
Cha menunggu Zain didalam kamarnya sambil menatap keluar jendela. Dia sudah memantapkan hatinya untuk menghadiri pesta pernikahan Yoga. Walaupun dia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi nantinya, namun hatinya sudah siap melihat pernikahan kekasihnya.
Kemudian Cha kembali ke tempat tidur, dia mencoba memejamkan matanya karena lelah menangis. Dan akhirnya Cha benar-benar terlelap.
Sore menjelang malam, Zain kembali dari kantornya. Setelah selesai dengan urusan kantor, Zain buru-buru meninggalkan Perusahaannya dan kembali ke Mansionnya. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Cha.
Sesampainya dirumah, Zain langsung bergegas ke arah kamarnya. Namun sebelum Zain sampai ke kamarnya, Mama nya memanggil.
"Zain, viens ici!" panggil Mamanya.
"(Zain, kemari lah)!" panggil Mamanya.
Zain pun menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamarnya. Lalu dia berjalan kearah Mama dan Papanya.
Ternyata Papa dan Mama Zain sudah menunggunya sedari tadi. Mereka ingin membicarakan hal penting tentang pesta tersebut.
"Après-midi, Maman, qu'est-ce qui ne va pas, Maman a appelé Zain?" tanya Zain yang menghampiri kedua orang tuanya.
"(Sore Ma, ada apa Mama manggil Zain)?" tanya Zain.
"Maman veut poser des questions sur le désir de Cha de venir au mariage du meilleur ami de ton Papa. Qu'en penses-tu Zaïn?" Mamanya meminta pendapat Zain.
"(Mama mau menanyakan soal keinginan cha yang ingin datang ke pernikahan anak sahabat Papamu. Bagaimana menurutmu Zain)?"
"Zain dépend de Maman et Papa. Si Papa le permet, nous irons. Zain en discutera avec Cha pour ne pas faire de bêtises plus tard là-bas," ucap Zain.
"(Zain sih terserah Mama dan Papa aja. Kalau Papa izinkan, kami ikut. Zain akan membicarakannya dengan Cha agar tidak membuat kekacauan nantinya disana)" ucap Zain.
"Qu'est-ce que tu penses? Papa, suis-moi. Ce n'est pas grave si Cha fait un gâchis là-bas. Parce que pour Papa c'est normal d'assister au mariage d'un ex," sambung Papanya yang berbicara dengan istrinya.
"(Gimana menurut Mama? Papa sih ngikut aja. Tak masalah jika Cha membuat kekacauan disana. Karena bagi Papa itu hal wajar saat menghadiri pernikahan mantan)," sambung Papanya.
"Si vous êtes tous les deux prêts à prendre des risques plus tard, Maman va bien aussi. Alors Zain, fais en sorte que Cha soit magnifique à la fête. Préparez tout, nous agirons immédiatement avant l'événement," pinta Mamanya terhadap Zain.
"(Kalau kalian berdua siap dengan resiko apapun nantinya, Mama juga tak masalah. Kalau begitu Zain, buat penampilan Cha memukau saat mengjadiri pestanya. Persiapkan segalanya, kita akan segwra bersngakt sebelum acaranya)," pinta Mamanya terhadap Zain.
"Baik Ma, Zain akan memberitahukan Cha sekarang juga. Zain ke kamar dulu ya Mom, Pa," Zain pergi berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
Zain berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Tanpa mengetuk pintu kamarnya, dia membuka kamarnya sendiri. Zain pun masuk kedalam dan melihat Cha sedang tidur dalam selimutnya.
"Syukurlah kamu bisa tidur, aku pikir kamu akan menderita dan melamun sepanjang hari," gumam Zain yang sudah duduk disamping Cha.
Cha yang masih asyik dengan tidurnya, merasa terusik dengan sentuhan lembut diwajahnya. Perlahan dia membukakan matanya dan melihat Zain sudah berada disampingnya. Cha pun langsung terduduk. Lalu dia melihat keluar jendela dengan cuaca menjelang malam.
__ADS_1
"Kamu baru pulang Zain?" tanya Cha sambil mengucek-nhucek matanya.
"Heum. Gimana tidurnya nyenyak kah?" tanya Zain balik.
"Aku ketiduran karena lelah menangis Zain. Sekarang aku mau membersihkan tubuhku dulu," Cha beranjak dari tempat tidurnya. Namun Zain menahannya.
"Aku ada berita buatmu."
"Berita apa Zain?"
Zain menatap kearah Cha dan diapun tersenyum melihat ekspresi wajah Cha yang penasaran.
"Kita akan segera berangkat ke Belanda menghadiri pesta Yoga."
Cha terdiam mendengar berita yang dibawa Zain. Dia bingung, apakah senang bisa memberi kejutan atau justru malah takut akan membuat kacau pesta itu.
"Kenapa malah kamu melamun Cha? Bukannya ini yang kamu inginkan?" tanya Zain bingung.
"Iya Zain, aku memang menginginkannya. Tapi aku takut Zain tidak bisa mengendalikan diriku buat marah nantinya."
"Itu hal wajar sayang. Siapa yang tidak marah jika melihat kekasihnya menikahi perempuan lain," jelas Zain.
"Tapi aku juga ikut bersalah Zain. Karena aku juga mengkhianatinya," sesal Cha.
"Ya, kamu benar. Aku yang salah Cha, menginginkanmu. Padahal aku tau kamu sudah memiliki kekasih. Walaupun kamu selalu menolakku, tapi kita melakukannya," Zain menjadi merasa bersalah.
"Kamu membenciku Cha?" tanya Zain takut.
"Kenapa aku harus membencimu Zain? Aku juga bersalah karena menerima dan menikmati segala sentuhanmu," jawab Cha.
"Sayang, aku janji tidak akan pernah menduakanmu, dan aku akan menunggumu sampai kamu siap untuk menikah denganku," ucap Zain dengan kesungguhan.
Cha menatap mata Zain dan mencari kejujuran serta ketulusan atas ucapannya. Dia pun tersenyum dan berkata, "Silahkan dibuktikan Zain!" Lalu Cha pergi meninggalkan Zain yang terpaku disamping tempat tidur.
Cha segera masuk kedalam kamar mandi dan mulai merilekskan tubuh dan pikirannya dibawah guyuran shower.
Sementara Zain yang masih setia duduk disamping tempat tidur, hanya diam dan memikirkan ucapan Cha.
"Apakah dia sudah mulai tak mempercayai sosok laki-laki? Atau tidak percaya dengan suatu hubungan?" gumam Zain yang merasa khawatir.
Setelah sejam kemudian, akhirnya Cha menyelesaikan acara mandinya. Dia keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Zain yang masih duduk disamping tempat tidur.
"Loh Zain, kamu masih disitu?" tanya Cha.
__ADS_1
"Ya, aku menunggumu. Aku juga mau membersihkan tubuhku sehabis dari kantor," ucap Zain.
"Ya sudah sana mandi dulu. Pantes aja ruangan ini agak bau, ternyata ada yang belom mandi," ledek Cha mencairkan suasana.
"Mulai pinter kamu ya sekarang meledekku. Lagian aku gak bau kok. Masih wangi gini," ucap Zain sambil mencium tubuhnya yang masih wangi.
"Udah buruan mandi, aku ingin jalan-jalan sekitar sini Zain. Ya biar gak kepikiran patah hati."
"Mmmm baiklah. Tunggu sebentar, setelah aku selesai mandi, kita akan jalan-jalan keluar Mansion. Kamu mau kan?"
"Ya, aku mau Zain. Apakah kita boleh ajak Oma dan Mama biar rame?" tanya Cha.
"Mereka tidak akan mau ikut. Kita pergi berdua saja, bohong Zain. Padahal kalau Mama dan Omanya diajak, pasti mau. Tapi Zain hanya ingin berdua saja menikmati suasana malam.
"Baiklah, tapi kita izin dulu sama Mama kamu Zain. Nanti mereka kecarian," pinta Cha.
"Pasti sayang. Aku mandi dulu ya," Zain masuk kedalam kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Cha bersiap-siap dan setelah itu dia keluar dari kamar Zain. Cha berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tengah. Disana dia melihat Oma sedang menyulam.
"Sore Oma!" sapa Cha saat sudah berada didepan Omanya Zain.
"Hallo sayang. Kamu terlihat cantik sekali sore ini. Apa kalian akan kencan malam ini?" tanya Omanya menggoda Cha.
"Kami hanya jalan-jalan saja Oma. Cha tidak ingin larut dalam kesedihan Oma."
"Bagus itu sayang. Jangan tangisi laki-laki yang sudah meninggalkanmu karena perempuan lain," dukung Omanya.
"Iya Oma. Ini Oma menyulam?" tanya Cha tak percaya.
"Iya sayang, Oma mau mencicil buat topi bayi untuk cicit Oma dari Zain."
Cha langsung batuk mendengar penuturan Omanya Zain.
"Kenapa sayang, kamu mau minum ya? Bibi...., bawakan air putih kesini!" perintah Omanya.
"Ah Oma tidak usah, Cha aja yang ambil. Oma tunggu bentar ya, Cha mau ambil air minum dulu," Cha meninggalkan Omanya.
Di dapur, Cha segera mengambil air putih dan meminumnya ditempat. Lalu dia membawakan air putih untuk Omanya juga. Saat Cha berjalan kearah Omanya, dia melihat Zain sudah duduk disamping Omanya.
"Gimana, udah minum?"tanya Zain.
"Sudah Zain. Oma, ini air putih buat Oma," Cha meletakkan gelas berisi air putih diatas meja.
__ADS_1
"Sayang terima kasih ya. Sekarang kalian pergilah. Jangan terlalu malam pulangnya ya."
Zain dan Cha pun berpamitan sama Omanya. Mereka pergi meninggalkan Mansion dan berkeliling daerah Mansion Zain.