
Binyu mundur beberapa langkah, karena siswa-siswa yang ternyata dipanggil Bimo justru berdatangan membantu mereka.
"Ada apa Ga?" tanya salah satu siswa team basket mereka.
"Ini ada cowok jahat ngejar-ngejar Yoga. Dikiranya Yoga penyuka sesama jenis. Padahal Yoga kan normal," bohong Bimo ngasal.
"Eh Lo kalau mau nyari gituan jangan disini. Ini tuh sekolah. Lo kalau mau nyari mangsa jangan disini..! Pergi gak Lo...!" kata siswa yang satunya lagi sambil memegang sepatunya buat melempar Binyu.
"Iya pergi Lo dari sini!" teriak siswa yang ikut menimpali.
"Iya usir....!"
"Iya, usir dia..!" teriak siswa lainnya.
Bimo terus menghasut temen-temen nya buat mengusir Binyu dari area sekolah.
"Ayok kita usir dia, jangan sampai mengotori sekolah kita. Kita gak tau besok ke besoknya dia bakalan nyari mangsa lain," tekan Bimo untuk mengompori teman-temannya.
"Iya usir sekarang. Dan jangan pernah coba-coba datang kesekolah ini lagi. Ayok kita lapor saja sama preman disini biar ditandai orangnya," kata yang lain nya dengan berani.
Paras siswa yang terdiri dari 6 orang, langsung melepaskan sepatu mereka untuk menghajar Binyu. Mereka merasa jijik dengan Binyu yang mencari mangsa anak sekolah. Mereka mengepung Binyu, tapi ternyata Binyu pinter. Dia mengelabui siswa-siswa tersebut.
"Eh Pak Kepala Sekolah," kata Binyu yang pura-pura sambil menundukkan separuh badannya.
Ketika semua orang menoleh ke belakang dan ke kiri, disitulah kesempatan Binyu melarikan diri. Akhirnya Binyu lari terbirit-birit takut diamuk masa.
"Dari pada bonyok mending kaburrrrr!" teriak Binyu ketakutan lalu pergi meninggalkan sekolah itu dengan membawa mobilnya buru-buru.
Mereka yang dikerjain Binyu, merasa kesal karena telah ditipu.
"Siapa tuh cowok, kayaknya sering gw lihat?" tanya siswa lain.
"Iya gw juga kemaren lihat dia di parkiran. Gw pikir itu abang nya atau pacar salah satu siswi disini," kata siswa lain.
"Nih gw kasih tau ya. Tuh cowok udah lama ngebet banget sama Yoga. Maklum teman kita ini kan cakep banget. Nah dia itu lagi nyari mangsa buat ya digituin la. Makanya kalau Lo pada lihat tuh cowok disekitar sekolah kita, Lo usir sama temen yang lain," Bimo berusaha menghasut teman-teman basketnya.
"Iya setuju gw, dari pada anak-anak lain jadi korban, kita yang udah tau dia. Mending langsung diusir," timpal siswa lain.
"Setuju...."
"Ya gw juga setuju..."
Seperti pemilihan suara semua pada setuju dengan omongan Bimo. Akhirnya kelar juga urusan dengan Binyu.
Mereka masuk ke dalam mobil. Cha yang berada di dalam mobil merasa panik.
"Gimana Ga, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Cha merasa khawatir.
"Ekhem....kasihannya diriku yang tidak diperhatikan huhuhu," canda Bimo sambil melirik pak supir disebelahnya.
"Kenapa den Bimo? Pengen diperhatikan juga ya..." ledek pak supir.
__ADS_1
"Hehehe pengennya sih pak," jawab Bimo.
"Makanya den, cari pacar dong biar diperhatikan kayak den Yoga," kata pak supir yang tetap fokus menyetir.
"Udah pak, gak usah dengerin dia. Biasa tuh kayak anak kecil, maunya diperhatikan mulu, celetuk Dewi dari belakang.
"Apaan sih Wi, nimbrung aja urusan orang dewasa," ketus Bimo sambil memanyunkan mulutnya.
"Hahhhhh dewasa? OMG Bimo....! Sejak kapan Lo jadi orang dewasa," balas Dewi yang tak mau kalah.
"Sejak sekarang, hihihi," kata Bimo yang sengaja buat Dewi kesal.
"Oh...asem Lo," kesal Dewi.
"Udah jangan pada berantem. Mending kita makan sekarang. Tuh dah mau sampai," kata Yoga yang menjadi penengah antara pertikaian Bimo dan Dewi.
Mereka sampai di sebuah cafe yang terletak dekat dengan sekolah. Yoga sudah menyuruh pak supirnya untuk memesan tempat terlebih dahulu. Sehingga memudahkan mereka untuk tidak berdesakan dengan pengunjung lain.
"Yuk Cha, turun. Aq udah pesanin tempat tadi," kata Yoga sambil keluar dari mobil.
"Tempat nya enak banget..! Nuansanya keren, aq suka tempatnya," kata Cha penuh kekaguman melihat cafenya.
"Iya Cha, tempat nya keren banget, yuk ah kita masuk," ajak Dewi yang sudah tidak sabaran.
"Wi, ntar Lo jangan lupa fotoin gw ya..tempat nya keren nih. Sayang kalau dilewati gitu aja kalau tidak ada foto-foto," kata Bimo yang merasa kagum dengan bangunan cafe nya.
Setelah puas dengan bergumam, mereka masuk ke dalam cafe. Cafe yang menyajikan pelayanan dengan pakaian adat Batak dan Sulawesi. Namun makanan yang ditawarkan merupakan makanan tradisional dan internasional.
"Silahkan, jika mau memesan, anda bisa memanggil saya kembali. Ini menu makanannya," si pelayan memberikan senyuman terbaiknya kepada mereka. Dan dia mencuri pandang ke arah Yoga.
Setelah melihat-lihat menu makanan yang akan dipesan, Bimo memanggil pelayan tadi. Dan mereka memesan sesuai selera masing-masing.
"Baik, apa ada yang mau ditambahi lagi?" tanya si pelayan yang betah berlama-lama.
"Udah itu aja dulu mbak, nanti kalau mau pesan lagi, kami akan panggil mbaknya," jawab Cha yang sengaja mengusir sipelayan karena terus-terusan menatap Yoga.
"Baik, silahkan ditunggu pesanannya," kata si pelayan, kemudia meninggalkan meja mereka.
Ketika mereka menunggu pesanan datang. Tidak sengaja mata Cha menangkap sosok yang seperti nya dia kenal. Tapi dia lupa dimana dia pernah melihatnya.
Yoga yang melihat arah pandangan Cha, ikut mengerutkan dahinya. Dia pun seperti pernah melihat orang tersebut. Yoga mencoba mengingatnya hingga akhirnya dia ingat juga.
"Bim," kata Yoga sambil menunjuk seseorang dengan dagunya.
Bimo pun menoleh kebelakang, melihat apa yang ditunjuk Yoga. Dia pun mengerutkan keningnya dan mencoba mengingat sesuatu.
"Sepertinya gw pernah lihat tuh cowok, Ga. Tapi dimana ya?" Bimo mencoba mengingatnya.
"Siapa Bim?" tanya Dewi penasaran.
"Gw kasih tau juga, Lo gak kenal," celetuk Bimo yang seneng buat Dewi kesel.
__ADS_1
"Ih....nih anak ditanya. Ya mana tau gw juga kenal, ya kan?" kesal Dewi sambil memukul lengan Bimo.
"Cha itu dia cowok yang kemaren bersama kamu ketika di ajak Binyu makan di Apartement kemaren," kata Yoga mengingatkan Cha.
"Tapi bukannya dia cowok yang waktu itu mengadakan pesta s** di villa kemaren Ga. Dia temannya Binyu yang punya acaranya," jelas Cha memberitahukan tentang kejadian di villa kemaren.
"Berarti dia orang yang sama dong," potong Bimo.
"Iya berarti mereka sudah merencanakan kejadian kemaren Cha," sambung Yoga.
"Kalian bahas apaan sih. Kayaknya serius banget. Siapa cowok itu Bim?" tanya Dewi lagi.
"Dia temannya si Binyu yang menjebak Cha kemaren," terang Bimo kepada Dewi.
"Udah lah gak usah dibahas Bim. Kita kemari kan buat happy dan makan enak," kata Cha yang tidak mau mengungkit kejadian kemaren.
"Yup gw setuju. Kita kan mau makan kemari, bukan untuk membahas kemaren-kemaren," jawab Bimo.
Akhirnya pesanan mereka datang. Bimo sudah tidak sabar ingin menyantap makanannya. Sedangkan Cha masih memikirkan cowok yang ada di sebrang meja mereka. Tanpa sengaja Cha menatap orang tersebut dan ternyata orang itu juga melihat ke arah Cha.
"Aduh kenapa dia melihat ke arah sini, gawat nih," pikir Cha yang gak tenang.
"Kenapa Cha?" Ayok dimakan, ntar keburu dingin lagi makanannya," tegur Yoga.
"Ga, tuh cowok ngelihatin kemari. Gw takut dia mengenal kita," bisik Cha yang merasa khawatir.
"Udah gak usah digubris. Biarin aja, dia mau kenal atau gak, biarkan saja," jawab Yoga nyantai.
Cha berusaha tenang dan menyantap makanannya. Namun sesekali dia mencuri pandang ke depan.
Sedangkan didepan meja mereka, seseorang yang membuat Cha gelisah, sedang menikmati makan siangnya dengan mangsa barunya yang dianggap sebagai kekasihnya. Ketika asyik ngobrol dengan kekasihnya, tak sengaja matanya beradu pandang dengan Cha. Hingga dia tampak seperti memikirkan sesuatu.
"Itu bukannya mantan Binyu? Perempuan brengsek itu. Dan itu anak ingusan yang kemaren yang menggagalkan rencana gw, sialan ternyata mereka satu sekolah," pikir nya yang terus menatap Cha.
Cha berusaha santai dan tetap berbincang dengan teman-temannya. Bimo yang orangnya kocak sangat menghibur Cha dan membuat suasana jadi rame. Hingga pak supir yang ikut makan bareng mereka, terbahak-bahak dengan guyonan yang dilontarkan Bimo.
Di Meja depan, seseorang yang dikenal Cha, sedang menghubungi orang lain. Tidak tau siapa yang dihubunginya. Hingga selesai bertelponan, tiba-tiba ponsel Cha bunyi tanda pesan masuk. Cha melihat ponselnya dan menekan tombol aktif nya. Disana tertera pesan dari no yang tidak dikenal.
Cha membuka isi pesan dari no yang tak dikenalnya.
"Akhirnya kita ketemu lagi cantik," kata orang yang no nya tak dikenal," tapi mata cha melihat ke arah meja di depan nya. Ya orang yang ada di meja itu tersenyum menakutkan menatap Cha tajam.
Cha langsung mengalihkan pandangannya ke teman-temannya lagi. Tapi spontan tangannya menggenggam lengan Yoga. Yoga merasa heran dengan sikap Cha.
"Ada apa yanx? Kenapa wajah kamu mendadak pucat begitu?" gumam Yoga pelan tapi masih bisa di dengar Cha.
Cha membuka ponsel nya balik dan menulis pesan ke pada Yoga.
"Ga, cowok itu tadi melihat ke arah qu. Dan dia mengirim pesan ke no qu," kata Cha melalui pesan yang dikirimnya ke Yoga.
Yoga mendengar ponselnya berdering tanda pesan masuk. Dia membuka ponselnya dan melihat pesan dari Cha. Dia melirik Cha sekilas dan membuka isi pesannya.
__ADS_1
Yoga melirik Cha lagi dan beralih melihat kearah meja di depan mereka. Ternyata cowok di meja itu melihat ke arah Yoga juga. Mereka saling melempar tatapan dengan tajam.