Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Rumah mau di jual


__ADS_3

Mama dan Kakak Cha sangat senang mendapatkan oleh-oleh yang banyak dari Zain calonnya Cha.


"Ma, lihat ini, aku di belikan baju sama yang mahal sama Zain," tunjuk Ina dengan wajah berseri.


"Nih, Mama juga di belikan Zain, tas branded. Bagus kan Na?" Mama menunjukkan tasnya ke Ina.


"Ihhhh Mama, bagus banget tasnya. Kenapa Ina gak di belikan juga sih," kesalnya.


"Kamu itu gak tau bersyukur. Sudah di belikan baju dan sepatu, mau minta lebih. Makanya cari suami seperti Zain biar kamu dibelanjakan terus. Jangan seperti Mama, punya suami tapi uangnya buat simpanan," ucap Mamanya menyindir diri sendiri.


"Itu juga salah Mama, kenapa Mama gak mempertahankan Papa. Seharusnya Mama bisa berpura-pura manis dan baik di hadapan Papa, supaya uangnya mengalir terus ke kita," balas Ina yang kesal dengan keputusan Mamanya yang meminta cerai dari Papanya.


"Diam kamu! Jangan bicara seperti itu. Kamu belum berumah tangga. Tau apa kamu soal itu. Tidak ada wanita yang bisa berpura-pura baik demi mendapatkan uang suaminya. Itu namanya wanita gila harta," sarkas Mamanya.


Ina menundukkan kepalanya merasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan Mamanya.


Maafin Ina ya Ma. Ina gak bermaksud melukai perasaan Mama," ucap Ina yang langsung memeluk Mamanya.


Mamanya terharu melihat kedewasaan anaknya yang pertama.


"Iya nak, sekarang susun barang-barang ini ke kamar Mama. Dan Mama mau beristirahat."


Sementara Sika hanya menjadi penonton bagi mereka. Sika diam tak banyak ngomong, saat Mama dan kak Inanya membahas tentang Papa mereka. Dia takut disalahkan dan di marahin jika salah ngomong.


Lalu Sika meninggalkan Ina sendiri dengan oleh-oleh yang ada diruangan itu.


"Sika, kamu mau kemana? Bantuin Kakak buat bawa oleh-oleh ini ke kamar Mama," pinta Ina dengan marah-marah.


"Loh, kan Kakak yang disuruh Mama. Kenapa harus melibatkan Sika. Kerjain aja sendiri, dasar penjilat, munafik," umpat Sika terhadap Kakaknya.


"Sika, apa kamu bilang!" berang Ina.


"Kenapa, emang benarkan? Gak usah berpura-pura di hadapanku kak. Aku tau kamu gimana," balas Sika yang tak takut sama sekali.


"Kurang ajar kamu ya Sika, sini kamu!" bentak Ina marah.


"Males, aku mau ke kamar, mau bersih-bersih," balas Sika yang pergi meninggalkan Ina dalam keadaan emosi dan marah.


"Anak ini makin lama makin gak benar sekarang. Ini akibat ajaran Cha. Dia yang membuat Sika merengkel begini," gumam Ina.


Walaupun Ina marah-marah, namun dia tetap menjalankan pekerjaannya dengan membawa oleh-oleh ke dalam kamar Mamanya. Ina melihat Mamanya yang sedang istirahat tidur.


Malam pun tiba, Ina sudah menyiapkan makan malam yang dibantu sama Cha untuk menyiapkannya.


"Cha, panggil Mama buat makan malam," suruh Ina yang memerintah sesukanya.

__ADS_1


Cha pun berjalan ke kamar Mamanya dan mengetuk pintu kamar itu.


"Tok tok tok, Ma...! Ayo makanan sudah siap," panggil Dae yang memberitahu kalau makan malam sudah siap.


Tak berapa lama, Mamanya keluar dari dalam kamar dengan wajah tegangnya.


"Ada apa Ma? Kenapa wajah Mama tegang begitu?" tanya Cha penasaran.


"Papa kamu baru saja menghubungi Mama," ucap Mamanya.


"Loh buat apa Papa menghubungi Mama lagi?" tanya Cha bingung.


"Dia meminta rumah ini dijual," ucap Mamanya yang membuat Cha terkejut.


"Apa!" ucap Ina dan Cha bersamaan.


Ina yang mendengar Mamanya bercerita tentang Papanya, langsung menghampiri Mamanya. Hingga dia mendengar tentang rumah mereka mau dijual. Ina terkejut tak percaya.


Cha pun tak kalah terkejutnya mendengarnya. Dia menatap sedih ke arah Mamanya.


"Terus Mama bilang apa?" tanya Ina marah.


"Mama marah dan mengatakan tak akan menjual rumah ini. Karena ini satu-satu peninggalannya untuk tempat kita berteduh," jawab Mamanya sedih.


"Buat apa Ina? Dia tidak akan mendengarkannya Ina. Dia sudah dibutakan oleh wanita itu," balas Mamanya.


"Terus kita harus gimana Ma?" tanya Ina bingung.


Sika yang berada di kamar, mendengar suara gaduh di luar kamarnya. Lalu dia pun keluar dari dalam kamarnya. Sika melihat semuanya kumpul di ruang tengah.


"Ada apa kak?" tanya nya sama Cha.


"Papa menghubungi Mama," jawab Cha dengan suara pelan.


"Terus masalahnya apa kak?" tanya Sika bingung


"Papa nyuruh Mama menjual rumah ini," jawab Cha pelan.


"Apa!" teriak Sika spontan karena terkejut.


Ina mendelik melihat ke arah Sika. Dia memberikan kode agar Sika menutup mulutnya tak berisik.


Sika pun diam tak banyak bertanya lagi. Dia takut jika nanti di marahi kalau banyak tanya.


"Gimana ya nak, ini tempat tinggal kita satu-satu. Kalau dia menjual rumah ini, kita harus tinggal dimana?" tanya Mamanya terhadap anak-anaknya.

__ADS_1


"Apa gak sebaiknya Mama suruh Abang untuk bicara sama Papa. Bagaimanapun mereka sama-sama laki-laki," saran Cha.


"Iya Ma, biar Abang aja yang ngomong sama Papa. Papa kan gak berani kalau Abang sudah bicara," timpal Sika yang ikut bicara.


Mamanya menatap kedua anaknya itu. Dia berpikir, apa yang disarankan keduanya bisa di coba.


"Mama akan mencoba menghubungi Abang kalian. Biar dia yang menyelesaikan semuanya. Dan Papa tidak seenaknya bertingkah," ucap Mama mereka.


"Mama makan dulu ya. Habis itu baru memghubunginya. Biar Mama gak sakit karena mikirinnya," balas Ina yang kasihan melihat Mamanya.


Lalu Mamanya mereka dan yang lainnya makan di meja makan dengan hati yang tak enak. Suasana pun hening saat mereka makan. Tak ada obrolan, hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar. Kecuali si bungsu, dia makan di suapin sama Ina.


Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Tetapi Sika tidak , dia mengikuti Cha masuk ke dalam kamarnya Cha.


"Loh dek, kamu kenapa gak istirahat? Bukannya besok mau sekolah?" tanya Cha.


"Iya kak, tapi Sika lagi pengen tidur sama Kakak, boleh ya," rengek Sika.


"Ya udah boleh," balas Cha.


Lalu Cha masuk ke kamarnya dan di ikuti Sika.


"Udah kamu tidur aja duluan disitu, Kakak masih belom ngantuk," suruh Cha.


"Kak, gimana kalau Papa bersikeras menjual rumah ini? Gimana dengan kita?" tanya Sika yang masih memikirkan hal tadi.


"Kamu gak usah ikut mikirin masalah itu. Biarkan Mama dan yang lainnya mengurusnya. Kamu fokus sekolah aja biar bisa kuliah dan kerja mencari rezeki sendiri," pinta Cha sebagai Kakaknya.


"Iya kak, tapi Sika kahawtir dengan kondisi Mama. Dan takutnya berdampak dengan rencana pernikahan Kakak," ucap Sika.


"Kakak pasrah dek, biarkan berjalan mengalir seperti air di sungai. Kita ikutin aja takdir ini seperti apa," balas Cha bijak.


"Hmmm, ya udah kalau Kakak tidak terlalu mengkhawatirkannya. Sika tidur duluan ya kak," ucap Sika.


"Iya dek," balas Cha.


Lalu Sika naik ke tempat tidur Kakaknya dan mulai memejamkan matanya.


Sedangkan Cha masih memikirkan keadaan Mamanya dan keluarganya. Dia khawatir masalah ini berdampak terhadap rencana pernikahannya seperti yang disampaikan Sika.


Cha ingin menghubungi Zain, tapi dia takut untuk menceritakannya. Cha takut, Zain menganggapnya terlalu banyak masalah. Cha mencoba menyimpannya sendiri dan tak mau berbagi dengan Zain.


"Apakah orang tua Zain dan Oma sudah tiba di Indonesia ya? Kok Zain gak ada ngabari?" gumam Cha sambil menatap ponselnya.


Cha terus menimang-nimang benda kecil di tangannya. Dia menunggu khabar dari Zain.

__ADS_1


__ADS_2