
Cha melihat Dewi yang sedang merias dirinya. Lalu Cha menghampiri Dewi.
"Pita hari ini siapa yang nganter Wi?" tanya Cha.
"Ibu pengen nganterin Pita katanya. Jadi aku bisa langsung kekampus. Kamu udah mandi blom Cha?" Dewi melihat Cha yang masih menggunakan pakaian rumah.
"Sudah dong! Tinggal ganti pakaian aja kok. Oh ya Wi, kamu belom cerita soal kita yang akan pindahan sama Ibu kamu kan?"
"Belom sih Cha. Pengennya membahas itu saat Lo ada. Trus kapan kita mau menyampaikannya?"
"Kayaknya gw udah kerasan tinggal disini ya Wi. Males kalau pindahan lagi. Ribet kan!"
"Iya sih. Ya sudahlah kita tetap disini aja ya. Kita hadapi bersama apa yang terjadi, ya kan!"
Cha mengangguk dan menjawab, "Iya Lo benar, nanti gw coba omongin bareng Zain ya."
"Ok. Oh ya Cha, kemaren siapa laki-laki yang ganteng datang kesini?" tanya Dewi penasaran.
"Oh..dia mantan gw Wi," jawab Cha santai.
"What..!! Mantan Lo? Trus gimana dengan Zain, apa dia gak marah, mantan Lo bisa datang kesini?" tanya Dewi semakin bingung.
"Nggak, dia nyantai aja kok Wi."
"Loh kok bisa Cha?" lagi-lagi membuat Dewi semakin bingung bercampur penasaran.
"Ya mereka kan sahabatan Wi. Jadi Zain tidak protes saat ada orang lain yang mengetahui Rumah ini."
"What...!! Sahabat Lo bilang?" Dewi geleng-geleng kepala, merasa takjub melihat Cha yang mampu membuat kedua sahabat itu menjadi bucinnya dia.
"Iya loh Wi....! Mereka itu sahabatan dari dulu. Dan gw mengenal Zain dari mantan gw itu. Ceritanya juga panjang. Bisa-bisa kita gak kuliah kalau Lo dengerin cerita gw," ucap Cha sambil cekikikan.
"Isssh Lo ini, pokoknya gw gak mau tau. Lo harus ceritain ke gw habis pulang kuliah," Dewi bersikukuh ingin mendengar cerita Cha sehabis pulang kuliah.
"Ya nanti gw ceritakan. Asal Lo jangan bocor kesiapa-siapa," ancam Cha.
"Siplah. Gw bakalan menutup mulut dengan rapat, hahaha," Dewi meledek Cha yang berlebihan menurutnya.
"Isssh Lo nih Wi. Gw serius tau!" kesal Cha.
"Iya-iya sahabatku yang terbaik. Udah sekarang mending Lo balik kekamar sekarang dan bersiap-siap. Kita akan berangkat kekampus," Dewi mengusir Cha dari kamarnya.
Cha ngedumel saat meninggalkan kamar Dewi. Dia langsung menuju kamarnya. Saat dia masuk kedalam kamarnya, Cha melihat Zain sudah bangun dan rapi.
"Dari mana? Kenapa wajahnya ditekuk gitu sayang?" tanya Zain sambil mendatangi Cha.
Zain memeluk pinggang Cha dan mencium pipi Cha dengan gemas.
"Katakan kenapa wajahmu pagi-pagi begini sudah kelihatan jelek?" tanya Zain yang menggoda Cha.
"Gw laper nih. Mau berangkat kuliah. Kamu ikut nganter aku ke kampus?" tanya Cha yang berusaha melepaskan pelukan Zain.
__ADS_1
"Aku akan anter kamu ke kampus. Bersiap-siaplah. Aku tunggu di meja makan." Zain meninggalkan Cha didalam kamarnya.
Zain keluar dari dalam kamar Cha menuju meja makan. Diatas meja makan sudah terhidang sarapan pagi.
"Tuan mau sarapan sekarang?" tanya Bu Marni yang tiba-tiba datang menghampiri Zain.
"Saya lagi nungguin Cha, Bi. Apa Ibu dan anaknya sudah makan?" tanya Zain.
"Belom Tuan, tapi bentar lagi mereka akan sarapan. Karena Mbak Pita akan berangkat ke Sekolah pagi ini," jelas Bu Marni.
"Heum," balas Zain.
Lalu tak berapa lama, Cha keluar dari dalam kamarnya, dan diikuti dengan Dewi serta Ibunya. Mereka semua berkumpul di meja makan.
"Eh sudah ada nak Zain. Sudah lama nak Zain?" tanya Ibunya Dewi.
"Baru saja Bu." jawab Zain.
"Ayo Bu kita makan. Pita mau berangkat sekolah ya sama Ibu?" tanya Cha yang mengambil tempat duduk disamping Zain.
"Iya, kali ini biar Ibu yang mengantar Pita. Nanti pulangnya Dewi yang akan menjemputnya."
Tiba-tiba pintu depan rumah diketuk. Cha dan Zain saling menatap. Mereka berdua menebak yang datang adalah Binyu.
Bu Marni bergegas berjalan kearah pintu depan. Dia membuka pintu depan.
"Pagi Bi...! sapa Binyu yang datang dipagi hari.
Ternyata Binyu benar-benar mewujudkan keinginannya yang ingin sarapan bareng dengan Cha. Dan saat ini dia sudah berdiri didepan pintu rumah kontrakan mereka.
"Iya Bu, makasih. Cha nya ada?" tanya Binyu saat masuk kedalam rumah.
"Ada Tuan, mereka lagi sarapan," jawab Bu Marni.
Binyu bukannya menunggu di ruang tamu, dia malah mengikuti Bi Marni kedalam kearah meja makan.
Zain melihat kedatangan Binyu dengan santai. Namun berbeda dengan Cha. Dia terkejut karena ternyata Binyu benar-benar datang untuk sarapan bareng.
Sedangkan Dewi dan Ibunya hanya bisa melihat keadaan yang tidak bisa mereka mengerti.
"Datang juga Lo rupanya. Gw kira hanya omongan doang," celetuk Zain yang masih duduk di kursinya.
"Pastilah bro. Masa gw membuang kesempatan dalam kesempitan hehehe," balas Binyu cengengesan.
Lalu Ibunya Dewi dan Pita menyudahi sarapannya. Mereka meninggalkan meja makan karena Pita harus berangkat sekolah.
"Loh Bu udah selesai makannya?" tanya Cha yang merasa gak enak.
"Iya nak Cha, Ibu takut kalau Pita terlambat jika kelamaan dijalan nantinya," jawab Ibunya Dewi.
"Oh...,ya udah Bu hati-hati dijalan ya Bu. Pita yang rajin ya belajarnya," Cha memberi semangat kepada Pita. Lalu dia memberikan uang jajan kepada Pita.
__ADS_1
"Jangan bilang sama kak Dewi ataupun Ibu ya, kalau kakak kasih jajan ke kamu," bisik Cha saat Pita menyalaminya.
Pita pun mengangguk mengiyakan apa yang disuruh Cha.
"Gw anter dulu ya Cha, mereka kedepan," Dewi mengantarkan Ibunya dan adiknya kedepan rumah.
"Kami berangkat dulu ya Wi. Nanti kamu jangan lupa jemput Pita habis pulang kuliah," pesan Ibunya. Lalu mereka pergi dari hadapan Dewi menuju ke Sekolah.
Dewi kembali masuk kedalam dan dia melangkahkan kakinya langsung kearah kamarnya.
"Lo udah sarapan?" tanya Zain.
"Nih mau sarapan. Gw kemari kan emang niatnya mau sarapan bareng Cha, Zain..!" seru Binyu sambil menatap kearah Cha.
"Dasar mengganggu aja," gumam Zain.
"Ya mumpung gw disini kan Zain. Nanti juga udah back ke Jakarta. Mana bisa gw sarapan bareng sama Cha lagi. Lo tau kan kerjaan gw banyak banget."
"Ya udah tuh sarapan. Cepatan, gw mau antar Cha ke kampusnya pagi ini."
Binyu menatap Zain dan Cha bergantian. "Gw ikut ya nganter Cha. Kita naik mobil gw aja. Kan dah lama Zain gak masuk kampus," pinta Binyu dengan wajah memelasnya.
"Terserah Lo aja deh. Lagian Cha ngasih gak kalau Lo ngikut ke kampusnya?" ucap Zain melirik sekilas kearah Cha.
Binyu juga melirik kearah Cha. Dia berharap Cha memberinya kesempatan untuk ikut ke kampusnya.
"Aku gak maksa kalau kamu mau ikut. Asal jangan membuat keributan disana," tekan Cha.
"Tenang sayang, eh Cha. Aku gak akan buat keributan. Asal Zain tak menggangguku," ledek Binyu kearah Zain.
"Apaan sih Lo. Ngapain juga gw buat Lo jadi ribut. Dah habiskan sarapan Lo," kesal Zain.
Kemudian Cha berdiri dan meninggalkan meja makan. Dia hendak bersiap-siap didalam kamarnya.
"Loh Cha, mau kemana?" tanya Binyu heran.
"Ya mau siap-siaplah Binyu...! Aku kan mau ke kampus. Masa pakai baju rumah," celetuk Cha dengan memasang wajah sangarnya.
"Tambah galak ya sayangku ini semenjak jadi mantan," gumam Binyu.
Cha pun masuk kedalam kamarnya dan bersiap-siap.
Sedangkan Binyu sedang menikmati sarapan pagi bersama Zain.
"Sudah lama ya kita gak sarapan bareng seperti ini Zain. Dulu terakhir kali waktu gw ke Paris bareng Anggita," kenang Binyu.
"Ngapain Lo ingat-ingat dia lagi. Katanya udah gak suka sama dia. Nih masih dikenang juga."
"Ah, gw bukan ingat dia. Tapi gw mengingat kebersamaan kita dudung," ucap Binyu cuek.
"Gw udah kelar nih. Lo buruan makannya. Lagian gak dari tadi datangnya," Zain bersiap-siap hendak berdiri.
__ADS_1
Namun Binyu mencegahnya. Dan menahan tangan Zain.
"Sabar dong Zain. Bentar lagi nih gw kelar," pinta Binyu.