Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Ajakan ke Klaten


__ADS_3

Cha khawatir pesta pernikahannya akan berjalan kurang nyaman seperti kejadian pesta pernikahan Yoga kemaren.


"Aku khawatir bang," ucap Cha.


"Apa yang kamu khawatirkan sayang?" tanya Zain yang melihat ekspresi wajah Cha terlihat cemas.


"Aku khawatir jika Yoga akan datang ke pesta pernikahan kita bang. Bagaimana jika itu terjadi?" Cha malah balik bertanya.


"Kamu gak usah cemas ya. Abang akan membuat banyak penjaga untuk mengamankan acara kita nantinya," jawab Zain menenangkan Cha.


Cha menghela nafasnya tak nyaman. Dia ingin menolak mengundang orang tuanya Yoga. Karena bagaimanapun, Cha pernah dekat dengan Mamanya Yoga.


Cha juga yakin kalau Yoga masih sangat mencintainya. Cha takut Yoga berbuat yang aneh-aneh saat pesta mereka.


"Sayang, kamu jangan memikirkan hal yang aneh-aneh ya. Semua akan baik-baik aja kok. Abang akan coba membicarakannya dengan Papa," ucap Zain menenangkan Cha lagi.


"Iya bang, bicarakanlah dengan Papa lagi. Kita harus menghindari hal buruk yang terjadi nantinya bukan," balas cha.


Lalu pintu kamar Cha di ketuk dari luar.


"Tok tok tok, non....,nih saya bawakan makan malamnya," panggil di bibi yang mengantarkan makan malam Cha ke kamar.


"Bang, sepertinya si bibi ngantar makan malam kesini," ucap Cha.


"Ya sudah, suruh aja masuk. Jangan matikan VC nya," suruh zain.


Cha pun meletakkan ponselnya di tempat tidur, lalu dia berjalan ke arah pintu kamarnya, dan membukakan pintu kamar itu.


"Masuk aja Bi, letakkan disana aja ya," pinta Cha.


Si bibi melangkah masuk ke dalam kamar dan di meletakkan makan malam Cha di meja depan sofa.


"Apa ada yang kurang non?" tanya bibi itu.


"Tidak ada bi, makasih banyak ya," ucap Cha.


"Baik non, saya tinggal dulu ya non," si bibi pun pamit meninggalkan kamar Cha.


"Iya bi.


Si bibi pun pergi meninggalkan kamar Cha. Seketika itu juga si bibi bertemu dengan Dewi yang baru keluar dari dalam kamarnya.


"Loh bibi dari kamar Cha? Cha kenapa bi?" tanya Dewi heran.

__ADS_1


"Oh non Cha minta di bawakan makan malamnya ke kamar. Katanya lagi pengen makan di kamar sambil tlp Tuan Zain," jawab si bibi.


"Cha lagi apa tadi waktu bibi ke kamarnya?" tanya Dewi lagi.


"Sepertinya lagi tlp Tuan Zain. Non Dewi mau makan malam? Sudah bibi siapkan semuanya," jawab si bibi lagi.


"Iya bi, saya ke kamar Ibu dulu. Biar bareng makannya," ucap Dewi.


"Kalau gitu saya ke dapur dulu non, mau merapikan semuanya," pamit si bibi.


"Oh iya bi, silahkan," balas Dewi.


Sebelum Dewi melangkah ke kamar Ibunya, sekilas dia menatap ke arah kamar Cha. Padahal sebenarnya Dewi ingin menemui Cha di kamarnya. Tapi ternyata Cha meminta si bibi mengantarkannya makan malam ke kamarnya. Dewi merasa Cha ingin menghindarinya.


Lalu Dewi pun berjalan ke arah kamar Ibunya. Dewi membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Bu, dek, ayo makan. Udah disiapkan si bibi di meja makan semuanya," ajak Dewi saat melihat Ibu dan adiknya.


"Wi, besok Ibu mau nginep tempat adik Ibu di tempat Kakaknya orang tua Ibu di Klaten. Anaknya mau nikahan. Kamu gimana, mau ikut ndak?" tanya Ibunya saat melihat Dewi.


"Dewi banyak tugas Bu," jawab Dewi asal.


"Kamu juga bisa bawa Cha kalau dia mau. Kalian bisa bantuin disana. Coba kamu sampaikan sama Cha, apakah dia mau ikut atau tidak," suruh Ibunya yang memberi saran.


"Minggu ini Wi. Ini kan masih hari Senin, kita kesana hari Kamis. Karena akan banyak rentetan acara yang akan di laksanakan disana," jelas Ibunya.


"Baiklah, Dewi akan mengajak Cha. Semoga dia mau ikut biar Dewi ada temannya," harap Dewi.


"Ya udah, sekarang kita makan dulu. Adik kamu udah laper katanya tadi," ucap Ibunya.


"Ayo kalau gitu. Kenapa gak panggil Kakak kalau udah laper. Kan Kakak bisa tanya si bibi udah siap belum makan malamnya," balas Dewi.


"Males katanya, dia gak mau keluar kamar. Mau nungguin kamu datang kesini," ucap Ibunya.


"Huuuu manja," ledek Dewi.


"Sapa yang manja, Tika gak manja kok. Tika cuma pengen Kakak aja yang nyamperin kesini," protes Tika yang gak terima di bilang manja.


"Udah jangan ribut. Malam-malam kok ribut sih. Ayo kita makan," ajak Ibunya yang menengahi keributan antara keduanya.


"Iya Bu," balas mereka bersamaan.


Lalu Ibu, Dewi dan adiknya keluar dari kamar itu. Mereka bertiga berjalan menuju meja makan.

__ADS_1


"Loh, Cha nya mana? Apa Ndak makan malam Wi?" tanya Ibunya yang heran ketika tidak melihat kehadiran Cha di meja makan.


"Udah Bu, tadi sudah diantarakan si bibi ke kamarnya. Dia lagi tlp nya sama calonnya sambil makan di kamar," jelas Dewi.


"Oh gitu toh. Ya sudah ayo kita makan. Nanti keburu dingin makanannya," ajak Ibunya.


Dewi dan keluarganya mulai menikmati makan malam mereka. Tika yang melihat begitu banyak hidangan, merasa senang, karena perutnya akan terisi dengan penuh.


Mereka menyantap makanannya dengan nikmat. Tidak ada suara obrolan saat mereka makan, hanya suara dentingan sendok yang saling beradu dengan piring.


Setelah selesai menikmati makan malam, Dewi tidak langsung menuju kamarnya. Dia memilih menemui Cha di kamarnya. Dia masih merasa kalau Cha tidak ingin bertemu dengannya. Tapi Dewi tidak perduli. Dia harus menyelesaikan semuanya. Dewi tidak ingin rasa tak nyaman berlarut-larut dijalani.


"Cha....!" panggil Dewi lalu membuka pintu kamarnya.


"Masuk Wi," balas Cha.


"Gw ganggu gak?" tanya Dewi lagi.


"Nggak, masuk aja. Udah pada makan semuanya?" tanya Cha yang sedikit canggung.


"Udah," jawab Dewi.


"Cha, Lo masih marah sama gw ya?" tanya Dewi yang sudah duduk di samping Cha.


Saat ini Cha sedang duduk di sofa sambil nonton TV. Setelah tadi selesai makan malam dan obrolannya dengan Zain, Cha memutuskan untuk nonton TV.


Cha menghempaskan nafas beratnya. "Sebenarnya sih iya Wi, tapi gw gak bisa lama-lama marah sama Lo. Lo sahabat gw yang terbaik. Gw gak ingin kita dieman tak saling menegur. Maaf ya kalau tadi sikap gw seperti itu sama Lo," ucap Cha menyesal atas sikapnya.


Dewi langsung memeluk Cha dan menangis tersedu-sedu. Dewi juga tidak ingin dieman sama Cha terlalu lama. Rasanya tak enak dan tak nyaman.


"Iya Cha, gw juga minta maaf ya atas sikap gw tadi itu. Gw sayang sama Lo seperti saudara gw sendiri Cha. Gw sangat mengkhawatirkan diri Lo Cha," jelas Dewi sambil melepaskan pelukannya.


"Iya gw tau Wi. Lo sangat perduli sama gw. Tapi ucapan Lo tadi menganggap kalau gw akan kehilangan Zain," jelas Cha yang salah tanggap.


"Sorry Cha, gw gak bermaksud berkata seperti itu. Lain kali gw gak akan ngomong sembarangan lagi deh," balas Dewi.


"Iya gak apa-apa kok Wi. Namanya juga sahabat, pasti ada ributnya sesekali," ucap Cha.


"Oh ya Cha, hari Kamis ini Ibu ngajak gw ke Klaten mau ke rumah Omnya Ibu untuk membantu dan menghadiri pesta pernikahan sepupu Ibu," ucap Dewi.


"Oh iya, terus Lo pergi?" tanya Cha.


"Gw mau ngajak Lo ikut. Apa Lo mau ikut sama kami ke Klaten?" tanya Dewi balik.

__ADS_1


Cha dia dan dia berpikir sejenak sebelum memberi jawabannya.


__ADS_2