya Cha setres hingga berdampak ke anak-anaknya. Syukur kita dari keluarga yang baik-baik aja, iya kan?" Yoga menasehati Bimo untuk tidak berpikiran buruk dengan sikap mamanya Cha.


"Iya, iya, maaf deh Ga. Kasihan ya Cha harus hidup seperti itu. Kurang perhatian orang tua. Makanya Ga, awas Lo kalau sampai nyakitin hati Cha. Gw sahabatnya bakalan ngasih pelajaran buat Lo," ancam Bimo sambil cengengesan.


"Eleuh eleuh...ngancamin gw nih! Gw pites Lo," Yoga menjitak kepala Bimo yang dilihatnya cengengesan.


Bimo menghindar dari jitakan Yoga, dia tertawa mengejek Yoga.


"Wekkkk gak kena, ye gak kena...," kata Bimo yang duduknya agak menjauh dari tempat duduk demi menghindari Yoga.


Pak supir yang hanya bisa melihat tingkah dua bocah tengil, ikut tertawa karena lucu dengan ulah mereka berdua.


Sedangkan di dalam rumah Cha, keadaannya menjadi menegangkan ketika Cha menemui mamanya dikamar yang kebetulan berada dirumah. Cha mengajak mamanya ngobrol. Cha membuat cerita seperti yang disarankan Yoga. Setelah panjang kali lebar Cha menceritakannya. Akhirnya mamanya membuka suaranya.


"Apa dia laki-laki yang kemaren datang kerumah kita dengan alasan meminjam buku untuk adeknya?" tanya mama Cha to the point.


Cha hanya bisa mengangguk sambil menundukkan kepalanya karena takut melihat mamanya.


"Ya sudah, biar dia menjadi urusan mama, lebih baik kau fokus dengan dengan ujian nanti. Mama gak mau jika kau mendapatkan nilai buruk," kata mama Cha.


"Iya ma, Cha janji akan fokus belajar. Makasih ma udah mau bantu Cha buat ngadepin tuh cowok," Cha ingin memeluk mamanya, tapi terasa canggung. Karena selama ini dia tidak pernah dipeluk oleh mamanya sendiri walau dalam keadaan bahagia atau sedih. Sungguh miris sekali.


"Udah sekarang kau tunggu dikamar aja. Kalau laki-laki itu datang biar mama yang menemuinya. Kau gak usah keluar kedepan nanti," kata mama Cha.


Cha merasa lega untuk saat ini. Tapi gak tau nanti bagaimana keadaannya. Dia kembali ke dalam kamarnya dan menghubungi Yoga.


"Assalamu'alaikum Ga.....! Akhirnya mama qu mau mendengarkan saran yang kamu berikan tadi. Dan khabar baiknya, nanti mama qu sendiri yang akan menghadapi Binyu," kata Cha dengan semangat.


"Wa'alaikumussalam, syukurlah yanx selesai satu masalah. Tinggal nunggu bentar lagi gimana keadaannya. Kamu terus khabari aq ya yanx apapun yang terjadi," kata Yoga yang ikut merasa senang juga.


"Iya, ya udah aq matiin dulu ya, itu sepertinya ada yang datang Ga. Udah dulu ya Ga, nanti aq khabari lagi," kata Cha yang menyudahi tlp nya.


Cha berlari kedepan pintu kamar nya, dan melihat mamanya sudah membukakan pintu depan rumah. Cha mengintip siapa yang datang. Ternyata benar Binyu.

__ADS_1


"Duh gawat ini keadaannya, kenapa malah mama mempersilahkan dia duduk dengan santai di dalam rumah," pikir Cha yang masih mengintip dari tembok pembatas ruangan depan.


Cha terus mondar mandir di ruangan makan. Dia merasa tidak tenang. Hatinya deg-degan. Bukan karena jatuh cinta tapi karena ketakutan akan terbongkar semuanya.


__ADS_2