Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Cha membalas perasaan Zain.


__ADS_3

Setelah mereka menikmati makanannya, Cha dan keluarga Zain kembali ke Hotel untuk beristirahat sebelum berangkat ke Paris.


Lelah menikmati jalan-jalan bersama keluarga Zain membuat Cha ingin segera berendam menikmati aroma yang sudah lama dirindukannya. Lalu Cha masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan memanjakannya dengan aroma teraphy lavender wangi kesukaan Cha.


Sedangkan Zain ikut bersama keluarganya ke kamar Hotel yang berada disebelah kamar Cha.


"Zain, kapan kau akan meresmikan hubunganmu dengan Cha? Mom sudah ingin menimang cucu. Apakah kau tidak kasihan melihat Mama dan Papa serta Oma tidak memiliki mainan hidup?" ucap Mamanya yang berwajah sendu.


"Ya Zain, kau juga harus memiliki penerus untuk menjalankan bisnismu. Usiamu sekarang sudah seharusnya menikah," Papanya Zain ikut mendukung.


"Zain, Oma tau kalau saat ini Cha masih dalam keadaan bersedih karena masalah yang dihadapinya. Tapi bukan berarti hal itu dibenarkan untuk berlarut. Kau harus segera memintanya menikah dengan mu jika dia mau. Kalau dia tidak bersedia, carilah wanita lain yang bisa menerima cintamu," saran Omanya yang bijak.


Zain diam mendengarkan keinginan kedua orang tuanya dan Omanya. Dia menjadi gelisah untuk perasaan Cha. Disisi lain, dia mengetahui bahwa Yoga saat ini sudah mulai berani memberontak Papanya. Sehingga pernikahan yang dilakukannya hanya sebatas kertas. Dan itu membuat Zain gelisah. Zain khawatir jika Yoga menemui Cha dan menginginkan Cha kembali kepadanya.


Zain menatap bergantian kearah orang taunya dan Omanya.


"Mom, Zain tidak bisa memastikannya saat ini. Karena Zain ingin memastikan perasaannya terlebih dahulu. Zain perlu dukungan dan do'a dari kalian," jelas Zain dengan keseriusannya.


"Sayang, Oma mengerti perasaanmu. Kamu khawatir jika Cha kembali ke Mantannya? Dan meninggalkanmu begitu saja?" tebak Omanya.


"Ya seperti itulah Oma. Tapi Zain tidak bersedih jika Cha memilih dia. Namun Zain hanya ingin memastikan perasaan Cha yang sesungguhnya terhadap Zain, Oma," ucap Zain membenarkan perkataan Omanya.


"Kamu harus semangat sayang, kamu harus berjuang mendapatkannya. Mama akan berdo'a untuk kebaikanmu," Mamanya Zain membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Iya Mom, Zain sayang Mama."


"Mama juga sangat menyayangimu Zain," Mamanya merangkul Zain dengan penuh cintanya.


Mereka mengobrol santai di sofa sebelum akhirnya Zain kembali ke dalam kamar Cha. Setelah percakapan yang santai itu selesai, Zain meminta izin untuk kembali ke kamar Cha.


"Mom, Zain mau ke kamar dulu. Mungkin Cha sudah selesai bersih-bersihnya. Zain juga ingin berendam, badan Zain sudah sangat lengket dan tidak nyaman."


"Oh ya sudah, pergilah. Mama dan Papa juga Oma mu mau bersih-bersih juga sebelum kita kembali ke Paris. Khabari kami jika kalian sudah siap," pinta Mamanya.


"Iya Ma, nanti Zain khabari Mama, kalau kami sudah selesai bersiap."


Zain berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka di ruangan itu. Zain berjalan memasuki kamar dimana Cha berada.


"Zain, kamu dari kamar Mama ya?" Cha bertanya saat melihat Zain masuk ke dalam kamarnya.


"Ya, tadi aku ngobrol sebentar sama mereka. Kamu sudah selesai mandi?" tanya Zain.

__ADS_1


Zain berjalan mendekati Cha yang sedang berdiri di balkon kamar Hotel. Dia memeluk Cha dengan meletakkan tangannya di pinggang Cha sambil tersenyum genit.


"Kamu sedang memikirkan apa Cha?" tanya Zain dengan menatap mata Cha dengan lekat, seolah mencari sesuatu yang dirasakan oleh Cha.


"Ah nggak ada Zain. Aku hanya senang menghirup udara sore dan melihat pemandangan diluar kamar," ucap Cha dengan gugup.


Zain membelai wajah Cha yang cantik menawan, dan tersenyum melihatnya.


"Kamu sangat cantik Cha dengan penampilan natural seperti ini. Membuatku semakin menggila akan dirimu," bisik Zain tepat ditelinga Cha.


Lalu tanpa permisi, Zain langsung melum** bibir Cha yang selalu menjadi favoritnya dengan lembut. Dia terus melu**nya dengan memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir Cha. Namun Cha tidak membalasnya. Dia diam tak bereaksi sedikitpun hingga Zain melepaskan pagutan mereka. Zain menempelkan keningnya dikenang Cha dan berkata.


"Kenapa tidak membalasnya?" tanya Zain dengan nafas memburu.


"Aku takut Zain," jawab Cha.


"Takut kalau aku akan memintanya?" tanya Zain lagi.


"Iya, aku ingin melakukannya nanti setelah menikah. Aku tidak ingin melakukannya lagi Zain," pinta Cha penuh harap.


"Aku tidak akan melakukannya Cha. Aku akan menahannya sampai waktunya tiba. Tapi aku hanya ingin menikmati bibir sensualmu yang menjadi favorit ku." jelas Zain sambil mengusap bibir Cha dengan jarinya.


"Kau akan menungguku Zain?" Cha balik bertanya.


"Walaupun sampai kau menua? Apakah itu tidak berlebihan Zain?" Cha tidak mempercayainya.


"Ya sampai aku tua, tetap akan menunggumu sayang. Jangan pernah meragukan cintaku Cha. Kau tau itu kan."


Cha melihat kesungguhan di mata Zain. Ada keseriusan dalam ucapannya dan ketulusan dalam kata-katanya.


"Kalau begitu temui orang tuaku, aku akan menikah denganmu setelah aku lulus kuliah," ucap Cha dengan kesungguhan.


Zain terpaku melepaskan pelukannya dioinggang Cha secara spontan. Dia menatap kearah Cha tak percaya.


"Apa kamu bilang Cha? Aku ingin mendengarnya sekali lagi," ucap Zain memohon.


"Ya, temui orang tuaku, dan minta sama mereka diriku baik-baik. Aku akan menikah dengan mu setelah lulus kuliah," ulang Cha.


Saat itu juga, jantung Zain berpacu seperti kuda yang berlari dalam perlombaan pacuan kuda. Hatinya berbunga-bunga seperti halaman yang ditumbuhi berbagai macam bunga yang indah. Zain tak dapat mengatakan apapun, dia bungkam karena bahagia. Ya, bahagia mendengar pengakuan Cha yang menginginkannya.


Zain ingin rasanya terbang ke langit yang paling tinggi. Tanpa Cha duga, Zain langsung menggendong Cha dan mereka berputar-putar karena Zain kesenangan.

__ADS_1


"I love U Cha....., I love youuuuu honey....!! Aku menginginkanmu dalam hidupku......! ucap Zain kegirangan.


Lalu dia berkata lagi. " Hai kalian semua....., akhirnya cintaku tak bertepuk sebelah tangan, dia menerimaku.......! Aku akan menikahinya.....! Ini benar-benar kejutan dalam hidupku seperti kembang api yang meledak dengan berbagai macam warna, itulah hatiku saat ini.......!! Cha....I love uuuu forever...!! Zain terus berteriak dan berputar-putar sambil menggendong Cha di balkon kamar Hotel.


"Zain.....aku pusing. Udah putar-putarnya, nanti kita jatuh Zain....!" teriak Cha yang takut pusing.


Akhirnya Zain menghentikan aksinya yang berlebihan. Dia menurunkan Cha tapi tak melepaskan pelukan tangannya di pinggang Cha.


Cha merasa kepalanya sudah mulai pusing, dia memegang erat lengan Zain agar bisa menahan tubuhnya.


Orang-orang yang berada di bawah Hotel melihat aksi Zain yang tak dimengerti mereka. Karena Zain mengucapkan dalam kalimat bahasa Indonesia. Sedangkan dari dalam kamar Mamanya Zain, mereka yang berada di dalam kamar merasa bingung, karena mereka seperti mendengar suara Zain berteriak.


"Mom, apakah itu suara Zain?" Tapi mengapa dia berteriak?" tanya Mamanya Zian kepada Omanya.


"Ah tidak mungkin Zain melakukannya Siti. Itu orang lain yang mungkin suaranya persis seperti Zain kita," jawab Mertuanya.


"Kenapa sayang?" tanya suaminya saat keluar dari dalam kamar mandi.


"Itu Pa, Mama kok seperti dengar suara Zain ya teriak bilang I love U gitu. Tapi kata Mama, itu mungkin orang lain," jawab istrinya.


"Ya mungkin Mama benar, itu orang lain yang suaranya persis seperti Zain," balas suaminya yang mendukung ucapan Mamanya.


"Masa sih!" Mamanya Zain masih gak percaya.


"Bagaimana, udah ada Khabar dari Zain Ma?" tanya suaminya lagi.


"Belom ada Pa, apa perlu Mama kesebelah menanyakannya Pa?" tanya Mamanya balik.


"Gak usah sayang. Biarkan Zain bersama Cha menikmati waktu mereka berdua sebentar lagi," jawab suaminya.


"Mmmm baiklah Pa, Mama mau mandi dulu. Oh ya Mama sudah membereskan semua barang-barang kita," jelas istrinya.


"Baiklah, nanti Papa akan coba menghubungi Zain, dan memberitahukannya kalau kita sudah siap berangkat ke Paris."


"Iya Pa," Lalu istrinya bergegas masuk ke dalam kamar mandinya dan mulai membersihkan tubuhnya.


Sedangkan di kamar Zain, dia tak henti-hentinya menatap Cha dengan tatapan mesumnya.


"Sayang, aku boleh menciumnya?" tanya Zain yang meminta persetujuan dari Cha. Dan Cha dnegan malu-malu menganggukkan kepalanya tanda dia memperbolehkan Zain menciumnya.


Lalu Zain mendekatkan bibirnya ke bibirnya dan perlahan Zain melum*** bibir Cha dan menarik tengkuk cah semakin rapat, sehingga ciumannya semakin dalam. Cha benar-benar terbuai akan *******-lumatannya. Zain benar-benar pintar dalam memberikan kenikmatan lewat ciumannya.

__ADS_1


Sesaat Zain melepaskan pagutan mereka dan menatap mata indah Cha.


"Aku janji sayang, gak akan menyia-nyiakanmu sampai kapanpun.


__ADS_2