
Dalam perjalanan, Binyu banyak ngobrol sama Zain.
"Zain, kapan kau akan kembali ke Paris?" tanya Binyu.
"Mungkin besok atau lusa. Aku hanya ingin memastikan Cha baik-baik saja," jawab Zain.
"Oh..., aku rasa dia akan baik-baik aja disini. Dia kan bertemu dengan keluarganya," ucap Binyu.
"Semoga aja. Aku hanya mengkhawatirkannya, karena aku tau bagaimana keluarganya," balas Zain.
Lalu mereka berdua diam sejenak. Tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang terkenal di Medan untuk tempat nyantai sekaligus menikmati live music.
Zain dan Binyu memasuki cafe itu dan memilih tempat duduk yang nyaman. Setelah mereka duduk, seorang pelayan menghampiri keduanya.
"Malam Tuan, silahkan kalau mau pesan makanan," ucap pelayan itu sambil memberikan buku menunya.
"Nanti kami panggil kembali," balas Binyu.
"Baik Tuan." Pelayan itu pun pergi dari hadapan Zain dan Binyu.
Zain mengambil buku menu itu dan melihat makanan yang ada dibuku menu.
Setelah mereka berdua sudah memilih makanan, Binyu pun memanggil pelayan itu.
"Mau pesan apa Tuan?" tanya pelayan itu ramah.
Zain dan Binyu menyebutkan nama-nama makanan yang akan dipesan mereka. Setelah itu, si pelayan pergi dari meja mereka.
"Apa rencanamu Zain ke depannya?" tanya Binyu membuka percakapan.
"Gw akan menunggu Cha di Paris. Kalau dia sudah siap, gw akan menemuinya dan menikahinya," jawab Zain dengan tersenyum.
"Kamu beruntung mendapatkannya Zain. Dia perempuan yang baik. Jaga dia Zain, jangan sakiti dia. Dia sudah sangat menderita," ucap Binyu menyesali perbuatannya.
"Lo tenang aja, gw akan menjaganya sampai akhir hidup gw," balas Zain.
"Hahahaha, oh ya gimana dengan Yoga? Apa Lo selalu memantaunya?" tanya Binyu yang mengerti bahwa Zain takut akan kehadiran Yoga lagi.
"Ya, gw gak ingin dia mencoba merusak hubungan gw sama Cha. Dia masih di Belanda menyelesaikan sekolahnya," jawab Zain.
"Bagaimana dengan pernikahannya?" tanya Binyu penasaran.
"Dia tidak mau mengakui istrinya itu. Dia memilih tinggal di Apartemen," jawab Zain.
"Wah....dia benar-benar mencintai Cha. Sampai gak mau tinggal bersama istrinya."
__ADS_1
"Ya, yang gw dengar bahwa dia akan menceraikan istrinya secepatnya. Karena dia tidak mau hidup berumah tangga dalam kebohongan," ucap Zain nyantai.
"Apa Lo takut kalau Yoga akan mengambil Cha kembali?" tebak Binyu.
"Tidak, gw gak takut sama sekali. Gw yakin Cha tidak akan meninggalkan gw," balas Zain penuh percaya diri.
Lalu saat mereka saling ngobrol, pelayan datang membawa pesanan makanan mereka. Pelayan itu meletakkan makanan itu di meja.
"Silahkan Tuan dinikmati, kalau ada yang kurang silahkan panggil kembali saya," ucap pelayan itu dengan genitnya.
"Terima kasih," balas Binyu tanpa menoleh ke pelayan itu.
Setelah kepergian pelayan itu, Zain dan Binyu mulai mengambil makanannya.
"Ayo kita nikmati makan malam ini berdua. Seperti sepasang kekasih hehehe," kekeh Binyu.
"Sialan Lo, nanti dikira kita sepasang gay," balas Zain.
"Hahahaha," Binyu tertawa terbahak-bahak.
Mereka pun menikmati makan malam diselingi dengan obrolan canda dan tawa. Malam yang panjang mereka habiskan dengan bersantai di cafe tersebut.
Ditempat lain, di rumah Cha. Saat ini Cha sedang ngobrol sama Sika. Sesuai dengan janji Cha, dia akan menceritakan tentang Zain kepadanya.
"Ya itu keberuntungan Kakak. Dia orang yang sangat baik. Tapi Kakak takut untuk memperkenalkannya dengan Mama," ucap Cha bingung.
"Kenapa harus takut Kak? Kalau menurutku sih, lebih baik cerita sama Mama dan kenalkan sama Mama," balas Sika polos.
"Kamu tau kan dek, bagaimana Mama. Apa menurutmu Mama akan senang kalau Kakak membawa Kak Zain ke rumah?" tanya Cha bimbang.
"Coba aja Kakak bicara sama Mama dulu. Jangan ambil kesimpulan kalau belom ngomong sama Mama," jawab Sika yang sok dewasa.
"Iya deh, Kakak coba. Ya udah kamu gih tidur sana. Kakak juga mau istirahat," Cha mengusir Sika kembali ke kamarnya.
"Kak, malam ini Sika tidur disini ya. Udah lama gak tidur bareng Kakak. Boleh ya, plisss," Sika memohon dengan mengatupkan dua tangannya.
"Ya boleh dong. Ya udah kamu tidur duluan. Kakak mau tlp Kak Zain," ucap Cha.
"Iya Sika duluan ya tidur, malam Kak," balas Sika. Lalu dia pun merebahkan tubuhnya dan memakai selimut.
Sedangkan Cha berdiri dan duduk di sofa depan TV. Cha mencoba menghubungi Zain, namun tidak ada sahutan dari Zain. Hingga berulang kali, namun tak diangkat Zain juga. Cha menjadi khawatir dengan Zain.
"Kenapa dia gak ngangkat juga ya? Zain kamu kemana....?" gumam Cha cemas.Akhirnya Cha
mengirim pesan terhadap Zain. Lalu dia pun menyusul Sika tidur disampingnya.
__ADS_1
Di cafe, Zain dan Binyu masih menikmati suasana malam di Medan. Mereka menghabiskan waktu dengan santai sambil nonton live music yang disajikan cafe tersebut.
"Bin, ayo pulang. Ini sudah larut malam. Gw mau istirahat," ajak Zain.
"Ok, kita balik ke hotel sekarang," Binyu pun menyetujui kemauan Zain.
Setelah membayar makanan mereka, Zain dan Binyu meninggalkan cafe itu. Zain dan Binyu berjalan kearah parkiran. Mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sesampainya di hotel Zain melihat ponselnya. Ternyata Cha menghubunginya berulangkali. Zain merasa bersalah karena tidak mendengar suara dering ponselnya. Lalu Zain melihat motif pesan dari Cha.
Zain membacanya dan merasa bersalah karena mengabaikan Cha. Zain membalas pesan Cha. Dia yakin kalau Cha sudah tidur saat ini.
Malam semakin larut, bintang-bintang bertaburan menerangi langit hingga terang. Sampai pagi menyapa, suara ayam berkokok membangunkan orang-orang agar menjalankan kewajibannya masing-masing.
Cha bangun pagi hari, dia ingin membantu Mamanya dan Kakaknya Ina membuat sarapan. Cha melihat Sika yang masih terbaring dengan lelapnya. Lalu dia membersihkan dirinya agar segar.
Setelah Cha membersihkan tubuhnya, dia keluar dari dalam kamarnya. Dia pun melihat ke dapur, ternyata Kakaknya Ina sudah ada di dapur membuat sarapan nasi goreng.
"Ada yang bisa aku bantu Kak?" tanya Sika saat masuk ke dalam dapur.
"Ih udah bangun ternyata. Bantu Kakak menyiapkan piring diatas meja. Habis tuh kamu bangunin Mama dan yang lainnya buat sarapan," suruh Kakaknya Ina.
"Baik Kak."
Cha menyiapkan piring keatas meja dan berbagai persiapan lainnya. Setelah selesai, dia berjalan menghampiri kamar Mamanya.
"Tok tok tok, Ma....! Ayo sarapan!" panggil Cha.
Setelah pintunya diketuk, Mama Cha keluar dari dalam dan melihat Cha di depannya.
"Udah buat sarapan Kakak kau?" tanya Mamanya.
"Udah Ma," jawab Cha.
"Ya udah nanti Mama nyusul. Sarapan aja kian duluan," ucap Mamanya menyuruh mereka sarapan duluan.
"Iya Ma." Cha tak banyak bicara. Dia takut membuat mood Mamanya berubah.
Akhirnya Cha berjalan menuju kamarnya untuk membangunkan Sika.
"Dek ayo sarapan. Sudah jam berapa ini. Ayo bangun...!" ucap Cha membangunkan Sika.
"Uh...Kakak, masih jam berapa ini? Masih ngantuk loh Kak...! Lagian hari ini kan libur, Sika mau bangun lama," ucap Sika malas-malasan.
"Sika, gak baik telat sarapan. Nanti perut kamu sakit. Ini juga sudah jam berapa! Jangan lama-lama banget bangunnya. Ayo bangun, sarapan. Udah disiapkan Kak Ina itu," paksa Cha supaya Sika segera bangun.
__ADS_1