
Mereka masuk ke dalam mobil. Sika tak berhenti memandang Zain, walaupun dia duduk di belakang.
"Kak, apakah kak Zain akan ikut kita kerumah?" tanya Sika penasaran.
Cha menoleh ke arah Zain. Cha sebenarnya menginginkan Zain menemui Mamanya, tapi dia sadar kalau saat ini waktunya tidak pas. Cha harus menunggu keadaan sedikit membaik.
"Tidak sayang. Kak Zain hanya mengantar kita saja. Dia gak akan ikut masuk ke dalam. Kakak belom berani mengajaknya bertemu Mama," jawab Cha.
"Loh, kalau kak Zain serius kenapa nggak kak!" seru Sika.
"Kakak mau lihat kondisi Mama dulu dek. Kalau waktunya tiba, pasti kakak akan mengajak kak Zain kerumah bertemu Mama," ucap Cha.
Sika hanya diam saja. Dia tak berani bertanya lagi. Karena dia tau kalau kakaknya pasti sudah memikirkan segalanya dengan baik dan pertimbangan.
Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam menikmati pemandangan di luar mobil. Ramainya jalanan membuat mereka sedikit lama sampai ke rumah Cha. Hingga mobil memasuki jalan menuju rumah Cha.
Zain masih ingat betul bagaimana dulu dia menemani Binyu mencari tau dimana rumah Cha. Dan Zain selalu menunggu Cha di dekat gang rumahnya. Zain tersenyum sekilas kala mengingat kejadian itu semua.
Cha ternyata memperhatikan sikap Zain. Namun dia enggan menanyakannya.
"Kamu kenapa tersenyum Zain?" tanya Cha.
"Aku mengingat kenangan yang lalu. Rasanya lucu aja, sekarang aku malah mengantarmu kembali kerumah. Ini benar-benar cerita kisah yang menarik," jawab Zain.
"Apa kamu selalu mengingatnya Zain?" tanya Cha lagi.
"Tentu Cha. Bagiku itu kenangan yang tak terlupakan. Itu adalah kisah yang indah dan tak mungkin dilupakan," jawab Zain lagi.
"Apakah kenangan itu sangat berkesan Zain?"
"Yup, itu sangat berkesan. Dan kisah itu yang membuatku menjadi lebih dekat denganmu Cha."
Sika yang duduk dibelakang hanya menjadi pendengar yang baik. Dia memilih melihat jalanan dari jendela kacanya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hingga akhirnya mereka sampai di depan gang rumah Cha.
"Zain, kamu antar aku disini aja ya?" pinta Cha.
"Biarkan aku mengantar kalian sampai di depan rumah. Setelah itu aku akan kembali ke hotel," balas Zain.
"Iya kak, biar aja kak Zain nemani kita sampai depan rumah. Lagian lebih baik kak Zain juga bertamu di rumah kita," saran Sika.
"Kakak belom berani dek mempertemukan Mama dan Kak Zain," balas Cha.
"Kalau gitu biarkan kak Zain mengantar kita sampai rumah, kalau kak Zain tak keberatan," pinta Sika.
"Baiklah, kamu boleh ngantar aku sama Sika sampai depan rumah," ucap Cha pasrah.
__ADS_1
Zain pun bersemangat mengantar Cha. Mobil akhirnya memasuki gang rumah Cha yang tidak terlalu lebar. Hingga akhirnya sampai di depan rumah Cha. Sika duluan turun dan mengucapkan terima kasih kepada Zain.
"Kakak tampan, makasih ya karena sudah berbaik hati mengantar kami. Sampai ketemu lagi ya...," ucap Sika sambil tersenyum.
Lalu Sika langsung keluar dari dalam mobil dan meninggalkan kakaknya bersama temannya.
Sedangkan Cha masih berada di dalam mobil. Dia menoleh kearah Zain.
"Zain, maaf kalau kamu harus kembali ke hotel. Aku harap kamu mengerti ya," ucap Cha yang merasa tak enak.
"Gak apa sayang, aku ngerti kok. Kamu harus sering mengabariku apapun yang terjadi ya," balas Zain sambil mengusap pipi Cha.
"Iya Zain. Aku masuk dulu ya kerumah."
Namun sebelum Cha keluar dari dalam mobil, Zain menahan lengannya.
"Bolehkah aku menciummu Cha..?" pinta Zian penuh harap.
Cha pun mengangguk dan mendekatkan dirinya ke Zain. Lalu mereka pun berciuman, berbagi kelembutan dan saling bertukar salivanya.
Setelah puas, Cha melepaskan pagutan bibir mereka dan dia tersenyum menatap Zain.
"Aku masuk dulu ya ke rumah," Cha mengulang ucapannya lagi.
"Heum," balas Zain.
Di teras rumah sudah berdiri kakaknya yang bernama Ina. Ina menatap Cha dengan curiga. Dia merasa heran, kenapa Cha pulang ke Medan. Dan bertanya-tanya dalam hatinya dari mana Cha bisa membeli tiket Pesawat. Namun Ina menahan dirinya untuk tidak bertanya. Menunggu waktu yang pas.
Setelah membantu Cha mengambil barang-barangnya dan memastikan Cha masuk ke dalam pagar, Zain pergi meninggalkan rumah Cha. Dia kembali ke hotel dimana Binyu sudah menunggunya.
Di dalam rumah Cha, dia melihat Mamanya sudah duduk di ruang tamu. Cha pun ikut duduk setelah menyalami Mamanya.
"Kenapa kau pulang ke rumah, hah?" tanya Mamanya tak senang.
"Cha hanya ingin melihat keadaan Mama dan adik-adik sini, Ma," jawab Cha.
"Dari mana kau punya uang untuk membeli tiket. Kau gak buat macam-macam kan disana?" tuduh Mamanya dengan kejam.
"Nggak Ma, Cha pake uang sendiri yang Cha tabung selama ini," balas Cha.
"Kau gak bohong kan!" sambung Ina.
"Nggak kak," jawab Cha.
Dia tidak ingin mereka mengetahui bahwa semua yang dilakukannya dibantu oleh Zain. Cha takut, keluarganya akan berpikiran negatif dan menilainya buruk jika mengetahui tentang Zain.
"Maaf Ma, aku mau ke kamar dulu. Biarkan aku istirahat dulu," ucap Cha sambil menatap Mamanya.
__ADS_1
"Pergilah, kau lihat itu adik-adikmu," suruh Mamanya.
"Iya Ma."
Cha pun pergi meninggalkan Mamanya dan kakaknya di ruang tamu. Cha tau kalau kakaknya itu usil dan ingin tau tentang Cha.
Cha tidak masuk ke kamarnya, tapi dia berjalan kearah kamar adiknya Sika. Dia mengetuk pintu kamar Sika.
"Tok tok tok, dek..!" panggil Cha pelan.
Tak berapa lama, pintu kamar Sika terbuka. Ternyata Sika sudah berganti pakaian.
"Masuk kak," ajak Sika.
"Kakak cuma mau kasih oleh-oleh buat kamu dan si bungsu. Tapi oleh-olehnya masih di tas kakak. Ayo kita ke kamar kakak," ajak Cha dengan senang.
"Benaran kakak bawa oleh-oleh?" tanya Sika penasaran.
"Iya Sika...dan ada juga titipan dari kak Zain," jawab Cha sambil mencubit gemas pipi tembem Sika.
"Ayo kak, Sika gak sabar pengen lihat oleh-olehnya," Sika pun dengan senang hati menarik tangan kakaknya keluar dari kamarnya.
Mereka berdua berjalan memasuki kamar Cha. Kemudian Cha membuka pintu kamarnya dan melihat kamar yang berbeda. Tidak ada lagi aroma wangi lavender diruangan itu. Semua sudah berubah. Kamar yang dulunya tempat Cha berbagi cerita.
Sika duduk dengan manis di tepian tempat tidur Cha. Dia sudah tidak sabar ingin melihat oleh-oleh dari kakaknya dan kekasih kakaknya.
"Mana kak oleh-olehnya?" tanya Sika gak sabaran.
"Bentar dong dek, nih kakak lagi buka tasnya. Kamu udah kunci pintu kamarnya belom?" tanya Cha.
Cha tidak mau kalau Ina masuk ke dalam dan melihat oleh-oleh dari Zain. Dia tidak ingin berurusan dengan Ina yang tukang mengadu.
Setelah membongkar isi tasnya, Cha memberikan oleh-olehnya kepada Sika.
"Ini oleh-oleh dari kakak. Dan yang ini dari kak Zain buat Sika.
"Wah....bagus banget kak tas sekolahnya?" ucap Sika dengan takjub.
"Iya itu kakak beli di Paris," balas Cha.
Sika terkejut dan menatap tak percaya kearah Cha.
"Sika gak salah dengarkan kak? Kakak bilang ini dari Paris?" tanya Sika ulang.
"Iya ini tas dari Paris," jawab Cha serius.
"Hahaha, kakak bercanda. Kapan kakak kesana?"
__ADS_1
"Nanti kakak akan kasih tau kamu. Dan kakak akan menceritakan semuanya," ucap Cha.