
Cha yang tidak sengaja menabrak seseorang, malah dia yang marah-marah.
"Jalan pake mata dong!" ketus Cha tanpa melihat ke orang yang ditabraknya. Karena dia sibuk membenahi buku yang jatuh dari tangannya.
Orang yang ditabraknya, masih diam berdiri di hadapan cha tanpa merespon ucapan Cha. Cha yang berjongkok memunguti bukunya, lalu mendongak ke atas melihat siapa yang ditabraknya.
"Ya ampuuun Gaaaa, kirain siapa, sorry ya," ucap Cha minta maaf.
"Sini aq bantu," Yoga pun berjongkok dan membantu Cha memegang bukunya.
"Gak usah biar aq aja Ga," tolak Cha dan langsung meraih buku yang sudasah di genggaman Yoga.
"Udah gak apa, biar aq aja Cha. Please jangan nolak, ok," protes Yoga yang masih memegang buku Cha dan dia pun berdiri.
click
Cha juga berdiri, dia enggan melihat ke arah Yoga. Karena dia tau pasti Yoga akan memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Cha, aq boleh nanya gak?" tanya Yoga sambil berjalan menuju kelas Cha.
"Mmm mau nanya apa ya Ga?" tanya Cha balik.
"Beberapa hari ini aq perhatikan, kamu sepertinya menghindar dari aq. Kenapa Cha?" tanya Yoga lagi.
Mereka berbicara sambil berjalan. Disepanjang jalan banyak mata yang memandang ke arah mereka. Dan berbagai macam pandangan yang diartikan dari cara mereka melihat Cha dan Yoga.
"Tumben jalan berdua lagi tuh," celetuk gadis yang duduk didepan kelas lainnya terhadap temannya.
"Mungkin udah baikan kali," balas temannya.
Dan ada beberapa omongan lainnya yang ditujukan kepada Cha dan Binyu. Mereka bersikap seperti itu karena beberapa hari kemaren antara Cha dan Yoga tidak terlihat pulang dan dateng bareng. Bahkan setiap ujian selesai, mereka melihat Cha sudah tidak ada, karena Yoga selalu pulang berdua dengan Bimo. Maka dari itulah mereka beranggapan antara dan Yoga sedang ada masalah.
Cha tidak langsung menjawab pertanyaan Yoga. Dia tidak mau membahas nya untuk saat ini.
"Maaf ya Ga, sepertinya waktunya belom tepat untuk membahasnya. Nanti kalau sudah selesai ujian aq pasti cerita ya. Saat ini aq ingin fokus jalani ujian dulu," jawab Cha sambil memohon kepada Yoga.
"Heum, baiklah Cha, aq ngerti. Ya udah nih buku nya. Nanti kamu mau pulang bareng aq atau nggak?" tanya Yoga yang menawarkan dirinya.
"Hari ini aq pulang sendiri ya Ga, besok-besok aja kita bareng. Lagian aq gak enak nebeng terus sama kamu," tolak Cha yang merasa tidak enakan.
Yoga pun mengangguk, dan dia pergi meninggalkan Cha, kembali ke ruangan kelasnya.
Cha menarik nafasnya dengan berat dan memandang punggung Yoga dari belakang, sembari berkata, "Maafin aq Ga, aq tidak ingin menyusahkan mu terus. Aq ingin mandiri tanpa bantuan mu," gumam Cha sambil melangkah masuk ke dalam kelasnya.
Seperti biasa ujian pun dimulai. Cha sudah menyiapkan dirinya untuk mengerjakan soal ujian. Hari ini ujian yang dijalani Cha cukup berat, karena pelajaran yang diujiankan adalah Matematika, itu adalah pelajaran yang kurang disukai Cha. Kalau urusan hitung menghitung paling rumit bagi Cha. Namun dia berusaha menyelesaikan ujiannya dengan baik.
Tak terasa akhirnya ujian selesai. Cha pun membenahi peralatan sekolahnya. Setelah selesai, dia keluar dari dalam kelas. Ketiak Cha melangkah keluar kelas, ternyata di dalam kelas sudah menunggu Yoga.
"Cha, ayuk pulang bareng aq. Aq mau ngomong sama kamu," kata Yoga yang menghentikan langkah Cha.
"A..aq gak bisa Ga, hari ini aq udah ada janji. Lain kali aja ya kita ngobrolnya," jawab Cha dan langsung berjalan melewati Yoga.
Yoga pun menghentikan langkah Cha dengan menarik lengan Cha.
"Please Cha, aq pengen kita ngomong," Yoga memohon agar Cha mau pulang bareng dia.
Namun Cha tetap tidak mau pulang bareng Yoga.
"Tolong Ga, kali ini jangan paksa aq. Aq janji lain kali kita akan ngobrol, ok," kata Cha dengan intonasi tekanan.
__ADS_1
Yoga pun melepaskan genggaman dilengan Cha. Dia melihat kepergian Cha.
"Kenapa kamu berubah Cha? Kamu tau gak, lusa aq udah harus berangkat keluar negeri. Kita pasti gak akan ketemu lagi," bathin Yoga yang menahan sesak di dadanya. Yoga kembali ke kelas nya dan melihat Bimo masih berada di dalam kelas.
"Gimana Ga, jadi pulang bareng Cha?" tanya Bimo penasaran karena melihat wajah Yoga yang ditekuk.
"Nggak Bim, dia udah pulang. Katanya udah ada janji," jawab Yoga dengan lemas.
"Aq lihat belakang ini Cha seperti menghindar dari Lo Ga," kata Bimo yang masih memperhatikan Yoga.
"Gak tau lah Bim. Kenapa dia seperti itu," jawab Yoga males.
"Sabar bro, kalau kalian jodoh pasti akan bersatu lagi. Walaupun harus berjauhan, aq doa'akan semoga kalian bisa bersama kembali," kata Bimo yang memberikan support kepada Yoga.
"Makasih ya Bim, Lo emang teman gw yang terbaik," balas Yoga.
"Udah yuk pulang, besok juga masih bisa kan ngobrol sama Cha. Mudah-mudahan besok dia tidak menghindar lagi," kata Bimo.
"Semoga aja Bim, besok masih bisa ketemu sama dia," balas Yoga sambil berjalan keluar dari dalam ruangan kelasnya.
Mereka berjalan ke arah parkiran. Tidak sengaja Yoga menangkap pandangan yang di kenalnya. Dia seperti melihat Cha di dalam mobil. Dan mobil itu mobil Zain.
"Masa Cha pulang bareng Zain? Kenapa Cha pergi sama dia?" gumam Yoga yang berdiri di samping pintu mobilnya.
Bimo menepuk pundak Yoga dan berkata "Hei Ga, kenapa Lo malah bengong," tanya Bimo heran.
"Lo tadi lihat gak, mobil laki-laki itu," kata Yoga seperti orang terhipnotis.
"Laki-laki siapa Ga, hei Lo kesambet ya," tegur Bimo sambil menggoyang-goyangkan pundak Yoga untuk menyadarkannya.
"Temannya Binyu, laki-laki yang mencoba memperkosa Cha waktu itu," sahut Yoga yang masih dalam posisi diam berdiri.
"Mana-mana Ga, gak ada," Bimo celingak-celinguk mencari keberadaan mobil Zain. Tapi tidak terlihat karena mobil Zain sudah pergi dari parkiran.
"Apaan sih Lo Ga, jangan mikir yang aneh-aneh gitu. Gak mungkin Cha jadian sama laki-laki itu. Dia kan jahat, masa Cha mau sama dia," ucap Bimo meyakinkan Yoga. Bimo melihat Yoga seperti orang yang putus cinta.
"Kasihan banget sih Lo Ga, cinta Lo blom dibales Cha juga sampai saat ini," bathin Bimo yang melihat Yoga dengan ekspresi lain.
"Iya ya Bim. Hahhh, yuk masuk. Aq anter Lo pulang," ajak Yoga. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area sekolah.
Kembali dengan Cha. Saat ini Cha sudah berada di dalam mobil bersama Zain. Dia masih kepikiran tentang Yoga.
"Emang apa ya yang mau dibicarakannya, sepertinya penting," pikir Cha sambil memandang jalanan.
"Ekhemm, kenapa Cha. Aq perhatikan dari tadi, kamu seperti memikirkan sesuatu. Emang ada masalah ya?" tanya Zain penasaran.
"Ya masalahnya karena kamu," ketus Cha tanpa menoleh ke Zain.
"Loh kenapa karena aq? Emang aq buat salah apa sama kamu Cha?" tanya Zain lagi.
"Ya salah, karena ngajak aq kencan. Dan memaksa lagi," Cha menjawabnya dengan wajah juteknya. Dia males melihat ke arah Zain.
Zain bukannya marah mendengar Cha berbicara ketus kepadanya, malah dia tambah gemes melihat sikap Cha.
"Duh...lucu banget sih kamu Cha. Buat aq makin cinta sama kamu," Zain berkata spontan sambil mencubit pipi Cha. Setelah itu dia tersadar karena mengucapkan kata cinta.
"E..eh pak, masih lama kah kita sampai," Zain salah tingkah dan gugup lalu dia mengalihkan pembicaraan kepada supirnya.
"Sebentar lagi tuan kita sampai," balas supirnya yang melirik ke kaca spion.
__ADS_1
Cha yang menangkap kata cinta dari bibir Zain, terbengong melihat ke arah Zain.
"Apa katanya, cinta..?? Dia cinta sama gw, hehh. Yang benar aja. Hahhh gak mungkin," bathin Cha yang tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Zain tidak melihat tingkah Cha yang terbengong. Karena dia pun berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona malu atas pengakuannya yang tak sengaja.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Dan sepanjang jalan mereka dia tanpa berbicara satu sama lain. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah restoran mewah. Zain mengajak Cha turun dari mobil.
"Kita mau kemana Zain?" tanya Cha yang kebingungan.
"Udah ikut aja. Kamu pasti suka," jawab Zain yang langsung keluar dari mobil.
Cha pun mengikuti Zain keluar dari mobil. Dia melihat Restauran yang mewah. Kali ini Zain memberikan suprise kepada Cha. Dia tidak ada niat untuk melakukan hal yang buruk kepada Cha.
"Cha mau kah kamu menutup matamu Samapi kita ke lokasi nya," pinta Zain yang memohon kepada Cha.
"Nggak ah, ntar kamu macem-macem lagi sama aq," jawab Cha ketus.
"Kalau aq mau macem-macem sama kamu, udah dari kemaren aq lakukan. Udah sini tutup mata kamu," pinta Zain kembali sambil mengeluarkan kain merah sebagai penutup mata Cha.
Cha pun mendekat ke arah Zain. Dia pun membiarkan Zain memasangkan kain penutup itu dari arah depan. Cha bisa mencium aroma segar nafas Zain. Karena Zain berada tepat didepan Cha tanpa berjarak, membuat jantung Cha berdegup kencang.
Begitupun dengan Zain. Dia merasakan jantungnya berdebar ketika berhadapan dengan Cha tanpa jarak. Dia bisa mencium aroma lavender dari tubuh Cha. Wangi yang sangat disukai Zain.
Zain pun menuntun Cha masuk ke dalam Restauran dimana Zain sudah memesan tempat yang romantis buat Cha dan dia. Cha mengikuti Zain, karena Zain menggenggam tangan Cha untuk menuntunnya ke dalam.
Sampai lah mereka di tempat yang dituju. Di mana didalam bukan hanya mereka berdua yang ada, tetapi orang tua Zain juga hadir ditempat tersebut. Ya, Zain membawa Cha diacara ulang tahun pernikahan orang tuanya yang hanya dihadiri keluarga besar.
Zain sengaja membawa Cha ke acara tersebut dan ingin memperkenalkannya kepada keluarga besarnya terutama orang tuanya, bahwa dia sudah menemukan perempuan yang pantas menjadi pendampingnya.
Zain perlahan membuka penutup mata Cha dan berkata " surprise.....," kata Zain semangat memperlihatkan banyak orang.
Cha mengedip-ngedipkan matanya dan memandang kesegala arah.
"Kenapa banyak orang memandang ke arahku?" pikir Cha yang masih menyesuaikan pandangannya.
"Ekhem..," Zain membuyarkan rasa keterkejutan cha.
"Siapa mereka Zain," bisik Cha ketelinga Zain.
"Ayuk aq kenalkan sama mereka," ajak Zain yang menarik tangan Cha berjalan menuju kedua orang tuanya.
"Ma, pa, kenalkan ini dia perempuan yang Zain ceritakan kemaren," Zain membawa Cha kehadapan orang tuanya.
"Wah cantik banget kamu sayang, kenalin, saya mamanya Zain dan ini papa nya Zain," mama Zain mengulurkan tangannya.
Dan Cha menyambut uluran tangan mama nya Zain dengan memperkenalkan dirinya.
"Kenalkan nama saya Daecha Parisya, Tante, Om," balas Cha sambil menyalami satu persatu.
"Wah nama yang cantik seperti orangnya, iya kan pa!" kata mama Zain memuji sosok Cha.
"Jadi mama percayakan kalau pilihan Zain sangat pas dengan Zain kan ma," jawab Zain percaya diri.
"Ini pasti Zain menculik kamu ya sayang tadi?" tanya mama Zain kepada Cha. Karena kondisi Cha saat ini masih mengenakan pakaian seragam.
"Ini anak kelewatan banget," Papa Zain ikut menimpali ucapan istrinya.
Hai pembaca setia kisah Cha..., gimana ceritanya, makin penasaran kan dengan jalan ceritanya...
__ADS_1
Biar makin seru dan banyak imajinasi, kasih dong penulis vitamin LIKE, HADIAH yang banyak, VOTE nya dan jangan lupa komen dan kritik nya. Biar penulis sadar kalau ceritanya menarik atau tidak.
Ikutin terus ya cerita Cha anak keluarga Broken Home...