
Yoga buru-buru menyudahi tlp nya. Dia pun sengaja menyalakan keran air wastafelnya. Lalu perlahan di bukanya pintu kamar mandi.
"Eh Papa, ada apa Pa?" tanya yoga yang berpura-pura memberishkan wajahnya dengan handuk kecil.
"Papa panggil dari luar gak dijawab, Papa kira kamu kenapa-kenapa," jawab Papanya.
"Oh...Yoga lagi dikamar mandi Pa, biasa habis buang hajat Pa, ngeles Yoga sambil melihat ke arah Papanya.
"Ya sudah, buruan turun, ada teman Papa mau kenal sama kamu. Kebetulan dia sama anak gadisnya yang kuliah di sini juga," kata Papanya jelas.
"Nggak ah Pa, Yoga mau istirahat lagi," protes Yoga sambil berlalu dari hadapan Papanya.
"Kamu Papa suruh turun, malah ngeyel. Udah cepatan turun," paksa Papanya.
"Pa, tolong jangan paksa Yoga untuk mengikuti semua kemauan Papa, Ok," ucap Yoga dengan tajam dan mengintimidasi.
"Berani kamu kurang ajar sama Papa?" kata Papanya yang menatap Yoga tak kalah tajam.
"Kalau Papa mau, Yoga tidak kurang ajar sama Papa, lebih baik sekarang Papa keluar. Tamu Papa sudah menunggu di bawah," ucap Yoga sambil membuka pintu kamarnya untuk mempersilahkan Papanya keluar.
Papa nya melihat Yoga sangat tajam, dia pun berlalu keluar dari kamar anaknya.
"Kali ini Papa mengalah, tapi tidak lain kali," ancam Papanya.
Yoga tak menghiraukan ancaman tersebut. Dia sudah jenuh dengan kemauan Papanya. Setelah Papanya keluar dari kamarnya, Yoga menghempaskan bokongnya di sofa. Dia pun menghela nafasnya dengan berat.
"Hahhh, kenapa aq harus jauh dari mu Cha. Aq kangen banget sama kamu. Berat banget rintangan yang harus kita jalani untuk bisa bersama," gumam Yoga sambil menatap lukisan gambar Cha dan dirinya.
Ditempat lain, Cha sangat gembira akhirnya mendapatkan khabar dari orang yang dicintainya. Wajahnya pun terlihat berseri-seri. Senyum mengembang di bibir mungilnya.
Shanti melihat perubahan wajah Cha yang berbeda dari kemaren.
"Khemm, ceria banget tuh wajah. Lagi bahagia nih," celetuk Shanti yang tersenyum melihat sahabatnya.
"Yoga barusan menghubungi gw loh," bisik Yoga di telinga Shanti.
"Wah....pantesan wajah sahabat gw nih berseri-seri," goda Shanti tersenyum jahil.
"Hehehe," Cha cengengesan.
"Kenapa nih, kalian bisik-bisik?" tanya Ina yang penasaran melihat Cha membisikkan sesuatu.
"Gak ada apa-apa kak, biasa urusan anak kecil, hehehe, ngeles Shanti yang tentunya berbohong.
"Gift syukur deh Shanti gak bilang sebenarnya," bathin Cha yang sudah harap-harap cemas mendengar jawaban Shanti tadinya.
"Ya udah sekarang kita berangkat yuk, keburu siang," ajak Ina sambil membawa ranselnya.
"Kak nanti kita singgah dulu ya di supermarket buat beli cemilan, biar ada cemilan disana," saran Cha kepada mereka.
"Boleh juga tuh saran nya Cha. Biar disana kita bisa enak ya nikmati pantai sambil ngemil," kata Shanti yang mendukung Cha.
"Ok kita nanti berhenti di supermarket," kata Ina yang setuju.
Mereka pun keluar dari kamar menuju lobby. Setelah itu Ina berjalan ke Reseptionist untuk memberitahukan mereka keluar. Setelah itu mereka bertiga jalan ke arah parkiran.
Kali ini Cha meminta sama Ina agar dia boncengan bareng Shanti. Dan Ina menyetujuinya. Mereka keluar dari area hotel dan menyusuri jalan menuju Parangtritis.
Dalam perjalanan kesana, Cha tak bosan-bosan nya bercerita dengan Shanti. Akhirnya ada kesempatan buat mereka berdua ngobrol. Cha bercerita tentang dia selama ditinggal Shanti ke Jogja. Tentang Binyu dan Zain serta Yoga dan Bimo.
"Ya ampuuun Cha, kok bisa tuh cowok jadi suka sama Lo?" tanya Shanti yang keheranan dengan cinta Zain.
"Gw juga gak tau Shan, tapi dia sangat baik dan lebih dewasa dari Yoga. Mungkin karena usia dia lebih tua dari Yoga kali ya," kata Cha.
"Trus sekarang dia ada ngasih khabar sama Lo?" tanya Shanti penasaran.
"Gak ada sih Shan," jawab Cha singkat.
"Trus perasaan Lo ke dia gimana Cha?" tanya Shanti lagi yang kepo.
"Gak tau Shan, tapi gw seneng kalau dekat sama dia. Gw merasa seperti terlindungi kalau bersama Zain," kata Cha sambil senyum-senyum membayangkan wajah Zain. Dia jadi teringat bagaimana Zain dengan lembutnya mencium bibir Cha.
"Kenapa gw jadi mengingat nya, ihhhh sebel," bathin Cha.
"Awas loh Cha, tar Lo jatuh cinta beneran sama dia," kata Shanti mengingatkan.
__ADS_1
"Iya Shan, gw tau. Lagian orangnya juga dah jauh," kata Cha yang meyakinkan Shanti.
Tiba-tiba Ina mengklakson mereka agar berhenti. Shanti dan Cha lupa untuk berhenti di supermarket karena asyik ngobrol.
Mereka memutar motornya menuju arah Ina yang sudah parkir di supermarket.
"Katanya mau beli cemilan, kok malah jalan terus," kata Ina yang sedikit kesel.
"Hehehe, iya kelupaan kak," jawab Cha cengengesan.
Mereka masuk ke dalam supermarket membeli berbagai macam cemilan. Setelah puas belanja, mereka kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanannya menuju lokasi.
Waktu tak terasa mereka lalui. Sepanjang jalan Cha dan Shanti masih asyik membahas Zain dan Yoga. Shanti cukup penasaran dengan wajah cowok yang akhirnya jatuh cinta sama Cha.
Ina mengendarai motornya tepat berada di belakang mereka. Akhirnya mereka sampai di Parangtritis. Mereka menepikan motornya di area parkir yang tersedia. Lalu mereka bertiga berjalan menyebrang ke arah pantai.
"Wahhhh, itu kelihatan pantainya," kata Cha dengan semangat. Dia melihat ada penjual topi pantai. Cha pun membelinya. Dia ingin berfoto-foto menggunakan topi di pantai. Ina dan Shanti juga ikutan membeli topi. Tapi topi yang mereka punya masing-masing berbeda.
Mereka terus berjalan mencari tempat untuk lesehan. Tak jauh dari mereka jalan, mereka mendapatkan tempat yang di inginkan.
"Kita disini aja, tempat nya tidak terlalu dekat dengan bibir pantai," saran Ina yang disetujui mereka berdua.
Cha dan Shanti meletakkan barang bawaan mereka. Sedangkan Ina sibuk memandangi gelombang laut yang tidak terlalu tinggi.
"Kalau di pantai gini, enak nih makan mie rebus pake telor ceplok sama capuccino susu dingin. Yuk kita pesan Shan," ajak Cha kepada Shanti.
"Iya nih, gw juga pengen. Kak Na, gak mau pesan biar kita berdua aja yang mesani," kata Shanti yang menawarkan diri.
"Boleh lah. Kakak sama kan aja pesanannya dengan Cha," kata Ina.
"Kakak tunggu disini sendirian gak apa kan? Kami kesana dulu ya biar mesenin," kata Cha.
"Gak apa,-apa," jawab Ina santai.
Mereka berdua berjalan diatas pasir pantai menuju warung yang ada dibelakang tempat mereka lesehan.
"Bu pesan mie rebus pake ceplok telur nya ya tiga. Minumnya capuccino dingin pakai susu dua dan teh manis anget satu," kata Cha yang berdiri di depan meja kasirnya.
"Nanti bisa dianter kan ke tenda yang itu ya buk," tunjuk Shanti kearah luar.
Lalu Cha dan Shanti kembali ke tempat mereka lesehan. Cha sudah tidak sabar ingin bermain di pantai. Mereka duduk sejenak menikmati udara pantai.
"Udah pesan nya?" tanya Ina yang melihat kedatangan mereka.
"Udah kak. Nanti dianter katanya," jawab Cha.
"Cha yuk main air disana," ajak Shanti sambil menarik tangan Cha.
"Iya-iya bentar, gw bawa cemilan nih dulu," kata Cha sambil membawa satu cemilan.
"Kalian jangan terlalu dekat ke sana, main air nya di pinggirannya saja," Ina memperingati mereka berdua.
"Iya kak, kami gak jauh-jauh kok," jawab Cha.
Mereka berlari ke arah pantai. Cha tidak lupa menggunakan topi pantai yang sudah di belinya tadi. Shanti juga begitu memakai topi pantainya. Mereka berlari kesana kemari seperti anak kecil yang sedang main kejar-kejaran. Sesekali mereka mencipratkan air. Dan mereka juga mengambil beberapa foto lucu menggunakan topi.
Sedangkan Ina hanya menatap mereka dari kejauhan. Tiba-tiba tanpa dia sadari karena fokus menatap kedepan, ada tiga orang cowok menghampiri dirinya.
"Hei...kamu...," kata cowok itu tak percaya.
Ina kaget melihat kehadiran tiga cowok tersebut.
"Loh kalian disini juga?" tanya Ina penasaran.
"Iya kami lagi jalan aja kesini bareng teman yang lain, tuh disana," tunjuk salah satu cowok tersebut yang tak lain adalah Dino.
Ghani yang ternyata sudah melihat Ina dari jauh, mencari sosok Cha. Dia pun mengedarkan pandangannya kesekitar bibir pantai. Dan dia melihat Cha berlari bersama Shanti bermain air.
"Lucu, seperti anak kecil," bathin Dino yang melihat tingkah laku Cha.
"Yang lain pada kemana, kamu sayang sama mereka atau pacar kamu?" tanya Dino penasaran.
"Tuh sama mereka berdua," tunjuk Ina menggunakan jari telunjuknya.
Dino dan Imran serentak melihat ke arah bibir pantai. Sedangkan Ghani sudah dari tadi melihat nya.
__ADS_1
"Boleh gabung gak?" tanya Dino kepada Ina.
"Oh iya silahkan, nih ada cemilan. Oh ya kalian mau pesan makanan?" tanya Ina menawarkan.
"Nyantai aja Na, nanti juga kalau mau kami pesan," jawab Dino tersenyum.
Lalu Ina berdiri dan teriak memanggil Cha dan Shanti agar datang ke tempat lesehan mereka.
"Chaaaaaa!" teriak Ina. Dia memanggil mereka dengan menggunakan tangannya.
"Eh, siapa tuh Shan, yuk kesana. Kak Ina sendirian tuh," ajak Cha menarik tangan Shanti.
Setelah beberapa meter dari tempat mereka main air, Shanti baru sadar cowok yang bersama Ina.
"Bukannya itu cowok yang kemaren ya Cha?" tanya Shanti menunjuk ketiga cowok tersebut.
"Loh, iya tuh kan cowok kemaren Shan!" jawab Cha membenarkan ucapan Shanti.
"Kok bisa," jawab mereka secara serentak. Cha dan Shanti saling pandang dan akhirnya tertawa terbahak.
HAHAHAHA
"Ngikut aja Lo," celetuk Cha.
"Yeeee," jawab Shanti.
Mereka berjalan mendekati Ina dan ketiga cowok tersebut. Cha melihat Ghani yang tersenyum kepadanya. Begitu juga dengan Imran. Senyuman mereka berbeda, penuh arti.
"Hai...," sapa Shanti sambil tersenyum.
"Loh kalian disini juga?" tanya Cha yang merasa aneh dengan kehadiran mereka.
"Kebetulan banget ya ketemu disini," sambung Shanti.
"Berarti jodoh," kata Dino dengan ceplos nya sambil melirik Ina.
Shanti dan Cha kemudian saling memandang, mereka menahan tawa yang mau meledak.
"Hehehe," Cha hanya bisa cengengesan menanggapi ucapan Dino.
"Kak udah datang pesanan kita?" tanya Cha ke Ina.
"Blom, dari tadi blom ada yang datang," jawab Ina.
"Ya udah kami kesana lagi ya biar diingatkan," kata Cha menghindari ketiga cowok tersebut.
"Kami boleh ikut, biar sekalian mesen," kata Ghani yang menyambung ucapan Cha.
"Iya kita ikutan ya kesana, sekalian mesan," kata Imran yang mendukung Ghani.
"Ya udah ayuk," ajak Shanti.
Cha memplototin Shanti, merasa tidak senang diikuti. Tapi kedua cowok itu tidak mengetahuinya.
Mereka berjalan bersama ke warung jajanan tersebut. Tidak ada percakapan diantara mereka hingga sampai ke warung.
"Buk pesanan tadi blom selesai ya?" tanya Shanti kepada Ibu penjual.
"Ini baru aja selesai mbak," jawab si Ibu.
"Bu kami juga mau pesan, samakan aja dengan mereka ya. Nanti diantar juga ketempat yang sama," kata Ghani kepada Ibu penjual.
"Oh iya mas,"jawab si Ibu.
Hai pembaca setia kisah Cha si anak Broken Home. Jangan lupa dukung terus ya penulis untuk berkarya.
Dukung penulis agar lebih kreatif memberikan cerita terbaiknya dengan kasih Vitamin LIKE, KOMEN, VOTE DAN HADIAH YANG BANYAK. BINTANG NYA JANGAN LUPA YA....
Oh ya mampir ke cerita ku satu lagi ya, judulnya.
TERNYATA AKU MEMILIKI KHODAM.
Dukung terus ya karya-karya ku...
Selamat menikmati kisahnya...
__ADS_1