
Mereka terus melanjutkan perjalanannya ke lokasi yang diinginkan yaitu ke Jardin du Luxembourg. Sebuah taman yang memiliki rumput hijau yang bersih dan rapi. Selain itu juga memiliki pemandangan yang semakin cantik berkat adanya bunga berwarna-warni yang nampak menyegarkan mata.
Zain membawa Cha ke tempat romantis itu. Akhirnya mereka sampai di lokasi Jardin do Luxembourg.
"Ayo Cha, kita sudah sampai. Aku akan melukismu disana," ajak Zain.
"Wah....tempatnya indah banget Zain...! Aku suka banget apalagi banyak bunga yang ditanam. Ini tempat yang bagus buat melukis," balas Cha dengan kekagumannya.
Zain dan Cha mulai menyusuri taman itu untuk mencari tempat yang pas untuk mereka duduk bersantai. Hingga akhirnya Zain dan Cha menemukan tempatnya.
"Disini sangat bagus Zain tempatnya. Aku suka kalau kamu melukisku disini," ucap Cha dengan kemauannya.
"Baiklah, aku akan melukismu disini," balas Zain.
Lalu Cha mulai dilukis oleh Zain. Zain sangat pinter melukis. Bakat ini sudah dari kecil digelutinya. Tapi dia tidak mempublikasikannya. Dia hanya menjadikan melukis ini sebagai kesenangan saja jika dia sedang penat. Karena bagi Zain, dengan melukis bisa membuat hatinya dan pikirannya tenang.
Zain terus menaburkan cat air dan cat minyak untuk membuat hasil yang bagus dilukiskannya. Dia dengan telaten menggunakan tangannya untuk menggambar Cha di kanvas. Hingga akhirnya lukisan itu selesai dengan waktu yang tidak terlalu lama.
"Akhirnya selesai juga, sangat cantik kamu Cha," puji Zain sambil memandang lukisannya.
Cha berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Zain.
"Aku mau lihat Zain..!" pinta Cha.
"Sepertinya lukisan ini harus aku simpan sebagai kenangan sebelum kita menikah," ucap Zain yang tidak memperbolehkan Cha melihatnya.
"Kenapa harus begitu Zain...? Kamu sungguh curang sekali. Aku ingin melihatnya Zain," Cha memelas memintanya.
"No, kamu bisa melihatnya dan menyimpannya disaat yang tepat. Dan itu akan menjadi kenangan buatmu nantinya," ucap Zain dengan tersenyum.
"Kenapa harus ngomong seperti itu Zain? Seakan-akan itu adalah peninggalan darimu untukku," balas Cha.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, sampai maut yang memisahkan," Zain menarik Cha dalam pelukannya.
Mereka saling berpelukan ditaman yang sangat indah dengan pemandangan bunga yang semakin membuat suasana haru dan romantis.
"Aku menyayangimu Cha," Zain mengecup kening Cha dengan lembut.
"Aku juga menyayangimu Zain," balas Cha sambil meneteskan air matanya karena terharu dengan sikap Zain.
Setelah puas menikmati waktu berdua, Zain dan Cha memutuskan untuk kembali ke Mansion keluarga Zain.
Selama perjalanan ke Mansion, Cha terlelap disamping Zain karena kelelahan. Zain menempatkan kepala Cha di pundaknya dan memeluknya dari samping. Lalu dia pun ikut memejamkan mata hingga terlelap.
Setelah mobil sampai di Mansion, Zain yang terbangun melihat sekeliling, keluar dari mobil dengan menggendong Cha ke masuk ke dalam Mansion. Dia membawa Cha kelantai atas menuju kamar mereka.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Zain meletakkan Cha diatas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Zain meninggalkan Cha yang masih terlelap.
Zain melangkah keluar dari dalam kamarnya menuju ruang kerjanya. Zain menyibukkan dirinya diruang kerja sampai menjelang malam.
Di dalam kamar, Cha mulai terbangun. Dia menatap sekeliling ruangan itu yang ternyata sudah berada di dalam kamar Zain. Namun Cha tidak melihat adanya Zain di dalam kamar.
"Kemana dia, apa mungkin di kamar mandi ya?" gumam Cha.
Cha bangkit dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Zain....!" panggil Cha dan mengetuknya.
Namun ditunggu tidak ada sahutan dari dalamnya. Kemudian Cha mencoba membuka pintunya dan benar tidak terlihat adanya Zain.
"Sepertinya Zain di tempat Oma, lebih baik aku mandi saja duluan," gumam Cha.
Saat Cha membersihkan dirinya di dalam kamar, Zain masuk ke dalam kamar dan tidak melihat keberadaan Cha. Samar-samar Zain mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.
"Ternyata Cha lagi mandi," gumam Zain sambil berjalan ke sisi tempat tidur.
Beberapa menit kemudian, Cha keluar dari dalam kamar mandi dan dia melihat Zain sudah duduk sambil menatapnya.
"Zain, kamu sudah lama disitu?" tanya Cha.
"Heum," jawab Zain yang terus menatap Cha dengan dada yang bergejolak.
"Zain, kamu kenapa? Perasaan tadi baik-baik aja. Sekarang kenapa membuang muka seperti itu?" tanya Cha heran.
"Aku lagi membalas pesan Asisstenku Cha," kilah Zain.
"Oh...., aku pikir sengaja mengalihkan perhatianmu karena melihatku seperti ini," tebak Cha yang senyum-senyum.
"Kenapa dia bisa tau kalau aku mencoba membuang pandanganku karena dia sangat menggairahkan," bathin Zain yang masih menatap ponselnya.
"Tidak Cha, nih aku memang lagi membalas pesan Asisstentku," Zain tetap berkilah.
Cha hanya mengangguk mengiyakan pembelaan Zain. Dia tau Zain berusaha menahan gairahnya sampai mereka menikah nanti. Ada kebahagiaan yang dirasakan Cha saat Zain selalu memegang janjinya.
"Zain, besok jam berapa kita berangkat ke Indonesia? Apa kita langsung ke Medan?" tanya Cha yang sudah duduk disamping Zain.
Zain menoleh kearah Cha dan berkata, " Besok pagi jam 11.00 kita akan berangkat sayang," jawab Zain.
Cha merebahkan kepalanya di bahu Zain. Dia ingin bermanja dengan Zain sebelum kembali ke Indonesia. Karena setelah Cha ke Indonesia, Zain akan kembali ke Paris.
"Zain, apakah kamu akan menemaniku saat di Medan?" tanya Cha lagi.
__ADS_1
"Kalau kamu mau, aku akan menemanimu disana. Kenapa?" Zain balik bertanya.
"Tapi aku akan tinggal dirumah Mama. Bagaimana kamu menemaniku. Dan tidak mungkin aku mengajakmu jalan-jalan bersama keluargaku nanti Zain," jawab Cha.
"Jadi kamu maunya gimana Cha?" Zain bertanya lagi.
"Kamu anter aku aja balik ke Medan. Setelah itu kamu bisa kembali ke Paris," ucap Cha.
"Bener kamu gak ingin aku menunggumu di Medan?" tanya Zain.
"Gak usah Zain. Aku ingin beberapa hari disana. Rasanya sudah kangen dengan kedua adikku. Dan aku juga ingin melihat kondisi Mamaku Zain," jawab Cha dengan wajah sendunya.
"Baiklah, tapi jika kamu mengalami kesulitan, jangan sungkan menghubungiku. Aku gak mau kamu mengalami keadaan yang tak menyenangkan lagi," balas Zain sambil mengusap lembut rambut Cha yang basah.
"Heum, aku akan ingat itu Zain."
"Sekarang kita keluar untuk makan malam. Kita ke kamar Oma dulu ya."
"Iya Zain. Aku juga ingin menemui Oma."
Lalu Cha dan Zain keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Omanya.
Belum sampai di depan pintu, mereka bertemu dengan Mama dan Papa Zain yang hendak berjalan ke lantai bawah.
"Ma, Pa, kalian mau makan malam?" tanya Zain.
"Iya Zain, ayo kita turun ke bawah," ajak Mamanya.
"Mama dan Papa duluan aja. Zain mau ke kamar Oma dulu," ucap Zain.
Saat mereka berbicara di dekat kamar Omanya, tiba-tiba pintu kamar Omanya terbuka dan memperlihatkan sosok Oma yang sudah tua.
"Oma, baru aja Zain dan Cha mau mengajak Oma turun kebawah," ucap Zain yang menghampiri Omanya.
"Iya sayang, ayo kita turun. Oma sudah laper," ajak Omanya.
Mereka semua akhirnya turun kebawah bersamaan. Sesampainya di meja makan, mereka mengambil tempat masing-masing.
"Zain, gimana rencana besok? Apa kalian jadi berangkat ke Indonesia?" tanya Papanya.
"Iya Pa, besok kami akan berangkat ke Medan. Zain hanya mengantar Cha saja, setelah itu Zain akan kembali ke Paris lagi," jawab Zain sambil menikmati makanannya.
"Loh, kamu tidak menemani Cha di Medan Zain?" tanya Mamanya.
"Nggak Ma, karena Cha akan tinggal dirumahnya bersama keluarganya. Mereka tidak seperti keluarga disini Ma, bebas menerima tamu dirumahnya, apalagi laki-laki. Jadi lebih baik Zain kembali ke Paris," jelas Zain kepada keluarganya.
__ADS_1
"Mama pasti merindukan Cha. Kalian segeralah menikah. Agar Cha bisa kumpul bersama kita disini ya Zain," pinta Mamanya dengan penuh harapan.