Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Ciuman Lembut Zain


__ADS_3

Hai pecinta Noveltoon, masih setia kan membaca novel ku..,


Jangan lupa kasih HADIAH, LIKE DAN VOTE NYA JUGA YA...


Bagi yang sedang menulis karyanya, semangat berjuang dan saling mendukung.


Yuk ikutin terus kisah Cha ya...


Shanti pun mencoba menghubungi Bimo. Beberapa kali Shanti mencoba namun tak diangkat juga. Shanti hampir menyerah ketika panggilan terakhir diangkat.


"Hallo, apa benar ini dengan Bimo?" tanya Shanti penasaran.


"Maaf ada apa ya? Dan ini siapa?" tanya orang yang menerima tlp.


"Saya mau cari yang namanya Bimo. Saya temannya Bimo disekolah dulu," jelas Shanti.


"Siapa nama kamu?" tanya orang itu lagi.


"Saya Shanti," jawab Shanti singkat.


"Shanti....!! teriak Bimo tak percaya.


"Iya saya Shanti, maaf kamu Bimo ya?" tanya Shanti yang merasa senang.


"Iya ini gw Shan!" seru Bimo yang juga merasa senang.


"Ya ampuuun Bim.., gw seneng banget bisa ngobrol lagi dengan Lo," ucap Shanti kegirangan.


"Gimana khabar Lo Shan?" tanya Bimo.


"Alhamdulillah gw baik Bim. Lo sendiri gimana? Trus sekarang kuliah dimana?" tanya Shanti kepingin tau.


"Gw di Jakarta Shan. Sekarang gw kuliah disini. Lo gimana, kuliah dimana nih?" tanya Bimo kembali.


"Gw tinggal diJogja dan kuliah disini juga. Udah kerasan gw disini," jawab Shanti tertawa receh.


"Oh...kok Lo bisa ngubungi gw. Ada apa nih?" tanya Bimo curiga.


"Ya gw pengen lah mencoba menjalin komunikasi lagi dengan sahabat-sahabat gw waktu di Medan," ucap Meka berbohong.


Padahal Shanti emang sengaja mau menghubungi Bimo karena ada maksud tertentu. Shanti ingin menanyakan Khabar Yoga dan meminta no nya.

__ADS_1


"Oh..., oh ya gimana dengan Cha? Apa Lo udah menghubungi dia? Terakhir gw komunikasi dengan dia ketika si Medan. Setelah itu tidak pernah lagi komunikasi sampai sekarang," ucap Bimo.


"Iya, gw juga blom ada komunikasi sampai saat ini dengan Meka. Sepertinya dia udah lupa dengan kita sahabatnya," ucap Shanti yang mencoba menghasut Bimo.


"Masa sih. Kayaknya Meka gak mungkin lah melupakan kita. Dia itu baik banget loh Shan!" puji Bimo sehingga membuat Shanti meradang.


"Iya dia sahabat gw yang terbaik Bim. Gw juga kangen banget sama dia Bim," pura-pura Shanti.


Shanti berbicara seperti itu karena dia tau, Bimo gak akan bisa menghubungi dia. Karena Cha memiliki dua no. No yang satunya lagi sudah dibuang Cha. Sedangkan Cha menggunakan no yang kedua. Dimana no itu hanya Zain dan Yoga yang tau. Shanti mengetahuinya ketika mereka bertemu di Jogja.


"Beruntung banget ya, Cha memiliki sahabat baik seperti Lo Shan. Mudah-mudahan suatu saat kita bisa bertemu dan berkumpul lagi ya," ucap Bimo yang menginginkannya.


"Oh ya Bim, gimana dengan Yoga, apa Lo udah dapat khabar dari dia?" tanya Shanti menyelidik


"Gw gak bisa menghubunginya Shan. Sepertinya no dia juga udah ganti deh. Tapi gw blom ada komunikasi sama dia sampai saat ini," ucap Bimo menjelaskan.


"Oh..., gw pikir Lo udah komunikasi dengan dia. Pengen tau aja gimana khabar nya," ucap Shanti.


"Nanti pasti gw khabari Lo kalau Yoga sudah menghubungi gw," balas Bimo.


"Tapi Lo jangan bilang gw nanyain dia. Ntar dia mikir yang aneh-aneh lagi," ucap Shanti.


"Tenang aja, gak akan kok," ucap Bimo meyakinkan.


"Ok, salam buat nyokap Lo," balas Bimo.


"Pasti gw sampaikan, bye," ucap Meka menyudahi tlp nya. Dia pun mematikan tlp nya dan bersiap-siap untuk ke kampus.


Namun sebelum ke kampus, dia harus mengantar mamanya ketempat budenya terlebih dahulu.


"Yuk ma, berangkat," ajak Shanti yang melihat mamanya sudah menunggu di teras.


"Udah selesai tlp nannya?" tanya mamanya.


"Hehehe, udah ma," jawab Shanti singkat.


Mereka pun pergi kerumah budenya Shanti dan meninggalkan mamanya disana.


"Ma, Shanti berangkat dulu ya, salam sama bude dan yang lainnya ya. Shanti gak mampir lagi," ucap Shanti yang berpamitan sama mamanya.


"Iya, kamu hati-hati dijalan. Jangan ngebut-ngebut loh," kata mamanya memperingati Shanti.

__ADS_1


Shanti menyalami tangan mamanya dan pergi meninggalkan mamanya di rumah budenya.


Dalam perjalanan, Shanti memikirkan kejadian tadi pagi.


"Hmm, siapa laki-laki itu? Apa Cha punya pacar disini? Kenapa dia gak cerita ya ke gw?" pikir Shanti. Shanti melajukan motornya dengan kecepatan sedang sesuai pesan mamanya yang tidak memperbolehkan nya ngebut-ngebut.


Sedangkan di dalam mobil, Cha merasa gugup ketemu dengan Zain. Namun dia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Kenapa tangan kamu dingin Cha?" tanya Zain yang menatap wajah Cha.


"Ah, mungkin karena AC nya dingin kali ya makanya tangan ku jadi dingin," ucap Cha berkilah.


"Masa sih sayang, kok aku gak dingin ya tangannya. Coba nih pegang tanganku, hangat kan," balas zain sambil menggenggam tangan Cha.


Tiba-tiba Zain memeluk Cha dengan sangat erat.


"Aku gak percaya, bisa ketemu lagi sama kamu sayang. Rasanya aku bahagiaaa banget. Walaupun aku tidak tau apakah kamu mau membalas cintaku," gumam Zain sambil mengusap rambut lembut Cha.


Cha kaget karena dapat pelukan tiba-tiba. Dia merasa sedih dan bimbang dengan perasaannya. Disisi lain dia mencintai Yoga cinta pertamanya. Tapi di satu sisi hati nya merasa tentram dan nyaman kalau berdekatan dengan Zain. Dan Zain bisa membuat suasana hidup ketika berdua.


"Ahhh kenapa gw jadi teringat Yoga ya. Gimana keadaan dia disana? Kenapa semenjak dia ke Belanda, dia jarang sekali menghubungi ku. Apa dia sudah mulai melirik wanita lain? Kenapa perasaanku mulai curiga gini ya," bathin Cha mengingat Yoga.


"Cha, menikah lah dengan ku. Aku bersedia kok menjadi yang kedua dan terakhir dalam hidupmu," pinta Zain sambil menatap mata Cha.


"Maaf Zain, aku gak bisa. Aku masih menunggu dia. Kenapa kamu tidak mencari wanita lain saja?" ucap Cha yang tidak enak terus melukai perasaan Zain.


"Aku tidak tertarik dengan yang lain. Aku dah bilang, aku hanya mencintaimu dan hanya kamu selamanya, titik tak pakai koma," tegas Zain sambil tersenyum kearah Cha.


Zain terus menatap wajah Cha dan dia mendekatkan wajahnya ke arah Cha dan mel**** bibir Cha dengan sangat lembut.


Cha tersentak dan diam terpaku. Dia tidak membalas ciuman Zain. Namun Zain terus mel**** nya dengan sangat rakus penuh kenikmatan hingga membuat Cha mengeluarkan suara indah nya. Mereka melakukannya tanpa memperdulikan bodyguard Zain.


Zain terus mel****bibir Cha sampai Cha kehabisan nafasnya dan melepaskan ciuman mereka.


Cha memegang bibirnya yang terasa bengkak. Sedangkan Zain senyum-senyum melihat wajah Cha yang merona menahan malu.


"Enak, manis seperti dulu," ucap Zain sambil mengusap bibir Cha dengan jarinya.


"Zain, sakit tau, lihat nih jadi bengkak bibir ku," rengek Cha sambil menunjukkan bibirnya.


"Mana coba sini lihat!" seru Zain yang kemudian dia melakukannya lagi. Zain mel**** bibir Cha lagi dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Awalnya Cha protes, dia memukul lengan Zain . Tapi karena Zain pinter memberikan kenikmatan dengan Cha, akhirnya Cha pun membalas ciuman Zain.


Mereka melakukan ciuman panas nya lagi. Kali ini Zain benar-benar tidak bisa menahan gairahnya. Dia terus memberikan kenikmatan yang membuat Cha mendesah. Mendengar ******* Cha, membuat gairah Zain terbakar. Dia hampir lepas kendali, ketika bodyguard nya mengatakan bahwa mereka sudah sampai di cafe yang dipesan tadi.


__ADS_2